Riwayat Putra Rasulullah
Dari perkawinan putri tercinta Rasulullah, Fatimah Az-Zahra, dengan Imam Ali lahirlah Sayyidina Hasan, dan adiknya Sayyidina Husin, buah hati Rasulullah. Berikut beberapa riwayat hidup keluarga keturunan Nabi yang diambil dari berbagai sumber.
Posted by
at
16:44:39
FATIMAH AZ-ZAHRA AS
Dahulu kala, masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki. Demikian pula masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Mereka senantiasa memandang wanita sebagai makhluk yang hina. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup.
Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam memberikan hak kepada kaum hawa dan telah menentukan pula batas-batasnya, seperti hak sebagai ibu, hak sebagai istri, dan hak sebagai pemudi.
Tentu kita semua sering mendengar hadis Nabi saw yang menyatakan, “Surga itu terletak di bawah kaki ibu.”
Di lain kesempatan, beliau bersabda, “Kerelaan Allah terletak pada kerelaan orang tua.” (Dan perempuan termasuk salah satu dari orang tua).
Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan memberikan aturan, undang-undang yang menjamin perlindungan, penjagaan terhadap kemuliaan wanita dan kehormatannya.
Sebagai contoh yang jelas ialah hijab atau jilbab. Jilbab bukanlah penjara bagi wanita, tapi ia merupakan kebanggaan baginya, sebagaimana kita selalu melihat permata yang tersimpan rapi di dalam kotaknya, atau buah-buahan yang tersembunyi di balik kulitnya.
Sedangkan bagi wanita muslimah, Allah SWT telah memberikan aturan yang dapat melindunginya dan menjaga diriya, yaitu jilbab. Bahkan tidak hanya sekedar pelindung, jilbab dapat menambah ketenangan dan keindahan pada diri wanita tersebut.
Wanita dalam pandangan Islam berbeda secara mencolok dari apa yang terjadi di Barat. Dunia Barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk diiklankan, diperdagangkan, dan bisa diambil keuntungan materinya, dengan dalih memelihara etika dan kemuliaan wanita sebagai manusia.
Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk dan terpisah dari naluri serta nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga, perceraian yang terjadi di dalam masyarakat Barat telah sedemikian mengkuatirkan.
Dalam pandangan dunia Barat, wanita telah berubah menjadi seonggok barang yang tidak berharga lagi, baik dalam dunia perfilman, iklan, promosi, ataupun dalam dunia kontes kecantikan.
Teman-teman, marilah kita sejenak menengok sosok teladan kaum wanita dalam Islam yang terwujud dalam kehidupan putri Rasulullah tercinta.
Dialah Siti Fatimah Az-Zahra as.
Putri tersayang Nabi Muhammad saw.
Istri tercinta Imam Ali as.
Bunda termulia Hasan, Husain, dan Zainab as.
Hari Lahir
Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj beliau.
Sebelumnya, Jibril as telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah akan kelahiran Fatimah. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.
Fatimah di Rumah Wahyu
Fatimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Acapkali Rasulullah saw melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.
Pada suatu hari, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah as.
Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”
Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fatimah diberi nama Fatimah karena dengan nama itu Allah SWT telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.
Fatimah Az-Zahra’ as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.
Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.
Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.
Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.
Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.
Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.
Pernikahan Fatimah as
Setelah Fatimah as mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah as).”
Kemudian, Jibril as datang untuk mengkabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib as. Tak lama setelah itu, Ali as datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah as. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?”
Fatimah as diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”
Acara Pernikahan
Rasulullah saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu ‘alallah.”
Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”
Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”
Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu”.
Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kaum Anshar, Muhajirin, dan Bani Hasyim, telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahlulbait Nabi yang telah Allah bersihkan kotoran jiwa dari mereka dan telah sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.
Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.
Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya kepada Rasulullah saw. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini.
Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi saw.
Hanya Allah SWT saja yang mengetahui kecintaan yang terjalin di antara dua hati, Ali dan Fatimah. Kecintaan mereka hanya tertumpahkan demi Allah dan di atas jalan-Nya.
Fatimah as senantiasa mendukung perjuangan Ali as dan pembelaannya terhadap Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya senantiasa berada di barisan utama dan terdepan dalam setiap peperangan. Dialah yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan kaum muslimin. Ali pula yang senantiasa berada di samping mertuanya, Rasulullah saw.
Fatimah as senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suami, juga berupaya untuk meringankan kepedihan dan kesedihannya. Beliau adalah sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas layaknya seorang ibu rumah tangga. Setiap kali Ali pulang ke rumah, ia mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.
Fatimah as merupakan pokok yang baik, yang akarnya menghujam kokoh ke bumi, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fatimah dibesarkan dengan cahaya wahyu dan beranjak dewasa dengan didikan Al-Qur’an.
Keluarga Teladan
Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama.
Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.
Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya.
Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. “Ya binta Rasulillah”; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin”; wahai pemimpin kaum mukmin.
Demikianlah kehidupan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as.
Keduanya adalah teladan bagi kedua pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.
Buah Hati
Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Az-Zahra as. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.
Bila Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.
Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Satu tahun berselang, Fatimah as melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah as itu dengan nama-nama tersebut.
Dan begitulah Allah SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya Fatimah Zahra as.
Kedudukan Fatimah Az-Zahra’ as
Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.
Bila Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwalid, mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayidah Fatimah as adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman.
Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.
Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain, dan Zainab as adalah anak-anak teladan yang tinggi akhlak dan kemanusiaan mereka.
Kepergian Sang Ayah
Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.
Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur’an dengan suara yang khusyuk.
Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur’an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.
Rasul saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit.
Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.
Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.
Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.
Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah as secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.
Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.
Akhirnya, Sayidah Fatimah as pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”
Sayidah Fatimah as diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia.
Kepergian Putri Tercinta Rasul
Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah.
Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta.
Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah as saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.
Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.
Sayidah Fatimah as memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.
Fatimah Az-Zahra’ as senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau.
Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah … dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.
“Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku … Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!”[]
Riwayat Singkat Sayidah Fatimah as
Nama : Fatimah.
Julukan : Az-Zahra’, Al-Batul, At-Thahirah.
Ayah : Mahammad.
Ibu : Khadijah binti Khuwailid.
Kelahiran : Jumat 20 Jummadil Akhir.
Tempat : Makkah Al-Mukarramah.
Wafat : MadinahAl-Munawarah, Tahun 11 H.
Makam : Tidak diketahui.
Imam Ali Bin Abi Thalib
Hari Lahir
Pada hari Jumat, 13 Rajab, tepatnya 23 tahun sebelum hijrah, lahirlah dari keluarga Abu Thalib seorang bayi mulia yang menyinari kota Makkah dan alam semesta dunia.
Ketika paman Nabi saw yang bernama Abbas bin Abu Thalib sedang duduk santai bersama seorang lelaki yang bernama Qu’nab, datanglah Fatimah binti Asad untuk melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah dan memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT. Pandangan matanya tertuju ke langit sambil bermunajat kepada-Nya dengan penuh khusyuk.
Dalam doanya itu ia berkata, “Ketahuilah wahai Tuhanku, sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan kepada semua yang datang dari sisi-Mu, yaitu para rasul dan kitab-kitab yang dibawa oleh mereka. Sesungguhnya aku membenarkan seruan kakekku Ibrahim Al-Khalil as. Dialah yang membangun kembali Ka’bah yang mulia ini. Maka demi orang yang telah membangun Ka’bah ini, dan demi janin yang ada dalam kandunganku ini, aku memohon pada-Mu; mudahkanlah kelahirannya.”
Tidak lama setelah itu, terjadilah peristiwa yang sangat menakjubkan, pertanda bahwa Allah SWT telah mengabulkan doanya. Di saat itu, tembok Ka’bah terbelah sehingga Fatimah binti Asad bisa masuk ke dalamnya, setelah itu tertutup kembali. Peristiwa yang sangat aneh dan menakjubkan itu membuat semua orang yang menyaksikannya terheran-heran.
Abbas bin Abu Thalib yang juga turut menyaksikan kejadian tersebut langsung pulang ke rumah untuk mengabarkan kejadian tersebut kepada keluarga dan kerabatnya, lalu kembali lagi ke Ka’bah bersama beberapa orang wanita untuk membantu kelahiran janin Fatimah itu. Namun, mereka hanya mampu mengelilingi Ka’bah, tanpa bisa masuk ke dalamnya. Seluruh penduduk kota Makkah tetap dalam kebingungan sambil menanti Fatimah keluar.
Empat hari kemudian, barulah Fatimah keluar dari dalam Ka’bah sambil menimang putranya yang baru saja lahir. Orang-orang bertanya-tanya tentang nama bayi mulia itu, Fatimah menjawab, “Namanya adalah Ali.”
Demikianlah kelahiran Imam Ali as yang serba menakjubkan itu.
Semenjak masih dalam susuan, Ali tumbuh besar dan terdidik di dalam rumah Nabi saw. Pada salah satu khutbahnya yang terhimpun dalam Nahjul Balaghah, Ali pernah menuturkan, “Ketika aku masih kecil, beliau saw membaringkanku di tempat tidurnya, mendekapku dengan penuh kasih-sayang, dan mengunyahkan makanan untuk disuapkan ke mulutku.”
Masa Kanak-Kanak
Sejak masa kanak-kanak, Imam Ali as tidak pernah berpisah dari pendidikan manusia agung Rasulullah saw. Beliau senantiasa menyertai Rasulullah saw, laksana bayangan yang begitu setia mengikuti empunya.
Mengenang masa kanak-kanaknya, Imam Ali as mengisahkan, “Aku senantiasa mengikuti Rasulullah saw bak seorang anak unta yang masih menyusu selalu menyertai ibunya. Setiap hari Rasulullah saw selalu menyempurnakan perangaiku dan memintaku untuk mengikutinya. Setiap tahun aku selalu menyaksikan beliau pergi ke goa Hira’, sementara tidak seorang pun mengetahui kepergian beliau. Ketika itu, tidak ada satu rumah pun yang menyatukan seorang pun di dalam Islam selain Rasulullah, Khadijah, dan yang ketiga adalah aku sendiri. Kusaksikan cahaya wahyu dan risalah ilahi. Di sana kucium semerbak kenabian dari rumah kudus itu.”
Ketika Allah SWT mengangkat Muhammad saw sebagai seorang Rasul untuk seluruh umat manusia, dan memerintahkan agar beliau berdakwah dan memberikan peringatan kepada keluarga serta kerabatnya, beliau memerintahkan Ali agar menyiapkan makanan untuk 40 orang dan mengundang kerabat beliau. Di antara mereka yang memenuhi undangan ialah paman-paman beliau, seperti Abu Thalib, Hamzah, Abbas, dan Abu Lahab.
Seperti dalam kenangan Imam Ali as sendiri, beliau menuturkan, “Kemudian Nabi berpidato di hadapan mereka, ‘Wahai putra-putra Abdul Muthalib! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak pernah melihat di antara bangsa Arab ada seorang pemuda yang mendatangi kaumnya dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah kubawa untuk kalian. Sesungguhnya aku membawa untuk kalian kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah, bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepadaku agar mengajak kalian semua untuk meraih kebaikan tersebut. Siapakah di antara kalian yang siap membela dan menolongku dalam urusan ini dan untuk menjadi saudaraku, washi, dan khalifahku atas kalian semua?’
Ketika itu, semua yang hadir diam dan tidak seorang pun yang menjawab seruan beliau. Aku segera berkata, meski usiaku saat itu paling muda di antara mereka, ‘Aku ya Rasulullah, akulah yang akan menjadi pembela dan penolongmu.’ Saat itu juga Rasulullah saw berkata, ‘Inilah Ali sebagai saudaraku, washi, dan khalifahku atas kalian semua. Maka, dengarkanlah dan taatilah dia.’”
Masa Muda
Masa kanak-kanak seakan berlalu begitu cepat. Kini Ali as telah menjadi seorang pemuda sempurna. Sementara ia masih terus mengikuti Rasulullah saw ke mana saja beliau pergi dan di mana saja beliau berada, bagaikan laron yang selalu beterbangan di sekitar lilin.
Ali as adalah pemuda yang tampan, kuat, dan gagah berani. Kekuatan dan keberanian ini digunakannya untuk berkhidmat dan berbakti kepada agama Allah SWT dan Rasul-Nya.
Ketika kita menengok sejarah Islam, kita jumpai bagaimana Imam Ali as senantiasa hadir dan ikut serta dalam setiap peperangan dan pertempuran. Beliau berperang dan menyerang musuh-musuhnya dengan penuh ksatria dan prawira di barisan terdepan.
Pada perang Hunain, di saat sebagian kaum muslimin lari tunggang-langgang meninggalkan Rasulullah saw di awal pertempuran, Ali as tetap tampil tegar dan gigih melakukan perlawanan, sementara bendera Islam tetap berkibar di atas kepalanya, sampai akhirnya tentara Islam dapat meraih kemenangan atas pasukan musyrikin.
Pada perang Khaibar, Ali bin Abi Thalib as memimpin pasukan muslimin untuk melakukan serangan yang dahsyat terhadap kaum Yahudi. Padahal sebelumnya, pasukan muslimin mengalami dua kali kegagalan. Penyerangan pertama dipimpin oleh Abu Bakar, dan penyerangan kedua dipimpin oleh Umar bin Khattab. Kedua usaha penyerangan itu dapat dipukul mundur oleh pasukan Yahudi.
Penyerangan ketiga dipercayakan kepada Ali. Beliau memimpin pasukan dan berhasil menjebol benteng kokoh Khaibar. Bahkan, beliau mencabut salah satu pintu gerbang benteng itu dan mengangkat dengan tangannya sendiri.
Ketika kaum Yahudi menyaksikan kegagahan dan keberanian Ali tersebut, mereka segera kabur tunggang-langgang karena ketakutan, sebelum akhirnya mereka menyerah.
Tebusan Pertama
Setiap manusia yang berakal sehat selalu berusaha membela dirinya, karena ia ingin senantiasa hidup, dan tidak menghendaki kematian. Dalam kehidupan ini, kita saksikan sedikit sekali orang-orang yang mau mengorbankan dirinya demi orang lain.
Ketika kita membaca sejarah Rasulullah saw dan kisah perjalanan hijrah beliau, kita akan merasa kagum dan penuh haru. Kita saksikan betapa Imam Ali as dengan penuh keberanian berbaring di tempat tidur Nabi saw sebagai tebusan jiwa beliau yang suci dari serangan musuh-musuh Islam yang ingin membunuhnya pada malam hijrah itu, padahal ketika itu Imam Ali as masih sangat muda.
Rencana pembunuhan atas diri Rasulullah saw itu diawali dengn berkumpulnya sekelompok kaum musyrikin di Darun Nadwah. Di sanalah mereka membuat kesepakatan dan memutuskan untuk menghabisi jiwa kudus Rasulullah saw. Cara dan taktik yang mereka ambil ialah dengan memilih satu orang pemuda dari setiap kabilah Quraisy. Mereka ditugaskan menyergap rumah Rasulullah saw pada tengah malam dan membunuhnya secara serentak.
Wahyu Ilahi turun dari langit, mengabarkan kepada Rasulullah saw akan tipu daya dan makar jahat orang-orang kafir Quraisy tersebut. Mengetahui rencana jahat itu, Imam Ali as segera pergi menuju rumah Rasulullah saw untuk bermalam di tempat tidur beliau.
Dengan izin Allah SWT, Rasulullah saw berhasil keluar pada malam hari itu juga tanpa diketahui oleh mereka. Mereka malah menduga bahwa beliau masih berada di tempat tidurnya. Ketika mereka berhasil masuk untuk membunuh beliau saw, ternyata yang mereka dapati adalah Ali. Betapa terkejutnya saat mereka menjumpai Ali yang tengah berbaring di atas tempat tidur Nabi saw. Mereka pun segera pergi meninggalkan rumah Nabi dalam keadaan malu dan penuh kecewa.
Demikianlah Rasulullah saw dapat menyelamatkan diri berkat pengorbanan sahabatnya yang setia, Imam Ali as.
Di Jalan Allah
Islam adalah agama keselamatan dan kehidupan. Karena itu, Islam menolak pembunuhan dan pertumpahan darah tanpa hak. Semua peperangan dan pertempuran yang terjadi pada masa Rasulullah saw adalah demi membela diri dan mempertahankan agama.
Beliau senantiasa berusaha menghindari peperangan sebisa mungkin. Akan tetapi ketika Islam terancam bahaya, kaum muslimin pun melakukan pertahanan dan perlawanan gigih dan kesatria demi mengangkat “Kalimat Allah”.
Ketika kita mengkaji peperangan-peperangan yang terjadi pada masa awal-awal Islam, sejarah mencatat bahwa pedang Ali bin Abi Thalib berperan andil yang sangat besar atas kejayaan Islam dan umatnya. Pedang yang diberi nama Dzul Fiqar itu senantiasa berkilauan, bagaikan kilat menyambar dalam setiap medan peperangan.
“Ali senantiasa bersama hak dan hak selalu bersama Ali.” Demikian sabda Nabi saw tentang Imam kita, Ali bin Abi Thalib as.
Akhlak Imam Ali as
Pada masa khilafah Imam Ali as, Kufah merupakan ibu kota pemerintahan Islam, sekaligus menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.
Pada suatu hari, terjadi pertemuan di luar kota Kufah antara dua orang laki-laki. Satu di antara mereka adalah Amirul Mukminin Ali as dan yang lainnya adalah seorang laki-laki yang beragama Nasrani. Laki-laki Nasrani ini sama sekali tidak mengenal beliau. Berlangsunglah percakapan antara kedua orang itu sambil berjalan, hingga keduanya sampai di persimpangan yang memisahkan jalan mereka menjadi dua; yang satu menuju kota Kufah dan yang lainnya mengarah ke suatu perkampungan.
Imam Ali as harus menempuh perjalanannya menuju kota Kufah, sementara laki-laki Nasrani itu hendak melanjutkan perjalanannya menuju kampungnya. Namun beliau masih saja mengiringinya, padahal seharusnya beliau mengambil jalan yang menuju ke arah kota kufah.
Laki-laki Nasrani itu terkejut dan berkata kepada Imam Ali, “Bukankah Anda hendak kembali ke Kufah?” Beliau menjawab, “Ya betul, akan tetapi aku ingin mengantarmu beberapa langkah demi menunaikan hak persahabatan dalam perjalanan, karena sesungguhnya teman seperjalanan itu mempunyai hak dan aku ingin memenuhi hakmu itu.”
Laki-laki Nasrani itu merasa tertarik dan ia bergumam dalam hatinya, “Betapa agung dan mulianya agama orang ini yang telah mengajarkan akhlak yang mulia kepada manusia.” Ia pun sangat terdorong untuk mengungkapkan keislamannya dan bergabung bersama kaum muslimin.
Kekaguman dan keterkejutannya itu menjadi lebih besar lagi tatkala ia tahu, bahwa sebenarnya teman perjalanannya itu tiada lain adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, pemimpin negara Islam yang luas.
Keteguhan Ali as
Pada kondisi yang wajar dan normal, seseorang akan dapat mengendalikan jiwa dan menentukan sikapnya yang sesuai dengan kondisi tersebut. Akan tetapi, pada kondisi dimana ia terbakar api kemarahan dan permusuhan, seseorang acapkali kehilangan keseimbangan dirinya, hingga pada saat-saat seperti ini sulit sekali baginya untuk menguasai kembali dirinya.
Tidak demikian halnya pada diri Ali Abi Thalib as. Ia tetap tenang dan tegar pada setiap keadaan dan kondisi. Sikapnya sama sekali tidak terpengaruh oleh dorongan emosi jiwanya, dan perbuatannya senantiasa mengiringi ridha Allah SWT.
Perilaku Ali di dalam rumah tangga, sikapnya dalam peperangan, pergaulan dan perlakuannya di tengah masyarakat senantiasa tunduk di bawah syariat dan undang-undang Islam. Beliau telah menjaga jiwanya sedemikian rupa, sehingga ia menjadi teladan yang unggul bagi setiap muslim yang beriman kepada Tuhannya.
Dalam perang Khandaq, ketika kaum musyrikin hendak menyerang kota Madinah, atas perintah Rasulullah saw kaum muslimin menggali parit untuk melindungi kota dari serangan musuh. Situasi saat itu sangat genting dan membahayakan sekali bagi umat Islam, terlebih lagi ketika ‘Amr bin Abdi Wud dan sebagian penunggang kuda musyrikin Quraisy berhasil melompati parit tersebut.
Setelah berhasil melewati parit dengan kudanya yang besar dan gagah, Amr bersuara lantang menantang kaum muslimin untuk turun ke perang tanding dengannya. ‘Amr bukanlah orang biasa. Ia seorang jawara Arab yang gagah berani.
Ketika itu sebagian besar kaum Muslimin merasa ciut dan gentar hatinya untuk berhadapan dengannya, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Pada kesempatan inilah Imam Ali bangkit untuk memenuhi tantangan ‘Amr. Beliau maju menuju ke arah musuh yang congkak itu, tanpa sedikit pun ada rasa takut dalam hatinya.
Sementara itu, Rasulullah saw dengan tenang menyaksikan peristiwa itu dan bersabda, “Kini keimanan seutuhnya bangkit melawan kemusyrikan seutuhnya.”
Akan tetapi, ‘Amr bin Abdi Wud berusaha menghindar dari bertanding duel dengan Imam Ali. Ia berkata, “Wahai Ali! Kembalilah! Aku tidak ingin membunuhmu.” Ali menjawab dengan penuh kemantapan iman, “Tapi, aku ingin membunuhmu.”
Mendengar jawaban itu, ‘Amr naik pitam dan begitu berang. Segera ia menghunuskan pedangnya dan melayangkannya ke arah Ali. Namun, Ali dengan cepat dapat menghindar dari serangan pedang tersebut. Untuk beberapa saat, kedua pemberani itu itu saling menyerang, menangkis, dan menghindar.
Ali tidak memberikan peluang sedikit pun kepada lawannya untuk menarik nafas. Sampai pada kesempatan yang tepat, Ali dapat melayangkan pedang Dzul Fiqarnya tepat mengenai sasaran yang membuat ‘Amr jatuh tersungkur di atas tanah. Pemandangan tersebut membuat kawan-kawan ‘Amr ketakutan dan mundur secara teratur.
Namun, tatkala Ali hendak menghabisi nyawanya, ‘Amr yang congkak itu malah meludahi wajahnya. Untuk sesaat saja perlakuan seperti itu menyulut kemarahan Ali. Karena itu pula ia mengurungkan niat untuk membunuh ‘Amr sampai emosi beliau kembali tenang. Ali melakukan ini agar tebasan pedangnya bukan sebagai pembalasan dendam dan dorongan murka, akan tetapi demi keikhlasannya yang murni kepada Allah SWT dan agama-Nya.
Sungguh, Ali adalah kesatria teladan bagi seluruh prajurit di semua peperangan dan pertempuran. Sikap dan sepak terjangnya telah mengukir indah sejarah bangsa Arab dan Islam dengan tinta emas.
Setelah ‘Amr bin Abdi Wud terhempas mati, Ali kembali membawa kemenangan gemilang kepada Rasulullah saw. Beliau menyambutnya degan penuh hangat, haru, dan puas. Beliau berkata, “Tebasan pedang Ali atas ‘Amr menandingi pahala ibadahnya seluruh tsaqalain.” Yakni, pukulan pedang Imam Ali as yang membelah badan ‘Amr menjadi dua itu sama dengan ibadahnya seluruh jin dan manusia.
Pada saat berlangsungnya duel antara Ali bin Abi Thalib dengan ‘Amr bin Abdi Wud, kaum musyrikin senantiasa mengamati dan memperhatikan peristiwa itu dengan penuh ketegangan. Tatkala mereka menyaksikan prajuritnya itu jatuh tersungkur ke tanah, mereka pun mendengar Ali berteriak keras, “Allahu Akbar”. Seketika itu pula dada mereka bergetar ketakutan, jiwa mereka tampak melemah dan putus asa untuk melanjutkan peperangan.
Akhirnya, mereka mengakhiri penyerangan dan pengepungan kota Madinah dan kembali menarik diri dengan segenap kepiluan, kegagalan, dan kekecewaan.
Imam Ali as di Perang Shiffin
Kekesatriaan dan keprawiraan itu tidaklah berarti apapun jika tidak diiringi dengan sifat semulia belas dan kasih sayang. Manusia yang berjiwa laksana pahlawan dan pemberani senantiasa menjaga kehormatan dirinya.
Demikianlah sosok agung Imam Ali as.
Beliau tidak mau membunuh musuhnya yang telah terluka parah atau tercekik kehausan. Beliau juga enggan mengusir orang yang kalah. Perikemanusiaannya begitu tinggi dalam setiap peperangan. Beliau tidak pernah menggunakan lapar atau haus-dahaga sebagai senjatanya dalam peperangan melawan musuh-musuh Islam, walaupun mereka sama sekali tidak menganggap penting akan perkara itu.
Bahkan sebaliknya, musuh-musuh Islam tak segan-segan menggunakan cara yang paling buruk demi meraih kemenangan. Dalam perang Shiffin misalnya, pasukan Mu‘awiyah berhasil menguasai sungai Furat, dan ia memerintahkan kepada segenap pasukannya agar mencegah prajurit Imam Ali as untuk mendekati sungai tersebut. Namun, beliau mengingatkan mereka bahwa ajaran Islam, kemanusiaan, dan kekesatriaan sangat mengecam perlakuan semacam itu. Akan tetapi, Muawiyah tidak mempedulikannya, karena yang ia pikirkan hanyalah keuntungan pribadi dan tujuannya yang rakus dan hina.
Pada saat itu Imam Ali as berkata kepada para prajuritnya dengan suara lantang, “Hilangkan dahaga pedang-pedang kalian dengan darah, demi menghilangkan rasa haus kalian dengan seteguk air, karena sesungguhnya kematian dalam kehidupan kalian akan tunduk, dan kehidupan dalam kematian kalian akan unggul.”
Dengan serentak para prajurit Imam Ali as menyerang musuh-musuh Islam yang tengah menjaga sungai Furat, dan dengan mudahnya mereka merebut sungai itu. Kemudian para prajurit Imam Ali as pun segera menyatakan bahwa mereka akan memukul setiap pasukan Muawiyah yang hendak meneguk air dari sungai tersebut. Akan tetapi, Imam Ali as segera mengeluarkan perintahnya agar mengosongkan tepi sungai dan tidak menggunakan air sebagai senjata, karena yang demikian itu bertentangan dengan akhlak Islam dalam peperangan.
Sang Pemimpin Yang Miskin
Masih pada masa-masa menjabat sebagai Amiril Mukminin dan khalifah bagi kaum muslimin, Imam Ali as menghadapi berbagai tantangan, bencana, dan kesusahan hidup dunia. Walaupun demikian, beliau sendiri terjun langsung menangani kemiskinan umat Islam dan rakyatnya.
Imam Ali as sama sekali tidak memiliki dendam pribadi kepada siapa pun, sehingga orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan menyimpan kedengkian serta kebencian yang mendalam sekalipun tetap dapat menerima bagian dari Baitul Mal (kekayaan negara). Bahkan, beliau tidak membeda-bedakan dalam membagikan harta Baitul Mal itu di antara para sahabat, kerabat, famili, dan orang-orang yang dekat dengan beliau dengan yang rakyat lainnya.
Pada suatu hari, seorang wanita bernama Saudah datang menjumpai Amirul Mukminin Ali as untuk mengadukan perlakuan buruk seorang pegawai pajak terhadap dirinya. Ketika itu beliau sedang melaksanakan salat. Tatkala bayangan seorang wanita itu datang menghampirinya, beliau mempercepat salatnya.
Seusai salat, beliau menoleh kepada wanita itu dan berkata kepadanya dengan penuh santun dan lembut, “Apa yang bisa saya lakukan untukmu?” Sambil menangis Saudah menjawab, “Aku ingin mengadukan perlakuan buruk pegawai saat mengambil pajak dariku.” Mendengar hal itu Imam Ali as terkejut dan menangis, kemudian mengangkat kepalanya ke langit dan berkata, “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyuruh mereka untuk berbuat aniaya terhadap hamba-Mu.”
Setelah itu beliau megambil sepotong kulit dan menuliskan sebuah perintah untuk memecat pegawai buruk tersebut dari pekerjaannya. Surat tersebut beliau serahkan kepada Saudah. Dengan gembira wanita itu menerimanya untuk selanjutnya ia sampaikan kepada yang bersangkutan.
Pada suatu hari Amiril Mukminin Ali as menerima laporan dari kota Bashrah bahwa gubernur kota itu yang bernama Utsman bin Hanif telah memenuhi undangan seorang kaya raya dan hadir dalam pesta pernikahannya. Mendengar hal tersebut, beliau segera mengirimkan sehelai surat untuknya.
Dalam surat itu Imam Ali as. menegur dan memberikan peringatan kepada gubernurnya tentang sesuatu di balik undangan tersebut. Karena sesungguhnya orang-orang kaya apabila mengadakan pesta perkawinan bukanlah sekedar menyajikan jamuan makanan semata. Akan tetapi, acara semacam itu mereka jadikan sebagai alat pelicin dan suap untuk penguasa kota tersebut, sehingga mereka dapat meraih tujuan mereka. Di dalam surat itu pula Imam as menyampaikan berbagai saran dan nasihatnya yang perlu direnungkan dan dicamkan baik-baik.
Dalam surat tersebut Imam Ali as menegaskan, “Wahai Ibn Hanif, telah sampai laporan kepadaku bahwa ada orang kaya raya yang mengundangmu untuk menghadiri pesta pernikahan, lalu dengan segera dan senang hati engkau menyambut undangan tersebut dengan jamuan makanan yang berwarna warni. Sungguh aku tidak mengira bahwa engkau sudi menghadiri makanan seseorang yang hanya dihadiri oleh orang-orang kaya sedang orang-orang miskin tidak mereka hiraukan.
“Ketahuilah sesungguhnya setiap rakyat mempunyai pemimpin yang harus ditaati dan diikuti petujuk cahaya ilmunya. Ketahuilah! Sesungguhnya pemimpinmu mencukupkan tubuhnya hanya dengan dua helai jubah yang kasar, dan makanannya hanya dengan dua potong roti kering.”
Salah seorang sahabat Imam Ali as yang bernama ‘Ady bin Hatim At-Tha’i pernah ditanya seseorang tentang pemerintahan beliau. Ia berkata, “Aku saksikan orang yang kuat menjadi lemah di sisinya karena ia menuntut tanggung jawab darinya, dan orang yang lemah menjadi kuat di sisinya karena hak-haknya terpenuhi.”
Tentang keadaan hidupnya, beliau sendiri pernah menggambarkan, “Bagaimana mungkin aku menjadi seorang pemimpin jika aku sendiri tidak merasakan kesusahan dan kesengsaraan mereka.”
Dalam pandangan Imam Ali, kekuasaan dan jabatan itu tidaklah berharga. Pada suatu kesempatan, beliau pernah bertanya kepada Ibn Abbas sembari menjahit sandalnya, “Menurutmu berapa harga sandalku ini?” Setelah memandang dan mengamati beberapa saat, Ibnu Abbas berkata, “Sangat murah, bahkan tidak ada harganya.” Kemudian Imam Ali as lantas berkata, “Sesungguhnya sandal ini lebih berharga bagiku dibandingkan sebuah kekuasaan dan jabatan kecuali aku dapat menegakkan yang hak dan menghancurkan kebatilan.”
Tidak Ada Keistimewaan!
Sejak hari pertama menjadi khalifah kaum muslimin, Imam Ali as menegaskan di hadapan khalayak bahwa pemerintahannya akan berjalan di atas keadilan dan persamaan hak di antara rakyat, dan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan orang Ajam (non-Arab) kecuali dengan takwa. Beliau pun tidak membedakan antara tuan dengan budaknya.
Sebagian orang mengecam jalan pemetintahan beliau tersebut. Mereka memberikan usulan agar beliau kembali kepada cara-cara pemerintahan lama yang telah dijalankan oleh para khalifah sebelumnya. Namun, Imam Ali as menolak dengan jawaban keras, “Apakah kalian memintaku untuk meraih kemenangan dengan jalan kezaliman?” Beliau melanjutkan, “Seandainya harta negara itu adalah milikku sendiri, maka aku pun akan membagi rata kepada seluruh rakyat. Apalagi harta itu adalah milik Allah.”
Pada suatu hari kakak beliau yang bernama Aqil datang ke rumahnya. Imam Ali as menyambut gembira kedatangan sang kakak. Ketika tiba waktu makan malam, ternyata Aqil tidak melihat apa-apa di atas sufrah (alas makanan) selain roti dan garam. Ia terkejut dan berkata kepada Imam Ali, “Hanya inikah yang aku lihat?” Beliau menjawab, “Bukankah ini adalah nikmat Allah yang patut disyukuri?”
Kedatangan Aqil sebenarnya untuk meminta bantuan kepada Imam Ali as demi menutupi utangnya. Imam berkata, “Tunggu sebentar, aku akan ambilkan harta milikku.” Aqil mulai merasa kesal dan berkata, “Bukankah Baitul Mal ada di tanganmu? Kenapa engkau memberiku dari harta milikmu sendiri?” Imam as membalas, “Kalau kau mau, ambillah pedangmu dan aku akan mengambil pedangku, lalu kita keluar bersama-sama menuju ke kawasan Hairah yang di dalamnya terdapat peadagang-pedagang kaya, kita masuki rumah salah seorang dari mereka dan kita ambil harta kekayaannya.” Aqil menolak dan berkata, “Memangnya aku datang untuk merampok!” Imam as menjawab, “Mencuri harta kekayaan seorang dari mereka itu masih lebih baik daripada engkau mencuri harta milik semua kaum muslimin.”
Demikianlah Imam Ali as hidup pada masa pemerintahannya yang adil.
