Sang Pejalan Telah Tiada

segaf-alhabsyi
Innalillahi Wa Innaillaihi Roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah Habib Segaf bin Abubakar Al-Habsyi, Jumat pagi sekitar pukul 05.30 di kediamannya di Jalan Sulawesi.

Habib Segaf meninggal dunia dalam keadaan tenang pada usia 60 tahun. Almarhum adalah salah satu narasumber utama dalam tulisan bersambung ‘Jejak Sayyid (Habib) di Tanah Banjar’ dan ‘Anak Cucu Keturunan Nabi Muhammad SAW’ yang pernah hadir rutin menyapa pembaca Mata Banua sepanjang bulan Ramadhan tahun 2006-2007 silam.

“Sekarang tak bisa lagi ketemu Habib ya,” ujar seorang kerabat Habib Segaf saat Mata Banua mengunjungi kediaman almarhum, kemarin. Habib Segaf merupakan ahli silsilah keluarga Alawiyyin (keturunan Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir zuriat Sayyidina Husin bin Ali bin Abu Thalib) di kalangan habaib di Kalsel.
Penguasaannya akan sejarah dan biografi para habaib diperoleh karena seringnya ia melakukan perjalanan keliling ke berbagai kota di Jawa dan Kalimantan.

Kota-kota di Jawa yang paling sering ia singgahi adalah Tulung Agung dan Pasuruan (Bangil). Saat berkunjung ke suatu daerah ia biasanya menghabiskan waktu tak kurang dari 1 bulan. Habib Segaf kebetulan memiliki saudara seayah di Tulung Agung.

“Soal manakib Segaf orang yang tepat,” ujar Habib Agil bin Salim Bahsin, saat mengomentari figur Habib Segaf AlHabsyi. Manakib merupakan catatan sejarah, riwayat hidup dan perjuangan para ulama atau tokoh-tokoh besar di bidang keagamaan.

Selama hidupnya almarhum dikenal sebagai orang yang suka bersilaturahmi mengunjungi sahabat dan sanak saudaranya. “Dua hari yang lalu masih jalan-jalan,” kata Syech Alaydrus, keponakannya.

“Beberapa waktu yang dulu pernah jatuh di jalan,” ungkap Abdul Latif Al-Habsyi, adiknya.

Jenazah almarhum kemarim dishalatkan warga, sahabat dan kerabatnya di Mushala Ishlah Jalan Sulewesi, sebelum shalat Ashar. Ratusan warga berjalan kaki mengantar Habib Segaf untuk dimakamkan berdekatan dengan orangtuanya Habib Abubakar bin Segaf Al-Habsyi di Turbah Arab Sungai Jingah.

Pembacaan doa tahlil dipimpin oleh cucu keponakannya, Ibrahim bin Hamid Al-Habsyi, salah satu santri alumni Pondok Darul Mustafa Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan asuhan Habib Umar bin Hafiz Bin Syekh Abubakar.

Comments are closed.