Beliau makan makanan kaum fakir miskin dan hidup dengan penuh kesederhanaan. Ketika orang-orang berkata kepada beliau, “Muawiyah membagi-bagikan harta kekayaan kepada orang-orang untuk menggalang pendukung. Akan tetapi mengapa engkau tidak melakukan hal yang serupa?” Imam as menjawab, “Apakah kalian hendak menyuruhku untuk meraih kemenangan dengan berlaku zalim?”
Membela Wanita
Pada suatu hari di musim panas yang sangat menyengat, seorang wanita diusir dari rumah oleh suaminya. Wanita itu meminta tolong kepada Imam Ali as. Dengan segera beliau keluar menuju rumah suami wanita yang malang tersebut. Setibanya di sana, beliau mengetuk pintunya. Seorang pemuda yang tidak mengenal beliau membuka pintu.
Ketika Imam mengecam perlakuan buruknya itu, pemuda tersebut berteriak dengan suara keras dan penuh kemarahan. Ia mengancam akan menyiksa isterinya itu lebih jahat lagi lantaran ia mengadukan perakuannya kepada Imam.
Pada saat itu, beberapa orang yang mengenal Imam melewati jalan di hadapan rumah tersebut. Mereka mengucapkan salam kepada Imam Ali as, “Assalamualaika, wahai Amirul Mukminin!” Mendengar ucapan salam mereka itu, pemuda tersebut baru sadar bahwa orang yang kini berada di hadapannya adalah khalifah kaum muslimin.
Tak pelak lagi, ia pun gemetar ketakutan, lalu menundukkan diri dan segera mencium tangan Imam seraya memohon maaf dalam-dalam. Pemuda itu berjanji kepada Imam untuk tidak mengulang lagi perlakuan buruknya tersebut. Imam menasihati kedua suami-isteri itu dan memberikan bimbingan agar kehidupan rumah tangga mereka terbina tentram dan hidup dengan penuh kedamaian.
Ghadir Khum
Pada tahun 10 H, Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji Wada’. Haji Wada’ adalah haji terakhir sekaligus haji perpisahan bagi beliau. Beliau merasa sudah semakin dekat perjumpaannya dengan Allah SWT. Sejak awal masa risalah, sering kali beliau menyampaikan perkara tentang seseorang yang bakal menjadi pengganti beliau sebagai khalifahnya untuk kaum muslimin.
Nabi saw senantiasa berfikir bagaimana caranya membuka jalan untuk kesuksesan khalifahnya, Ali bin Abi Thalib as. Mengenai kekhilafahannya beliau memberikan berbagai isyarat dan penegasan yang didengar langsung oleh para sahabat, “Ali senantiasa bersama kebenaran, dan kebenaran senantiasa bersama Ali.” Atau sabda beliau lainnya, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya.”
Jabir bin Abdillah Al-Ansari ra pernah berkata, “Kami tidak dapat mengenali orang-orang munafik kecuali dengan mengetahui kedengkian mereka terhadap Ali as.”
Lain dari itu, para sahabat pun pernah mendengar wasiat Nabi saw yang menyatakan, “Ayyuhannas, aku berwasiat kepada kalian agar mencintai saudara dan putra pamanku, Ali bin Abi Thalib, karena sesungguhnya tidak ada yang mencintainya kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang mendengkinya kecuali orang munafik.”
Sampai pada tanggal 18 bulan Dzulhijjah tahun yang sama, Rasulullah saw kembali dari melaksanakan haji Wada’ yang diikuti oleh lebih dari seratus ribu kaum muslimin. Saat itulah Jibril as turun membawa pesan langit untuk beliau.
Rasulullah saw menghentikan perjalanannya di suatu tempat yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Beliau memerintahkan semua kaum muslimin agar menghentikan perjalanan mereka di tempat yang mulia dan bersejarah itu. Di tengah padang pasir dan di tengah panasnya terik matahari yang membakar itu, beliau menyampaikan khutbahnya di hadapan kaum muslimin dan seluruh para sahabatnya. Dalam khutbahnya itu beliau bersabda, “Ayyuhannas, tak lama lagi aku akan dipanggil oleh Tuhanku dan aku akan memenuhi panggilan-Nya itu. Sesungguhnya aku akan dimintai tanggung jawab, demikian pula kalian, maka apakah yang akan kalian katakan?”
Kaum muslimin dengan serentak menjawab, “Sesungguhnya kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Tuhan dengan baik, engkau telah berjihad dan memberikan nasihat, semoga Allah akan membalasmu dengan kebaikan.”
Nabi saw melanjutkan, “Bukankah kalian telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya? Sesungguhnya surga adalah nyata, neraka adalah nyata, kematian adalah nyata, kebangkitan adalah nyata, hari akhirat itu tidak diragukan lagi kejadiannya, dan sesungguhnya Allah SWT akan membangkitkan orang-orang yang berada di dalam kubur.”
Kaum muslimin menjawab lagi dengan serempak, “Benar, kami bersaksi akan hal itu semua.”
Rasulullah saw menengadah ke hadirat Allah SWT, “Ya Allah! Saksikanlah kesaksian mereka itu!”
Lalu beliau menyambung khutbahnya, “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah SWT adalah pembimbingku, sedang aku adalah pemimpin kaum mukminin, dan sesungguhnya aku lebih utama daripada diri-diri kalian. Maka, barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.
“Dan sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian dua pusaka (tsaqalain) yang sangat berharga, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan ‘Ithrah (Ahlulbait).”
Pada siang itu, puluhan ribu kaum muslimin melihat dan menyaksikan Nabi saw mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib as sebagai cara pelantikannya menjadi khalifah bagi seluruh kaum muslimin setelah ketiadaan beliau. Para sahabat yang kemudian diikuti oleh kaum muslimin lainnya menyatakan baiat (ikrar setia) kepada Imam Ali as mengucapkan sambutan selamat kepadanya, “Salam sejahtera atasmu, wahai pemimpin kaum mukminin!”
Nasib Khilafah
Rasulullah saw telah mangkat meninggalkan dunia yang fana ini untuk selamanya demi memenuhi panggilan Tuhannya, sebagaimana yang telah beliau katakan. Seluruh kaum muslimin merasa terkejut dengan kepergiannya itu.
Di tengah-tengah duka dan kesedihan yang mendalam, tidak jauh di seberang sana berkumpul sekelompok umat Islam untuk memilih seorang khalifah yang akan menggantikan Rasul sebagai pemimpin umat. Dengan cara ini mereka sesungguhnya telah merampas kedudukan khilafah dari pemegangnya yang sah. Mereka membiarkan Imam Ali as sendirian. Beliau sendiri lebih memilih berdiam diri demi menjaga keutuhan agama dan kemaslahatan seluruh kaum muslimin saat itu.
Setelah kemelut yang panjang dan tegang, akhirnya Abu Bakar dinyatakan terpilih sebagai khalifah pertama bagi kaum muslimin. Khilafahnya dilanjutkan oleh Umar bin Khattab.
Ketika tiba saatnya khilafah jatuh di tangan Utsman bin Affan, keluarga Bani Umayyah mulai ikut duduk di berbagai jabatan pemerintahannya. Mereka dapat memegang kendali khilafah tanpa lagi menyembunyikan ketamakan dan kerakusannya. Maka tersebarlah kerusakan di mana-mana. Tak segan-segan keluarga Umayyah berlaku sewenang-wenang, dan menjalankan pemerintahan Ustman dengan penuh kezaliman.
Pada masa itu, kaum muslimin melihat Utsman hanya memilih dan mengutamakan keluarganya untuk duduk di dalam kekuasannya, dan bahkan mengasingkan sebagian sahabat terkemuka Nabi seperti Abu Dzar, lebih keras lagi dari itu ia pun berani memecut seorang sahabat Nabi yang sangat dekat dan setia, Ammar bin Yasir tanpa alasan dan bukti yang jelas.
Kenyataan ini membuat kaum muslimin segera mengadakan demo dan unjuk rasa. Mereka mendatangi kota Madinah untuk menuntut Utsman agar turun dari kursi khilafah Rasul saw.
Api amarah masyarakat muslim terhadap Utsman semakin membara. Dalam situasi itu, Imam Ali as berusaha mendamaikan dan menentramkan mereka, serta menasihati Khalifah Utsman agar segera bertaubat dan bersikap adil, dan menganjurkannya agar tidak menuruti bisikan dan bujuk rayu orang-orang munafik, seperti Marwan bin Hakam. Sayangnya, Ustman tidak peduli pada nasihat dan arahan beliau.
Kemurkaan dan kedengkian kaum muslimin mencapai puncaknya. Mereka mengadakan pengepungan di sekeliling istana khilafah, nyawa Utsman pun terancam bahaya. Mengetahui hal itu Imam Ali as segera mengutus kedua puteranya, Al-Hasan dan Al-Husain as ke istana khilafah dan memerintahkan mereka berdua agar berdiri di depan pintu untuk menjaga Ustman dari serangan orang-orang yang hendak membunuhnya.
Dalam kondisi yang sudah sangat genting seperti itu, Khalifah Utsman tetap berkeras kepala pada sikapnya memerintah, padahal kemarahan para demonstran sudah mencapai titik-didihnya. Puncak kemarahan tersebut meledak ketika sebagian mereka memanjat naik ke istana dan masuk lewat belakang, hingga akhirnya mereka berhasil mendekati Utsman. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, mereka segera membunuhnya.
Khalifah Utsman pergi meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Adapun kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi rumah Imam Ali as. Mereka memohon kepadanya agar menerima khilafah, menjadi amiril mukminin, dan memimpin umat Islam dengan penuh keadilan.
Pada mulanya, Imam Ali as menolak permohonan kaum muslimin itu, namun karena mereka terus mendesak, akhirnya beliau menerima tawaran tersebut.
Mulailah Amiril Mukminin Ali as menjalankan roda khilafahnya dan mengatur negara berdasarkan keadilan dan undang-undang Islam. Panji kebenaran dan keadilan kembali berkibar di bawah kepemimpinan beliau. Di dalamnya kaum muslimin pun kembali menikmati ketentraman setelah 25 tahun lamanya.
Pemerintahan Imam Ali as
Sejak hari pertama khilafah dan kepemimpinannya, Imam Ali as menegaskan di hadapan kaum muslimin asas pemerintahannya, yaitu menegakkan keadilan, menjalankan undang-undang Allah SWT, dan menindak segala macam kezaliman dan kejahatan.
Masyarakat muslim telah terbiasa menghadapi kezaliman dan ketidakadilan pada masa-masa sebelumnya. mereka telah menyaksikan perlakuan khalifah yang tidak lagi berlandasakan pada hukum-hukum Allah; mereka mengistimewakan sebagian dan menelantarkan sebagian lainnya, mencurahkan harta kekayaan negara hanya kepada keluarga Umayyah dan orang-orang yang setia kepada kekuasaannya saja. Sementara sebagian besar kaum Muslimin hidup dalam keadan miskin dan penuh dengan penderitaan.
Ketika Ali bin Abi Thalib as menjabat sebagai khalifah dan beliau berjanji akan menegakkan keadilan di tengah kaum muslimin, terutama bagi yang keadaan ekonominya lemah, mereka menyambutnya dengan penuh harapan. Lain halnya dengan orang-orang kaya yang biasa hidup mewah dan suka berfoya-foya. Sebagian mereka sangat khawatir kekayaan, kemewahan dan kepentingan mereka terusik dengan keadilan Ali as.
Karena itu, mereka segera bergerak cepat menyiapkan langkah-langkah dalam rangka menghadapi pemerintahan Ali as berkobarlah api permusuhan dan peperangan di dalam negara dan di antara sesama kaum Muslimin. Sejarah mencatat bahwa perang Jamal adalah peperangan pertama di antara mereka. Setelah itu terjadi perang Shiffin, lalu perang Nahrawan.
Syahadah Imam Ali as
Setelah kaum Khawarij mengalami kekalahan besar dalam perang Nahrawan, tiga orang durjana berkumpul untuk mengambil mufakat, yaitu membunuh beberapa orang yang mereka anggap sebagai musuh dan penghalang mereka dalam mencapai tujuan-tujuan mereka.
Ketiga orang itu adalah Ibnu Muljam, Hajjaj bin Abdillah, dan Umar bin Bakar At-Tamimi. Mereka bertiga telah sepakat dan bertekad untuk membunuh Muawiyah, ‘Amr bin ‘Ash, dan Imam Ali as. Ibnu Muljam sendiri telah bersumpah untuk melakukan pembunuhan atas Imam Ali as. Maka pada 19 Ramadhan 40 H., Ibnu Muljam melakukan rencana jahatnya.
Seperti biasa, subuh itu Imam Ali as memimpin salat subuh berjamaah bersama kaum Mukminin di Masjid Kufah, Irak. Ibnu Muljam berhasil menyusup diam-diam sampai mendekati beliau yang tenagh bersujud. Namun, tatkala beliau bangkit dari sujudnya, Ibnu Muljam segera menebaskan pedangnya yang beracun itu, tepat di bagian kepala beliau as. Darah suci beliau berhamburan memerahi mihrab dan pakaian beliau. Pemimpin yang adil itu meratap lemah, “Demi Tuhan Ka’bah! Sungguh aku telah menang.”
Pada saat itu, terdengar oleh masyarakat suara dari langit berucap, “Demi Allah, sungguh tonggak petunjuk telah roboh, orang yang paling takwa telah terbunuh, … orang yang paling celaka telah membunuhnya.”
Ibnu Muljam berusaha melarikan diri dari kota Kufah. Akan tetapi, ia berhasil dibekuk. Ketika ia dibawa ke hadapan Imam Ali as, beliau berkata kepadanya, “Bukankah aku selalu berbuat baik kepadamu?”
Ia menjawab, “Ya, betul.”
Sebagian orang berusaha untuk melakukan pembalasan dendam terhadap Ibnu Muljam. Akan tetapi, Imam Ali mencegah mereka. Bahkan, beliau berpesan kepada putranya Hasan as agar senantiasa berbuat baik kepadanya selama beliau masih hidup.
Pada 21 Ramadhan, Imam Ali as menjemput kesyahidannya. Tak lama setelah itu, Imam Hasan as melaksanakan hukum Qishash Islam terhadap pembunuh ayahnya itu.
Demikianlah Imam Ali as, sang pemimpin yang adil itu meninggalkan dunia pada usia 63 tahun, sama dengan usia Rasulullah saw. Jenazah beliau dimakamkan di luar kota Kufah secara rahasia di kegelapan malam.[]
Mutiara Hadits Imam Ali as
▪ “Janganlah engkau mencari kehidupan hanya untuk makan. Akan tetapi, carilah makan agar engkau dapat hidup.”
▪ “Sesuatu yang paling merata manfaatnya adalah kematian orang-orang jahat.”
▪ “Janganlah engkau mengecam Iblis secara terang-terangan, sementara engkau adalah temannya dalam kesunyian.”
▪ “Akal seorang penulis itu terletak pada penanya.”
▪ “Kawan sejati adalah belahan ruh, sedangkan saudara adalah belahan badan.”
▪ “Janganlah engkau mengucapkan sesuatu yang engkau sendiri tidak suka jika orang lain mengucapkannya kepadamu.”
▪ “Kurang ajar adalah penyebab segala keburukan.”
▪ “Galilah ilmu pengetahuan sejak kecil, pasti engkau akan beruntung tatkala besar.”
▪ “Lebih baik engkau memilih kalah (mengalah) sedang engkau sebagai orang yang adil, daripada engkau memilih menang dalam keadaan engkau sebagai orang yang zalim.”
Riwayat Singkat Imam Ali as
Nama : Ali.
Gelar : Amirul Mukminin.
Julukan : Abul Hasan.
Lahir : Tahun 23 H.
Syahadah : Tahun 40 H.
Masa Imamah : Tahun 35 H.
Masa Khilafah : 5 tahun.
Usia : 63 tahun.
Makam : Najaf Asyraf, Irak.
Imam Hasan
Hari Lahir
Di rumah yang dindingnya berlapiskan tanah, di kota Madinah Al-Munawwarah, seorang cucunda Nabi, Hasan dilahirkan. Hari itu bertepatan dengan 15 Ramadhan. Hasan kecil diasuh dalam haribaan datuknya, Muhammad saw dan ayahnya Ali bin Abi Thalib as, serta ibunya Fatimah Az-Zahra’ as.
Rasulullah saw sangat mencintai Hasan as. Beliau mengatakan, “Hasan bin Ali adalah putraku.” Dalam kesempatan yang lain beliau menyatakan, “Hasan adalah permata hatiku di dunia.”
Sudah lama kaum muslimin menyaksikan Nabi saw sering membawa Hasan as di pundaknya dan beliau pernah berkata, “Semoga Allah SWT mendamaikan dua kelompok dari kaum muslimin dengan perantaranya.” Kemudian beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah orang-orang yang mencintainya.” Beliau pun senantiasa mengulang-ulang berita ini, “Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda di surga.”
Suatu hari Rasulullah saw melakukan salat di masjid. Kemudian Hasan as menghampirinya, sedang beliau dalam keadaan sujud. Karena ia naik ke atas punggungnya, lalu duduk di leher datuk kinasihnya itu, Rasulullah saw bangun dari sujudnya secara perlahan-lahan sampai Hasan turun sendiri.
Tatkala beliau selesai dari salatnya, sebagian sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau telah berbuat sesuatu terhadap anak kecil ini yang tidak pernah engkau lakukan kepada yang lainnya.”
Nabi menjawab, “Sesungguhnya anak ini adalah jantung hatiku dan anakku ini adalah ‘sayid’ (sang pemimpin). Semoga Allah SWT mendamaikan dua kelompok muslim yang berseteru melalui tangannya.”
Perangai Imam Hasan as
Suatu waktu, Imam Hasan as dan Imam Husain as berjalan menuju masjid. Tiba-tiba mereka menyaksikan seorang kakek tua yang sedang berwudhu. Namun, tata cara wudhunya tidak benar.
Imam Hasan as berpikir sejenak, bagaimana cara menunjukkan wudhu yang benar kepada kakek tersebut tanpa harus menyinggung perasaannya. Kemudian, keduanya mendatangi kakek tersebut seolah-olah keduanya sedang bertengkar tentang wudhu siapakah yang benar. Masing-masing mengatakan, “Wudhumu tidak benar!” Kemudian keduanya berkata pada kakek tersebut, “Wahai kakek, berilah keputusan yang bijak untuk kami berdua, mana di antara kami yang wudhunya benar.”
Maka, mulailah keduanya berwudhu. Lantas kakek itu mengatakan, “Wudhu kalian semua sudah benar.” Kemudian kakek itu menunjuk kepada dirinya sendiri dan berkata, “Hanya kakek yang bodoh inilah yang tidak benar wudhunya, dan kini telah belajar dari kalian berdua.”
Pada suatu hari, salah seorang sahabat menyaksikan Nabi saw memanggul Hasan dan Husain di pundaknya. Sahabat itu berkata, “Semulia-mulia unta adalah unta kalian.”
Nabi saw menjawab, “Dan Semulia-mulia penunggang adalah mereka berdua.”
Ketakwaan Imam Hasan as
Imam Hasan as adalah orang yang paling ‘abid (tekun ibadah) pada zamannya. Ia menunaikan ibadah haji sebanyak 25 kali dengan berjalan kaki.
Bila beliau hendak berwudhu dan shalat, wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya bergetar karena takut kepada Allah SWT. Beliau berkata, “Suatu keharusan bagi setiap orang yang berdiri di depan Tuhannya untuk merasa takut, pucat wajahnya, dan gemetar seluruh tubuhnya.”
Apabila telah sampai di pintu masjid, beliau menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata dengan penuh khusyuk, “Tuhanku inilah tamu-Mu berdiri di beranda pintu rumah-Mu! Wahai Dzat Yang Mahapemurah, telah datang orang yang banyak melakukan keburukan kepada-Mu! Maka hapuskanlah seluruh keburukan yang ada pada diriku dengan kebaikan yang ada di sisi-Mu, Wahai Yang Maha Mulia!”
Kelembutan Imam Hasan as
Pada suatu hari, Imam Hasan as berjalan di tengah keramaian masyarakat. Tiba-tiba di tengah jalan beliau bertemu dengan orang tak dikenal yang berasal dari Syam. Orang tersebut ternyata seorang yang sangat benci terhadap Ahlulbait Nabi saw (nashibi). Mulailah orang itu mencaci maki Imam. Beliau tertunduk diam tidak menjawab sepatah kata pun di hadapan cacian itu, hingga orang itu menuntaskan caciannya.
Setelah itu, Imam as membalasnya dengan senyuman, lantas mengucapkan salam kepadanya sembari berkata, “Wahai kakek, aku kira engkau seorang yang asing. Bila engkau meminta pada kami, kami akan memberimu. Bila engkau meminta petunjuk, aku akan tunjukkan. Bila engkau lapar, aku akan mengenyangkanmu. Bila engkau tidak mememiliki pakaian, aku akan berikan pakaian. Bila engkau butuh kekayaan, aku akan berikan kekayaan. Bila engkau orang yang terusir, aku akan kembalikan. Dan bila engkau memiliki hajat yang lain, aku akan penuhi hajatmu.”
Mendengar jawaban Imam Hasan as tersebut, kakek tersebut terperanjat dan terkejut, betapa selama ini ia keliru menilai keluarga Nabi saw. Sejak saat itu, dia sadar bahwa Mu‘awiyah telah menipu dirinya dan masyarakat yang lain. Bahkan Mu‘awiyah telah menyebarkan isu dan fitnah tentang ihwal Ali bin Abi Thalib as dan keluarganya.
Terkesan oleh jawaban Imam as, Kakek itu pun menangis dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah khalifah Allah SWT di muka bumi ini, dan sesungguhnya Allah Mahatahu kepada siapa risalah-Nya ini hendak diberikan. Sungguh sebelum ini engkau dan ayahmu adalah orang-orang yang paling aku benci dari sekalian makhluk Allah. Tapi, sekarang engkau adalah orang yang paling aku cintai dari segenap makhluk-Nya.”
Kakek tersebut akhirnya dibawa oleh Imam as ke rumahnya dan beliau menjamunya sebagai tamu terhormat hingga dia pergi.
Kedermawanan Imam Hasan as
Seorang pernah datang menjumpai Imam Hasan as dan meminta kepada beliau untuk memberi sejumlah uang. Atas permintaan orang itu, Imam as memberikan 50.500 Dirham.
Ketika seorang Arab Badui datang meminta, Imam as berkata, “Berikan apa yang ada dalam laci itu padanya.” Di dalamnya didapati 20.000 Dinar, dan segera diberikan kepada orang Badui itu.
Pada suatu hari, Imam Hasan as melakukan tawaf di Ka’bah. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang yang sedang berdoa kepada Allah SWT agar memberinya rezeki sebanyak 10.000 Dirham. Kemudian beliau pergi ke rumahnya, lantas mengirimkan 20.000 Dirham untuknya.
Diriwayatkan, seseorang menjumpai Imam Hasan dan berkata, “Aku telah membeli seorang budak dan ia melarikan diri dariku.” Mendengar itu, beliau lekas memberinya delapan orang budak sebagai ganti budaknya yang hilang itu.
Khilafah (Kepemimpinan Islam)
Segera setelah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menemui kesyahidan pada 21 Ramadhan akibat tebasan pedang Ibnu Muljam, kepemimpinan Islam beralih ke pundak putranya, yaitu Imam Hasan as. Peralihan ini disambut oleh kaum muslimin saat itu dengan menyatakan baiat (ikrar setia) kepada beliau. Ketika itu, beliau baru berusia 27 tahun.
Pada pagi hari, di awal peralihan kepemimpinan umat itu, Imam as naik ke atas mimbar dan memberikan pidato tentang sejarah, kelangsungan kepemimpinan politik ayahnya dalam memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan menantang setiap makar para pengkhianat agama.
“Sungguh telah diambil nyawanya pada malam itu. Dialah manusia yang orang-orang sebelumnya belum pernah mengunggulinya dalam beramal, dan orang-orang setelahnya pun tak sanggup melakukan amalan tersebut. Sungguh ia berjuang bersama Rasulullah dan telah menjaganya dengan dirinya, dan Rasulullah memberikan panji Islam kepadanya. Sedang malaikat Jibril menjaganya dari sisi kanan dan malaikat Mikail dari sisi kirinya. Dan beliau tidak pernah kembali sehingga Allah SWT membuka dan memperlihatkan kemenangan kepadanya. Sungguh beliau telah syahid di malam ketika Isa bin Maryam as dimikrajkan dan di malam ketika Yusya’ bin Nun, sang penerus Musa as pergi menghadap Allah SWT.”
Kemudian air mata Imam Hasan as luruh membasahi pipinya. Tangisan beliau telah membuat orang-orang yang hadir saat itu juga ikut menangis.
Lalu Imam as melanjutkan pidato, “Aku adalah putra dari pemberi kabar gembira (basyir). Aku adalah putra pemberi peringatan (nazdir). Aku adalah putra penyeru ke jalan Allah (da’i). Aku adalah putra pelita yang cerlang (sirajun munir). Aku adalah bagian keluarga Nabi (Ahlulbait) yang Allah telah jauhkan dari segala kotoran dari diri mereka dan telah mensucikan mereka sesuci-sucinya.
“Aku termasuk Ahlulbait yang Allah SWT telah mewajibkan orang-orang untuk mencintainya sebagaimana firmannya, ‘Katakanlah [wahai Muhammad]! ‘Aku tidak meminta upah apa pun dari kalian atas risalah ini kecuali kecintaan kepada keluargaku.’ Dan barang siapa melakukan suatu kebaikan, maka akan Kami tambahkan baginya suatu kebaikan.’” (QS. Asy-Syura: 22)
Tak lama setelah itu bangkitlah Abdullah bin Abbas dan berkata, “Ketahuilah wahai sekalian manusia, inilah putra Nabimu dan penerima wasiat dari Imammu. Maka, berbaiatlah kepadanya!”
Serempak orang-orang menjawab seruannya dan bergegas untuk memberikan baiat kepada Imam Hasan as.
Muslihat dan Makar Mu‘awiyah
Sementara itu, Mu‘awiyah secara terus-menerus melancarkan makar dan penentangan terhadap Imam Hasan as. Sebagaimana pada masa Imam Ali as, perang Shiffin dan perang Nahrawan adalah bentuk pembangkangannya terhadap khalifah muslimin, dan usahanya dalam rangka merampas tampuk kepemimpinan umat Islam dari tangan pemimpinnya yang sah.
Masyarakat telah memilih Imam Hasan as sebagai khalifah Rasulullah saw, dan sebagai pemimpin mukminin. Akan tetapi, Mu‘awiyah menentang dan menolak baiat kepadanya. Alih-alih menunjukkan ketaatan, dia malah menyebarkan mata-matanya ke Kufah dan Bashrah, serta mengirimkan uang guna membeli hati beberapa orang dekat beliau.
Imam Hasan as tidak menganggap remeh makar yang dilakukan oleh Mu‘awiyah. Bahkan, beliau memerintahkan untuk menghukum mati para mata-mata Mu‘awiyah. Kemudian beliau mengirimkan surat ancaman kepada Mu‘awiyah agar ia menghentikan penyimpangan dan penentangannya.
Persiapan Perang
Selain melakukan makar, Mu‘awiyah mengerahkan seluruh tentaranya untuk menebarkan rasa takut di hati kaum muslimin. Tak segan-segan ia menyerang mereka serta merampok seluruh harta benda miliknya. Imam Hasan as berupaya untuk melawan dan bersiap-siap menyusun barisan perang.
Di hadapan kaum muslimin, Imam mengatakan, “Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan jihad untuk makhluknya dan menjadikan jihad tersebut sebagai sebuah kewajiban. Kemudian Allah SWT mengatakan kepada mujahidin, “Bersabarlah! Karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, dan kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan kecuali dengan kesabaran atas apa yang kalian tidak inginkan. Berangkatlah! Semoga Allah SWT menaungi kalian!”
Sayang sekali, rasa takut telah menguasai mereka sehingga sambutannya untuk ikut berperang begitu dingin. Maka, di sinilah Adi bin Hatim At-Tha’i, salah seorang sahabat Imam as, bangkit sambil berteriak lantang dan mencemooh mereka, “Akulah Adi bin Hatim! Maha Suci Allah, Duhai … alangkah jijiknya tempatku ini! Tidaklah kalian sambut seruan Imam dan putra Nabi kalian.”
Sebagian pembela Imam Hasan bangkit dan memberi semangat kepada masyarakat untuk bersiap-siap menghadapi Mu‘awiyah. Hingga tersusunlah pasukan berjumlah dua belas ribu prajurit. Pasukan ini dipimpin oleh Ubaidillah bin Abbas yang kedua putranya telah dibunuh oleh Mu‘awiyah.
Sayangnya, di dalam tubuh pasukan Imam Hasan as sendiri terdapat banyak orang yang rakus akan dunia, sehingga Mu‘awiyah begitu mudahnya membeli mereka dengan kepingan Dirham dan Dinar, dan mereka pun begitu mudahnya membelot ke pasukan Mu‘awiyah.
Bahkan, Mu‘awiyah telah berhasil menyuap panglima perang Imam Hasan as, Ubaidillah bin Abbas dengan uang sebesar satu juta Dirham. Lantas ia pun berkhianat dan membelot dari pasukan beliau. Dia lebih memilih berdiri di barisan Mu‘awiyah dan rela membiarkan beliau bangkit sendiri.
Imam Hasan as memahami betapa sulitnya menghadapi Mu‘awiyah dengan pasukan-pasukan yang lemah imannya itu. Mereka merelakan dijualbelikan diri dan agamanya dengan harga yang amat rendah. Dari sinilah Mu‘awiyah menawarkan perdamaian kepada Imam as, dengan syarat beliau harus turun dari kekhalifahan.
Di samping itu, Imam Hasan as tahu bahwa dengan meneruskan perlawanan terhadap Mu‘awiyah malah akan membawa kehancuran dan kematian sahabat-sahabat serta pembela-pembela setia beliau yang sebagiannya adalah sahabat-sahabat mulia Nabi saw. Belum lagi tentara Syam yang akan menduduki Kufah. Semua itu turut melengkapi kekuatiran Imam as.
Perdamaian
Orang-orang Khawarij telah merencanakan siasat untuk membunuh Imam Hasan as yang ternyata mendapat dukungan Mu‘awiyah dari jauh, dengan maksud memaksa Imam Hasan as menerima usul perdamaian dan turun dari kursi kekhalifahan.
Imam as tidak memikirkan selain kepentingan Islam dan kemaslahatan umatnya. Maka itu, demi menghindari pertumpahan darah, Imam as dengan terpaksa menyepakati perdamaian itu, dan menulis butir-butir perdamaian, di antaranya:
1. Hendaknya Mu‘awiyah bertindak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah Nabi.
2. Hendaknya tidak melakukan pencaci-makian terhadap Ali bin Abi Thalib.
3. Mu‘awiyah tidah berhak untuk menentukan seorang pun untuk menduduki khilafah.
4. Tidak memaksa Imam Hasan untuk mengakui Mu‘awiyah sebagai Amirul Mukminin.
5. Hendaknya Mu‘awiyah mengembalikan kekhalifahan kepada Imam Hasan as, dan bila Imam as telah meninggal, maka kekhalifahan dikembalikan kepada Imam Husain as.
Mu‘awiyah Merobek Surat Perdamaian
Sebelumnya, Imam Hasan as telah mengetahui bahwa Mu‘awiyah tidak akan menjalankan butir-butir yang tercantum dalam perdamaian tersebut. Akan tetapi, beliau hendak menunjukkan kepada umat tentang akal bulus Mu‘awiyah, bahwa dia adalah orang yang tidak teguh pada janji dan agama.
Perjanjian damai telah dilaksanakan. Segera setelah memasuki kota Kufah, Mu‘awiyah naik ke mimbar dan berpidato di depan khalayak seraya mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak membunuh, tidak juga angkat senjata, atau menyerbu kalian supaya kalian berpuasa atau melakukan salat. Akan tetapi, tujuanku agar aku memimpin kalian. Ketahuilah, bahwa setiap butir yang tertulis dalam surat perdamaian itu sekarang ada di bawah telapak kakiku.” Dengan cara secongkak itu Mu‘awiyah menginjak-injak perdamaian.
Selanjutnya, Mu‘awiyah menentukan Ziyad bin Abih sebagai gubernur Kufah. Ia mulai mengusir pengikut Ahlulbait, menghancurkan rumah-rumah mereka, merampas harta benda mereka, hingga menyiksa dan memenjarakan mereka.
Imam Hasan as berupaya untuk membantu orang-orang yang teraniaya, dan menentang seluruh perbuatan zalim Mu‘awiyah yang telah melanggar butir-butir perdamaian sebagaimana yang telah diberikan kepadanya.
Sampai pada saatnya, Mu‘awiyah merencanakan pembunuhan terhadap Imam Hasan as dan berupaya untuk mendudukkan anaknya yang bernama Yazid di atas kursi kekhalifahan. Dalam rangka itu, ia berpikir untuk meracuni beliau.
Untuk menjalankan rencana pembunuhan tersebut, Mu‘awiyah memilih Ja‘dah, istri Imam Hasan as, yang ayahnya adalah seorang munafik. Tentunya setelah mengiming-imingi imbalan harta kekayaan dan menjadi istri putra mahkota, Yazid.
Setan mulai menggoda pikiran Ja‘dah. Ia pun bersedia menerima racun yang dikirimkan Mu‘awiyah untuknya, lalu mencampurkannya ke dalam makanan yang telah dipersiapkan untuk buka puasa. Karena saat itu Imam as sedang berpuasa.
Tiba saatnya berbuka puasa. Imam Hasan as mulai berbuka dengan makanan yang telah disediakan oleh Ja‘dah. Tiba-tiba ia merasakan pedih dan sakit. Pengaruh racun itu membuat usus beliau terkoyak. Kemudian ia menatap istrinya dan berkata, “Wahai musuh Allah! Kau telah membunuhku. Semoga Allah membunuhmu. Sungguh Mu‘awiyah telah memperdaya dan menipumu. Semoga Allah menghinakanmu dan menghinakannya (Mu‘awiyah).”
Dan demikianlah kenyataannya. Mu‘awiyah tidak menepati janjinya kepada Ja‘dah. Ia berhasil menipu Ja‘dah dan bahkan mengusirnya dari istana. Mu‘awiyah berkata kepadanya, “Kami lebih cinta pada Yazid!” Begitulah nasib Ja‘dah. Ia menderita di dunia dan akhirat. Sejak saat itu, ia lebih dikenal dengan julukan “Si Peracun Suami”.
Karena tak lagi kuasa menahan jahatnya racun tersebut, akhirnya Imam Hasan as gugur sebagai syahid pada 28 Shafar 50 H. Dan di hadirat Allah kelak, beliau akan mengadukan kezaliman Bani Umayyah terhadap dirinya.
Jasad suci Imam Hasan as dikebumikan di pemakaman Baqi‘, di Madinah Al-Munawwarah.[]
Riwayat Singkat Imam Hasan as
Nama : Hasan.
Gelar : Al-Mujtaba.
Panggilan : Abu Muhammad.
Ayah : Ali bin Abi Thalib.
Ibu : Fatimah.
Kelahiran : Madinah, 15 Ramadhan 3 H.
Usia : 47 tahun.
Syahid : 28 Shafar 50 H.
Makam : Pemakaman Baqi‘, Madinah.
Imam Husain
Hari Lahir
Imam Husain as dilahirkan pada 3 Sya’ban 4 Hijriah. Mendengar berita kelahirannya, Rasulullah saw sangat gembira. Beliau bergegas pergi ke rumah putrinya, Fatimah as untuk mengucapkan selamat atas kelahiran putranya itu.
Rasulullah saw membacakan azan pada telinga kanannya dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian menamai bayi mungil itu dengan nama Husain.
Pada hari ketujuh dari kelahirannya, Ali bin Abi Thalib membuat acara akikah untuk putranya dan membagikan daging kambing akikahnya kepada orang-orang fakir.
Rasulullah saw sangat mencintai cucunda Husain as. Setelah mendapatkan wahyu tentang apa yang akan terjadi pada cucunda ini di masa yang akan datang, beliau bersedih dan menangis atas kekejaman yang akan menimpanya.
Rasulullah saw bersabda, “Husain dariku dan aku dari Husain.” Dialah Imam putra Imam, dan sembilan dari keturunannya akan menjadi imam, dan imam terakhir dari mereka adalah Muhammad Al-Mahdi as. Dia akan muncul di akhir zaman, dan akan memenuhi alam semesta ini dengan keadilan setelah dipenuhi oleh kezaliman.
Imam Husain Semasa Ayahnya
Imam Husain as hidup dalam haribaan Rasulullah saw selama 6 tahun. Selama itu, beliau banyak belajar dari akhlak sang datuk yang mulia.
Ketika Rasulullah saw wafat, beliau menjalani kehidupannya bersama ayahnya, Ali as selama 30 tahun. Beliau senantiasa berada di sampingnya dan turut merasakan penderitaannya.
Tatkala Imam Ali as memegang tampuk pemerintahan, Imam Husain as ikut serta mengambil bagian dalam pasukan yang tulus berkorban dan berjihad demi menegakkan panji kebenaran. Ia senantiasa turun dalam berbagai medan peperangan, seperti perang Jamal, perang Shiffin, dan perang Nahrawan.
Dan ketika ayahnya gugur sebagai syahid, Imam Husain as membaiat sang kakak, Hasan as sebagai khalifah, dan mendampingi beliau dalam menghadapi Mu‘awiyah.
Imam Husain as Semasa Mu‘awiyah
Mu‘awiyah meracuni Imam Hasan as, sehingga beliau gugur senasib ayahnya sebagai syahid. Kemudian, tongkat kepemimpinan umat segera dipegang oleh Imam Husain as yang saat itu berusia 46 tahun.
Imam Husain as telah mengetahui bahwa Mu‘awiyah adalah sumber penderitaan umat Islam. Di balik slogan-slogan Islami yang diangkatnya, sesungguhnya dia menghendaki kehancuran agama dan berusaha keras untuk menjauhkan penduduk Syam dari kebenaran-kebenaran Islam dan dari para sahabat Nabi yang ikhlas.
Mu‘awiyah senantiasa menebarkan kebohongan-kebohongan yang bertujuan merusak nama baik Ahlulbait Nabi as. Dia membunuh setiap orang yang menentang pemerintahannya. Dia telah banyak melakukan pembunuhan terhadap sahabat-sahabat Nabi dan sahabat-sahabat setia Imam Ali as. Di antara mereka adalah Hujr bin ‘Ady yang telah dibunuhnya bersama anaknya di daerah Maraj Azra, di luar kota Damaskus.
Mu‘awiyah selalu berupaya mengangkat anaknya, Yazid untuk menduduki kursi kekhalifahan. Padahal ia tahu benar akan perangai bejat Yazid, pemuda yang menghina agama dan mukminin. Dialah seorang pemabuk dan banyak menghabiskan waktunya untuk bermain-main dengan kera-kera.
Imam Husain as memperingatkan Mu‘awiyah akan bahaya yang dia lakukan. Akan tetapi, ayah Yazid itu tidak menghiraukan ucapan siapa pun, dan dia malah mengumumkan niatnya untuk membaiat Yazid.
Dan demikianlah yang terjadi. Mu‘awiyah membaiat si anak menjadi khalifah dan memaksa orang-orang untuk melakukan hal yang sama.
Imam Husain as dan Yazid
Sepeninggal Mu‘awiyah, Yazid menduduki kepemimpinan umat. Pertama yang ia lakukan ialah mengirimkan surat kepada Walid, gubernur Madinah yang berisi perintah untuk mengambil baiat dari Imam Husain as. Dengan surat di tangan, Walid mendatangi beliau dan memaparkan ihwal perintah Yazid di hadapannya.
Imam Husain as telah mengetahui di balik semua itu; Yazid akan mengumumkan bahwa Husain cucu Rasulullah saw telah memberikan baiat kepadanya. Ini akan berarti bahwa kekhalifahan Yazid sudah benar-benar sah. Oleh karena itu, Imam as menolak untuk membaiat seorang fasik seperti Yazid yang hobinya minum khamar dan menginjak-injak hukum Allah SWT.
Menyaksikan penolakan Imam Husain tersebut, Walid mengancam akan membunuhnya bila beliau ternyata menolak baiat kepada Yazid. Namun demikian, Imam as tidak memperdulikan sesuatu pun kecuali demi kemaslahatan Islam, kendati harus mengorbankan nyawanya yang suci.
Undangan Warga Kufah
Kaum muslimin merasakan kegelisahan yang dalam terhadap kezaliman Mu‘awiyah. Mereka mendambakan pemerintahan adil sebagaimana pernah dijalankan oleh Ali bin Abi Thalib dapat kembali berkuasa.
Maka, tatkala warga Kufah mendengar penolakan Imam Husain as terhadap baiat kepada Yazid, mereka mengirimkan surat yang begitu banyaknya kepada beliau, dan mengundang beliau untuk segera datang ke Kufah serta menyelamatkan mereka dari kezaliman Bani Umayyah.
Jumlah surat warga Kufah yang diterima oleh Imam Husain as sebanyak enam belas ribu pucuk. Semua isi surat itu menyatakan desakan mereka kepada beliau, “Datanglah wahai putra Rasulullah saw. Sungguh kami tidak memiliki pemimpin selainmu.”
Duta Imam Husain as
Imam Husain as mengutus anak pamannya, Muslim bin Aqil sebagai duta beliau untuk menjumpai orang-orang Kufah. Melalui tangannyalah beliau mengirimkan surat untuk warga Kufah. Isi surat itu ialah sebagai berikut, “Telah sampai kepadaku surat-surat kalian, dan aku mengerti apa yang kalian nyatakan sebagai ketulusan kalian terhadap kehadiranku di tengah-tengah kalian, dan aku telah mengirimkan seorang utusan kepada kalian. Ia adalah saudaraku, anak pamanku, dan orang tepercaya dari keluargaku, Muslim bin Aqil.”
Sesampainya di Kufah, Muslim mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat di sana. Di hadapannya, lebih dari delapan belas ribu orang menyatakan kesediaan untuk membaiat Imam Husain as.
Kemudian, Muslim melayangkan surat kepada Imam as dan mengabarkan, bahwa penduduk Kufah telah berkumpul dan siap membela kebenaran, serta menolak baiat kepada Yazid. Di dalam surat itu pula ia meminta beliau agar datang ke Kufah secepat mungkin.
Muslim Dibunuh
Sementara itu, Yazid mengawasi apa yang sedang berlangsung di Kufah dengan ketat. Untuk itu, dia telah menentukan seorang gubernur baru untuk kota Kufah yang bernama Ubaidillah ibnu Ziyâd. Ia telah sampai ke Kufah dengan cepat.
Ibnu Ziyad memulai tindakannya di sana dengan melakukan teror, pembunuhan, dan suap. Kemudian berlanjut dengan menakut-nakuti warga kota akan datangnya pasukan dari Syam dalam jumlah yang sangat besar.
Warga Kufah merasa takut dan perlahan-lahan mulai meninggalkan Muslim bin Aqil, hingga ia bertahan sendirian di tengah kepungan pasukan Ibnu Ziyad. Meski begitu, ia tidak mau menyerah dan mengadakan perlawanan seorang diri sampai terluka parah.
Kemudian ia ditangkap dan diseret sebagai tahanan sebelum akhirnya mati syahid di tangan musuh.
Berita dibunuhnya Muslim bin Aqil dan sebagian pembelanya di Kufah telah sampai kepada Imam Husain as. Saat itu beliau dalam perjalanan menuju Kufah. Beliau telah mengetahui bahwa warga kota telah mengkhianatinya.
Kepada para sahabat dan orang-orang yang bergabung bersamanya, beliau mengatakan, “Barang siapa yang ikut bersama kami, maka ia akan mati syahid, dan barang siapa yang berpaling dari kami, sungguh dia tidak akan mencapai kemenangan.”
Imam as sadar sepenuhnya akan jalan yang tengah ditempuhnya. Beliau hanya berpikir akan kewajiban dan tugasnya terhadap Islam dan kaum muslimin.
Tujuan Imam Husain as
Imam Husain as mengumumkan penolakannya membaiat Yazid, karena memang dia sama sekali tidak pantas menduduki kursi kekhalifahan. Dialah seorang yang fasik, peminum arak, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT, dan mengharamkan yang dihalalkan-Nya.
Oleh karena itu, dalam wasiatnya kepada saudaranya, Muhammad bin Hanafiyah, Imam as mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak bangkit untuk membuat kerusakan ataupun kezaliman. Aku hanya bangkit untuk memperbaiki keadaan umat kakekku saw. Aku ingin melakukan amar makruf dan nahi munkar. Aku akan menempuh jalan yang telah ditempuh oleh datukku, Nabi dan ayahku, Ali bin Abi Thalib.”
Imam Husain as mengetahui bahwa dirinya akan dibunuh di padang Karbala bersama sahabat-sahabat dan keluarganya. Meski demikian, beliau tetap bangkit dalam rangka membangunkan umat Islam dari tidurnya, sehingga mereka tahu kenyataan Mu‘awiyah dan anaknya Yazid yang sebenar-benarnya, bahwa dua orang ini akan melakukan apa saja demi mempertahankan kekuasaannya, walaupun mereka harus membunuh cucu Nabi saw dan menjadikan perempuan-perempuan Ahlul Bait sebagai tawanan.
Imam Husain di Hari Asyura
Pasukan Yazid telah melakukan penghadangan terhadap laju gerak kafilah Imam Husain di sebuah tempat yang bernama Karbala, tidak jauh dari sungai Furat. Mereka mencegah anak-anak kecil dan perempuan-perempuan keluarga Nabi saw untuk mendapatkan air sungai.
Hari ke-10 bulan Muharram, hari yang begitu panas membakar padang Karbala. Di sanalah Imam Husain as mengingatkan orang-orang akan akibat perbuatan yang mereka lakukan.
“Wahai sekalian manusia, kenalilah siapa aku ini! Kemudian kembalilah pada diri kalian masing-masing, dan hujatlah diri kalian itu.
“Sadarlah! Apakah dihalalkan bagi kalian untuk membunuhku dan menodai kehormatanku?
“Bukankah aku adalah putra dari putri Nabi kalian, putra khalifahnya, putra dari putra pamannya, dan putra dari orang pertama yang beriman kepada Allah SWT dan yang membenarkan risalah rasulnya?
“Bukankah Hamzah penghulu para syuhada itu adalah pamanku?
“Bukankah Ja‘far At-Thayyar itu adalah pamanku?
“Tidakkah kalian mendengar kesaksian Rasulullah tentang aku dan kakakku, bahwa dua pemuda ini adalah penghulu para pemuda di surga?”
Warga Kufah sangat mengenal Imam Husain as dengan baik. Hanya saja mereka telah tertipu oleh setan, sehingga mereka mengutamakan kehidupan dunia yang hina bersama Yazid dan Ibnu Ziyad, serta begitu mudahnya meninggalkan Imam as sendirian.
Kepada Imam Husain, mereka mengatakan, “Baiatlah Yazid sebagaimana kami telah membaiatnya.”
Dengan tegas beliau membalas mereka, “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan pernah mengulurkan tangan (baiat)-ku kepadanya sebagaimana orang-orang hina mengulurkannya. Aaku tidak akan pernah melarikan diri sebagaimana para budak yang ketakutan.”
Umar Ibnu Sa’d, komandan pasukan Yazid mengeluarkan perintah untuk segera menyerbu pasukan Imam as. Maka, terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Lima puluh sahabat beliau berguguran sebagai syahid. Tinggallah beliau bersama sejumlah kecil sahabat dan keluarganya. Mereka semua mengajukan diri, satu persatu, untuk meraih kesyahidan dengan gagah berani, tanpa rasa takut sedikitpun. Karena, mereka yakin bahwa mereka akan mati syahid di jalan Allah dan menjelang surga.
Tatkala seluruh sahabat dan laki-laki keluarganya telah gugur, tinggallah Imam Husain seorang diri. Beliau segera turun ke medan pertempuran. Sebelum meninggalkan keluarga dan menyampaikan perpisahan kepada mereka, beliau meminta mereka untuk bersabar di jalan Allah SWT.
Imam as memacu kudanya dan maju mengoyak ribuan barisan musuh. Di tengah pertempuran yang tak seimbang itu, beliau akhirnya terhempas di atas kerikil-kerikil padang pasir Karbala dan gugur sebagai Sayidus Syuhada, Penghulu Para Syahid.
Merasa belum puas melihat Imam Husain tak bernyawa lagi, Ibnu Ziyad memerintahkan para pasukan berkudanya—yang telah menjual diri mereka dengan kehidupan dunia—untuk menginjak-injak dada beliau. Sepuluh pasukan berkuda melompat dan mulai merobek-robek dada suci itu dengan kaki-kaki kuda mereka.
Setelah itu, Ibnu Sa’d memerintahkan pasukannya untuk membakar kemah-kemah Imam as setelah mereka merampas isinya, lalu menyeret anak-anak dan kaum wanita sebagai tawanan sampai ke Kufah. Di antara mereka adalah Zainab, putri Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Ali Zainal Abidin, putra Imam as.
Zainab as dengan penuh ketegaran maju menghampiri tubuh saudaranya, Imam Husain as, lalu meletakkan kedua tangannya di atas jasad suci itu. Kemudian ia mengangkat kepalanya, menengadah ke atas langit sambil berkata dengan penuh khusyuk dan bangga, “Ya Allah, terimalah dari kami pengorbanan ini!”
Kenapa Kita Mengenang Imam Husain?
Sesungguhnya Imam Husain as telah mempersembahkan segala yang beliau miliki hanya untuk memuliakan Islam dan kaum muslimin. Beliau telah mengorbankan anak-anak, kaum wanita, dan sahabat-sahabatnya, bahkan dirinya sendiri di jalan Allah SWT.
Beliau mengajarkan kepada manusia tentang kebangkitan untuk menentang segala anea ragam kezaliman dan kerusakan. Beliau habiskan hari-hari akhirnya dengan membaca Al-Qur’an dan ibadah semata-mata karena Allah SWT, sehingga meski di tengah-tengah peperangan pun beliau meminta kepada musuh-musuhnya agar menghentikan peperangan dalam beberapa saat hanya untuk menunaikan salat. Imam as tetap menunaikan salat bersama sahabat-sahabatnya di bawah ribuan panah yang menghujani mereka.
Revolusi dan kebangkitan yang dilakukan Imam Husain as berada di jalan Allah SWT dan dalam rangka mempertahankan Islam. Oleh karena itu, umat Islam akan mengenang beliau selama-lamanya. Mereka mengenang duka-nestapa hari Asyura; hari yang telah menyaksikan penyembelihan biadab yang dilakukan Bani Umayyah terhadap cucunda Nabi dan sebaik-baik warisan hidup Islam.
Kisah Tauladan
Imam Husain as hidup selama 57 tahun. Beliau telah menghabiskan sepanjang usianya itu dengan berbuat baik dan berkhidmat untuk manusia. Beberapa kali beliau menunaikan haji ke Rumah Allah (Ka’bah) dengan berjalan kaki selama berhari-hari.
Pada suatu hari, Imam as berjalan melewati orang-orang miskin yang sedang membentangkan pakaian mereka dan beliau meletakkan potongan-potongan roti di atasnya, kemudian mereka memanggil beliau, “Kemarilah, wahai putra Rasulullah!”
Lantas, beliau duduk dan makan bersama mereka, kemudian membacakan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan takabbur.”
Selekas itu, Imam as berkata kepada mereka, “Aku telah menyambut undangan kalian, dan kini sambutlah undanganku ini!”
Mereka pun menjawab, “Baik, wahai putra Rasulullah”. Maka semua bergegas pergi bersama beliau ke rumah. Di sana beliau menghormati dan memuliakan mereka.
Ketika Imam Ali Zainal Abidin as hendak menguburkan sang ayah, orang-orang melihat bekas-bekas luka lama di punggung beliau. Mereka pun menanyakan hal itu kepadanya. Imam Zainal Abidin menjawab, “Bekas-bekas ini adalah akibat dari gesekan karung di atas punggungnya saat membawa makanan untuk dibagikan kepada wanita-wanita janda, orang-orang miskin, dan anak-anak yatim.”
Hari Asyura
Hari Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharam. Dahulu kala, hari itu dianggap seperti layaknya hari-hari biasa yang tak ada seorang pun memperingatinya. Namun pada Muharram 61 H, tatkala Imam Husain as syahid tepat di hari itu, hari tersebut menjadi hari yang istimewa dan bersejarah, yang menyimpan peristiwa besar. Umat Islam memperingati Hari Asyura di mana-mana, untuk mengungkapkan bela-sungkawa dan menangis sedih atas musibah dan penderitaan yang menimpa para syuhada di Karbala.
Karbala saat itu adalah gurun sahara yang tidak satu orang pun tinggal di sana. Dengan berlalunya waktu, kini menjadi sebuah kota yang besar dan menjadi pusat keagamaan dan ilmu pengetahuan.
Di Mesir, dinasti Fatimiyyah mengumumkan Hari Asyura sebagai hari berkabung nasional. Pada hari itu, pasar-pasar di sana libur dan orang-orang memilih berkumpul di makam Sayidah Zainab as untuk mengenang tragedi Karbala sambil bercucuran air mata.
Di zaman kita sekarang, pendiri negara Islam di Iran mengumumkan Hari Asyura sebagai hari libur resmi negara.
Begitu juga umat Islam di negara-negara lain, seperti Irak, India, Pakistan, dan negara-negara Islam lainnya. Mereka juga turut memperingati perjuangan Imam Husain as pada Hari Asyura itu.
Nyatanya, peringatan Asyura senantiasa menciptakan perubahan, dari tahun ke tahun. Di Iran, masyarakat menyambut perjuangan dan pengorbanan Imam Husain as hingga mampu melakukan revolusi besar dalam menumbangkan pemerintahan yang zalim dan menggantikannya dengan pemerintahan Islam.
Siapakah Yang Menang?
Sebagian orang beranggapan bahwa Imam Husain as telah menderita kekalahan dalam pertempurannya melawan pasukan Yazid bin Mu‘awiyah. Akan tetapi, tatkala kita cermati lembaran-lembaran sejarah, kita akan menyaksikan bahwa Imam Husainlah yang sesungguhnya menang atas musuh-musuhnya. Karena, tujuan-tujuan kebangkitan dan kesyahidan beliau senantiasa hidup di dalam sanubari setiap manusia.
Pernahkah kita bertanya, di mana Yazid sekarang? Di mana Ibnu Ziyad sekarang? Bahkan Mu‘awiyah sendiri, di manakah dia?
Ya, mereka semua telah pergi dan tidak ada yang mengenangnya. Kalau pun ada yang menyebut nama mereka, sebutan itu hanya berupa kutukan dan laknat atas kejahatan mereka.
Orang-orang pendengki selalu berupaya menghancurkan Imam Husain as. Akan tetapi, Allah SWT menghendaki beliau abadi, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, laknat di dunia dan neraka di akhirat merupakan nasib musuh-musuh beliau.
Demikianlah, tragedi Karbala sungguh telah menjadi pilar bagi kebangkitan, kebebasan, dan kemenangan darah di atas pedang.[]
Mutiara Hadits Imam Husain
• “Aku tidak melihat kematian melainkan kebahagiaan, sedang hidup bersama orang-orang zalim adalah kehinaan.”
• “Manusia telah menjadi budak dunia, sedangkan agama hanya pengakuan lisan belaka. Selagi agama memakmurkan kehidupannya, mereka akan memegangnya. Namun, bila mereka ditimpa musibah, betapa sedikitnya mereka yang teguh.”
• Kepada putranya Ali Zainal Abidin as, Imam Husain as berkata, “Wahai anakku, berhati-hatilah dari berlaku zalim terhadap seseorang yang tidak menemukan pembela di hadapanmu kecuali Allah.”
• “Sesungguhnya ada sebagian orang yang beribadah kepada Allah karena mengharap rahmat Allah, dan yang demikian itu adalah ibadah pedagang. Ada pula yang menyembah Allah karena takut akan siksa-Nya, dan yang demikian itu adalah ibadah para budak. Dan ada pula yang beribadah kepada Allah karena berterima kasih kepada-Nya, dan yang demikian itu adalah ibadah orang merdeka, dan inilah ibadah yang paling utama.”
Riwayat Singkat Imam Husain
Nama : Husain.
Gelar : Sayyidus Syuhada.
Panggilan : Aba Abdillah.
Ayah : Ali bin Abi Thalib.
Ibu : Fatimah Az-Zahra’.
Kelahiran : Madinah, 3 Sya’ban 4 H.
Masa Imamah : 10 tahun.
Usia : 57 tahun.
Kesyahidan : 10 Muharram 61 H.
Makam : Karbala, Irak.
Imam Ali Zainal Abidin
Hari Lahir
Pada masa pemerintahan khalifah kedua, Umar bin Khattab, kaum muslimin berhasil menaklukkan negeri Persia (Iran). Atas kemenangan ini, laskar Islam memboyong tawanan-tawanan perang ke Madinah Al-Munawwarah, termasuk di antara mereka putri Yazdijard, Kisra Persia.
Tatkala kaum muslimin berkumpul di masjid, Khalifah Umar bermaksud menjual putri raja tersebut. Namun, Imam Ali as memberi isyarat agar ia tidak melakukan hal itu, mengingat bahwa putri-putri raja tidak boleh diperjualbelikan, sekalipun mereka itu kafir. Lalu beliau mengatakan, “Biarkan dia memilih seorang laki-laki untuk menjadi suaminya. Dan siapa saja yang dipilihnya, maka ia berhak menikah dengannya.”
Sang putri raja itu menjatuhkan pilihannya kepada junjungan kita, Imam Husain bin Ali as sebagai pasangan hidupnya. Amirul Mukminin Ali as berwasiat kepada anaknya agar memperlakukannya dengan baik dan santun.
Beliau mengatakan, “Wahai Abu Abdillah (Husain), ketahuilah bahwa dia kelak akan melahirkan sebaik-baik penduduk dunia.”
Ya, dari rahim wanita bangsawan inilah putra pertama Imam Husain yang bernama Ali itu lahir. Pernah sang ayah memanggilnya dengan nama Ibn Khairatain (anak dari dua kebaikan), karena dalam nadinya mengalir darah dua bangsa; Arab Quraisy Bani Hasyim dan Ajam Persia.
Perangai Imam Ali Zainal Abidin
Farazdaq, seorang pujangga Arab tersohor pernah melukiskan Imam Ali Zainal Abidin as. Dia adalah lelaki yang tampan. Dari tubuhnya menebar bau harum segar. Pada dahinya terdapat bekas sujud. Karenanya, orang-orang mengenal beliau dengan gelar As-Sajjad (yang banyak bersujud).
Putra beliau, Imam Muhammad Al-Baqir as pernah bercerita, “Sesungguhnya apabila tiba musim dingin, ayahku, Ali bin Husain as menyedekahkan pakaiannya kepada fakir-miskin. Begitu pula jika datang musim panas, beliau melakukan hal yang sama.”
Masyhur bahwa Imam Ali Zainal Abidin as senantiasa mencuci dan memakai sebaik-baik pakaian ketika hendak melakukan salat, serta menaburkan wewangian. Orang-orang seringkali menjumpainya memanjatkan doa, munajat, dan menangis.
Salah seorang sahabat beliau bernama Thawus Al-Yamani menuturkan, “Aku melihat seorang laki-laki sedang melakukan salat di Masjidil Haram. Di samping Ka’bah ia berdoa sembari menangis. Kuhampiri ketika ia telah menyelesaikan salatnya. Ternyata dia adalah Ali bin Husain as.
Aku menyapa, ‘Wahai putra Rasulullah, kulihat Anda menangis. Bukankah Anda putra Rasul Allah?!’
Beliau menjawab, ‘Meskipun aku adalah putra Rasul Allah, namun apakah dia akan menjamin keselamatanku dari azab Allah, sedangkan Allah telah berfirman, ‘Ketika itu tidak ada lagi ikatan keluarga antara mereka?
‘Sesungguhnya Allah menciptakan surga bagi siapa saja yang berbakti kepada-Nya dan berbuat baik, sekalipun dia itu seorang hamba Habasyi (berkulit hitam), dan menciptakan neraka bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya dan berbuat buruk, sekalipun dia itu seorang tuan dari Quraisy.’”
Imam Ali Zainal Abidin as telah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah sebanyak 20 kali dengan berjalan kaki.
Kepada para sahabatnya beliau berwasiat supaya menunaikan amanat dan berkata, “Demi Dia yang telah mengutus Muhammad di atas kebenaran! Seandainya pembunuh Husain as mengamanatkan kepadaku sebilah pedang yang telah digunakannya untuk memenggal beliau, sungguh akan kuserahkan kembali kepadanya.”
Imam Ali Zainal Abidin juga mewasiatkan kepada mereka agar berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai hamba yang bekerja guna memenuhi hajat manusia. Merekalah yang beriman pada Hari Kiamat. Maka, barang siapa yang membenamkan kegembiraan ke dalam hati seorang mukmin, kelak Allah SWT akan membahagiakan hatinya pada Hari Kiamat.”
Pada suatu hari, Imam Ali Zainal Abidin as pernah duduk bersama sebagian sahabatnya. Tiba-tiba datang seorang lelaki dari keturunan bibinya. Lantas ia mencaci makinya dan melontarkan kata-kata kasar. Beliau tidak menjawab sampai lelaki itu menghentikan kata-katanya dan pergi.
Kemudian Imam berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Kalian dengar apa yang dikatakan lelaki tadi? Saya lebih suka kalian bersamaku hingga mendengarkan jawabanku padanya.” Lalu mereka berdiri bersama Imam dan mengira bahwa Imam akan membalas dengan perbuatan yang serupa.
Imam mengetuk pintu orang tersebut. Lelaki itu pun keluar dengan penuh hati-hati dan kesiagaan. Sementara itu, Imam berkata dengan santun, “Wahai saudaraku, sungguh telah kau katakan sesuatu padaku. Seandainya benar apa yang kau katakan, aku memohon ampunan kepada Allah. Namun, jika semua itu tidak benar, semoga Allah memberikan ampunan kepadamu.”
Lelaki itu terpengaruh akan budi bahasa beliau. Seketika itu pula ia menyesali perbuatannya, dan Imam mengabulkan permohonan maafnya.
Pada kesempatan lain, Imam Ali zainal Abidin menjenguk Muhammad bin Usamah bin Zaid yang sedang jatuh sakit. Melihat Muhammad menangis, Imam bertanya, “Gerangan apa yang membuatmu menangis?”
Muhammad menjawab, “Aku dililit hutang.”
“Berapa jumlah hutangmu?”, tanya Imam.
“15.000 Dinar”, jawab Muhammad.
Imam berkata, “Serahkan kepadaku.” Lalu beliau melunasi hutang tersebut.
Di tengah malam yang sunyi, Imam Ali Zainal Abidin as keluar kota sambil memikul sejumlah uang dan makanan untuk dibagikan kepada seratus kepala keluarga fakir, sementara mereka tidak mengetahui identitas beliau.
Ketika Imam as meninggal syahid, mereka benar-benar merasakan kehilangan seorang lelaki. Barulah mereka sadar, ternyata orang yang selama ini membagi-bagikan uang dan makanan kepada itu adalah Ali Zainal Abidin as.
Di Karbala
Imam Ali Zainal Abidin as ikut bersama ayahnya, Imam Husain as dalam perjalanannya dari Madinah ke Makkah dan dari Makkah ke Karbala, hingga terjadi tragedi pembantaian yang memilukan itu di sana.
Ketika itu, beliau sedang sakit keras. Setelah menyaksikan ayahnya tinggal sendirian, Dia memaksakan dirinya bangkit dari pembaringannya untuk terjun ke dalam medan peperangan. Akan tetapi, Imam Husain berkata kepada saudarinya Zainab, “Tahanlah dia agar keturunan keluarga Rasulullah saw tidak terputus.”
Sesungguhnya sakit yang menimpa Imam as pada hari-hari itu adalah kemurahan Allah SWT, agar keturunan Rasulullah tetap berlanjut, dan kejahatan serta kebiadaban Yazid tersingkap.
Menjadi Tawanan
Segera setelah Imam Husain as syahid, tentara Ibnu Ziyad menyerang kemah-kemah dan hendak membunuh Imam Ali Zainal Abidin as yang ketika itu berumur 23 tahun. Akan tetapi, sang bibi, Zainab berdiri menghadang mereka dengan penuh keberanian dan berkata, “Jika kalian hendak membunuhnya, maka bunuhlah aku terlebih dahulu.” Akhirnya, mereka mengurungkan niat jahat itu, dan merantai tangan Imam serta menggiringnya ke Kufah bersama dengan tawanan lain.
Tatkala mereka beristirahat, Zainab dan Imam as serta para tawanan lainnya dengan penuh keberanian membukakan kekejaman Yazid, Ubaidillah Ibnu Ziyad, dan penghianatan warga Kufah yang hina.
Ketika rombongan tawanan itu tiba di Kufah, masyarakat berkerumun di sekitar mereka. Dalam rangka menunjukkan penentangan, Imam Ali Zainal Abidin as memilih diam sambil menperlihatkan kondisi dirinya yang dirantai, sedangkan darah mengalir dari sikunya.
Di tengah mereka beliau berpidato, “Wahai manusia! Barangsiapa mengenal aku, maka dia telah mengenal aku, dan barangsiapa yang tidak mengenalku, maka ketahuilah aku adalah Ali bin Husain bin Abi Thalib.
“Aku adalah anak yang diinjak kehormatannya, dirampas haknya, dirampok hartanya, dan ditawan keluarganya. Aku adalah anak yang ayahnya disembelih di Sungai Furat. Aku adalah anak yang ayahnya dibunuh dalam keadaan sabar, dan cukuplah itu sebagai kebanggaan.
“Wahai manusia! Bersumpahlah demi Allah. Masihkah kalian ingat bagaimana kalian telah melayangkan surat dan undangan kepada ayahku lantas kalian sendiri mengkhianatinya. Kalian telah memberikan janji untuk berbaiat lalu kalian membunuhnya.
“Sungguh, celakalah kalian karena perbuatan kalian sendiri! Bagaimana kalian akan berhadapan dengan datukku Rasulullah kelak tatkala beliau mempertanyakan kepada kalian, ‘Kalian bunuh keluargaku dan hancurkan kehormatanku. Sungguh kalian tidak termasuk umatku.’”
Di Istana Ubaidillah
Ubaidillah Ibnu Ziyad memerintahkan agar para tawanan diseret menghadapnya. Ia ingin sekali melihat garis-garis kehinaan di raut wajah mereka. Tiba-tiba ia terperanjat. Pandangannya tertusuk tatapan-tatapan mereka yang semua malah menghinakan dirinya, padahal mereka dikelilingi oleh para algojo istana.
Ibnu Ziyad menoleh ke Imam Ali Zainal Abidin as dan berkata, “Siapa namamu?”
Imam menjawab, “Aku Ali bin Husain.”
Ibnu Ziyad berkata lagi dengan bengis, “Bukankah Allah telah membinasakan Ali?”
Imam menjawab dengan tegas, “Aku pernah punya kakak bernama Ali yang telah dibunuh oleh segerombol manusia.”
Ibnu Ziyad dengan jengkel menukas, “Allahlah yang telah membunuhnya!”
Imam tanpa rasa gentar membalas, “Allah mematikan jiwa ketika tiba ajalnya, karena setiap jiwa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah.”
Ibnu Ziyad semakin berang, lalu memerintahkan untuk membunuh Imam as. Pada saat itulah sang bibi, Zainab bangkit dan berkata lantang, “Hai Ibnu Ziyad! Apakah kau belum puas menumpahkan darah kami? Apakah kau tidak membiarkan salah seorang hidup dari kami? Jika kau hendak membunuhnya, maka biarkanlah aku menyertainya.”
Ibnu Ziyad semakin gentar tatkala Imam Ali Zaibal Abidin mengatakan, “Tidakkah kau tahu bahwa perang adalah kebiasaan kami, dan mati syahid adalah kemuliaan kami dari Allah”.
Akhirnya, Ibnu Ziyad mengurungkan niatnya dan mengirimkan para tawanan itu ke Syam.
Di Syam (Syiria)
Rombongan tawanan itu tiba di negeri Syam diiringi dengan tangisan pilu menyayat hati, sementara Imam Ali Zaibal Abidin as masih dirantai besi.
Yazid bin Mu‘awiyah memerintahkan untuk menghiasai kota Damaskus sebagai tanda syukur dan puas atas terbunuhnya Imam Husain as. Ia telah menipu warga kota dengan menyebarkan berita bohong dan citra buruk tentang anak keturunan Ali bin Abi Thalib as.
Sesampainya rombongan tawanan di Damaskus, seorang lelaki tua mendatangi Imam Ali Zainal Abidin as dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membinasakanmu dan memenangkan pemimpin kami!”
Imam as sadar bahwa sesungguhnya lelaki tua itu tidak tahu kenyataan yang sebenarnya. Kepadanya beliau bertanya lembut, “Wahai bapak tua! Apakah engkau membaca Al-Qur’an?”
Lelaki tua itu menjawab, “Iya.”
Imam bertanya lagi, “Apakah engkau membaca firman Allah, ‘Katakanlah [Muhammad], ‘Aku tidak meminta balasan dari kalian kecuali kecintaan kalian kepada keluargaku.’ Dan firman Allah, ‘Penuhilah hak keluarga (Rasul).’ Serta firman Allah, ‘Dan ketahuilah, sesungguhnya pada rampasan perang kalian terdapat seperlima hak Allah SWT, rasul-Nya, dan keluarganya?’”
“Iya”, jawab lelaki tua itu, “Saya telah membaca ayat-ayat itu.”
Lalu Imam as berkata, “Demi Allah, kamilah keluarga Nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut.”
Imam melanjutkan pertanyaannya, “Apakah engkau membaca firman Allah, ‘Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan kekotoran (rijz) dari kalian hai Ahlulbait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.’?”
Lelaki tua itu menjawab, “Iya.”
Imam berkata, “Kamilah Ahlulbait, wahai bapak tua.”
Dengan penuh keheranan, lelaki tua bertanya, “Demi Allah, benarkah kalian Ahlulbait?”
Imam menjawab, “Ya, demi kebenaran datuk kami, Rasulullah. Kamilah yang dimaksudkan dalam ayat itu.”
Lelaki tua itu akhirnya menerima perkataan Imam. Ia berkata, “Aku berlepas diri kepada Allah dari orang-orang yang telah memerangi kalian.”
Ketika berita itu sampai ke telinga Yazid, segera ia memerintahkan algojonya untuk memenggal leher lelaki tua itu.
Di Hadapan Yazid
Yazid memerintahkan agar para tawanan dihadapkan kepadanya dalam keadaan terikat. Sungguh keadaan mereka amat memilukan.
Imam Ali Zaibal Abidin as berkata, “Apa yang akan kau katakan, hai Yazîd, kepada Rasulullah sementara keturunannya dalam keadaan seperti ini?!”
Mendengar itu, orang yang hadir dalam ruangan menangis. Mereka tak kuasa lagi menahan air mata.
Atas perintah Yazid, salah seorang orator naik mimbar dan mulai mencaci-maki dua cucunda Nabi; Hasan dan Husain, dan sebaliknya memuji-muji Mu‘awiyah dan Yazid. Imam as memandangnya dan berkata dengan nada keras, “Celakalah kamu, hai pembicara. Kau telah mencari kesenangan makhluk dengan kemurkaan Allah. Maka, kau telah memilih tempatmu di neraka.”
Kemudian Imam as berpaling ke arah Yazid dan berkata, “Apakah engkau mengizinkan aku naik ke mimbar ini? Aku akan mengutarakan sebuah ucapan yang mengandung keridhaan Allah dan menebarkan pahala kepada hadirin di sini.”
Yazid menolaknya dan bergumam, “Jikalau dia naik mimbar, dia tidak akan turun kecuali setelah membeberkan kekejamanku serta kejahatan keluarga Abu Sufyân.”
Setelah didesak oleh hadirin, akhirnya Yazid mengizinkan Imam untuk berpidato.
Lalu Imam Ali Zainal Abidin as naik mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, beliau berkata, “Wahai manusia, kami telah diberi enam perkara dan diunggulkan dengan tujuh perkara; kami diberi ilmu pengetahuan, kesantunan, kedermawanan, kefasihan bicara, keberanian, dan kecintaan di hati-hati kaum mukmin.
“Kami telah diunggulkan karena di antara kami terdapat Nabi yang termulia, Ali As-Shiddiq yang tepercaya, dan Ja‘far At-Thayyar yang terbang. Pada kamilah Singa Allah dan Singa Rasul-Nya. Pada kamilah penghulu segenap kaum wanita, dan pada kami pulalah dua cucu mulia umat ini.
“Wahai manusia, barangsiapa mengenalku, maka sungguh dia telah mengenalku, dan barangsiapa tidak mengenalku, akan kuperkenalkan asal-usul keturunanku.
“Aku adalah anak dari Makkah dan Mina (Nabi Ibrahim as). Aku adalah anak air sumur Zamzam dan Shafa (Nabi Ismail as). Aku adalah anak dari orang yang telah diisra’-mikrajkan dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Aku adalah anak dari orang yang ditemani Malaikat Jibril ke Sidratul Muntaha (Nabi Muhammad saw). Aku adalah anak dari orang yang dekat dan didekatkan sehingga berada di antara dua sisi atau lebih dekat lagi. Aku adalah anak Muhammad Al-Musthafa. Aku adalah anak Al-Murtadha.”
Mulailah Imam Ali Zainal Abidin as menyebutkan silsilah keturunannya yang suci, sampai menjelaskan tragedi pembantaian di Karbala secara rinci. Para hadirin terkejut menyimak kenyataan yang sebenarnya terjadi sehingga ruangan itu bergemuruh dengan isak tangis mereka.
Yazid khawatir akan terjadi perubahan yang merugikan dirinya. Segera dia memberi isyarat kepada muazin untuk mengumandangkan azan guna memotong pembicaraan Imam as.
Muazin mengumandangkan, “Asyhadu alla ilaha illallah.”
Imam lalu berkata dengan khusyuk, “Aku bersaksi dengan darah dan dagingku.”
Ketika muazin mengumandangkan, “Asyhadu anna Muhammadan Rrasulullah.”
Imam as menoleh ke Yazid dan berkata kepadanya, “Muhammad ini, apakah kakekku atau kakekmu? Jika kau katakan bahwa dia adalah kakekmu, maka engkau telah berdusta. Tetapi, jika kau mengakuinya sebagai kakekku, lalu mengapa engkau membunuh keturunannya?”
Ternyata, dialog antara Imam Ali Zainal Abidin as dan Yazid itu menciptakan perubahan besar di tengah masyarakat. Bahkan, ada sebagian dari mereka yang meninggalkan masjid sebagai cara penentangan mereka terhadap kekejaman pemerintahan Yazid.
Lagi-lagi Yazid kuatir keadaan kota Syam akan bergejolak dan menentangnya. Secepat mungkin ia memerintahkan agar para tawanan dikembalikan ke Madinah.
Kaum muslimin menyesal atas sikap acuh mereka terhadap Imam Husain as ketika mereka melihat kezaliman dan kejahatan Yazid terus berlangsung.
Tak lama kemudian, Yazid mengirimkan pasukan untuk menyerang Madinah Al-Munawwarah. Selama tiga hari dia membolehkan setiap rajuritnya di sana melakukan pembunuhan, penjarahan, dan perampasan kehormatan wanita.
Belum puas memperlakukan Madinah dan warganya, Yazid memerintahkan pasukan untuk mengepung kota Makkah dan menghancurkan Ka’bah dengan lemparan batu dan membakar bagian dalamnya.
Sementara pasukan menghujani Ka’bah dengan batu, Allah membalas perbuatan biadab Yazid hingga mati secara mengenaskan.
Kematian Yazid membuat kedudukan khilafah beralih kepada anaknya yang bernama Mu‘awiyah. Namun, Muawiyah sendiri menolak kedudukan itu, sebab ia menyadari betapa kezaliman yang telah dilakukan ayah dan kakeknya. Ia tahu benar bahwa mereka berdua telah merampas hak kekhilafahan dari pemiliknya yang sah.
Dalam keadaan demikian, Marwan bin Hakam mengangkat dirinya sendiri sebagai khalifah, lalu warga Syam membaiatnya.
Sementara di Hijaz, Abdullah bin Zubair memproklamirkan kekhalifahannya. Di sana ia senantiasa menjaga Ka’bah.
Pada tahun 73 H, anak Marwan yang bernama Abdul Malik bersama pasukan besarnya bergerak menuju Makkah dan mengepungnya. Seperti yang sudah dilakukan oleh Yazid, ia pun menghancurkan Ka’bah dengan lemparan batu dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair.
Dalam usaha melanggengkan pemerintahan, tak segan-segan Abdul Malik menggunakan ancaman dan tekanan terhadap siapa saja yang menentangnya.
Ia mengangkat seorang lelaki penumpah darah sebagai gubernurnya di Bashrah dan Kufah, yaitu Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Gubernur ini banyak membuat ladang penjagalan untuk nyawa-nyawa yang tak berdosa, serta mengisi penjara-penjara dengan kaum laki-laki dan—bahkan—perempuan.
Secara khusus, Abdul Malik melakukan pengawasan ketat terhadap Imam Ali Zainal Abidin as. Mata-mata selalu mengintai setiap gerak-gerik beliau.
Sampai akhirnya, dia memerintahkan untuk menangkap Imam as, dan mengirimkan beliau ke pusat kekuasaannya di Syam. Selang beberapa waktu, Abdul Malik membebaskan beliau.
Imam Ali Zainal Abidin dan Hisyam
Abdul Malik meninggal setelah menyerahkan tahta kekhalifahannya kepada Hisyam. Pada suatu hari, Hisyam menunaikan ibadah haji dan tawaf di sekitar Ka’bah. Di sana dia bermaksud untuk mencium Hajar Aswad, namun tidak berhasil karena banyaknya para jemaah haji yang bersesakan.
Kemudian, Hisyam duduk beristirahat sambil menunggu kesempatan, sementara warga Syam berkerumun di sekitarnya. Tiba-tiba datanglah Imam Ali Zainal Abidin as menebarkan bau harum semerbak, lalu tawaf di sekeliling Ka’bah.
Tatkala Imam as sampai di hadapan Hajar Aswad, orang-orang berhenti dengan penuh hormat dan membukakan jalan untuk beliau, sehingga beliau dapat dengan mudah mencium batu hitam itu. Selekas itu, orang-orang kembali melanjutkan tawaf mereka.
Ketika menyaksikan peristiwa tersebut, warga Syam yang tidak mengenal Imam as bertanya-tanya kepada Hisyam tentang siapa gerangan laki-laki tersebut. Dengan berlagak bodoh bercampur rasa kesal, ia menjawab, “Aku tidak mengenalnya.”
Farazdaq, penyair yang berada di tengah mereka, tak lagi kuasa menahan rasa hormatnya. Spontan ia melantunkan bait-bait syair yang begitu indah, sebagai jawaban atas ketidaktahuan orang-orang Syam tersebut.
Dialah lelaki yang dikenal Makkah tapak kakinya.
Dikenal Ka’bah, di dalam dan dan di luar tanah Haram.
Dialah putra sebaik-baiknya hamba di antara semua hamba Allah.
Dialah manusia yang bertakwa, tersuci, dan terkemuka.
Dialah putra Fatimah jika kau tak lagi kenal.
Kakeknya adalah penutup segenap nabi Allah.
Imam Ali Zainal Abidin as mengirimkan hadiah kepada Farazdaq sebagai penghargaan atas sikap yang ditunjukkannya dalam bait-bait itu. Ia pun menerima hadiah tersebut dengan berharap mendapatkan berkah darinya.
Ash-Shahifah As-Sajjadiyyah
Sekilas, Ash-Shahifah As-Sajjadiyyah adalah sebuah buku kecil kumpulan doa-doa. Tetapi, justru buku kecil itu telah menjadi sumber pengetahuan dan mengajarkan akhlak luhur dan budi pekerti kepada umat manusia. Di samping itu, buku itu mengandung pembahasan Filsafat, Sains, dan persoalan-persoalan Matematika, bahkan juga masalah-masalah politik.
Berikut ini adalah beberapa contoh dari doa-doa beliau yang tercatat di dalam As-Shahifah As-Sajjadiyyah:
• “Ilahi, aku sungguh berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kekecutan, kekikiran, kekhilafan, kekerasan hati, dan keterhinaan.”
• “Maha Suci Engkau yang mendengar setiap nafas ikan di dasar laut! Maha Suci Engkau yang mengetahui peredaran purnama dan mentari! Maha Suci Engkau yang mengetahui pergantian kegelapan (malam) dan cahaya (siang)! Maha Suci Engkau … sungguh aneh orang yang mengenal-Mu, bagaimana mungkin mereka tidak takut kepada-Mu.”
Selain terdapat doa-doa di dalam Ash-Shahifah As-Sajjadiyyah, Imam Ali Zainal Abidin as juga mempunyai doa khusus setiap hari, doa harian dalam seminggu, dan lima belas munajat, dengan irama kata dan kalimat yang indah nan syahdu. Semua itu menunjukkan budi pekerti yang agung dan ketundukkan jiwa Imam as di hadapan Allah SWT.
Risalah Huquq (Hak-hak)
Imam Ali Zainal Abidin as mempunyai sebuah risalah yang dikenal dengan nama Risalah Huquq (Risalah Hak dan Tanggung Jawab). Risalah itu mencakup lima puluh perkara berkenaan dengan tanggung jawab manusia terhadap Tuhan, dirinya, tetangga, dan teman-teman.
Tentang hak-hak seorang guru beliau mengatakan, “Di antara hak guru yang harus kau penuhi adalah memuliakannya, menghormati kelasnya, dan menyimak pelajarannya dengan seksama …. Janganlah engkau mengeraskan suaramu di hadapannya. Sembunyikanlah segala kekurangannya dan perlihatkanlah segenap kelebihannya.”
Berkenaan dengan hak-hak seorang ibu, Imam as mengingatkan, “Adapun hak ibumu, ketahuilah bahwa dia telah mengandungmu, memberimu makan dari buah hatinya (air susunya), dia lebih senang melihatmu kenyang sementara dia menahan lapar, dia memberimu pakaian sementara dia telanjang, dia memberi minum sementara dia dahaga, dan menidurkanmu nyenyak di haribaannya.”
Tentang hak-hak tetangga, Imam as menuturkan, “Di antara hak-hak tetanggamu adalah engkau menjaganya ketika ia tidak terlihat, memuliakannya ketika ia berada di sisimu, … janganlah engkau merasa iri terhadapnya, mengingatkannya ketika tergelincir, dan memaafkan kesalahannya.”
Tentang hak-hak kafir dzimmi (orang kafir yang mengikat perjanjian dengan kaum muslimin dan hidup di negara Islam), Imam Ali Zainal Abidin as menjelaskan, “Maka, hukum bagi kaum kafir ialah menerima dari mereka apa yang direstui Allah, dan cukuplah bagi mereka jaminan dan perjanjian yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda, ‘Barangsiapa yang menyalahi janji, aku akan menjadi musuhnya, maka takutlah kepada Allah dan jagalah mereka.’”
Hari Kesyahidan
Pada 25 Muharram 95 H, Imam Ali Zainal Abidin as meninggal dunia sebagai syahid, tak lama setelah Hisyam bin Abdul Malik membubuhkan racun ke dalam makanan beliau. Imam as wafat pada usia 57 tahun dan dimakamkan di Baqi‘, di samping makam pamannya, Imam Hasan bin Ali as.[]
Mutiara Hadis Imam Ali Zainal Abidin as
• “Wahai anakku! Waspadalah terhadap lima macam manusia, dan janganlah kau bersahabat dan seperjalanan dengan mereka:
“Jauhilah bersahabat dengan pendusta, karena dia seperti fatamorgana; mendekatkan sesuatu yang jauh darimu dan menjauhkan sesuatu yang dekat denganmu.
“Jauhilah bersahabat dengan orang fasik, karena dia akan menjualmu dengan sesuap nasi atau selainnya.
“Jauhilah bersahabat dengan orang kikir, karena dia akan membiarkanmu ketika engkau membutuhkannya.
“Jauhilah bersahabat dengan orang dungu (tolol), karena dia akan mencelakakanmu padahal semestinya ia ingin menolongmu.
“Dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka memutuskan silaturahmi, karena aku mendapatinya terlaknat di dalam kitab Allah.”
• Dalam pesannya kepada sang putra, Imam Muhammad Al-Baqir as, Imam Ali Zainal Abidin as mengatakan, “Berbuat baiklah kepada setiap orang yang menuntut kebaikan. Jika ia adalah orang yang berhak menerima kebaikanmu, maka engkau telah melakukan hal yang semestinya. Tapi jika ia tidak berhak menerima kebaikanmu itu, maka engkau sungguh telah berhak mendapatkan kebaikan. Jika seseorang mencacimu dari sebelah kanan dan beralih ke sebelah kiri, lalu meminta maafmu, maka terimalah permintaannya.”
Riwayat Singkat Imam Ali Zainal Abidin as
Nama : Ali.
Gelar : Ali Zainal Abidin.
Panggilan : Abu Muhammad.
Ayah : Husain bin Ali.
Ibu : Syah Zanan.
Kelahiran : Madinah, 5 Sya’ban 38 H.
Masa Imamah : 10 Tahun.
Usia : 57 Tahun
Wafat : 25 Muharram 95 H.
Makam : Pemakaman Baqi‘, Madinah.
Imam Ja’far Ash-Shadiq
Hari Lahir
Imam Ja‘far Ash-Shadiq as lahir pada 17 Rabiul Awal 80 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Ayah beliau adalah Imam Muhammad Al-Baqir as dan ibunya bernama Ummu Farrah, putri Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar.
Bercerita tentang sang ibu, beliau menuturkan, “Ibundaku adalah wanita beriman, bertakwa, dan senantiasa berbuat baik, karena sesungguhnya Allah SWT mencintai orang yang senantiasa berbuat baik.”
Imam Ja‘far Ash-Shadiq as hidup sezaman dengan datuknya, Imam Ali Zainal Abidin as selama 15 tahun dan dengan ayahnya, Imam Muhammad Al-Baqir as selama 34 tahun.
Beliau memiliki beberapa gelar terhormat, di antaranya Ash-Shabir (sang penyabar), Al-Fadhl (sang utama), dan At-Thahir (sang suci). Gelar beliau yang paling masyhur adalah Ash-Shadiq (sang jujur). Seluruh gelar tersebut menunjukkan kemuliaan dan keutamaan akhlak beliau.
Beliau sempat menyaksikan datuknya Imam Husain as. Beliau juga menyaksikan kezaliman Bani Umayyah yang justru meruntuhkan kekuasaan mereka sendiri, sekaligus membukakan jalan bagi Bani Abbasiyah yang mengatasnamakan Ahlulbait untuk mengajak masyarakat bangkit melawan Bani Umayyah. Namun, ketika berhasil meruntuhkan kekuasaan Bani Umayyah, mereka malah lebih menumpahkan kebenciannya kepada Ahlulbait as.
Imam Ja‘far as hidup di bawah pemerintahan zalim Bani Umayyah selama kurang-lebih 40 tahun, dan hidup pada masa permerintahan Abbasiyah selama sekitar 20 tahun. Selama itu, beliau menghindar dari kehidupan politik. Sementara pemikiran syirik dan penyelewengan berkembang pesat, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya pada pengajaran agama, pendidikan akhlak, dan akidah di tengah masyarakat.
Kondisi yang berkembang waktu itu telah menuntut Imam Ja‘far as untuk berjuang melawan pemikiran syirik, sehingga pada masa beliaulah mazhab Ahlulbait sesungguhnya mengalami perkembangan pesat.
Akhlak Luhur
Zaid bin Tsa’ari Al-Ma’ruf berkata, “Pada setiap zaman pasti ada seorang dari Ahlulbait Nabi saw di tengah-tengah kita yang menjadi bukti Allah atas segenap makhluk-Nya. Dan bukti Allah di zaman kita ini ialah anak laki-laki dari saudaraku, Ja‘far bin Muhammad yang tidak akan sesat siapa yang mengikutinya dan tidak akan mendapat petunjuk siapa yang menyimpang darinya.”
Malik bin Anas (Imam Malik) berkata, “Demi Allah! Aku tidak pernah melihat seorang pun melebihi kezuhudan, keutamaan, ibadah, dan kewarakan Ja‘far bin Muhammad. Suatu waktu aku mendatanginya dan beliau sangat memuliakanku.”
Bahkan, Abu Hanifah (Imam Hanafi) pernah belajar kepada beliau selama dua tahun. Dia menuturkan pengakuannya, “Seandainya tidak ada dua tahun, maka Nu’man (Abu Hanifah) pasti binasa.”
Salah satu sahabat beliau meriwayatkan, “Pada suatu hari aku bersama Abu Abdillah (Imam Ja‘far) as. Ketika itu, beliau mengendarai keledai menuju Madinah. Tatkala mendekati pasar, Imam turun dari himarnya lalu sujud kepada Allah cukup lama.
“Aku menunggunya, sampai beliau mengangkat kepalanya. Lalu aku berkata kepadanya, ‘Semoga aku menjadi tebusanmu wahai Imam! Aku melihat Anda turun dari keledai lalu sujud.’ Beliau membalas, “Sesungguhnya aku teringat nikmat Allah yang begitu melimpah kepadaku. Maka, aku segera melakukan sujud syukur.’”
Pernah juga sahabat itu berkata, “Aku melihat Ja‘far bin Muhammad as sedang mencangkul di kebunnya. Tampak peluh bercucuran dari tubuhnya yang mulia. Kukatakan kepadanya, ‘Semoga aku menjadi tebusanmu, wahai Imam! Berikanlah cangkul itu kepadaku dan tinggalkanlah pekerjaan ini.’
“Beliau berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya aku senang kepada seseorang yang bersusah payah dan kulitnya terbakar sinar matahari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.’”
Suatu hari Imam Ja‘far as meminta seorang pembantunya untuk suatu keperluan. Ketika ia tak kunjung kembali, beliau keluar mencarinya dan mendapatinya sedang tidur. Imam menghampirinya dan duduk di dekat kepalanya lalu mengipasinya hingga ia terjaga. Imam mengingatkannya dan berkata kepadanya, “Engkau tidur siang dan malam? Bagimu waktu malam dan bagi kami waktu siang.”
Imam Ja‘far as pernah mengupah beberapa orang untuk bekerja di kebunnya. Sebelum mereka selesai dari pekerjaannya, Imam berkata kepada pembantunya, Mu’tab, “Berikanlah upah mereka sebelum kering keringatnya.”
Ketika telah lewat tengah malam, beliau membawa kantong yang berisi roti, daging, dan Dirham (uang perak) yang diletakkan di pundaknya, lalu beliau memberikan kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar Madinah, sementara mereka tidak mengetahui siapa yang membagi-bagikan bahan pangan itu. Ketika Imam Ash-Shadiq as wafat, mereka baru tahu bahwa yang membagikan bahan pangan kepada mereka selama ini adalah beliau.
Imam Ja‘far dan Sufyan Ats-Tsauri
Suatu hari, Sufyan lewat di Masjidil Haram. Dia melihat Imam Ja‘far as memakai mantel bagus yang berharga mahal. Dia berkata kepada dirinya, “Demi Allah, saya akan peringatkan dia.” Lalu dia mendekati Imam dan berkata kepadanya,” Demi Allah, wahai putra Rasulullah! Aku tidak menjumpai pakaian seperti ini dipakai oleh Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, dan tidak seorang pun dari bapakmu.”
Imam menjawab, “Dahulu, Rasulullah hidup pada zaman yang serba kekurangan, kefakiran, dan kini kita hidup pada zaman kemakmuran, dan orang-orang baiklah yang lebih berhak daripada orang lain atas nikmat Allah.”
Kemudian beliau membacakan firman Allah, “Katakanlah siapakah yang mengharamkan perhiasan dan makan bersih yang Allah siapkan untuk hambanya.” “Maka, kamilah yang lebih berhak untuk memanfaatkan apa yang diberikan Allah.”
Lalu Imam menyingkap pakaiannya dan tampaklah pakaian dalamnya yang kasar dan kering. Beliau berkata lagi, “Wahai Sufyan, pakaian ini (mantel luar) untuk manusia dan pakaian dalam ini untukku.”
Imam Ja‘far dan Perniagaan
Suatu hari Imam as memanggil pelayannya, Musadif dan memberinya 1.000 Dinar untuk modal berniaga. Imam berkata kepadanya, “Bersiap-siaplah pergi ke Mesir untuk berniaga.”
Ketika barang dagangan sudah dikumpulkan, dia bersiap-siap untuk berangkat bersama kafilah dagang ke Mesir. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan kafilah dagang dari Mesir dan mereka menanyakan barang perniagaan dan kebutuhan masyarakat di sana. Mereka mengabarkan bahwa barang yang mereka bawa sekarang tidak ada di Mesir, lalu kafilah dagang itu sepakat untuk mencari keuntungan.
Setibanya di Mesir, mereka menjual barang mereka dengan harga seratus persen keuntungan, kemudian bergegas kembali ke Madinah. Musadif menjumpai Imam Ash-Shadiq as sambil membawa dua kantong uang, masing-masing berisi 1.000 Dinar.
Dia berkata kepada Imam as, “Wahai tuanku, ini modal uang dan ini keuntungannya.”
Imam berkata, “Alangkah banyak keuntunganmu. Bagaimana caranya engkau dapatkan keuntungan sebanyak ini?”
Musadif pun menceritakan bagaimana masyarakat Mesir membutuhkan barang yang mereka bawa, dan bagaimana para pedagang sepakat untuk menarik keuntungan satu kali lipat dari setiap Dinar modal mereka.
Imam as dengan nada heran berkata, “Maha Suci Allah, engkau sepakat untuk menarik keuntungan dari kaum muslimin dan menjual barang kalian dengan keuntungan satu Dinar dari setiap Dinar modal kalian.”
Imam lalu mengambil modalnya saja dan berkata, “Ini adalah harta saya dan aku tidak butuh pada keuntungan ini.”
Kemudian berkata, “Wahai Musadif, tebasan pedang lebih ringan perkaranya daripada mencari harta halal.”
Pada suatu waktu, seorang fakir pernah meminta bantuan kepada Imam Ja‘far as. Lalu beliau berkata kepada pembantunya, “Apa yang ada padamu?” Pembantu itu menjawab, “Kita punya empat ratus Dirham.”
Imam berkata lagi, “Berikanlah uang itu kepadanya!” Orang fakir itu mengambilnya dan pamit dengan segunung rasa syukur.
Imam meminta kepada pembantunya, “Panggil dia kembali!” Si fakir itu berkata keheranan, “Aku meminta kepadamu dan kau memberiku, lalu gerangan apakah Anda memanggilku kembali?”
Imam berkata, “Rasululah saw bersabda, ‘Sebaik-baik sedekah adalah yang membuat orang lain tidak butuh lagi.’ Dan kami belum membuat kamu merasa tidak butuh lagi. Maka, ambillah cincin ini. Harganya 10 ribu dirham. Jika kamu memang memerlukan, juallah cincin ini dengan harga tersebut.”
Berbakti kepada Ibu
Seorang pemuda beragama Nasrani (Kristen) yang baru saja masuk Islam menjumpai Imam Ja‘far Ash-Shadiq. Imam memanggilnya dan berkata, “Katakanlah apa yang kau butuhkan?”
Pemuda itu berterus terang, “Sesungguhnya ayah dan ibuku serta seluruh keluargaku beragama Nasrani. Ibuku matanya buta dan aku hidup bersama dengan mereka dan makan dari bejana mereka.”
Imam as berkata, “Apakah mereka makan daging babi?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak.”
Imam as berkata, “Makanlah bersama mereka, dan aku wasiatkan kepadamu untuk tidak merasa berat dalam berbuat baik kepada ibumu, dan penuhilah segala keperluannya.”
Pemuda itu kembali ke Kufah. Setibanya di rumah, sang ibu mendapatinya begitu patuh dan saleh, berbeda dengan kondisi sebelumnya.
Dia berkata, “Wahai anakku, kau tidak pernah melakukan hal seperti ini ketika kau masih memeluk agama Nasrani. Lalu gerangan apakah semua yang kuliat ini semenjak kau berpindah agama dan masuk Islam?”
Pemuda itu menjawab, “Aku diperintahkan melakukan semua ini oleh seorang laki-laki dari keturunan Nabi Muhammad saw.”
“Apakah dia seorang nabi?”, tanya sang ibu.
Pemuda itu menjawab, “Bukan, ia hanyalah keturunan nabi.”
Akhirnya, sang ibu pun mengakui, “Agamamu sungguh sebaik-baik agama. Ajarkanlah agamamu kepadaku.”
Lalu pemuda itu menyambut permintaannya, hingga ia pun masuk Islam dan menunaikan salat sesuai yang diajarkan anaknya yang saleh itu.
Imam Ja‘far dan Penimbun Barang
Imam Ja‘far Ash-Shadiq as berkata, “Masa menimbun barang pada musim subur (panen); yaitu empat puluh hari dan tiga hari pada musim paceklik. Maka, barang siapa yang melampaui empat puluh hari pada musim subur, sungguh ia akan terlaknat, dan barang siapa yang melampaui tiga hari ketika musim paceklik, dia pun akan terlaknat.”
Beliau berkata kepada pembantunya ketika masyarakat dalam keadaan hidup susah, “Belilah biji gandum dan campurlah makanan kami (dengan bahan lain), karena kami dimakruhkan makan makanan yang enak sementara masyarakat makan makanan yang tidak enak.”
Suatu malam, gelap gulita menyelimuti kota Madinah. Mu’alla bin Khunais melihat Imam Ja‘far as menerobos kegelapan malam di bawah guyuran hujan sambil memikul roti sekarung penuh. Lalu dia mengikuti beliau untuk mengetahui ihwal rota yang dibawanya. Tiba-tiba beberapa potong roti itu jatuh berserakan. Imam as memungutnya dan terus melanjutkan perjalanannya hingga sampai di tempat orang-orang miskin yang sedang tidur. Imam as meletakkan dua potong roti di samping kepala mereka.
Mu’alla mendekati Imam as. Setelah memberi salam, dia bertanya, “Apakah mereka dari pengikut setiamu?” Beliau menjawab, “Bukan.”
Imam Ja‘far as juga banyak menanggung nafkah sejumlah keluarga. Beliau membawakan mereka makanan pada malam hari sementara mereka sendiri tidak mengetahui. Hingga ketika beliau wafat, terputuslah santunan yang biasa datang pada malam hari. Mereka sadar bahwa yang membawa itu ternyata sang Imam as.
Suatu masa, Madinah dilanda musim kemarau. Gandum begitu langka di pasar. Imam Ja‘far as bertanya kepada pembantunya, Mu’tab tentang persediaan yang dimiliki. Mu’tab menjawab, “Kita punya cukup persedian untuk beberapa bulan.”
Beliau memerintahkan untuk membawa dan menjualnya di pasar. Mu’tab heran dan memprotes. Akan tetapi, tidak ada faedahnya.
Basyar Al-Mukkari meriwayatkan, “Aku mendatangi Ja‘far Ash-Shadiq as, sementara beliau tengah memakan kurma yang berada di tangannya. Beliau berkata, ‘Wahai Basyar, kemarilah dan makanlah bersama kami.’
Aku berkata, ‘Semoga Allah membahagiakanmu, nafsu makanku hilang karena aku melihat sebuah kejadian di tengah jalan tadi yang menyakitkan hatiku. Aku melihat tentara memukuli seorang perempuan dan menyeretnya untuk dijebloskan ke penjara. Perempuan itu meratap, ‘Aku memohon perlindungan kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Lalu aku mencari tahu tentang nasib perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa dia tergeletak di jalan. Aku berkata, ‘Semoga Allah melaknat orang yang menzalimimu, duhai Fatimah.’
Imam berhenti makan dan menangis. Air matanya membasahi sapu tangannya. Lalu beliau bangkit dan pergi ke mesjid untuk mendoakan perempuan itu.
Perempuan miskin itu tidak lama tinggal mendekam di penjara. Imam as mengirimkan kepadanya sebuah kantong kecil yang berisi tujuh keping Dinar.
Universitas Islam
Dinasti Umayah, yang diikuti oleh Dinasti Abbasiyah, senantiasa berusaha menumpas Ahlulbait as dan mengusir para pengikut mereka di segala penjuru.
Dalam keadaan buruk demikian itu, masyarakat menuntut ilmu dan riwayat dari Ahlulbait dengan sembunyi-sembunyi dan rasa takut.
Ketika keadaan itu berlanjut sampai pada masa Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja‘far Ash-Shadiq as, mereka berdua memusatkan perhatian pada pengembangan ilmu pengetahuan dan memperkuat asas keimanan di hati masyarakat.
Pada zaman Imam Ja‘far as, begitu banyak pemikiran dan kepercayaan sesat yang menggoncang keimanan masyarakat, lalu Imam bekerja keras memeranginya.
Dalam rangka itu, beliau mendirikan sebuah universitas Islam besar pertama, dan berhasil melahirkan lebih dari empat ribu sarjana di berbagai bidang ilmu agama, Matematika, Kimia, hingga Kedokteran.
Tengoklah Jabir bin Hayyan, seorang Ahlul Kimia yang termasyhur itu. Ia mengawali pandangan-pandangan ilmiahnya dengan ungkapan, “Tuanku Ja‘far bin Muhammad Ash-Shadiq as telah mengatakan kepadaku ….”
Imam Ja‘far as sangat memuliakan para ilmuwan yang bertakwa, memberikan semangat, dan menjelaskan metodologi penelitian dan dialog yang benar kepada mereka dalam menegakkan agama dan memperkokoh dasar-dasar keimanan.
Beliau merasa sangat sedih tatkala menyaksikan para pemikir yang berusaha mengacaukan keyakinan masyarakat dengan menyebarkan berbagai pemikiran sesat.
Pernah suatu hari, empat pemikir sesat berkumpul di Makkah. Mulailah mereka memperolok para jemaah haji yang sedang bertawaf di seputar Ka’bah.
Selain itu, mereka berempat sepakat untuk menyanggah Al-Qur’an dengan cara mengarang kitab yang serupa. Mereka pun membagi tugas yang masing-masing pemikir mempelajari seperempat dari Al-Qur’an untuk disanggah, dan berjanji untuk bertemu lagi pada musim haji tahun depan.
Genap satu tahun kemudian, empat pemikir itu kembali berkumpul di Makkah. Pemikir pertama mengatakan, “Saya telah menghabiskan waktuku selama setahun hanya untuk memikirkan ayat yang berbunyi, ‘Maka tatkala mereka putus asa [terhadap hukuman Nabi Yusuf], mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik ….’ (QS. Yusuf:80) Sungguh kefasihan ayat ini melumpuhkan pikiranku.”
Pemikir kedua menyahut, “Ya, aku juga memikirkan ayat yang berbunyi, ‘Hai manusia, telah diberikan sebuah perumpamaan, maka simaklah dengan seksama, bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang kamu sebut selain Allah sama sekali tidak mampu menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.’ (QS. Al-Hajj:73). Sungguh Aku tidak sanggup menciptakan seindah ayat ini.”
Tanpa membuang waktu, pemikir ketiga pun menyambungnya, “Aku sudah memikirkan ayat ini, ‘Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah, tentulah keduanya hancur….’ (QS. Al-Anbiya’:22) Sungguh aku begitu lemah untuk membuat padanannya.”
Akhirnya tibalah giliran pemikir keempat menyatakan pengakuannya, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini bukanlah buatan manusia. Aku telah menghabiskan setahun penuh hanya untuk merenungkan ayat ini, ‘Dikatakan, ‘Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit [hujan] berhentilah, dan air pun disurutkan, perintahpun terlaksana, dan bahtera itu pun berlabuh di bukit Judi [dekat Armenia daerah Mesopatomia], dan dikatakan binasalah orang-orang Zalim.’” (QS. Hud:44)
Ketika itu, Imam Ja‘far as. lewat di hadapan mereka. Sejenak memandang mereka, beliau membacakan firman Allah, “Seandainya segenap manusia dan jin bersatu untuk membuat padanan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan mampu, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (QS. Al-Isra’:88)
Mazhab Ja‘fariyah
Mazhab Ahlulbait as berkembang pada masa Imam Ja‘far as, dan pengikutnya terus bertambah pesat, sehingga masyarakat lebih mengenal mazhab Syi‘ah dengan mazhab Ja‘fariyah, yaitu nama yang diambil dari Imam Ja‘far Ash-Shadiq as.
Tentu saja tidak bisa dipungkiri, bahwa mazhab Ja‘fariyah adalah Mazhab Imam Ali bin Abi Thalib as yang telah dikhianati dan dibunuh oleh kaum Khawarij, mazhab yang menyebabkan Imam Hasan as tewas diracun oleh Muawiyah, mazhab yang menyebabkan Imam Husain as mencapai syahadahnya pada Hari Asyura (di padang karbala pada 10 Muharram).
Rasulullah saw telah mewasiatkan kepada kaum muslimin untuk berpegang teguh pada kitab Allah dan keluarga beliau (Ahlulbait as). Sayang sekali, kaum muslimin telah melupakan wasiat tersebut. Ada sebagian yang telah menyimpang jauh sampai merampas hak kepemimpinan mereka dan menyebarkan kerusakan dan kezaliman. Ada pula penguasa-penguasa yang mengasingkan mereka dan para pengikutnya, bahkan tak segan-segan membunuh dan merencanakan kekejian terhadap mereka, seperti yang terjadi di Karbala.
Kaum muslimin mulai menyadari bahwa sikap menyia-nyiakan wasiat Rasulullah saw itu merupakan kerugian besar. Pada saat yang sama, mereka takut terhadap ancaman penguasa, bahkan ada di antara mereka yang menyembunyikan kepercayaan dan kesetiaannya kepada Ahlulbait as demi keselamatan hidupnya.
Imam Ja‘far dan Manshur Dawaniqi
Kaum muslimin jenuh dan geram terhadap pemerintahan Bani Umaiyah yang zalim. Dalam keadaan demikian itu, terdapat sekelompok orang yang memanfaatkan kegeraman muslimin itu serta dan keberpihakan mereka kepada Ahlulbait Rasul as demi kepentingan pribadi.
Lantaran hasutan orang-orang itu, kaum muslimin mulai melakukan pembangkangan terhadap Bani Umaiyah dengan membawa-bawa nama Ahlulbait. Sementara itu Bani Abbasiyah segera giat menyalahgunakan kondisi tadi dengan mengajak kaum muslimin agar meneriakkan slogan “Kesetiaan pada Ahlulbait Muhammad.”
Slogan yang digemakan itu sangat membantu menyebarkan siasat Bani Abbasiyah. Pemberontakan mulai meletus di Khurasan yang dengan cepat mendapat gelombang dukungan dari masyarakat luas, hingga mereka bisa menggulingkan pemerintahan Bani Umaiyah.
Maka, terjadilah pergantian kekhalifahan. Bani Abbasiyah mulai melakukan pembagian kekuasaan dengan mitra politiknya dan mulai mengusir—bahkan—keturunan-keturunan Imam Ali bin Abi Thalib as, di manapun mereka ditemukan. Mereka melakukan kejahatan itu semua dengan sangat hati-hati.
Khalifah pertama Bani Abbasiyah ialah Manshur Dawaniqi. Dia menjalankan pemerintahan tangan besi dan merencanakan pembunuhan atas setiap penentangnya. Dia membunuh Muhammad dan saudaranya, Ibrahim, yang keduanya adalah dari keturunan Imam Hasan as.
Manshur juga menyebarkan mata-matanya di setiap kota. Secara khusus dia memerintahkan gubernur Madinah untuk mewaspadai setiap gerak gerik Imam Ja‘far as.
Pernah suatu kali Manshur mengundang Imam Ja‘far as dan berkata, “Mengapa engkau tidak mengunjungi kami sebagaimana orang-orang mendatangi kami?”
“Tidak ada urusan dunia yang membuat kami kuatir terhadapmu, dan tidak ada pula urusan akhiratmu yang bisa kami harapkan darinya. Begitu pula, tidak ada kenikmatanmu yang bisa kami syukuri, dan tidak pula kesusahanmu yang bisa kami sesalkan”, jawab Imam as.
Dengan liciknya, Manshur menawarkan, “Kalau begitu, jadilah temanku agar engkau bisa menasehatiku?”
Imam as kembali menjawab, “Siapa saja yang menginginkan dunia, ia tidak akan menasehatimu, dan siapa saja yang menginginkan akhirat, ia pun tidak akan menjadi temanmu.”
Manshur memerintahkan gubernurnya di Madinah untuk mengikis habis citra dan pengaruh besar Imam Ali bin Ali Thalib as di sana.
Hingga pada suatu hari, guberbur Madinah naik mimbar dan mulai mencaci maki Imam Ali as serta keluarganya. Tiba-tiba Imam Ja‘far as bangkit dan berkata, “Adapun sanjungan yang telah kau sampaikan, maka kamilah pemiliknya, dan segala hujatan yang telah kau katakan, maka kau dan sahabatmulah (Manshur) yang lebih pantas menjadi sasarannya.”
Lalu Imam as menoleh kepada khalayak sembari berkata, “Aku peringatkan kepada kalian akan orang yang paling ringan timbangan amalnya, yang paling jelas merugi di Hari Kiamat, dan yang paling celaka keadaannya. Yaitu, orang yang menjual akhirat dengan kesenangan duniawi orang lain. Orang itu adalah gubernur yang fasik ini.”
Gubenur itu segera turun dari mimbar sambil menanggung segunung rasa malu dan hina.
Dikisahkan, pada suatu saat di sebuah ruang pertemuan, ada seekor lalat bermain-main di hidung Manshur. Berulang kali dia mengusirnya. Lalat itu tetap saja kembali, sehingga dia merasa kesal dan berang. Ia berpaling kepada Imam Ja‘far as dan berkata, “Untuk apa Allah menciptakan lalat?”
“Untuk menghinakan hidung orang sombong.” Jawab Imam as.
Manshur begitu geram. Dia tak tahan lagi melihat keberadaan Imam as di bawah pemerintahannya. Untuk itu, dia merencanakan pembunuhan atas beliau. Akhirnya, dia pun berhasil meracuni beliau.
Imam Ja‘far as meninggal syahid pada 25 Syawal. Tubuhnya yang suci dikebumikan di pemakaman Baqi‘,Madinah Al-Munawwarah.[]
Mutiara Hadis Imam Ja‘far as
• “Waspadalah terhadap tiga orang: pengkhianat, pelaku zalim, dan pengadu domba. Sebab, seorang yang berkhianat demi dirimu, ia akan berkhianat terhadapmu dan seorang yang berbuat zalim demi dirimu, ia akan berbuat zalim terhadapmu. Juga seorang yang mengadu domba demi dirimu, ia pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu.”
• “Tiga manusia adalah sumber kebaikan: manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara), manusia yang tidak melakukan ancaman, dan manusia yang banyak berzikir kepada Allah.”
• “Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu’.” Salah seorang bertanya kepada Imam, “Apakah tanda-tanda tawadhu’ itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran.”
• Seorang laki-laki seringkali mendatangi Imam Ja‘far as, kemudian dia tidak pernah lagi datang. Tatkala Imam as menanyakan keadaannya, seseorang menjawab dengan nada sinis, “Dia seorang penggali sumur.” Imam as membalasnya, “Hakekat seorang lelaki ada pada akal budinya, kehormatannya ada pada agamanya, kemuliannya ada pada ketakwaannya, dan semua manusia sama-sama sebagai Bani Adam.”
• “Hati-hatilah terhadap orang yang teraniaya, karena doanya akan terangkat sampai ke langit.”
• “Ulama adalah kepercayaan para rasul. Dan bila kau temukan mereka telah percaya pada penguasa, maka curigailah ketakwaan mereka.”
• “Tiga perkara dapat mengeruhkan kehidupan: penguasa zalim, tetangga yang buruk, dan perempuan pencarut. Dan tiga perkara yang tidak akan damai dunia ini tanpanya, yaitu keamanan, keadilan, dan kemakmuran.”
Riwayat Singkat Imam Ja‘far as
Nama : Ja‘far.
Gelar : Ash-Shadiq.
Panggilan : Abu Abdillah.
Ayah : Muhammad bin Ali Al-Baqir as.
Ibu : Ummu Farwah.
Kelahiran : Madinah, 17 Rabiul Awal 80 H.
Kesyahidan : 25 Dzulhijjah 148 H.
Makam : Pemakaman Baqi‘, Madinah.
Imam Musa Al-Kazhim
Hari Lahir
Imam Musa Al-Kazhim as lahir pada hari Ahad, bertepatan dengan 7 Shafar tahun 120 Hijriah di sebuah lembah bernama Abwa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Ibunda beliau bernama Hamidah. Imam as mencapai kedudukan Imamah pada usia 21 tahun.
Abu Bashir menuturkan, “Kami bersama Imam Ja’far melakukan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Tidak lama setelah tiba di sebuah tempat yang dikenal dengan Abwa’ dan menyantap sarapan pagi di sana, Imam mendapat kabar bahwa Allah SWT telah menganugerahinya seorang putra. Dengan penuh suka-cita, Imam Ja’far segera menemui istrinya, Hamidah. Tidak lama kemudian, beliau kembali dengan wajah berseri dan berkata, “Allah SWT telah memberiku seorang anak. Kelahiran putraku ini merupakan anugerah terbaik dari-Nya.”
Ibundanya bercerita bahwa ketika putranya lahir, ia merebah sujud dan memanjatkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Perbuatan ini merupakan tanda imamah beliau.
Saat tiba di Madinah, Imam Ja’far Ash-Shadiq as menghidangkan jamuan makan selama tiga hari, mengundang orang-orang miskin, dan orang-orang yang tertimpa kesusahan.
Ya’qub As-Sarraj menuturkan, “Aku mengunjungi Imam Ash-Shadiq as di Madinah. Aku melihatnya berdiri di dekat ayunan putranya, Musa Al-Kazhim as. Aku mengucapkan salam kepada beliau, dan dengan tatapan yang cerah beliau membalas salamku. Beliau berkata, ‘Mari mendekat kepada Imam dan sampaikan salam padanya.’ Aku mendekatinya dan menyampaikan salam. Imam Ja’far berkata, ‘Allah SWT telah menganugerahimu seorang putri dan engkau telah memberinya nama yang kurang pantas untuknya. Pergilah dan gantilah namanya.’”
Ibunda Musa Al-Kazhim as adalah seorang budak yang dibeli oleh Imam Ja’far. Meskipun demikian, ibunda telah mendapatkan pengajaran ilmu dari Imam Ja’far as, yang menjadikannya sebagai wanita yang memiliki keluasan ilmu dan kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu agama. Sehingga, terkadang Imam Ja’far meminta para wanita untuk bertanya masalah-masalah agama kepadanya.
Periode kehidupan Imam Musa Al-Kazhim as dapat dibagi menjadi dua bagian:
Pertama, kehidupan beliau bersama ayahandanya di Madinah selama 20 tahun. Periode ini berlangsung sebelum beliau mencapai Imamah.
Kedua, masa-masa awal perlawanan, pemenjaraan, dan pengasingan yang menimpa kehidupan Imam as.
Akhlak Imam Musa
Meskipun postur tubuh Imam Musa Al-Kazhim as kurus, namun beliau memiliki jiwa yang kuat. Baju dalam beliau terbuat dari bahan kain kasar. Beliau kadang-kadang berjalan kaki di tengah keramaian penduduk, menyampaikan salam pada mereka, mencintai keluarganya, dan menghormati mereka.
Imam Musa Al-Kazhim adalah orang yang sangat peduli pada kehidupan kaum fakir miskin dan orang-orang yang tertimpa musibah. Pada malam hari, beliau memikul makanan di pundaknya untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh mereka tentang keberadaan beliau. Bahkan, setiap bulannya, Imam memberikan santunan kepada beberapa orang di antara mereka.
Salah seorang sahabat Imam bercerita tentang ketabahan dan kesabaran beliau. Ia menuturkan, “Musuh-musuhnya terkadang merasa malu dan berkecil hati atas akhlak luhur yang ditunjukkan oleh Imam.”
Pada suatu waktu, seorang warga Madinah melihat Imam Musa. Ia menghadang beliau lalu menyampaikan kata-kata kasar dan makian terhadap beliau. Para sahabat Imam berkata, “Izinkan kami untuk menghajarnya, wahai Imam!”
Imam berkata, “Biarkanlah, jangan kalian ganggu dia.”
Beberapa hari kemudian, tidak ada berita tentang orang tersebut. Imam menanyakan ihwal kesehatan orang itu. Penduduk kota menjawab, “Ia pergi bercocok tanam di ladangnya yang terletak di luar kota Madinah.” Mendengar kabar tersebut, Imam as segera menunggang kudanya dan bergerak menuju ke ladang orang tersebut.
Ketika orang itu melihat kedatangan Imam as, ia berteriak dengan lantang dari kejauhan, “Jangan sekali-kali kau menginjakkan kakimu di ladangku. Aku adalah musuhmu dan musuh datuk-datukmu.”
Namun, Imam malah mendekatinya, menyampaikan salam, dan menanyakan kesehatan serta keadaan hidupnya. Dengan penuh ramah Imam bertanya, “Berapa Dinar yang Anda habiskan untuk biaya ladangmu ini?”
Ia menjawab, “Seratus Dinar.”
Imam bertanya lagi, “Berapa banyak keuntungan yang Anda harapkan dari semua ini?”
Orang itu menjawab, “Dua ratus Dinar.”
Mendengar jawaban ini, Imam mengambil sekantung uang yang berisi tiga ratus Dinar dan memberikannya pada orang tersebut. Imam berkata, “Ambillah uang ini, dan ladang ini tetap menjadi milikmu.”
Orang yang selama ini berlaku kurang ajar dan kasar kepada Imam itu, tidak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan sesantun itu dari Imam.
Ketika hendak kembali ke Madinah, Imam berpesan, “Lepaskan amarahmu dengan cara seperti ini.” Yakni, tetap menunjukkan akhlak yang luhur.
Al-Kazhim adalah sebuah gelar yang berarti orang yang mampu mengendalikan amarahnya ketika mendapat gangguan dan membalasnya dengan kebaikan serta penghormatan. Perbuatan mulia ini telah membuat musuh-musuhnya menjadi begitu malu.
Salah satu kebiasaan Imam Musa as ialah menunjukkan cinta kasih dan kehangatannya kepada kerabat beliau. Beliau berkata, “Apabila terjadi permusuhan di antara kerabat, lalu mereka saling berjabatan tangan ketika mereka berjumpa, maka permusuhan itu akan pergi dan sesama mereka akan saling mencintai satu sama lainnya dan sama-sama menyambut gembira.”
Sikap Pemurah Imam
Imam Musa Al-Kazhim as masyhur di antara para penduduk dengan kemurahan dan keramahannya, seperti perbuatan beliau membebaskan seribu budak, atau pun bantuan beliau kepada mereka yang dalam kesulitan dan terhimpit masalah hidup, serta melunasi utang orang-orang yang terlilit utang.
Ibnu Sharashab menukil, “Suatu hari, Khalifah Manshur mengundang Imam Musa ke istananya dan meminta beliau untuk duduk di singgasana khalifah pada hari tahun baru dan membawa pulang hadiah-hadiah yang dihaturkan oleh para tamu. Meskipun Imam tidak begitu tertarik untuk memenuhi undangan itu, namun beliau dengan terpaksa menerimanya.
“Beliau duduk di singgasana itu. Atas perintah Khalifah Manshur, para pengawal kerajaan, keluarga istana, dan para pembesar yang ikut dalam acara resmi tersebut menyerahkan hadiah-hadiah mereka kepada Imam. Manshur memerintahkan salah seorang pelayannya untuk mencatat secara detail jumlah hadiah itu dan menyiapkan perlengkapannya untuk dibawa oleh Imam.
“Di akhir acara itu, seseorang yang sudah berusia lanjut datang dan berkata, ‘Wahai putra Rasulullah, aku tidak memiliki sesuatu pun untuk aku haturkan kepadamu. Akan tetapi, aku memiliki beberapa syair yang berhubungan dengan duka nestapa yang menimpa datukmu, Imam Husain as. Hanya syair inilah yang dapat kupersembahkan kepadamu.’
“Orang itu kemudian melantunkan syairnya di hadapan Imam dan meninggalkan kesan yang luar biasa dalam diri beliau. Beliau meminta pengawal Manshur untuk pergi menjumpai Manshur dan menanyakan tentang apa yang harus dilakukan dengan hadiah-hadiah tersebut.
“Pengawal tersebut beranjak menjumpai Manshur, dan setelah kembali ia mengatakan, ‘Khalifah mengatakan bahwa seluruh hadiah itu telah diserahkan kepadamu sepenuhnya. Kau bisa serahkan kepada siapa saja yang kau kehendaki.
“Pandangan Imam jatuh kepada orang tua tadi. Kepadanya beliau mengatakan, ‘Demi syair yang telah Anda lantunkan sehubungan dengan bencana yang menimpa datukku, aku anugerahkan hadiah ini untukmu sehingga dengannya Anda bebas dari kemiskinan dan penderitaan.’”
Imam Musa Bekerja
Imam Musa Al-Kazhim as bercocok tanam sendiri di ladang yang menjadi kekayaan pribadi beliau. Dari hasil cocok tanam itu, Imam membelanjakannya untuk keperluan hidup sehari-hari. Kadang-kadang, kerja keras di ladang membuat seluruh badan beliau basah kuyup dengan peluh.
Suatu hari, salah seorang sahabat Imam yang bernama Ali Bathaini—yang memiliki hubungan kerja dengan Imam—mendatangi beliau di ladang. Ketika ia melihat Imam dalam kepayahan, ia pun menjadi sedih dan berkata, “Semoga jiwaku menjadi tebusanmu wahai Imam, mengapa Anda tidak membiarkan orang lain untuk melakukan pekerjaan ini?”
Imam menjawab, “Mengapa aku harus membebankan pekerjaan ini ke pundak orang lain sementara mereka lebih baik dalam melakukan pekerjaan ini daripada aku.”
Aku bertanya, “Siapakah mereka itu?”
Imam berkata, “Rasulullah saw, Amirul mukminin Ali as, ayahandaku, dan datukku.”
Bekerja dan berpeluh adalah sunah para nabi, para Imam, dan para hamba Allah yang saleh. Mereka ini senantiasa bekerja dan bersusah payah. Mereka memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan hasil kerja yang mereka usahakan sendiri.
Cara Dakwah Imam Musa
Suatu ketika, Imam melintasi sebuah jalan. Denting suara musik dan dendang lagu terdengar hingga keluar rumah. Pemilik rumah tersebut adalah seorang tuan yang terpandang. Dia telah membangun sebuah tempat untuk bersenang-senang dan membuatnya bergembira ria.
Tiba-tiba seorang budak keluar dari rumah itu untuk membuang sampah di sudut jalan. Secara kebetulan, ia melihat Imam dan berdiri terdiam. Lalu, ia memberikan salam kepada Imam.
Sang Imam bertanya padanya, “Apakah pemilik rumah ini adalah seorang hamba atau seorang merdeka?”
Ia menjawab , “Seorang yang merdeka.”
Imam berkata lagi, “Tentu saja dia seorang yang merdeka. Jika dia seorang hamba, tentu dia memiliki rasa takut kepada Allah SWT dan tidak akan mengerjakan perbuatan sia-sia ini.”
Budak itu kembali masuk rumah. Tatkala tuannya menanyakan keterlambatannya, ia menceritakan perjumpaan dan perbincangannya dengan Imam di luar tadi.
Orang itu sejenak merenungi perbincangan itu. Ia merasakan perkataan Imam di atas begitu menyentuh hatinya. Segera ia bangkit dari tempat duduknya dan dengan kaki telanjang ia berlari menyusul Imam dari belakang hingga berjumpa dengan beliau. Orang itu memberikan salam kepada Imam dan menyampaikan penyesalannya di hadapan beliau.
Sejak saat itu, ia mengubah pusat hiburan itu menjadi tempat ibadah, dan setiap hari ia berjalan dengan kaki telanjang. Orang ini kemudian dikenal dengan nama “Basyri Al-Hafi”, yang berarti Si Basyri yang berjalan dengan kaki telanjang.
Kezuhudan dan Ibadah
Imam Musa Al-Kazhim as sangat terkenal dengan kezuhudan dan ibadahnya sehingga di mana pun orang bercerita tentang beliau, mereka pasti berkomentar, “Beliau adalah seorang pecinta ibadah.”
Syaikh Mufid menulis tentang Imam as, “Di zaman itu, beliau adalah orang yang paling saleh dan bertakwa. Pada malam harinya, beliau larut dalam shalat. Bilamana melaksanakan sujud, beliau senantiasa memanjangkannya sementara air matanya luruh hingga membasahi janggut beliau.”
Syablanji, seorang ulama Ahlusunah menulis, “Imam Musa Al-Kazhim as adalah orang yang paling bertakwa dan zuhud pada zamannya. Beliau sangat arif, bijaksana, pemurah, dan pengasih kepada siapa saja. Beliau membantu dan merawat orang-orang yang malang. Waktunya banyak dihabiskan untuk mengerjakan ibadah tanpa diketahui oleh orang banyak. Beliau berkata, ‘Ya Allah, mudahkanlah kematianku dan ampuni dosa-dosaku saat aku dihadapkan pada-Mu di Hari Kiamat.’”
Imam Musa as merupakan seorang pecinta Tuhan sejati sehingga membuat orang-orang menjadi takjub dan terheran-heran. Sampai-sampai beliau pernah membuat Fadhl, si kepala penjara ikut menangis.
Begitu pula pelayan wanita khusus Khalifah Harun yang diutus ke penjara untuk menggoda Imam as, dan membuat beliau tertarik kepadanya sehingga Harun menemukan alasan untuk menghukum beliau. Di dalam penjara, pelayan wanita itu malah terpukau oleh perangai Imam, sehingga ia kembali menghadap Harun dalam keadaan menangis, dan menyatakan keberatannya atas keputusan Harun memenjarakan Imam as.
Tragedi Fakh
Atas perintah Imam Musa Al-Kazhim as, seorang Alawi (keturunan Imam Ali) asal Madinah bernama Husain bin Ali melakukan pemberontakan terhadap Al-Hadi yang menjadi khalifah Dinasti Abbasiyah ketika itu. Beserta dengan tiga ribu pasukan, Husain bangkit melawan pemerintahan Abbasiyah karena kejahatan dan kezaliman mereka terhadap anak keturunan Ali bin Abi Thalib as.
Namun, pasukan Al-Hadi berhasil mengepung mereka di tanah Fakh dan melakukan pembantaian massal di tempat itu, yaitu memenggal kepala mereka, satu persatu. Kepala-kepala yang terpenggal itu dan para tawanan perang dibawa ke hadapan Al-Hadi. Dia memberi perintah kepada algojonya untuk membunuh para tawanan itu.
Peristiwa ini dikenal dalam sejarah sebagai tragedi Fakh dan pejuang ‘Alawi itu dikenal dengan “Husain”, Sang Syahid Fakh.
Hijrah Pertama ke Baghdad
Manshur tewas dibunuh pada 158 H. Segera anaknya, Al-Mahdi naik tahta sebagai khalifah yang menggantikan ayahnya, ia memberlakukan siasat-siasat keji atas masyarakat. Ia bertingkah seakan-akan seorang alim yang taat beragama di hadapan khalayak, tetapi di belakang ia justru senantiasa berbuat zalim dan maksiat.
Ketika memegang kekuasaan, Khalifah Al-Mahdi membebaskan para tahanan politik, di antaranya Imam Musa as, dan mengembalikan harta yang dirampas dari tangan mereka. Akan tetapi, ia juga memberikan hadiah yang besar kepada para penyair yang memaki dan melaknat keluarga Ali bin Abi Thalib as. Seperti ketika ia memberikan hadiah 70.000 Dirham kepada Busyr bin Burd dan 100.000 Dirham kepada Marwan karena syair-syair mereka berisikan laknat dan makian terhadap keluarga Imam Ali as.
Ia menghabiskan harta negara untuk berfoya-foya dan bersenang-senang, seperti ketika ia menghabiskan 59.000.000 Dirham untuk pesta pernikahan anaknya, Harun.
Suatu ketika, mata-mata Al-Mahdi melaporkan popularitas Imam dan kecondongan masyarakat kepada beliau. Mendengar berita itu, dia benar-benar geram dan segera memerintahkan orang-orang dekatnya untuk membawa Imam as dari Madinah ke Baghdad dan memenjarakannya di sana.
Abu Khalid berkata, “Suatu hari Imam dikawal oleh pasukan resmi kerajaan tiba di rumahku di Zubala. Dalam waktu yang singkat itu, Imam sempat lepas dari pengawalan pasukan kerajaan itu, dan beliau memintaku untuk membelikan beberapa barang. Aku sangat sedih dan menangis melihat keadaan Imam seperti itu. Kepadaku Imam mengatakan, ‘Jangan risaukan aku, karena aku akan segera kembali, dan nantikan aku hingga hari itu, di tempat itu.’
“Aku persembahkan diriku atas apa yang telah Imam perintahkan kepadaku. Kulihat beliau memimpin kafilah tersebut. Dengan gembira Aku maju ke depan dan mencium Imam. Beliau berkata, ‘Wahai Abu Khalid, mereka akan membawaku kembali ke Baghdad dan aku tidak akan kembali dari perjalanan itu.’
“Ketika aku mencari tahu alasan mengapa Imam dibebaskan, aku menjadi tahu bahwa Al-Mahdi melihat Imam Ali bin Abi Thalib as dalam mimpinya, pada malam yang sama. Dalam mimpinya itu, dia melihat Imam Ali dengan tatapan marah dan memberi peringatan kepadanya. Karena ketakutan, pada pagi harinya dia pun melepaskan Imam dan mengirimnya kembali ke Madinah dengan segenap hormat dan santun.”
Meskipun keadaan yang mencekik dan menyiksa di Madinah, Imam Musa as tetap giat membimbing dan menuntun warga kota. Tidak lama berselang, Al-Mahdi meninggal dunia dan anaknya Al-Hadi naik tahta menggantikannya sebagai khalifah.
Berbeda dengan ayahnya, Al-Hadi memulai permusuhan dan penindasannya terhadap anak keturunan Imam Ali as tidak lagi sembunyi-sembunyi, tetapi malah terang-terangan. Perbuatannya yang paling jahat ialah pembantaiannya terhadap anak keturunan Ali as yang kemudian dikenal dengan nama “Tragedi Fakh”, dan oleh ahli sejarah dicatat sebagai tragedi terkejam kedua setelah tragedi Karbala.
Al-Hadi adalah orang yang berlumuran dosa, berperangai jahat, dan sama sekali tidak layak menduduki kursi kekhalifahan. Ia menghabiskan uang sewenang-wenang, hanya untuk berpoya-poya dan bersenang-senang, dan memberikan hadiah yang melimpah kepada mereka yang membacakan syair dan yang mendendangkan lagu untuknya.
Al-Hadi meninggal pada tahun 170 H. Lalu Harun menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Ketika itu, Imam telah berusia 42 tahun.
Setelah dibaiat oleh orang-orang setianya, Harun melantik Yahya Barmaki—berkebangsaan Iran—sebagai menterinya dan memberikan wewenang yang penuh kepadanya. Harun sendiri menyibukkan dirinya menguras kekayaan negara “Baitul Mal” yang ketika itu sedang melimpah.
Ia menghabiskan seluruh kekayaan negara itu secara berlebih-lebihan untuk berfoya-foya dan bersenang-senang. Bahkan untuk pembelanjaan suatu acara makan, dia menghabiskan biaya senilai 4.000 Dirham.
Kecongkakan Harun
Harun sangat terusik dengan perlawanan anak keturunan Ali as terhadap Dinasti Abasiyah. Ia menggunakan segala cara untuk menjauhkan masyarakat dari keluarga Ali as. Ia pun memberikan uang yang melimpah kepada para pujangga yang mendendangkan syair-syair berisikan makian, hujatan, dan cemoohan terhadap mereka. Oleh karena itu, Harun memberikan izin kepada salah seorang pujangga—yang bait-bait syairnya menghujat keluarga Ali—masuk ke dalam gudang kekayaannya untuk memilih dan mengambil barang sesuka hatinya.
Harun mengasingkan anak keturunan Ali as dari Baghdad ke Madinah, dan membunuh banyak di antara mereka.
Hamid bin Fathaba, gubernur Khalifah Harun di Khurasan, menukil kepada Abdullah Al-Bazzaz An-Naisyaburi, “Harun memiliki satu taman di Naisyabur yang dikunjunginya setiap tahun. Pada suatu waktu, ia memanggilku di tengah malam dan berkata, ‘Tunjukkan seberapa tinggi imanmu kepadaku?’
Aku berkata, “Aku korbankan hidup dan hartaku untukmu.’
Ia berkata, ‘Apa lagi?’
Kujawab, ‘Kehormatanku, istriku, dan anakku, semua itu untukmu.’
Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’
Kukatakan, ‘Agamaku.’
Harun menegakkan kepalanya dan berkata sambil tertawa, ‘Anda telah mengatakan apa yang aku nantikan. Mendekatlah, ambil pedang ini dan laksanakan perintah yang disampaikan budakku kepadamu!’
“Budak Harun itu menuntunku ke sebuah rumah yang menyekap enam puluh orang. Mereka adalah anak-anak muda dan orang-orang tua keluarga Ali as. Kemudian ia menyeret mereka satu persatu dan memerintahkan aku untuk membunuh mereka. Aku dengan setia mematuhi perintah Harun tersebut. Setelah aku mengeksekusi mereka, aku buang mayat-mayat itu ke dalam sebuah sumur yang penuh dengan lumpur di sebuah kampung.
“Duhai sahabatku! Setiapkali aku mengingat tragedi memilukan ini, tubuhku bergetar dan bulu romaku merinding. Dengan segala kekejian dan kejahatannya, Harun masih memerintahkan aku untuk menggali kuburan Imam Husain as dan menghancurkan pusaranya dengan maksud agar orang-orang tidak dapat menziarahinya lagi.”
Ikrar Imam Musa Al-Kazhim
Sudah jelas mengapa Imam Musa Kazhim as begitu tegasnya menolak untuk bekerja sama dengan pemerintahan zalim dan biadab seperti Dinasti Abasiyah. Beliau tidak dapat berdiam diri di hadapan kezaliman mereka. Oleh karena itu, beliau bangkit memberontak melawan pemerintahan Harun.
Di mana saja tempat yang dianggap perlu, Imam as menyingkapkan kekejaman dan kebejatan perangai Harun kepada masyarakat. Hal ini tentu saja membuat Harun menjadi malu dan tercoreng namanya di hadapan mereka.
Selain itu, Imam Musa as memerintahkan beberapa sahabatnya untuk menolak segala bentuk kerja sama dan bantuan dari pemerintahan Harun. Misalnya kepada Shafwan, sahabat setia Imam. Kepadanya beliau berkata, “Engkau adalah orang yang berbudi baik dalam segala hal kecuali satu, yaitu engkau telah menyewakan untamu kepada Harun.”
Shafwan menjawab, “Aku menyewakan untaku kepadanya hanya pada musim haji saja, dan aku pun tidak menyertai perjalanannya.”
Imam berkata, “Hai Sofwan, tidakkah kau akan gembira sampai untamu kembali, dan Harun tetap hidup sehingga kau menerima uang sewa darinya?”
Ia menjawab, “Ya, betul.”
Imam berkata lagi, “Barang siapa yang suka bila seorang zalim tetap hidup, maka ia pun termasuk bagian darinya.”
Walaupun Shafwan telah menandatangani perjanjian sewa-menyewa dengan Harun yang mensyaratkan supaya Shafwan menyediakan perlengkapan perjalanan haji kepada Khalifah, namun setelah mendengar ucapan Imam Musa as itu, ia pun menjual seluruh unta yang dimilikinya. Harun kemudian memanggil dan mendesaknya untuk mengatakan alasan apa sehingga menjual seluruh unta itu tanpa sedikit pun memberi kabar kepadanya.
Akhirnya, Harun mengerti apa yang telah terjadi dan berkata kepada Shafwan, “Sekiranya aku tidak mengingat hubungan persahabatan yang dulu terjalin di antara kita, maka detik ini juga aku perintahkan algojoku untuk memenggal kepalamu. Aku tahu siapa yang memberikan perintah ini kepadamu. Musa bin Ja’far yang telah memerintahkan ini padamu.”
Walaupun Imam as tidak membolehkan seorang pun untuk berkerja sama dengan Harun, akan tetapi beliau memerintahkan seseorang yang pandai tentang seluk-beluk pemerintahan untuk menyusup dan membangun pengaruh di dalam pemerintahan Harun Ar-Rasyid, dan membantu sahabat-sahabat Imam yang kesusahan, serta melaporkan informasi, rencana, atau keputusan yang telah diambil oleh pemerintah.
Dalam rangka ini, beliau memberikan izin kepada Ali bin Yaqthin untuk mengemban tugas ini dan berhasil menjabat sebagai salah satu menteri Harun Ar-Rasyid. Dengan tugas ini, Ali dapat membantu sahabat-sahabatnya dan pengikut-pengikut Imam as.
Suatu hari, Imam menulis surat yang isinya meminta Ali bin Yaqtin, “Bila tidak ada orang yang melihatmu, kau dapat mengambil wudhu sesuai dengan ajaran Imam. Namun, bila ada yang menemanimu, maka berwudhulah dengan cara mereka. Terima hadiah-hadiah yang diberikan padamu dan jangan engkau tolak.” Penerimaan hadiah itu adalah salah satu cara Harun menguji kesetiaan orang-orangnya.
Dialog Harun dan Imam Musa Al-Kazhim
Harun senantiasa berusaha bertanya tentang sesuatu yang dapat membuat Imam tidak berkutik menjawabnya. Sehingga dengan siasat ini, dia dapat menjatuhkan citra dan kedudukan Imam di tengah masyarakat.
Pada suatu kesempatan, Harun berkata kepada Imam as, “Aku ingin menyampaikan sebuah pertanyaan yang hingga kini aku belum temukan jawabannya.”
Imam, “Jika aku memiliki kebebasan dalam menyampaikan pendapat, aku akan menjawab pertanyaanmu itu.”
Harun, “Tentu, Anda bebas menyampaikan pendapat Anda. Katakan padaku, mengapa Anda menganggap bahwa Anda lebih unggul di atasku padahal kita berdua dari satu garis keturunan. Bukankah kita berdua berasal dari Bani Hasyim?”
Imam, “Kami lebih dekat kepada Nabi saw dari pada Anda. Sebab, ayah kami adalah Abu Thalib dan ayah Nabi Muhammad saw adalah dua bersaudara dari ibu dan ayah yang sama. Tetapi ayahmu Abbas hanya memiliki nasab (hubungan) dari pihak ayah saja.”
Harun, “Sewaktu Nabi wafat, ayahmu, Abu Thalib telah lebih dahulu wafat, tapi ayah kami, Abbas masih tetap hidup. Jelas bahwa selama paman masih hidup, Anda sebagai sepupu tidak dapat menerima warisan.”
Imam, “Selama seorang anak masih hidup, paman tidak berhak menerima warisan. Dan ketika itu Fatimah masih hidup, maka ayahmu Abbas tidak memiliki hak untuk menerima warisan.”
Harun melontarkan pertanyaan lain, “Mengapa Anda membiarkan orang-orang memanggilmu dengan sebutan putra Rasulullah, sementara Anda ini putra Ali bin Abi Thalib. Karena, nasab setiap orang itu menurut pada garis ayahnya, sedangkan Rasulullah adalah kakekmu tapi dari garis ibu.”
Imam, “Jika sekiranya Rasulullah hidup dan meminang putrimu, apakah engkau bersedia untuk menerima pinangan beliau dan memberikan putrimu padanya?”
Harun, “Tentu saja, setiap bangsa Arab atau pun Ajam akan menerimanya dengan penuh kebanggan dan kehormatan.”
Imam, “Tetapi Rasulullah tidak akan pernah meminang putriku untuk beliau nikahi.”
Harun, “Mengapa demikian?”
Imam: “Karena, beliau adalah ayahku walaupun dari pihak ibu, sedangkan beliau bukan ayahmu sama sekali. Dengan demikian, aku menganggap diriku sebagai putra Rasulullah.”
Harun duduk diam seribu bahasa setelah mendengarkan jawaban Imam yang seakan-akan meremukkan tubuhnya. Lalu ia mempersilahkan Imam untuk memintanya sesuka hati beliau. Imam berkata, “Aku tidak ingin apa pun darimu. Biarkan saja aku pergi melakukan pekerjaanku.”
Pengkhianatan Seorang Kerabat
Kemenakan Imam yang bernama Ali bin Ismail diundang oleh sahabat Harun untuk menemaninya ke Baghdad guna memberi kabar kepada Harun perihal keadaan Musa bin Ja’far. Ketika Imam diberi tahu tentang undangan itu, beliau memanggil kemenakannya itu dan berkata, “Ke manakah kau hendak pergi?”
Ali bin Ismail menjawab, “Ke Baghdad.”
Imam berkata, “Untuk keperluan apa kau ke sana?.”
Ia menjawab, “Aku terlilit utang. Barangkali dengan kepergian ini aku mendapatkan uang untuk membayar utangku itu.”
Imam berkata lagi, “Aku yang akan membayar seluruh utangmu itu dan mencukupi keperluan hidupmu beserta keluargamu.”
Tetapi Ismail menolak tawaran Imam tersebut dan bersikeras untuk tetap pergi. Kepada Imam ia berkata, “Aku tetap akan pergi dan aku meminta nasihat darimu.”
Imam berkata padanya, “Aku wasiatkan kepadamu dan ini adalah perintahku. Engkau jangan turut serta dan mengambil andil dalam penumpahan darahku, karena akibatnya akan buruk untukmu kelak.”
Ismail bertanya, “Apa maksud perkataan Anda ini?” Ia mendesak Imam untuk memberinya nasihat. Imam kembali mengulangi perkataannya kepada Ismail. Ia tidak tahu bahwa Imam mengetahui apa yang akan terjadi.
Ismail beranjak pergi meninggalkan Imam. Beliau memberikan 300 Dinar kepadanya dan berkata, “Ini untuk anak-anakmu.” Ismail mengambil uang tersebut dan pergi.
Setelah kepergian Ismail, Imam menyampaikan pesan kepada orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu. Beliau berkata, “Demi Allah, kemenakanku ini akan turut andil dalam pembunuhanku dan menjadikan anak-anakku yatim.”
Para hadirin bertanya-tanya, “Wahai putra Rasulullah, jika Anda mengetahui dia akan berlaku khianat padamu, lalu mengapa Anda masih saja membantunya?”
Beliau menjawab, “Datukku Rasulullah bersabda, ‘Jika seseorang berbuat baik dan mencintai kerabatnya dan si kerabat itu membalasnya dengan perbuatan jahat, maka Allah akan mengazabnya dan ia tidak akan pernah sampai pada apa yang ditujunya.”
Ismail tiba di Baghdad dan berkunjung ke kediaman Yahya Al-Barmaki. Setelah itu, bersama Yahya ia pergi menjumpai Harun. Ia menyampaikan laporannya kepada Harun. Katanya, “Wahai Harun! Musa bin Ja’far telah memerintah Madinah dan ia memiliki uang yang melimpah yang dikirim oleh orang-orangnya dari berbagai tempat. Ia telah mengambil keputusan untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahanmu.”
Harun senang mendapatkan laporan dari Ismail itu dan memberi uang sebanyak dua ratus Dirham kepadanya. Ismail dengan senang hati menerima uang tersebut lalu segera pulang ke rumahnya di Madinah.
Namun, tiba-tiba rasa sakit menyerang tenggorokannya dan mati seketika di tempat itu pula. Harun memutuskan untuk datang ke Madinah guna menangkap Imam dan menjebloskannya ke dalam penjara.
Pada tahun yang sama, Harun menulis surat kepada seluruh orang-orangnya untuk menyebar di Makkah dan Madinah. Sepulangnya dari Madinah, ia memerintahkan gubernur Madinah untuk menangkap Imam dan mengirimnya ke Bashrah. Imam as dipenjarakan selama satu tahun di sana. Ketika itu kota Bashrah berada di bawah pemerintahan Gubernur Yahya Al-Barmaki.
Selama di penjara, akhlak, budi luhur, dan perilaku Imam meninggalkan kesan yang dalam pada diri Yahya. Kesan itu memaksanya untuk menulis surat kepada Harun, “Wahai Harun, aku tidak melihat sesuatu apa pun pada diri Musa bin Ja’far selama dalam penjara kecuali kebaikan dan ketakwaan. Aku tidak tahan lagi memenjarakannya. Terimalah ia agar kembali atau aku akan bebaskan dia pergi.”
Maka, Harun memutuskan untuk memindahkan Imam dari Madinah ke Baghdad. Atas perintahnya, beliau dipindahkan ke penjara Baghdad di bawah pengawasan Fadhl. Seperti pengalaman Yahya, Fadhl pun terpesona oleh kepribadian luhur Imam Musa as dan meminta Harun agar ia sendiri yang mengawasi beliau.
Akhirnya, Imam dipindahkan lagi ke penjara Sindi bin Syahik, seorang yang bengis dan kejam.
Imam melewatkan hari-harinya di penjara itu dengan shalat, puasa, ibadah, dan doa. Semua itu menambah kedekatan diri beliau kepada Allah SWT.
Perlawanan di dalam Penjara
Harun terus berupaya bagaimana caranya membunuh Imam Musa. Suatu hari, dia mengutus Yahya bin Khalik ke penjara. Tugas yang diemban Yahya adalah meminta Imam untuk tidak menentang Khalifah dan menawarkan pengampunan serta pembebasan kepada beliau. Namun, Imam menolak semua tawaran itu.
Imam as menulis sepucuk surat kepada Harun yang berbunyi, “Setiap hari kulalui dengan kesusahan, sementara kau lalui hari-harimu dengan kesenangan. Lalu, kita akan sama-sama mati. Hingga di suatu hari yang tiada akhirnya, kelak kita diberdirikan di hadapan Mahkamah Ilahi, ketika orang-orang licik hanya akan menjadi pecundang dan terhinakan.”
Hari Kesyahidan
Alasan Harun mengapa dia harus memindahkan Imam Musa as dari satu penjara ke penjara lain tidak ada lain adalah karena permintaannya kepada setiap kepala penjara untuk membunuh Imam, namun mereka tidak bersedia untuk memenuhi permintaan tersebut. Hingga akhirnya Sindi yang berhati keras itu bersedia untuk meracun Imam as. Maka, di dalam penjara Sindi-lah beliau meninggal akibat racun yang dibubuhkan ke dalam makanan beliau, tepatnya pada tahun 183 H.
Harun dengan menggunakan saksi-saksi palsu dan orang-orang bayaran mencoba menunjukkan kepada khalayak, bahwa kematian Imam Musa adalah sebuah kematian yang wajar dan alamiah. Siasat licik dan keji ini digunakan untuk menghindari pemberontakan sahabat-sahabat dan orang-orang setia Imam. Namun, segala kelicikan dan siasat Harun sia-sia belaka. Seorang lelaki bernama Sulaiman malah memimpin pemberontakan di Baghdad.
Setelah dikeluarkan dari penjara, mayat suci Imam Musa Al-Kazhim as digeletakkan di atas jembatan begitu saja; dalam keadaan sunyi senyap dan jauh dari keluarga serta umatnya. Ketika itu, hanya seorang tabib yang kebetulan melewati jembatan dan menemukan mayat suci itu. Setelah memeriksanya ia mengatakan, “Sesungguhnya Imam telah diracun hingga meninggal oleh seorang pembunuh.”
Kesyahidan Imam as itu membuat kekalutan dan berita besar di kota Baghdad. Sementara bagi pengikut-pengikut Ahlulbait, kesyahidan beliau merupakan kesedihan dan kegetiran di hati-hati mereka.
Imam Musa Al-Kazhim as dikebumikan di pemakaman orang-orang Quraisy di kota Kazhimain.
Sahabat-sahabat Imam Musa Al-Kazhim
Ketika ayahnya yang mulia, Imam Ja’far Ash-Shadiq as wafat, murid-murid beliau memusatkan perhatian dan kesetiaan mereka kepada putranya, Imam Musa as. Mereka menuntut ilmu kepada Imam as selama tiga puluh tiga tahun. Beberapa murid beliau antara lain:
1. Ibnu Abi Umair
Ia belajar pada tiga Imam, yaitu Imam Musa Al-Kazhim as, Imam Ali Ar-Ridha as, dan Imam Muhammad Al-Jawad as. Ibnu Abi Umair merupakan salah seorang ulama terkenal pada zamannya. Ia meninggalkan banyak kitab-kitab hadis sebagai tanda jasanya.
Beberapa orang memberi kabar kepada penguasa Abasiyah, bahwa Ibnu Abi Umair adalah orang Syi’ah (pengikut Ahlulbait). Ia ditangkap dan diinterogasi untuk menyebutkan nama-nama orang Syi’ah yang ia kenali. Namun, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk memenuhi paksaan mereka. Ia ditelanjangi dan diikat pada pohon kurma. Mereka mengganjar seratus cambukan kepada murid setia para Imam ini.
Syaikh Mufid menuturkan, “Sahabat utama Imam ini dipenjarakan selama tujuh puluh tahun. Seluruh harta bendanya dimusnahkan. Walaupun didera dengan cobaan yang berat, ia tetap mengunci mulutnya dan tidak berkata sepatah kata pun untuk memberikan informasi kepada penguasa Abasiyah yang zalim.”
2. Ali bin Yaqthin
Ia juga adalah salah seorang sahabat Imam Ja’far as. Marwan memata-matainya dan memerintahkan penangkapannya. Akan tetapi, Ali berhasil meloloskan diri dari kejaran Marwan. Ia mengirim istri dan anak-anaknya ke Madinah. Ia kembali ke Kufah menyusul keruntuhan Dinasti Bani Umaiyah di tangan Bani Abbasiyah.
Ali menjalin hubungan yang dekat dengan orang-orang Abbasiyah dan berhasil menjabat kedudukan-kedudukan penting dalam pemerintahan mereka. Melalui kedudukannya ini, ia banyak membantu pengikut-pengikut Ahlulbait yang tertindas.
Harun Ar-Rasyid mengangkat Ali sebagai menterinya. Sebenarnya ia merupakan seorang utusan Imam Musa as yang menyusup ke dalam pemerintahan Harun. Beberapa kali ia bermaksud mengundurkan diri, namun ia ditahan oleh Imam untuk tetap menjabat kementerian demi melindungi ajaran dan pengikut Ahlulbait as.
Ali bin Yaqthin wafat ketika Imam Musa as masih berada di dalam penjara.
3. Mu’min Ath-Thaq
Ia adalah seorang sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq as dan Imam Musa Al-Kazhim as. Imam Ja’far mendudukkannya sebagai salah seorang sahabat utama beliau dan memberikan penghormatan khusus kepadanya.
Mu’min amat tangkas dalam diskusi dengan siapa saja. Mengenai hal ini, Imam Ja’far as mengatakan, “Mu’min ibarat seekor elang yang menerkam mangsanya.”
4. Hisyam bin Hakam
Ia adalah seorang pakar dalam bidang ilmu Logika. Acapkali terdapat sebuah masalah pelik, Imam Ja’far as selalu mengutusnya memecahkan masalah itu. Ia sangat menguasai pembahasan Imamah. Ia merupakan murid jenius Imam dan tangkas dalam memberikan jawaban. Ia juga seorang pakar dalam masalah-masalah Ketuhanan.
Hisyam banyak menulis kitab dan terlibat dalam diskusi-diskusi dengan ulama dari berbagai mazhab dan golongan.[]
Mutiara Hadis Imam Musa Al-Kazhim
• “Katakan yang hak, walaupun akan mendatangkan kerugian kepadamu.”
• “Jika engkau menjadi seorang pemimpin yang bertakwa, maka seharusnya engkau bersyukur kepada Allah atas anugerah ini.”
• “Bersikaplah tegas dan keras terhadap orang-orang zalim sehingga engkau dapat merebut hak orang-orang mazlum (yang teraniaya) darinya.”
• “Kebaikan yang utama adalah menolong orang-orang yang tertindas.”
• “Dunia ini berkulit halus dan cantik, ibarat seekor ular. Namun, ia menyimpan racun pembunuh di dalamnya.”
Riwayat Singkat Imam Musa Al-Kazhim
Nama : Musa.
Gelar : Al-Kazhim.
Panggilan : Abul Hasan.
Ayah : Imam Ja’far as.
Ibu : Hamidah.
Kelahiran : Abwa’, 7 Safar 120 H.
Masa Imamah : 35 Tahun.
Usia : 54 Tahun.
Kesyahidan :Tahun 182 H.
Makam : Kazhimain, Irak.
Imam Ali Ar-Ridha
Hari Lahir
Imam Ali Ar-Ridha as lahir pada 11 Dzulqa’dah 148 H. di Madinah. Ayah beliau adalah Imam Musa Al-Kazim as dan ibunya seorang wanita mukmin nan saleh, bernama Najmah. Imam as menghabiskan masa kanak-kanaknya di sisi sang ayah.
Imam Musa as berwasiat dan memberi isyarat kepada sahabat-sahabatnya mengenai keimamahan putranya, Ali Ar-Ridha.
Ali bin Yaqthin berkata, “Pernah aku bersama Abdus Saleh (salah satu gelar Imam Musa Kazim—penj.). Tiba-tiba datang Ali Ar-Ridha as, lalu beliau (Imam Musa) berkata, “Wahai Ali bin Yaqthin, dialah penghulu anak-anakku.”
Hisyam menambahkan, “Sesungguhnya aku beritakan kepadamu bahwa dia adalah Imam setelahku.”
Demikian pula salah seorang sahabat pernah bertanya tentang imam sepeninggalnya. Imam Musa as memberi isyarat kepada anaknya, Ali Ar-Ridha sembari berkata, “Dialah Imam (pemimpin) setelahku.”
Pada masa itu, situasi amat menguatirkan, sehingga Imam Musa as berwasiat kepada para sahabatnya agar merahasiakan keimamahan putranya itu.
Budi Pekerti Yang Agung
Para Imam Ahlulbait as adalah manusia-manusia pilihan. Mereka dipilih oleh Allah SWT untuk membimbing masyarakat secara benar dan menjadi contoh yang paling unggul untuk mencapai derajat kemanusiaan dan akhlak mulia.
Ibrahim bin Abbas mengatakan, “Aku tidak pernah mendengar Abul Hasan Ar-Ridha as mengatakan sesuatu yang merusak kehormatan seseorang, juga tidak pernah memotong pembicaraan seseorang hingga ia menuntaskannya, dan tidak pernah menolak permintaan seseorang tatkala dia mampu membantunya. Beliau tidak pernah menjulurkan kakinya ke tengah majelis. Aku tidak pernah melihatnya meludah, tidak pernah terbahak-bahak ketika tertawa, karena tawanya adalah senyum. Di waktu-waktu senggang, beliau menghamparkan suprah dan duduk bersama para pembantu, mulai dari penjaga pintu sampai pejabat pemerintahan. Dan barang siapa yang mengaku pernah melihat keluhuran budi pekerti seseorang seperti beliau, maka janganlah kau percaya.”
Seorang laki-laki menyertai Imam Ar-Ridha dalam perjalanannya ke Khurasan. Imam mengajaknya duduk dalam sebuah jamuan makan. Beliau mengumpulkan para tuan dan budak untuk menyiapkan makanan dan duduk bersama. Orang itu lalu berkata, “Wahai putra Rasulullah, apakah engkau mengumpulkan mereka dalam satu jamuan makan?”
“Sesungguhnya Allah SWT adalah satu. Manusia lahir dari satu bapak dan satu ibu. Mereka berbeda-beda dalam amal perbuatan”, demikian jawab Imam as.
Salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, tidak ada yang lebih mulia di muka bumi ini selain engkau, wahai Abul Hasan (panggilan Imam Ar-Ridha)!”
Imam menjawab, “Ketakwaanlah yang memuliakan mereka, wahai saudaraku!”
Salah seorang bersumpah dan berkata, “Demi Allah, engkau adalah sebaik-baik manusia.”
Imam menjawabnya, “Janganlah engkau bersumpah seperti itu. Sebab orang yang lebih baik dari aku adalah yang lebih bertakwa kepada Allah. Demi Allah, Dzat yang menorehkan ayat ini, ‘Kami ciptakan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa.’”
Pernah suatu saat, Imam Ali Ar-Ridha as berbincang-bincang dengan masyarakat. Mereka bertanya tentang masalah-masalah hukum. Tiba-tiba seorang warga Khurasan masuk dan berkata, “Salam atasmu wahai putra Rasulullah! Aku adalah seorang pengagummu dan pecinta ayahmu serta para datukmu. Aku baru saja kembali dari haji dan aku kehilangan nafkah hidupku. Tak satu harta pun tersisa lagi padaku. Jika engkau sudi membantuku sampai di negeriku, sungguh nikmat besar Allah atasku, dan bila aku telah sampai, aku akan menginfakkan jumlah uang yang kau berikan kepadaku atas namamu, karena aku tidak berhak menerima infak.”
Dengan nada lembut, Imam Ar-Ridha as berkata kepadanya, “Duduklah, semoga Allah mengasihanimu!”
Kemudian Imam melanjutkan perbincangannya dengan masyarakat sampai mereka bubar. Setelah itu, Imam bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar. Tak lama kemudian, beliau mengeluarkan tangannya dari balik pintu sambil berkata, “Mana orang Khurasan itu?”
Orang Khurasan itu mendekat dan Imam berkata, “Ini 200 Dinar. Pergunakanlah untuk perjalananmu dan janganlah engkau menafkahkan hartamu atas nama kami.”
Orang Khurasan itu mengambilnya dengan penuh rasa syukur, lalu meninggalkan Imam as.
Setelah itu Imam keluar dari kamar. Salah seorang sahabat bertanya, “Kenapa engkau menyembunyikan wajahmu dari balik pintu, wahai putra Rasulullah?”
Imam berkata, “Agar aku tidak melihat kehinaan pada raut wajah orang yang meminta. Tidakkah kau mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Berbuat baik dengan sembunyi-sembunyi adalah sama seperti tujuh puluh kali ibadah haji, dan orang yang terang-terangan dalam berbuat jahat sungguh terhina, dan orang yang sembunyi dalam melakukannya akan diampuni.’”
Jangan Merasa Bangga!
Ahmad Al-Bazanthi adalah salah seorang ulama terkemuka dan seringkali melakukan surat-menyurat dengan Imam Ali Ar-Ridha. Kemudian, ia mengakui kebenaran kedudukan beliau sebagai imam.
Al-Bazanthi pernah menceritakan pengalamannya berikut ini:
“Imam Ar-Ridha as memintaku datang menjumpainya dan mengirimkan keledai kepadaku sebagai kendaraan. Sesampainya di sana, kami duduk dalam sebuah pembahasan. Hingga tiba waktu Isya’, kami melaksanakan shalat. Seusai shalat, Imam meminta kepadaku untuk bermalam. Aku menjawab, ‘Tidak demi jiwaku yang menjadi tebusanmu, aku tidak membawa mantel (selimut) dan pakaian.’
Beliau berkata kepadaku, ‘Allah akan melewatkan malammu dalam keadaaan sehat dan kami akan tidur di atap rumah.’
Sementara Imam turun, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Sungguh aku telah mendapatkan kemulian dari Imam yang aku tidak temukan pada orang lain. Aku telah tertipu oleh setan.’
Di waktu subuh, Imam membangunkanku sambil memegang tanganku. Kepadaku beliau menuturkan, ‘Suatu hari, Amirul Mukminin Ali as menengok Sha’sa’ah bin Sauhan yang tengah sakit. Ketika dia hendak bangun, Amirul Mukminin berkata kepadanya, ‘Wahai Sha’sa’ah, janganlah engkau merasa bangga terhadap saudara-saudaramu hanya karena aku menjengukmu.’
Seakan-akan Imam membaca apa yang terlintas dalam benak Al-Bazanthi. Beliau menasehatinya dan mengingatkan kakeknya, Imam Ali bin Ali Thalib as bagaimana menjenguk salah seorang sahabatnya.
Nasihat untuk Saudara
Zaid adalah saudara Imam Ali Ar-Ridha as. Dia melakukan pemberontakan di kota Bashrah dan membakari rumah orang-orang Abbasiyah, sehingga dia digelari dengan Sang Api.
Khalifah Ma’mun segera mengirim pasukan besar dan terjadilah pertempuran sengit. Di sana, Zaid menyerah dan meminta damai. Namun, akhirnya ia tertangkap dan dipenjara.
Tatkala Imam Ali Ar-Ridha as diangkat oleh Ma’mun sebagai pengganti khalifah, Ma’mun memutuskan untuk mengirimkan Zaid kepada Imam. Imam as sangat marah atas perbuatan saudaranya yang membakar rumah dan merampas harta benda rakyat tanpa hak.
Kepada saudaranya Imam as berkata, “Hai Zaid, apa yang membuat engkau tertipu hingga engkau menumpahkan darah dan merampok? Apakah kau tertipu oleh perkataan orang-orang Kufah, bahwa Fatimah as telah disucikan rahimnya sehingga Allah mengharamkan anak keturunannya dari api neraka? Celakalah engkau! Sesungguhnya yang dimaksudkan Rasul saw dari sabda itu bukanlah aku, bukan pula kau. Akan tetapi, Hasan dan Husain. Demi Allah, sesungguhnya keselamatan dari api neraka itu tidak akan didapati kecuali dengan ketaatan kepada Allah SWT. Apakah kau mengira akan masuk surga dengan tetap bermaksiat kepada Allah? Kalau begitu, kau lebih besar daripada Allah dan dari ayahmu, Musa bin Ja’far as!”
Zaid berkata,”Bukankah aku saudaramu?”
Imam menjawab, “Ya, kau adalah saudaraku selama kau taat kepada Allah. Bagaimana Nabi Nuh as memohon, ‘Tuhanku, sesungguhnya anakku dari keluargaku dan janjimu pasti nyata dan engkau maha pengasih.’ Dan bagaimana Allah membalasnya, ‘Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah dari keluargamu, karena dia bukan perbuatan saleh.’ Demi Allah, wahai Zaid! Tidak seorang pun akan mendapatkan kedudukan di sisi Allah kecuali ketaatan kepada-Nya.”
Di Majelis Ma’mun
Ma’mun mengumpulkan para pemuka agama dan tokoh-tokoh mazhab Islam, lalu memerintahkan mereka untuk berdiskusi dengan Imam Ali Ar-Ridha as. Ma’mun melakukan itu hanya untuk menjatuhkan Imam di hadapan soal-soal mereka.
Imam as bertanya kepada seorang sahabatnya yang bermana Hassan Naufal, “Apakah engkau tahu mengapa Ma’mun mengumpulkan para pemuka agama dan tokoh mazhab itu?”
Naufal menjawab, “Dia ingin sekali mengujimu.”
Imam berkata, “Senangkah engkau melihat saat-saat Ma’mun menyesali perbuatannya?.”
“Tentu”, jawab Naufal.
Imam berkata, “Yaitu tatkala dia mendengar jawabanku dari kitab Taurat terhadap penganut Taurat, jawabanku dari kitab Injil tehadap penganut Injil, jawabanku dari kitab Zabur terhadap penganut Zabur, dan jawabanku dari kitab Ibraniyyah terhadap kaum Sabiah.”
Imam Ali Ar-Ridha as menyiapkan perjalanannya bersama sahabatnya ke istana Khalifah. Setelah sampai dan istirahat sejenak, diskusi pun dimulai.
Jatsliq berkata, “Saya tidak ingin berdiskusi dengan orang yang menggunakan Al-Qur’an sebagai dalilnya, karena aku mengingkarinya, dan juga orang yang menggunakan hadis Nabi Muhammad, karena aku tidak mempercayai kenabiannya.”
Imam Ar-Ridha as berkata, “Jika aku berdalil dengan kitab Injil, apakah engkau akan beriman?”
“Tentu, saya akan menerimanya”, begitu tegas Jatsliq.
Lalu Imam Ali Ar-Ridha as membacakan beberapa ayat Injil yang di dalamnya Nabi Isa as mengabarkan kedatangan nabi setelahnya, sebagaimana yang juga diberitakan oleh Hawariyyun (sabahat setia Nabi Isa). Imam juga membacakan sebagian ayat dari Injil Yohanes.
Jatsliq dengan penuh keheranan berkata, “Demi kebenaran Isa Al-Masih, aku tidak pernah menyangka bahwa di antara ulama muslim ada orang sepertimu.”
Kemudian Imam Ali Ar-Ridha berpaling kepada pemuka Yahudi dan berdalil dengan ayat-ayat Taurat dan Zabur.
Tak ketinggalan pula, Imran Ash-Shabi yang ahli dalam ilmu Kalam. Dia bertanya kepada Imam tentang keesaan Tuhan dan masalah-masalah Kalam lainnya.
Ketika masuk waktu Zhuhur, Imam as bangkit untuk melaksanakan shalat. Setelah itu, beliau melanjutkan diskusi dengan Imran sampai dia mengakui kebenaran agama Allah yang hak. Lalu dia menghadap Kiblat dan bersujud kepada Allah untuk menyatakan keislamannya.
Perjalanan ke Marv
Tak seorang pun tahu alasan sebenarnya yang mendorong Khalifah Ma’mun untuk meminta Imam Ali Ar-Ridha as menjadi penggantinya kelak.
Ketika Imam as tinggal di Madinah Al-Munawwarah, tiba-tiba datang perintah Khalifah kepada beliau untuk melakukan perjalanan ke Marv.
Imam as menyiapkan perjalanannya ke Khurasan. Beliau tiba di kota Bashrah, lalu bertolak menuju Baghdad, kemudian singgah di kota Qom yang mendapatkan sambutan begitu hangat dari masyarakat di sana. Kala itu, Imam menjadi tamu salah seorang penduduk, dan semenjak hari itu ditetapkanlah hari berdirinya “Madrasah Ar-Ridhawiyyah.”
Di Naisyabur
Naisyabur merupakan salah satu kota tua dan pusat ilmu pengetahuan, lalu runtuh dan hancur ketika penyerangan bangsa Mongol.
Iring-iringan kafilah Imam Ali Ar-Ridha as dijemput oleh masyarakat di sana dengan penuh suka cita, sementara ratusan ulama dan pelajar berdiri paling depan.
Para ulama dan ahli hadis berkumpul di sekitar para pengiring Imam, sedang di tangan mereka buku dan alat menulis. Mereka menunggu Imam meriwayatkan hadis-hadis dari kakeknya Rasulullah saw, sampai-sampai di antara mereka ada yang memegang tali kekang tunggangan Imam dan berkata, “Demi kebenaran ayahmu yang suci, riwayatkanlah kepada kami hadis sehingga kami dapat mendapatkan ilmu darimu.”
Imam as berkata, “Aku mendengar ayahku Musa bin Ja’far berkat, ‘Aku mendengar Ayahku, Ja’far bin Muhammad berkata, ‘Aku mendengar ayahku Muhammad bin Ali berkata, ‘Aku mendengar ayahku Ali bin Husain berkata, ‘Aku mendengar ayahku Husain bin Ali berkata, ‘Aku mendengar ayahku Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Aku mendengar Jibril berkata, ‘Aku mendengar Allah berfirman, “Kalimat La Ilaha illallah adalah bentengku. Barang siapa masuk ke dalam bentengku, niscaya ia terbebas dari azabku.’”
Hadis ini terkenal dengan Hadis Silsilah Dzahabiyah (Untaian Emas). Sebanyak dua ribu perawi mencatat hadis ini.
Imam Ali Ar-Ridha as meninggalkan Naisyabur pada waktu pagi. Di tengah perjalanan masuk waktu Zhuhur, Imam as meminta air untuk berwudhu. Akan tetapi, para pengikutnya sulit mendapatkan air.
Imam menggali tanah. Tiba-tiba muncul mata air. Beliau berwudhu bersama orang-orang yang menyertainya. Hingga sekarang ini, mata air itu masih mengalir.
Imam Ar-Ridha as dan rombongan tiba di Sina Abad dan beliau menyandarkan punggungnya ke salah satu batu besar di gunung itu. Masyarakat di sana adalah pengrajin kuali dan periuk untuk keperluan masak. Imam memohon kepada Allah untuk memberkahi mereka dan meminta untuk dibuatkan periuk.
Imam as masuk ke rumah Hamid bin Qahthabah Ath-Tha’i dan masuk ke qubah yang di dalamnya terdapat kuburan Harun Ar-Rasyid. Di samping kuburan itu, beliau menuliskan sesuatu lalu berkata, “Ini adalah tanahku, dan di sinilah aku akan dikuburkan. Allah akan menjadikannya tempat ziarah bagi pengikutku. Demi Allah, barangsiapa yang menziarahiku, maka wajib baginya ampunan dan rahmat Allah melalui syafaat kami Ahlulbait.”
Kemudian, beliau melakukan shalat dua rakaat dan sujud yang lama sambil bertasbih sebanyak lima ratus kali.
Di Marv
Sampailah Imam Ali Ar-Ridha as di Marv. Ma’mun berusaha menampakkan rasa hormat dengan cara menyambut beliau dan mengadakan pesta penyambutan. Dia mengharapkan Imam supaya sudi menduduki kursi khalifah. Akan tetapi, beliau menolaknya.
Imam Ali Ar-Ridha as tahu benar akan maksud yang disembunyikan oleh Ma’mun. Dia telah membunuh saudaranya sendiri, Muhammad Amin, lantaran haus kekuasan dan kekhalifahan. Lalu, bagaimana mungkin dia mau turun tahta?
Ma’mun berusaha menarik simpati masyarakat dengan menampakkan kecintaannya kepada Ahlulbait. Dia menetapkan kewajiban menaati Imam sebagai calon penggantinya, walaupun dengan cara-cara paksa.
Di hadapan permintaan Ma’mun yang penuh dengan pemaksaan dan bahkan ancaman itu, akhirnya Imam Ridha as menerima untuk dijadikan penggantinya kelak dengan syarat, bahwa beliau tidak ikut campur dalam urusan-urusan pemerintahan.
Segera kepingan-kepingan uang dicetak dengan nama Imam, dan Ma’mun membiarkan masyarakat memakai pakaian hitam sebagai lambang orang-orang Abbasiyah, dan memakai pakaian hijau sebagai lambang orang-orang Alawiyah (keturunan Imam Ali bin Abi Thalib as).
Lebih dari itu, Ma’mun bahkan menikahkan anak perempuannya dengan Imam Ar-Ridha as dan menikahkan anak perempuannya yang lain dengan putra beliau, yaitu Muhammad Al-Jawad as.
Shalat Hari Raya
Imam Ali Ar-Ridha as dibaiat sebagai calon pengganti Khalifah pada 5 Ramadhan 201. Setelah 25 hari, tibalah hari pertama dari bulan Syawal, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Satu hari sebelumnya, Ma’mun memerintahkan Imam Ar-Ridha as untuk menjadi imam shalat hari raya Idul Fitri.
Imam merasa keberatan. Tetapi Ma’mun bersikeras pada keputusannya, dan mengirim utusan untuk memata-matai gerak-gerik beliau.
Imam as menerima dengan satu syarat, yaitu melakukan shalat hari raya sesuai dengan ajaran Rasulullah saw dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.
Ma’mun menyetujui syarat itu dan memerintahkan tentaranya untuk bersiap-siap menjemput Imam esok pagi.
Masyarakat berkerumun di jalan-jalan dan di atap-atap rumah, sementara pasukan berbaris sambil menunggu Imam as keluar.
Matahari terbit menampakkan garis kemilauan emas dan menyelimuti bumi dengan panas dan cahayanya.
Imam Ali Ar-Ridha as mandi dan memakai pakaian dan serban putih sambil membiarkan salah satu ujungnya jatuh di depan dadanya dan ujung lainnya terurai di antara kedua bahunya. Beliau memakai wewangian dan memegang tongkat. Beliau memerintahkan orang-orang terdekatnya serta para pembantunya untuk melakukan hal yang sama. Dan, Imam pun keluar bersama mereka tanpa alas kaki.
Beberapa langkah kemudian, Imam Ar-Ridha as mengangkat suaranya sambil mengumandangkan takbir; Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Imam muncul dari dalam rumah, sedangkan pasukan istana serta komandannya melihat Imam bersama kelompok besar berjalan di samping kuda-kuda mereka. Mereka pun hanyut dan segera turun dari kuda, lalu melepaskan sepatu-sepatu mereka dan ikut berjalan mengiringi Imam as dengan kaki telanjang.
Imam bertakbir di pintu gerbang. Masyarakat juga ikut bertakbir sehingga gema takbir membahana ke seluruh penjuru kota. Mereka keluar dari rumahnya masing-masing dan tumpah-ruah ke jalan-jalan.
Berkali-kali masyarakat menghadiri shalat hari raya yang dilaksanakan dengan penuh kemegahan dan kemewahan yang jauh dari dari makna takbir. Kali ini mereka menyaksikan hari raya besar yang penuh dengan semangat Islam yang dibawa oleh Nabi saw dan kini dihidupkan kembali oleh cucunya, Imam Ali Ar-Ridha as.
Mata-mata yang mengintai gerakan Imam dan masyarakat segera melaporkan hasil pengawasannya kepada Ma’mun. Dia malah kuatir terhadap dampak yang akan muncul apabila Imam melanjutkan perjalanannya untuk melaksanakan shalat hari raya dan menyampaikan khutbah.
Ma’mun segera mengutus seseorang untuk menemui Imam Ar-Ridha as yang masih dalam perjalanan. Kepada beliau, ia menyampaikan pesan secara lisan, “Sungguh kami telah membuatmu kepayahan, wahai putra Rasulullah. Kami senang bila Anda istirahat. Untuk itu, kembalilah!”
Imam as kembali, sementara masyarakat bertanya-tanya. Sungguh mereka telah terpesona oleh sosok beliau yang mengingatkan mereka akan kerendahan hati ayah dan kakeknya.
Tujuan Ma’mun
Tak seorang pun yang mengingkari kelicikan dan muslihat Ma’mun dalam berpolitik, sebagaimana yang dia lakukan di balik penetapannya atas Imam Ali Ar-Ridha as sebagai pengganti kekhalifahannya. Tentu, ada maksud-maksud tertentu yang disembunyikan Ma’mun, di di antaranya:
1. Mengharapkan dukungan orang-orang Alawiyah yang ingin membalas dendam kepada pemerintahan Abbasiyah dan bertekad melakukan berbagai pemberontakan dan kerusuhan, yaitu dengan mengangkat Imam as sebagai penganti kekhalifahannya kelak dan mengganti pakaian hitam dengan pakaian hijau.
2. Merangkul orang-orang Alawiyah dengan cara melibatkan mereka dalam pemerintahan agar masyarakat mengetahui, bahwa pemberontakan yang mereka lakukan hanya karena ingin kekuasaan dan kesenangan, bahwa mereka tidak ingin menegakkan keadilan, tetapi tujuan mereka adalah untuk memperoleh harta kekayaan.
3. Ma’mun berusaha mengumpulkan tokoh-tokoh Alawiyah di ibu kota negara lalu melakukan penangkapan atas mereka, satu persatu, seperti yang terjadi pada Imam Ar-Ridha as.
Tentunya, Imam as mengetahui seluruh tipu-daya Ma’mun dan berusaha menggagalkannya dalam banyak kesempatan dan sikap beliau, seperti dalam diskusi dengan para pemuka agama, salat haru raya, dan syarat beliau atas Ma’mun agar tidak ikut campur dalam urusan negara dan politik.
Di’bil Al-Khuza’i
Pada masa itu, syair mendapat perhatian khusus dan penghargaan yang tinggi. Syair juga biasa ditempatkan pada surat-surat kabar untuk menyebarluaskan berita, seruan, ataupun maksud-maksud politik. Penguasa memberi dukungan dan imbalan yang besar untuk mengukuhkan pemerintahan mereka.
Sebagian penyair menolak bujukan pemerintah dan tetap teguh dalam mempertahankan kebenaran, sekalipun dalam keadaan serbakurang dan tertindas, sebagaimana yang dilakukan oleh pujangga Di’bil Al-Khuza’i.
Sejarah mencatat pertemuan Di’bil dengan Imam Ali Ar-Ridha. Abu Shalt Al-Hirawi meriwayatkan, “Di’bil menjumpai Imam Ar-Ridha as di Marv dan berkata, ‘Wahai putra Rasulullah, aku telah membuat syair dan aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak membacakan kepada seseorang sebelum engkau mendengarkannya.’
Imam as menyambutnya dan mengucapkan banyak terima kasih, lalu mempersilahkan untuk menyenandungkannya. Di antara bait-bait syair Di’bil ialah:
Kediaman-kediaman manusia suci
kini telah sunyi dari pengunjung.
Rumah wahyu tidak lagi
dituruni kabar-kabar langit.
Pusara di Kufah dan
yang lainnya di Thaibah (Baqi’),
pula yang di Fakh
senantiasa tercurah salawatku.
Dan pusara di Baghdad,
milik jiwa yang suci
Tercurahkan rahmat Sang Pengasih
dalam ruang-ruang kedamaian.
Imam lalu menyambutnya,
Pusara di Thus betapa besar
Dera nestapa yang menimpanya.
Di’bil dengan penuh keheranan bertanya, ‘Aku tidak pernah tahu, siapakah pemilik pusara itu?’
‘Itulah pusaraku, wahai Di’bil,” jawab Imam as.
Sang penyair melanjutkan senandung syairnya yang menyisipkan penderitaan dan musibah yang terus menerus menimpa Ahlulbait. Imam as menangis, dan air matanya berderai menghangatkan pipinya.
Imam memberikan 100 Dinar sebagai hadiah kepada Di’bil. Namun, ia merasa berat menerimanya, dan meminta dari beliau sehelai kain untuk mendapatkan berkah darinya. Imam menghadiahkan jubah dari bulu yang ditenun sebagai tambahan dari uang 100 Dinar.
Di’bil memohon diri. Dalam perjalanan pulang, ia dan kafilahnya dihadang oleh segerombolan perampok. Seluruh harta benda mereka dirampas. Sambil duduk membagi hasil rampasan, salah seorang perampok melantunkan satu bait puisi:
Aku melihat mereka membagi-bagi harta rampasan.
Di tangan mereka harta rampasan dari emas.
Mendengar bait itu, Di’bil bertanya kepada perampok tersebut, “Siapa yang membuat puisi tadi?”
“Ini puisi Di’bil”, jawabnya.
“Akulah Di’bil”, kata Di’bil memperkenalkan diri.
Para perampok itu pun segera mengembalikan harta-harta kafilah yang bersamanya dengan penuh hormat, serta meminta maaf kepada mereka.
Di’bil dan kafilahnya melanjutkan perjalanan sampai di kota Qom. Di sana, sebagian masyarakat berebut ingin menukar baju Imam dengan seribu Dinar, namun Di’bil menolaknya. Di tengah itu, datanglah sekelompok pemuda dari luar kota Qom menginginkan sepotong (secarik) dari pakaian Imam untuk mengambil berkah dengan imbalan 1000 Dinar. Maka, Di’bil pun merelakannya.
Ketika sampai di rumahnya, Di’bil mendapati istrinya menderita sakit di bagian matanya. Ia memeriksakannya, kepada satu tabib ke tabib yang lain. Tapi, mereka semua mengatakan, “Sudah tidak ada gunanya kamu mengobatinya, karena istrimu akan menderita kebutaan.”
Di’bil merasa sedih sekali. Tiba-tiba ia teringat potongan baju Imam. Kemudian dia melilitkannya di mata sang istri dari awal malam hingga esok harinya. Tatkala istri Di’bil terjaga, ia tidak merasakan sakit sedikit pun berkat keramat Imam Ali Ar-Ridha as.
Hari Kesyahidan
Setelah Ma’mun merasa jenuh dan putus asa membujuk Imam Ali Ar-Ridha as dengan kekuasaan, sementara beliau tetap teguh dan bersih dari kepentingan dunia, Ma’mun senantiasa mencari-cari kesempatan untuk membunuh beliau.
Di Baghdad, orang-orang Abbasiyah mengumumkan pembangkangannya. Lalu mereka membaiat orang-orang kaya sebagai khalifah pengganti Ma’mun, karena kuatir akan berpindahnya kekuasaan dan kekhalifahan ke tangan orang-orang Alawiyah.
Untuk menarik simpati mereka di Baghdad dan tetap mengakuinya sebagai khalifah, Ma’mun merencanakan pembunuhan terhadap Imam. Dia bubuhkan racun ganas di dalam anggur.
Imam as meninggal karena racun itu dan kembali ke haribaan Allah dalam keadaan syahid dan teraniaya.
Imam Ali Ar-Ridha as syahid pada tahun 203 H. dan dimakamkan di kota Thus (Masyhad, Iran).
Sementara itu, Ma’mun menampakkan dirinya sedih di hadapan masyarakat dengan tujuan menepis kecurigaan dan tuduhan mereka terhadapnya. Dia pun ikut serta mengantarkan jenazah suci Imam as dan berjalan tanpa alas kaki sambil menangis.[]
Mutiara Hadis Imam Ali Ar-Ridha
• “Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada orang tuanya, maka dia tidak bersyukur kepada Allah SWT.”
• “Barang siapa yang selalu mengawasi dirinya, niscaya akan beruntung, dan barang siapa melalaikannya, pasti akan merugi.”
• “Sebaik-baik akal adalah kesadaran seseorang akan dirinya sendiri.”
• “Bila seorang mukmin marah, maka kemarahannya tidak akan mengeluarkan dirinya dari bersikap benar. Dan jika ia senang, maka kesenangannya tidak akan menghanyutkannya ke dalam kebatilan. Dan jika ia punya kekuatan, ia tidak akan merebut lebih dari haknya.”
• “Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang menceritakan kejelekan orang dan orang yang mendengarkannya serta orang yang banyak bertanya.”
Riwayat Singkat Imam Ali Ar-Ridha
Nama : Ali.
Gelar : Ridha.
Panggilan : Abu Hasan.
Ayah : Musa Al-Kazhim as.
Ibu : Najmah.
Kelahiran : Madinah, 11 Dzulqa’dah 148 H.
Wafat : 203 H.
Makam : Thus, Masyhad-Iran.
Imam Muhammad Al-Jawad
Hari Lahir
Pada tanggal 10 Rajab tahun 195 Hijriah, Imam Muhammad Al-Jawad as dilahirkan. Ayah beliau adalah Imam Ali Ar-Ridha as. Dan ibu beliau bernama Khaizran, berasal dari bangsa Maria Qibtiah, istri Rasulullah saw.
Imam Muhammad as memiliki banyak gelar. Gelar yang paling masyhur adalah At-Taqi dan Al-Jawad.
Saudara perempuan Imam Ridha as, Hakimah mengisahkan, “Pada malam kelahiran Imam Al-Jawad, saudaraku (Imam Ridha) memintaku untuk berada di sisi istrinya. Ia melahirkan seorang bayi dengan selamat. Ketika lahir, bayi itu menatap ke langit dan bersaksi atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad. Aku yang menyaksikan peristiwa agung ini bergetar dan segera pergi menjumpai saudaraku dan menceritakan semua ini. Saudaraku berkata, ‘Wahai saudariku, jangan engkau heran dengan peristiwa ini. Engkau akan saksikan peristiwa yang lebih menakjubkan lagi.’”
Kelahiran ini merupakan karunia Ilahi dan berita gembira bagi pengikut Ahlulbait as. Kelahiran ini menjawab segala rasa penasaran, keraguan, kebimbangan, dan kecemasan mereka.
Nauf Ali menceritakan, “Ketika Imam Ali Ar-Ridha as melakukan perjalanan ke Khurasan, aku berkata kepadanya, ‘Apakah Anda tidak memiliki perintah untuk aku kerjakan?’ Beliau berkata, ‘Ikutilah anakku setelahku dan tanyakan padanya segala kesulitan-kesulitan yang engkau hadapi.’”
Imam Ridha as berulang kali mengatakan kepada sahabatnya, “Tidak perlu kalian mengajukan pertanyaan kepadaku. Ajukan pertanyaanmu kepada anak kecil ini yang kelak akan menjadi imam setelahku.”
Tatkala beberapa orang sahabat Imam Ar-Ridha menunjukkan keheranan dan keterkejutan mereka, bagaimana mungkin seorang anak diangkat menjadi Imam umat, beliau mengatakan, “Allah telah mengangkat Isa sebagai nabi ketika beliau bahkan lebih muda dari Abu Ja’far (Imam Jawad). Usia seseorang tidak terlibat dalam urusan kenabian dan kepemimpinan (imamah).”
Imam kesembilan umat ini, Muhammad Al-Jawad as menerima tanggung jawab Imamah pada usia sembilan tahun. Salah seorang sahabat beliau berkata, “Ali bin Ja’far, paman Imam Jawad di Madinah, adalah seseorang yang memiliki pengaruh yang besar. Warga kota di sana menaruh rasa hormat yang tinggi kepadanya. Setiap kali ia berangkat menuju masjid, orang-orang pun segera datang mengerumuninya dan bertanya tentang masalah-masalah yang mereka hadapi.
Suatu hari, Imam Muhammad Al-Jawad as memasuki masjid tersebut. Ali bin Ja’far yang sudah tua dan sesepuh kota itu, berdiri dari tempatnya dan mencium tangan Imam as lalu berdiri di sisi beliau. Imam berkata, “Paman, duduklah!” Sang paman berkata kepadanya, “Bagaimana mungkin aku dapat duduk selagi kau masih berdiri?”
Ketika Ali bin Ja’far kembali ke kerumunan sahabat-sahabatnya, mereka menegurnya dan berkata, “Anda adalah orang tua dan paman anak ini. Mengapa Anda begitu rupa menghormatinya?”
Ali bin Ja’far menjawab, “Diamlah, kedudukan Imamah (kepemimpinan Ilahi) merupakan sebuah kedudukan yang telah digariskan oleh Allah. Allah tidak memandang orang tua ini (Abu Ja’far—penj.) akan mampu mengemban Imamah atas umat. Namun, Dia Mahatahu bahwa anak ini layak dengan kedudukan itu. Maka itu, kalian harus mentaati perintahnya.”
Akhlak Imam Al-Jawad
Ketika ayahandanya wafat, Imam Muhammad Al-Jawad as masih berusia belia. Namun begitu, beliau sungguh memiliki kepribadian yang matang dan sempurna, yang mendesak setiap orang untuk menumpahkan rasa hormat di hadapannya.
Selang beberapa hari setelah Imam Ali Ar-Ridha wafat, Khalifah Ma’mun pergi berburu bersama pasukan pengawal pribadinya. Tatkala ia memasuki sebuah jalan, beberapa orang anak sedang bermain di jalan itu. Melihat Ma’mun datang, mereka segera bubar dan lari menjauh, hanya seorang anak yang tidak beranjak dari tempat mainnya.
Ma’mun dan pasukannya berhenti lalu memandangi anak tersebut. Ia bertanya terheran-heran, “Hai bocah, mengapa kau tidak lari seperti anak-anak itu?”
Anak itu menjawab, “Jalan ini tidak begitu sempit. Aku tidak menjadi penghalang bagimu untuk lewat. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun sehingga aku harus takut padamu. Aku pikir engkau tidak akan mengganggu seseorang. Dan engkau tidak akan mengejar orang yang tak bersalah. Maka itu, aku tidak lari darimu.”
Ma’mun terkejut dan heran atas keberanian, kegagahan, dan kecerdasan anak itu. Ia bertanya, “Siapakah namamu?”
“Muhammad bin Ali Ar-Ridha”, jawab anak itu.
Ma’mun segera mengungkapkan duka cita atas kewafatan ayahnya. Setelah itu, ia melanjutkan pemburuan bersama para pengawalnya.
Surat Sang Ayah
Imam Ali Ar-Ridha as senantiasa memperlakukan putranya dengan penuh hormat dan selalu memperhatikan pendidikannya. Al-Bazanthi berkata, “Suatu hari, Imam Ridha as menulis surat kepada putranya, Muhammad Al-Jawad, di Madinah. Isi surat tersebut sebagai berikut:
Wahai putraku, aku mendengar bahwa para pelayan khalifah tidak memperkenankan orang orang untuk datang mengunjungimu atau sekedar menghubungimu dan mengemukakan kesulitan-kesulitan mereka padamu.
Ketahuilah, mereka (para pelayan khalifah) itu tidak ingin kebaikan darimu dan tidak ingin melihat engkau bahagia. Kini, aku perintahkan padamu untuk membuka pintu kepada semua orang sehingga mereka dengan bebas dapat berkunjung dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka. Bilamana engkau pergi, bawalah uang bersamamu sehingga engkau dengan segera dapat membantu orang-orang yang tertimpa kesulitan dan dan membutuhkan pertolonganmu.
Pikirkanlah orang-orang yang mendapat kesulitan hidup dan bantulah mereka dengan baik. Janganlah lupa untuk senantiasa bersikap murah dan merawat orang-orang yang tertimpa kemalangan.”
Keluasan Ilmu Imam Al-Jawad
Setelah berhasil meracun Imam Ali Ar-Ridha as, Ma’mun berusaha keras untuk menunjukkan bahwa kematian beliau adalah sebuah kejadian yang wajar dan alami. Namun, berangsur-angsur keculasan dan kebusukannya tercium oleh orang-orang ‘Alawiyun (keturunan Imam Ali as) dan kaum Syi’ah.
Mereka mengetahui bahwa Ma’mun telah melakukan sebuah tindak kejahatan berupa pembunuhan terhadap Imam Ridha. Oleh karena itu, beragam protes, kecaman, kerusuhan, dan pemberontakan terjadi di berbagai sudut kota. Ma’mun berupaya memadamkan api pemberontakan itu. Ia membawa putra Imam Ar-Ridha itu, Imam Muhammad Al-Jawad as dari Khurasan ke Madinah untuk menikahkannya dengan putrinya sendiri, Ummul Fadhl.
Orang-orang Abbasiyah berusaha untuk menghentikan keinginan Ma’mun itu. Namun, Ma’mun tetap bersikeras pada keputusannya. Mereka mendebatnya, “Dia (Imam Al-Jawad as.) itu masih kecil dan belum mengerti agama. Bersabarlah supaya ia belajar agama terlebih dahulu.”
Ma’mun tangkas menjawab, “Kalian tidak mengenalnya. Bagaimana kalian menentangku untuk tidak memilih sebaik-baik ciptaan Tuhan dan sealim-alim manusia untuk aku jadikan menantuku. Kalian dapat mengujinya jika kalian mau.”
Orang-orang Abbasiyah mendekati Yahya bin Aktsam, sang hakim agung, dan memintanya agar menyiapkan beberapa pertanyaan untuk menguji Imam Muhammad Al-Jawad as di hadapan majelis resmi Ma’mun. Yahya mengabulkan permintaan mereka. Mereka mendatangi Ma’mun dan menyampaikan kesediaan Yahya. Ma’mun menentukan hari untuk tanya-jawab tersebut.
Pada hari yang telah ditentukan, orang-orang Abbasiyah bersama Yahya bin Aktsam memasuki majelis akbar itu. Majelis itu dihadiri oleh orang-orang terhormat, bangsawan, dan para pejabat pemerintahan.
Kemudian, datanglah Imam Muhammad Al-Jawad as ke majelis itu. Orang-orang yang hadir di dalam majelis itu berdiri menyambut kedatangan beliau. Imam melangkah ke depan dan mengambil tempat duduk dekat Ma’mun yang tidak berhasrat pada acara tanya-jawab ini, karena ia berpikir Imam tidak akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
Ma’mun berkata kepada Imam as, “Yahya bin Aktsam ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu.”
“Ia boleh bertanya apa pun yang ia ingin tanyakan”, jawab Imam as.
Yahya mulai melontarkan pertanyaannya kepada Imam, “Apa pendapatmu tentang orang yang mengenakan pakaian Ihram dan berziarah ke Ka’bah, pada saat yang sama ia juga pergi berburu dan membunuh seekor binatang di sana?”
Imam Al-Jawad as. bersabda, “Wahai Yahya, kau telah menanyakan sebuah masalah yang masih begitu global. Mana yang sebenarnya ingin kau tanyakan; apakah orang itu berada di dalam Tanah Haram atau di luar? Apakah ia tahu dan mengerti tentang larangan perbuatan itu atau tidak? Apakah dia membunuh binatang itu dengan sengaja atau tidak? Apakah dia itu seorang budak atau seorang merdeka? Apakah pelaku perbuatan itu menyesali perbuatannya atau tidak? Apakah kejadian ini terjadi pada malam atau siang hari? Apakah perbuatannya itu untuk yang pertama kali atau kedua kalinya atau ketiga kalinya? Apakah binatang buruan itu sejenis burung atau bukan? Apakah binatang buruan itu besar atau kecil?
Pernikahan
Yahya kebingungan sekaligus kagum tatkala Imam as mengurai masalah itu dengan sempurna. Dari raut wajahnya terbesit tanda kekalahan dan kegagalan. Mulutnya terkatup. Seluruh hadirin menghaturkan penghargaan dan kekaguman kepada Imam Al-Jawad as setelah menyaksikan keluasan dan kedalaman ilmu beliau.
Akhirnya, Ma’mun mengumumkan acara akad pernikahan putrinya dengan Imam Al-Jawad di majelis itu juga. Imam as bangkit lalu menyampaikan khutbah nikah. Mas kawin yang beliau berikan senilai mas kawin Siti Fatimah Az-Zahra as dan pesta pernikahan pun berlangsung sebegitu meriahnya.
Maksud di Balik Pernikahan
Sesungguhnya Ma’mun menyimpan maksud-maksud tertentu di balik keputusannya menikahkan putrinya dengan Imam Al-Jawad as. Di antaranya:
a. Menepis kecaman dan tuduhan orang-orang sekaitan pembunuhannya terhadap Imam Ali Ar-Ridha as dan merebut kembali hati masyarakat.
b. Agar putrinya dapat mengawasi dan memantau Imam Al-Jawad as sedekat mungkin.
c. Membujuk Imam as agar menetap di kota Baghdad yang kehidupannya dipenuhi oleh kemewahan dan kesenangan duniawi.
Kembali ke Madinah
Imam Muhammad Al-Jawad as telah mengambil keputusan bulat untuk segera kembali ke Madinah. Maksud tersebut beliau lakukan dengan cara berangkat ke Makkah dan menunaikan Haji di sana.
Masyarakat pun ramai mengantarkan Imam sampai di jalan yang mengarah ke kota Kufah. Di sana, Imam as singgah di sebuah masjid. Ketika waktu shalat telah tiba, Imam as berwudhu di halaman masjid di bawah pohon Nabk. Sungguh Allah SWT telah memberkahi pohon itu sehingga berbuah dengan buah-buah yang manis. Warga Baghdad senantiasa mengenang keberkahan Imam as pada pohon itu.
Beberapa Surat dan Masalah
• Ada seorang lelaki dari Bani Hanifah yang menyertai Imam Al-Jawad as dalam perjalanan hajinya. Saat duduk bersama di depan hidangan, ia berkata kepada Imam as, “Jiwaku adalah tebusanmu! Sesungguhnya wali kotaku adalah pecintamu Ahlulbait. Ia amat percaya padamu. Dan sekarang ini aku harus membayar pajak kepadanya. Bisakah kau menuliskan surat untuknya agar ia berbelas kasih kepadaku?”
Imam berkata, “Tapi, aku tidak mengenalnya.”
Lelaki itu membalas, “Dia sungguh pecintamu, dan suratmu akan dapat berguna bagiku.”
Lalu Imam as mengambil secarik kertas dan menulis, “Bismillahirrahmaninrrahim. Pembawa suratku ini adalah seorang lelaki yang telah mengenalkanmu sebagai manusia mulia. Dan tidak ada perbuatan yang berguna bagimu kecuali kebaikan yang terdapat di dalamnya. Maka, berbuatbaiklah kepada saudara-saudaramu!”
Lelaki itu menyerahkan surat tersebut kepada wali kota Naisyabur. Ia menyambutnya, bahkan menciumnya dan melekatkannya di kedua matanya. Lalu berkata kepada lelaki, “Apa keperluanmu?”
“Ada pajakmu yang aku tanggung”, begitu keluhnya. Mendengar itu, wali kota memerintahkan agar kewajiban pajaknya dihapuskan, dan mengatakan, “Kau tidak usah membayar pajak selagi kau hidup.”
• Datang sepucuk surat kepada Imam Al-Jawad as dari seorang lelaki yang hendak bermusyawarah dengan beliau berkenaan dengan pernikahan anak-anak perempuannya.
Imam as menulis balasan untuknya, “Aku telah mengerti apa-apa yang kau paparkan mengenai anak-anak perempuanmu, dan bahwasanya kau tidak menemukan lelaki yang mirip denganmu. Namun, janganlah terlalu menantikan demikian itu. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya, karena Rasulullah saw telah bersabda, ‘Jika datang kepadamu seseorang yang kamu sukai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Bila kamu tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan besar.’”
Nasib Ma’mun
Warga Mesir bangkit melakukan pemberontakan. Segera Khalifah Ma’mun mempimpin pasukan besar dan memadamkan api pemberontakan itu. Dari sana, ia bertolak ke kawasan Romawi. Maka, terjadilah peperangan yang dahsyat yang akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin.
Dalam perjalanannya kembali dari peperangan, Ma’mun melewati “Riqqah”. Tempat itu terasa sejuk dan tenang dengan mata air yang mengalir. Maka, ia memutuskan untuk berkemah beberapa hari di sana.
Di Riqqah, Ma’mun jatuh sakit. Tak lama kemudian, ia mati dan dikuburkan di tempat itu juga.
Kesyahidan Imam Al-Jawad
Setelah kematian Ma’mun, saudaranya yang bernama Mu’tashim menduduki kekhalifahan. Dia dikenal sebagai orang yang kejam, jahat, dan berperangai buruk.
Pertama yang dilakukan Mu’tashim ialah memanggil Imam Al-Jawad as dari Madinah untuk kembali ke Baghdad. Setelah itu, mulailah dia merencanakan persengkongkolan dengan Ja’far, anak Ma’mun. Dia mendesak Ja’far agar membujuk saudara perempuannya, Ummu Fadhl supaya meracun suaminya sendiri, Imam Al-Jawad as.
Ummu Fadhl pun menyanggupi. Maka, ia bubuhkan racun ganas di dalam anggur, seakan-akan ia telah belajar dari ayahnya sendiri yang telah membunuh Imam Ali Ar-Ridha as dengan cara yang sama.
Demikian kesyahidan Imam Muhammad Al-Jawad as. Hal itu terjadi pada hari Selasa, 6 Dzulhijjah 220 H, pada usianya yang masih muda, 25 tahun. Jasad beliau yang suci nan kudus dimakamkan di pemakaman Quraisy (kota Kazhimain sekarang) di samping makam datuknya, Imam Musa Al-Kazhim as. Pusara kedua Imam ini merupakan salah satu tempat ziarah kaum muslimin yang datang dari seluruh penjuru dunia.[]
Mutiara Hadis Imam Al-Jawad
• “Kehormatan seorang mukmin ialah ketakbergantungannya pada orang lain.”
• “Seorang mukmin senantiasa membutuhkan tiga perkara: taufik dari Allah, penasehat dari dalam dirinya, dan menyambut setiap orang yang menasehatinya.”
• “Hari Keadilan itu lebih mengerikan bagi orang zalim daripada hari perlakuan zalim terhadap orang teraniaya.”
• “Neraca kesempurnaan harga diri seseorang ialah meninggalkan apa saja yang tidak membuat dirinya indah.”
• “Kematian manusia karena dosa-dosanya itu lebih banyak ketimbang kematiannya karena ajalnya, dan seseorang hidup karena kebajikannya itu lebih banyak daripada ia hidup dengan (takdir) umurnya.”
Riwayat Singkat Imam Al-Jawad
Nama : Muhammad.
Gelar : Taqi dan Jawad.
Panggilan : Abu Ja’far
Ayah : Imam Ali Ar-Ridha as.
Ibu : Khaizran.
Kelahiran : Tahun 195 Hijriah.
Masa Imamah : 17 Tahun.
Kesyahidan : Tahun 220 H.
Makam : Kota Kazhimain, Irak.
Imam Ali Al-Hadi
Hari Lahir
Imam Ali Al-Hadi as dilahirkan pada 15 Dzulhijjah 212 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kesepuluh dari silsilah imam Ahlulbait as.
Ayah beliau ialah Imam Muhammad Al-Jawad as, dan ibu beliau berasal dari Maroko bernama Samanah; seorang wanita yang mulia dan bertakwa.
Ketika sang ayah syahid akibat diracun, Imam Al-Hadi as baru berusia 8 tahun. Pada usia yang masih sangat dini itu pula beliau memegang amanat Imamah (kepemimpinan Ilahi atas umat manusia).
Orang-orang memanggil Imam as dengan berbagai julukan, antara lain Al-Murtadha, Al-Hadi, An-Naqi, Al-’Alim, Al-Faqih, Al-Mu’taman, At-Thayyib. Yang paling masyhur di antara semua julukan itu adalah Al-Hadi dan An-Naqi.
Akhlak Luhur Imam
Imam Ali Al-Hadi as senantiasa menjalani kehidupannya dengan zuhud dan ibadah kepada Allah SWT. Di dalam sebuah kamar yang hanya dihiasai oleh selembar tikar kecil, beliau menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya.
Beliau menyambut orang-orang begitu ramah, berbelas kasih kepada orang-orang fakir, dan membantu orang-orang yang membutuhkannya.
Suatu hari, Khalifah Al-Mutawakkil mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar kepada beliau. Beliau membagi-bagikan uang tersebut kepada fakir miskin.
Pada kesempatan lain, Al-Mutawakil jatuh sakit sehingga para dokter pribadi khalifah kebingungan bagaimana mengobatinya. Lalu, ibu Al-mutawakil mengutus menterinya ,Al-Fath bin Khaqan untuk menemui Imam Ali as. Beliau segera memberinya obat yang reaksinya sangat cepat sekali, sehingga para dokter khalifah itu tercengang melihatnya.
Atas kesembuhan putranya, ibu khalifah mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar sebagai hadiah kepada Imam as, dan beliau pun membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Kisah Batu Cincin
Yunus An-Naqasi masuk datang ke rumah Imam Ali Al-Hadi as. Dalam keadaan gemetar ketakutan, ia berkata kepada beliau, “Wahai tuanku, seseorang dari istana telah datang kepadaku dengan membawa sepotong batu Firuz yang sangat berharga sekali. Ia memintaku untuk mengukirnya. Namun, ketika aku sedang melakukannya, batu tersebut terbelah jadi dua, padahal besok siang aku harus mengembalikannya. Bila dia tahu akan hal itu, pasti dia akan marah padaku.”
Imam as menenangkannya dan berkata, “Jangan kuatir! Tidak akan ada keburukan yang akan menimpamu. Bahkan, dengan izin Allah SWT engkau akan mendapatkan kebaikan darinya.”
Pada hari berikutnya, ajudan Khalifah datang dan berkata, “Sungguh aku telah mengubah pandanganku. Kalau sekiranya kamu bisa memotongnya menjadi dua, aku akan menambah upahmu!”
Pengukir tersebut berpura-pura berpikir padahal hatinya sangat bergembira. Kemudian berkata, “Baiklah, akan aku coba pesananmu itu!”
Akhirnya, pengawal Khalifah berterima kasih pada pengukir tersebut. Dari sana, pengukir itu bergegas menemui Imam Ali as untuk menumpahkan rasa terima kasih kepadanya. Dalam keadaan itu, Imam as berkata kepadanya, “Sungguh aku telah berdoa kepada Allah, semoga Dia memperlihatkan kebaikan khalifah kepadamu dan melindungimu dari kejahatannya.”
Al-Mutawakkil
Setelah Khalifah Al-Mu’tashim meninggal, kedudukannya digantikan oleh khalifah Al-Watsiq yang masa pemerintahannya berlangsung selama 5 tahun 6 bulan. Setelah itu, pemerintahan jatuh ke tangan Al-Mutawakkil.
Pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil, kerusakan dan kezaliman telah mewabah di mana-mana. Pengaruh orang-orang Turki dalam kekhalifahan sangat kuat dan luas sekali, sehingga mereka menjadi pengendali jalannya roda pemerintahan dan khalifah Al-Mutawakkil pun menjadi alat permainan mereka.
Saat itu, kebencian Al-Mutawakkil terhadap Ahlulbait Nabi as dan Syi’ahnya begitu besar. Ia memerintahkan agar membuat sungai di atas makam Imam Husain as dan melarang kaum muslimin untuk menziarahi makamnya. Bahkan, ia telah membunuh banyak peziarah, sampai digambarkan dalam sebuah syair:
Demi Allah, bila Bani Umayyah telah melakukan pembunuhan
terhadap putra dan putri Nabinya secara teraniaya,
kini keluarga saudara ayahnya (Bani Abbas) melakukan hal yang sama.
Maka esok lusa demi Allah ia akan menghancurkan kuburnya.
Mereka menyesal bila seandainya saja tidak ikut serta membunuhnya.
Tak segan lagi, Al-Mutawakkil melakukan pengawasan yang ketat terhadap Imam Ali Al-Hadi as di Madinah. Mata-mata khalifah senantiasa mengintai setiap langkah Imam as, lalu melaporkan padanya setiap gerak dan pembicaraanya.
Al-Mutawakkil merasa kuatir sekali setelah tahu kepribadian dan kedudukan Imam as di tengah-tengah masyarakat. Mereka begitu menghormati dan mencintainya, karena beliau berbuat baik kepada mereka dan menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid.
Al-Mutawakkil mengirim Yahya bin Harsamah sebagai utusan khusus untuk menghadirkan Imam Ali as. Segera ia memasuki kota Madinah. Sementara itu, berita tentang rencana jahat Al-Mutawakkil telah tersebar di tengah-tengah masyarakat, hingga orang-orang berkumpul di seputar tempat tinggal utusan khusus itu, sebagai bentuk kepedulian dan kekuatiran mereka atas apa yang akan terjadi pada diri Imam as.
Dalam pengkuannya, Yahya bin Harsamah mengatakan, “Aku sudah berupaya menenangkan mereka, dan bersumpah di hadapan mereka bahwa aku tidak diperintah untuk menyakitinya.”
Al-Mutawakkil senantiasa berpikir bagaimana cara menurunkan kedudukan tinggi Imam as di tengah masyarakat. Maka, sebagian penasehatnya mengusulkan untuk menebarkan berita-berita bohong yang dapat menjatuhkan kehormatan beliau, melalui saudaranya, Musa yang terkenal dengan perilakunya yang buruk.
Usulan tersebut disambut senang oleh Al-Mutawakkil. Segera ia memanggil Musa. Imam Ali as sendiri pernah memperingatkan saudaranya itu dengan ucapan, “Sesungguhnya khalifah menghadirkanmu untuk menghancurkan nama baikmu dan menyodorkan uang yang dapat menguasaimu. Maka, takutlah kepada Allah, wahai saudaraku dan jannganlah melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya!”
Musa tidak mau menghiraukan nasehat Imam as. Ia bertekad bulat untuk melakukannya, dan ternyata Al-mutawakkil justru merendahkannya. Sejak saat itu pula Khalifah itu tidak menyambut Musa lagi.
Kalimat Hak di Hadapan Orang Zalim
Ibnu Sikkit adalah salah seorang ulama besar. Abul Abbas Al-Mubarrad pernah memberikan kesaksian, “Aku tidak pernah melihat buku karya tulis orang-orang Baghdad yang lebih baik dari buku Ibnu Sikkit tentang Logika.”
Al-Mutawakkil meminta kepada Ibnu Sikkit untuk mengajar kedua anaknya; Al-Mu’taz dan Al-Mu’ayyad.
Suatu hari, Al-Mutawakkil bertanya kepada Ibnu Sikkit, “Mana yang paling kau cintai, kedua anakku ini ataukah Hasan dan Husain?”
Ibnu Sikkit menjawab dengan penuh kebencian, “Demi Allah, sesungguhnya pembantu Imam Ali bin Abi Thalib lebih baik dari pada kamu dan kedua anakmu itu!”
Mendengar jawaban Ibnu Sikkit tersebut, Al-Mutawakkil terperanjat dan begitu berang. Segera ia memerintahkan algojo Turki untuk mencabut lidahnya sampai mati. Demikianlah, Ibnu Sikkit pun pergi ke hadapan Allah SWT dan menemui kesyahidan.
Rasulullah saw telah bersabda, “Penghulu para syahid adalah Hamzah dan seorang yang mengatakan kalimat hak di depan penguasa yang zalim.”
Politik Al-Mutawakkil
Al-Mutawakkil telah menghambur-hamburkan kekayaan umat Islam. Hidupnya dipenuhi dengan foya-foya, serbamewah, dan sombong. Umurnya ia habiskan untuk bermabuk-mabukan dan berpesta pora dengan menghamburkan milyaran uang.
Sementara itu, betapa banyak orang yang hidup dalam kesusahan dan kefakiran, apalagi golongan Alawi (keluarga dan pengikut Imam Ali bin Abi Thalib as) yang senantiasa menjalani hidup mereka dalam kefakiran yang mencekam. Belum lagi hak-hak mereka dirampas, sampai hal-hal yang sangat tidak bernilai dalam kehidupan mereka.
Imam Ali Al-Hadi as bersama putranya dipanggil ke kota Samara. Kemudian mereka diturunkan di sebuah kemah yang di sana sudah berbaris pasukan Al-Mutawakkil. Itu dilakukan supaya beliau berada di bawah pengawalan tentara-tentara yang sangat bengis dan dungu terhadap kedudukan Ahlulbait as.
Rupanya, tentara Al-Mutawakkil itu terdiri atas orang-orang Turki yang telah berbuat kejam, dengan membentuk kondisi dan menciptakan pribadi-pribadi yang tidak lagi mengerti kecuali ketaatan kepada raja-raja dan penguasa.
Beberapa Kisah Menarik
• Seseorang di antara tentara itu mempunyai anak yang tertimpa penyakit batu ginjal, kemudian seorang dokter menasehati agar anaknya menjalani operasi.
Pada saat operasi sedang berjalan, tiba-tiba anak tersebut mati. Lalu orang-orang mencelanya, “Kau telah membunuh anakmu sendiri, maka engkau pun harus bertanggung jawab atas kematiannya.”
Kemudian ia mengadu kepada Imam Al-Hadi as. Beliau mengatakan, “Bagi kamu tidak ada tanggung jawab apapun atas apa yang kamu perbuat. Ia meninggal hanya karena pengaruh obat, dan ajal anak tersebut memang sampai di situ.”
• Suatu hari, seorang anak menyodorkan bunga kepada Imam Ali Al-Hadi as. Lalu Imam as mengambil bnunga itu seraya menciumnya dan meletakkan di atas kedua pelupuk matanya. Kemudian beliau memberikan kepada salah seorang sahabatnya sembari berkata, “Barang siapa mengambil bunga mawar atau selasih kemudian mencium dan meletakkannya di atas kedua pelupuk matanya, lalu membaca shalawat atas Muhammad dan keluarga sucinya, maka Allah akan menulis untuknya kebaikan sejumlah kerikil-kerikil di padang sahara, dan akan menghapuskan kejelekan-kejelekannya sebanyak itu pula.”
Yahya bin Hartsamah yang menyertai perjalanan Imam Ali as dari Madinah ke Samara mengatakan, “Kami berjalan sedang langit dalam keadaan cerah. Tiba-tiba Imam as meminta sahabat-sahabatnya untuk mempersiapkan sesuatu yang bisa melindungi mereka dari hujan.
Sebagian dari kami merasa heran. Malah sebagian yang lain tertawa meledek. selang beberapa saat, tiba-tiba langit mendung dan hujan pun turun begitu derasnya. Imam as menoleh kepadaku dan berkata, “Sungguh engkau telah mengingkari hal itu, lalu kau kira bahwa aku mengetahui alam gaib dan hal itu terjadi bukanlah sebagaimana yang kau kira. Akan tetapi, aku hidup di daerah pedalaman. Aku mengetahui angin yang mengiringi hujan dan angin telah berhembus. Aku mencium bau hujan itu, maka aku pun bersiap-siap.”
• Suatu hari, Al-Mutawakkil menderita sakit. Ia bernazar untuk menyedekahkan uang yang banyak tanpa menentukan berapa jumlahnya. Dan ketika ia hendak menunaikan nazarnya, para fuqaha (ahli hukum) berselisih pendapat tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan oleh Al-Mutawakkil. Mereka pun tidak mendapatkan suatu kesepakatan.
Sebagian mereka mengusulkan untuk menanyakan masalah kepada Imam as. Tatkala ditanya tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan, Imam as menjawab, “Banyak itu adalah delapan puluh.”
Meresa belum puas. Mereka meminta dalil dari Imam as. Beliau mengatakan, “Allah berfirman, ‘Allah telah menolong kalian dalam berbagai kesempatan. Maka, Kami hitung medan-medan peperangan dalam Islam’. Dan jumlahnya medan peperangan itu adalah delapan puluh.”
Penggeledahan Rumah
Meskipun Imam Ali Al-Hadi as dalam tahanan rumah yang ketat, beliau tidak luput dari berbagai fitnah dan tuduhan kosong. Salah seorang di antara mereka melaporkan kepada Al-Mutawakkil, bahwa Imam as mengumpulkan senjata dan uang untuk mengadakan pemberontakan. Maka, Al-Mutawakkil memerintahkan Sa’id, penjaganya untuk memeriksa rumah beliau pada waktu malam, dan mengecek tentang kebenaran berita tersebut.
Tatkala ia memeriksa rumah Imam, ia dapati Imam as dalam sebuah kamar dan tidak ada sesuatu apapun di dalamnya kecuali sehelai tikar. Di dalamnya beliau sedang melakukan shalat dengan khusyuk.
Ia telah memeriksa rumah Imam as dengan awas dan jeli. Akan tetapi, ia tidak menemukan suatu apa pun. Kemudian ia berkata pada Imam, “Maafkan aku tuanku. Aku hanya diperintahkan.”
Imam as menjawab dengan sedih, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui akibat perbuatan mereka sendiri.”
Kandang Binatang Buas
Seorang perempuan mengaku, bahwa dirinya adalah Zainab putri Ali bin Abi Thalib as. Ia berkata, bahwa masa mudanya terus berganti setiap 50 tahun.
Segera Al-Mutawakkil mengirimkan utusan dan bertanya kepada Bani Thalib. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Zainab as telah meninggal pada tanggal sekian dan telah dikuburkan. Akan tetapi, perempuan ini tetap saja bersikukuh pada pengakuannya.
Menteri Al-Mutawakkil yang bernama Al-Fath bin Khaqan jengkel melihat itu. Ia berkata, “Tidak ada yang bisa mengetahui tentang hal ini kecuali putra Imam Ridha as.”
Maka, Al-Mutawakkil mengutus utusan kepada Imam Ali Al-Hadi as dan menanyakan perihal perempuan tersebut padanya. Kemudian Imam as. menjawab, “Sesungguhnya terdapat tanda pada keturunan Ali as. Tanda itu adalah binatang buas tidak akan mengganggu dan menyakitinya. Maka, cobalah kumpulkan perempuan itu bersama binatang buas, dan bila dia tidak diterkam, maka dia benar.”
Tak tahan lagi, Al-Mutawakkil ingin sekali menguji kebenaran ucapan Imam as di atas. Beliau pun masuk ke dalam sangkar binatang buas dengan penuh keyakinan. Tiba-tiba binatang buas di dalamnya mengikuti beliau sambil mengebas-kebaskan ekor di telapak kaki beliau.
Saat itu Al-Mutawakkil memerintahkan untuk melemparkan wanita tersebut ke dalam sangkar itu. Tatkala binatang buas itu muncul, ia pun menjerit dan segera menarik balik pengakuannya.
Di Majelis Al-Mutawakkil
Di saat sedang mabuk, Al-Mutawakkil memerintahkan para pengawalnnya agar segera mendatangkan Imam Ali Al-Hadi as. Dengan cepat mereka bergegas menuju kediaman beliau. Sesampainya di sana, mereka memasuki rumah Imam as dengan keras dan menyeret beliau sampai di istana khilafah.
Ketika Imam as berdiri di hadapan Al-Mutawakkil, khalifah yang zalim itu mengambil kendi khamer dan meminumnya sampai mabuk, lalu ia mendekati Imam as dan menyodorkan segelas minuman haram tersebut kepada beliau.
Imam as menolak dan berkata, “Demi Allah, darah dagingku tidak bercampur sedikit pun dengan minuman ini.”
Hari Kesyahidan
Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan pada Allah SWT, Imam Ali Al-Hadi as menjalani kehidupan dunia yang fana ini. Cobaan demi cobaan telah beliau lewati dengan segenap ketabahan. Hingga akhirnya, pada tahun 254 Hijrih beliau menjumpai Tuhannya dalam keadaan syahid akibat racun yang merusak tubuhnya.
Ketika itu usia Imam as menginjak usia 42 tahun. Beliau dimakamkan di kota Samara yang kini ramai dikunjungi kaum msulimin dari berbagai belahan dunia.
Murid-Murid Imam Ali
Meskipun Imam as senantiasa hidup di bawah pengawasan yang begitu ketat, namun beliau memiliki murid-murid yang tetap setia kepadanya. Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berjumpa dan bertatap muka dengan Imam as. Salah seorang dari mereka adalah Abdul ‘Azhim Al-Hasani.
Abdul ‘Azhim termasuk ulama besar dan seorang yang amat bertakwa. Dalam berbagai kesempatan, Imam Ali as seringkali memujinya. Ia senantiasa menunjukkan penentangannya terhadap penguasa. Kemudian ia bersembunyi di kota Rey dan meninggal di sana. Hingga sekarang ini, makam beliau masih selalu dipadati oleh para peziarah.
Murid beliau yang lain adalah Hasan bin Sa’id Al-Ahwazi. Ia juga termasuk sahabat Imam Ali Ar-Ridha as dan Imam Muhammad Al-Jawad as. Ia hidup di Kufah dan Ahwaz, kemudian pindah ke Qom dan meninggal dunia di sana. Hasan menyusun tiga puluh karya tulis di bidang Fiqih dan Akhlak. Di antara jajaran perawi, ia termasuk orang yang tsiqah (terdipercaya) dalam meriwatkan hadis-hadis.
Selain Abdul ‘Azhim dan Hasan, sahabat setia Imam Ali Al-Hadi as ialah Fadhl bin Syadzan An-Naisyaburi. Ia terkenal sebagai seorang ahli Fiqih besar dan ahli ilmu Kalam terkemuka.
Fadhl banyak meriwayatkan hadis dari Imam Ali as. Bahkan, anaknya pun ikut menjadi salah seorang sahabat Imam Hasan Askari as. Imam Ali as sering memujinya. Ia menasehati orang-orang Khurasan untuk merujuk kepada Fadhl dalam berbagai masalah yang mereka hadapi.[]
Mutiara Hadis Imam Ali Al-Hadi
• “Barang siapa taat kepada Allah, maka ia tidak akan kuatir terhadap kekecewaan makhluk.”
• “Barang siapa tunduk pada hawa nafsunya, maka ia tidak akan selamat dari kejelekannya.”
• “Barang siapa rela tunduk terhadap hawa nafsunya, maka akan banyak orang-orang yang tidak suka padanya.”
• “Kemarahan itu terdapat pada orang-orang yang memiliki kehinaan.”
• “Pelaku kebaikan itu lebih baik daripada kebaikan itu sendiri. Sedang pelaku keburukan itu lebih buruk daripada keburukan itu sendiri.”
• “Cercaan itu lebih baik dari pada kedengkian.”
• Beliau berkata kepada Al-Mutawakkil, “Janganlah engkau menuntut janji kepada orang yang telah engkau khianati.”
Riwayat Singkat Imam Ali Al-Hadi
Nama : Ali.
Gelar : Al-Hadi.
Panggilan : Abul Hasan.
Ayah : Imam Muhammad Al-Jawad.
Ibu : Samanah.
Kelahiran : Madinah, 212 H.
Kesyahidan : 254 H.
Usia : 22 tahun.
Makam : Samara, Irak.
Imam hasan Al-‘Askari
Hari Lahir
Imam Hasan Al-‘Askari as adalah imam ke-11 dari 12 silsilah imam Ahlulbait. Beliau dilahirkan di Madinah Al-Munawwarah pada tahun 232 Hijriah dan meninggal syahid di Samara tahun 260 H.
Ayah beliau ialah Imam Ali Al-Hadi as, sedangkan ibu beliau bernama Susan.
Beliau as menjadi imam (pemimpin umat) pada usia 22 tahun dan hidup pada masa yang penuh dengan kesulitan dan berbagai macam tipu daya. Setelah sang ayah wafat, Imam as hidup selama 6 tahun, dan sepanjang itulah masa kepemimpinannya.
Pada masa Imam as, khalifah Abbasiyah Al-Mu’taz tewas di tangan orang-orang Turki. Lalu, mereka mengangkat Al-Muhtadi sebagai penggantinya, yang tak lama kemudian juga tewas dibunuh. Seteleh itu, khilafah Abbasiyah jatuh ke tangan Al-Mu’tamid.
Panggilan Imam Hasan as ialah Abu Muhammad. Orang-orang mengenalnya dengan berbagai julukan, seperti Al-Hadi, Az-Zaki, An-Naqi, dan Al-Khalish. Julukan beliau yang paling masyhur adalah Al-‘Askari, karena beliau as tinggal di sebuah tempat yang disebut Al-‘Askar. Selain itu, beliau juga dikenal dengan panggilan Ibn Ar-Ridha.
Ahmad bin Khaqan pernah mengenang baik Imam as, padahal ia termasuk pembenci Ahlulbait as. Katanya, “Aku tidak melihat di antara keluarga Alawiyyin (keturunan Imam Ali as) di Samara seperti Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali Al-Ridha as. Dan aku tidak menemukan orang sebanding dengannya dalam pengorbanan, kesederhanaan, kehormatan, keagungan, kemuliaan, dan kedermawanan.”
Dia juga mengatakan, “Seandainya khilafah ini lepas dari tangan-tangan Bani Abbasiyah, maka tidak ada yang layak menjadi khalifah di antara Bani Hasyim selain Hasan bin Ali as, karena kepribadiaannya yang luhur, akhlaknya yang mulia, dan pikirannya yang brilian.”
Tersebarnya kerusakan dan kebobrokan di dalam negeri serta pengaruh besar orang-orang Turki di kalangan para pejabat tinggi negara, semua itu menjadi penyebab munculnya pemberontakan masyarakat terhadap pemerintahan Abbasiyah.
Sementara itu, orang-orang Alawiyah tidak tinggal diam. Mereka juga mengadakan pemberontakan di berbagai tempat.
Hasan bin Zaid Al-Alawi telah mengadakan pemberontakan di daerah Tabaristan dan berhasil menguasainya.
Begitu juga di Basrah, telah terjadi pemberontakan yang disebut dengan “Tsaurah Zanj” yang pemimpinnya mengaku sebagai salah satu keturunan Ahlulbait. Pemberontakan itu dilakukannya dengan sangat keji, hingga ia membunuh anak-anak dan para wanita. Kemudian Imam Hasan Al-‘Askari as mengumumkan kepada masyarakat luas, bahwa pemimpin pemberontakan “Tsaurah Zanj” itu bukanlah dari keturunan Ahlulbait as.
Imam Hasan Al-‘Askari as menghadapi situasi yang sangat sulit. Seringkali beliau dijebloskan ke dalam penjara. Para khalifah telah menugaskan penjaga-penjaga yang bengis untuk mengawasinya. Tapi dalam tempo yang singkat, banyak dari mereka yang malah terpengaruh oleh akhlak luhur Imam as, hingga mereka menemukan kembali suara fitrahnya yang bersih dan menjadi orang-orang yang saleh.
Suatu waktu, Imam Hasan as dijebloskan ke dalam kandang serigala. Tapi amat mengejutkan! Kawanan serigala itu tampak gembira dengan kehadiran beliau. Mereka memain-mainkan ekornya ke telapak kaki Imam as, dan terkadang mereka sentuhkan badannya dengan kaki beliau.
Seorang penganut agama Kristen pernah bertemu Imam Hasan Al-‘Askari as dan ia merasa bahwa Tuhan bersama beliau. Ia pun masuk Islam di hadapan Imam as. Tatkala ditanya alasan keislamannya, ia menjawab, “Aku melihat sifat-sifat Isa Al-Masih as tampak pada dirinya.”
Kebanyakan wasiat-wasiat Imam Hasan Al-‘Askari as berkisar pada masalah keadilan, kemuliaan, dan pengorbanan. Beliau senantiasa memperingatkan kaum muslimin akan kezaliman dan penindasan.
Keluasan Ilmu Imam
Mazhab Ahlulbait telah tersebar dengan pesat. Pada masa Imam Hasan Al-‘Askari as, berbagai gerakan ilmiah dan semangat ilmu pengetahuan bermunculan.
Imam Hasan as melakukan pengajaran di Kufah, Baghdad, dan Hijaz. Kota Qom merupakan salah satu kota yang masyhur sebagai pusat pengembangan ilmu agama. Ilmu beliau laksana samudera, di mana lebih dari 18000 sarjana yang menimba ilmu kepada beliau.
Orang dekat khalifah Abbasiyah Al-Mu’taz yang bernama Muhammad bin Mas’ud Asy-Syirazi menuturkan, “Hasan Al-‘Askari telah mencapai ketinggian ilmunya, hingga menjadikan Al-Kindi—guru Al-Farabi—membakar bukunya sendiri setelah beliau melihat dan mengoreksi kandungan-kandungannya yang tidak lagi sesuai dengan ajaran Islam.”
Imam Hasan dan Seorang Pendeta
Suatu masa, kota Samarra pernah dilanda kekeringan. Khalifah memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan shalat Istisqa’. Masyarakat menyambutnya dan keluar berbondong-bondong untuk melakukan shalat sampai tiga hari. Akan tetapi, kondisi kota tidak kunjung berubah.
Pada hari keempat, Jastliq pergi bersama para pengikutnya, para pendeta, dan orang-orang Kristen ke tengah padang sahara. Salah satu pendeta mengangkat tangannya sambil berdoa. Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan sangat lebat.
Melihat kejadian ini, orang-orang menjadi ragu atas kebenaran Islam, padahal ia adalah agama yang paling utama. Sebagian dari mereka berkata, “Sekiranya orang-orang Nasrani itu berada dalam kebatilan, niscaya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa mereka.” Lantas sebagian muslimin berpikir untuk memeluk agama Nasrani.
Pada saat itu, Imam Hasan Al-‘Askari as ada dalam penjara. Pengawal khalifah mendatanginya dan berkata, “Temuilah umat kakekmu Muhammad saw, karena mereka telah meragukan agama Allah SWT.”
Pada kesempatan lain, Jastliq beserta para pendeta dan Imam Hasan as pergi ke tengah padang pasir. Imam as senantiasa mengawasi keadaan mereka dengan baik. Kemudian beliau melihat salah satu dari pendeta tersebut mengangkat tangannya yang kanan. Segera beliau memerintahkan sebagian budaknya untuk memegang tangan pendeta tadi dan melihat apa yang ada di telapaknya. Mereka pun lekas memegang tangan pendeta dan mereka melihat tulang hitam di antara jari-jarinya. Kemudian, Imam as mengambilnya lantas berkata pada pendeta tersebut, “Sekarang berdoalah untuk meminta hujan!”
Pendeta itu kembali mengangkat tangannya dan berdoa. Saat itu langit sudah mulai mendung. Tiba-tiba mendung menghilang dan berubah menjadi awan dan matahari yang mulai memancarkan sinarnya.
Khalifah bertanya pada Imam Hasan Al-‘Askari as tentang rahasia tulang tadi. Beliau menjawab, “Pendeta ini pernah melewati salah satu kuburan nabi-nabi terdahulu. Kemudian ia dapati tulang ini, dan hujan lebat akan turun dari langit seketika tulang itu disingkapkannya.”
Dakwah dan Pendidikan
Dikisahkan bahwa ada seorang pemuda keturunan Imam Ja’far Ash-Shadiq as tinggal di kota Qom. Ia suka minum khamer. Pada suatu hari, ia pergi ke rumah Ahmad bin Ishak Al-Asy’ari, seorang wakil Imam Hasan Al-‘Askari as. Namun, Ahmad tidak mengizinkan pemuda itu masuk, karena ia telah mengetahui akhlaknya. Pemuda itu kembali ke rumahnya dengan perasaan sedih atas perlakuannya itu.
Suatu saat, Ahmad bin Ishak hendak pergi menunaikan ibadah haji. Tatkala ia sampai di Madinah dan ingin berjumpa dengan Imam Hasan as, ia meminta izin untuk bisa masuk dan bertemu dengan beliau. Akan tetapi, Imam as tidak mengizinkannnya. Ia pun merasa sedih dan bersipuh di depan pintu sehingga Imam as mengizinkannya masuk.
Ahmad bin Ishak bertanya kepada Imam as tentang alasan beliau tidak mengizinkannnya masuk tadi. Imam as menjawab, “Sungguh aku telah memperlakukanmu sebagimana kamu telah memperlakukan anak pamanku. Aku melarangmu sebagaimana kamu melarangnya.”
Ahmad bin Ishak berkata, “Tuanku, sesungguhnya ia suka minum khamer. Aku menolaknya, karena itu aku bermaksud untuk mengingatkannnya agar bertaubat.”
Imam Hasan Al-‘Askari as menjawab, “Bila kau ingin memberikan pelajaran padanya, tidaklah demikian caranya.”
Kemudian Ahmad bin Ishak kembali ke Qom dan orang-orang mengucapkan selamat kepadanya. Tatkala pemuda itu menemuinya, ia pun bangun menyambutnya dan merangkulnya begitu hangat serta mendudukkannya di sampingnya.
Pemuda yang bernama Abul Hasan itu malah terheran-heran melihat perlakuan Ahmad kali ini. Kemudian ia bertanya tentang sebab penolakannya kemarin dan penyambutannya yang hangat terakhir ini. Maka, Ahmad menceritakan pengalamannya sewaktu hendak menjumpai Imam Hasan Al-‘Askari as di Madinah.
Usai cerita itu, Abul Hasan menundukkan kepalanya karena malu. Seketika itu ia bertekad untuk segera bertaubat. Sekembalinya ke rumah, ia pecahkan kendi-kendi khamer, dan senantiasa pergi ke masjid.
Dua Kisah Menarik
• Sewaktu Imam Hasan Al-‘Askari as berada dalam sebuah penjara yang dikepalai oleh Shaleh bin Washif, Khalifah Abbasiyah memerintahkan agar memperketat pengawasan dan penjagaannnya atas beliau. Shaleh mengeluhkan, “Apalagi yang harus aku lakukan, padahal aku telah menugaskan dua makhluk Allah yang paling untuk menjaganya. Tetapi mereka berdua justru menjadi tekun shalat dan beribadah.”
Kemudian ia memanggil kedua penjaga tersebut. Kepada mereka ia bertanya, “Apa yang kalian ketahui tentang laki-laki ini (Imam as)?”
Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan tentang seseorang yang senantiasa menghabiskan siangnya dengan berpuasa, dan melewatkan malamnya dengan bertahajud. Dia tidak berbicara dan bekerja selain ibadah.”
• Tatkala orang-orang Turki berhasil menciptakan pengaruh besar di dalam pemerintahan Abbasiyah dan mempermainkan khalifahnya, mereka membunuh setiap orang yang mereka curigai, bahkan mereka dapat menentukan khalifah yang mereka kehendaki.
Ketika Al-Mu’tamid menjadi khalifah, dia berbuat sewenang-wenang, karena dia sendiri tidak tahu berapa lama dia akan memerintah; 3 bulan ataukah lebih. Namun, ia mengetahui betul kedudukan Imam Hasan Al-‘Askari as di sisi Allah SWT.
Maka, pada suatu hari, Al-Mu’tamid menghadap Imam as dan memohon kepadanya supaya Allah memanjangkan umurnya. Imam as pun mendoakannya, sehingga ia pun tetap duduk sebagai khalifah selama lebih dari 20 tahun.
Orang Bijak dari Irak
Ishak Al-Kindi adalah seorang filsuf Irak yang telah menulis sebuah buku tentang pertentangan antar ayat-ayat Al-Qur’an. Salah seorang muridnya datang menghadap Imam Hasan Al-‘Askari as. Kepadanya beliau bertanya, “Adakah di antara kalian yang berani untuk mengkritik pendapat guru kalian, Al-Kindi tentang sanggahan dan keraguannya terhadap Al-Qur’an?”
Salah seorang muridnya mengatakan, “Aku tidak mampu menyanggahnya.”
Imam as berkata, “Katakan kepadanya, bahwa aku punya masalah dan aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya. Yaitu, bila ada seorang yang membacakan Al-Qur’an di hadapanmu, apakah mungkin maksud ayat-ayat yang dibacanya itu berbeda dengan maksud yang kau dengar darinya? Dia pasti akan mengatakan, ‘Tentu, sangat mungkin itu, karena ia adalah seorang yang dapat memahami apa yang telah ia dengar.’
“Apabila ia menjawab seperti itu, katakan lagi padanya, ‘Bagaimana Anda bisa memastikan itu, padahal mungkin saja dia memahami maksud yang berbeda dengan yang kau pahami? Dengan begitu, maka kamu telah meletakkan maksud bukan pada tempat yang semestinya.’”
Si murid menyampaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada gurunya, Al-kindi. Selekas menyimak, ia meminta muridnya untuk mengulang pertanyaan. Sang murid pun mengulangnya.
Setelah itu, Al-Kindi malah menundukkan kepala sambil berpikir. Akhirnya ia sadar bahwa hal tersebut memang mungkin terjadi dalam bahasa dan bisa diterima oleh akal. Dengan kesadaran ini, pandangannya tentang Al-Qur’an tampak begitu lemah dan rapuh. Lalu, ia bangkit dan membakar bukunya tersebut.
Surat untuk Seorang Sahabat
Dalam rangka menasehati para sahabatnya, Imam Hasan Al-‘Askari as banyak menulis surat yang dikirimkan kepada mereka. Di antaranya, surat berikut ini yang dikirimkan kepada Ali bin Husain bin Babaweh Qumi, “Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Akibat baik bagi orang-orang yang bertakwa, surga bagi orang-orang yang mengesakannya, dan neraka bagi orang-orang yang mengingkarinya, serta tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang zalim.
“Tiada Tuhan selain Allah, Dialah sebaik-baik pencipta. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada sebaik-baik mahluk-Nya, Muhammad saw dan keluarganya yang suci.
“Kamu harus besabar dan menanti kedatangan Al-Mahdi, karena Rasulullah saw telah bersabda, ‘Amalan umatku yang paling utama adalah menanti kehadiran Al-Mahdi.’
“Syi’ah kami akan senantiasa dalam kesedihan hingga muncul anakku, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi, bahwa ia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kezaliman.
“Bersabarlah wahai Syi’ahku! Ya Abul Hasan, sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah yang telah diwariskan untuk hambanya yang dikehendaki. Dan akibat yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.
“Salam atasmu dan seluruh Syi’ah kami. Semoga rahmat dan berkah Allah meliputimu dan Syi’ah kami. Akhirnya, semoga Allah SWT merahmati Muhammad dan keluarganya.”
Hari Kesyahidan
Ketika diboyong oleh sang ayah ke Samarra, Imam Hasan Al-‘Askari as baru berusia 4 tahun. Semenjak itu pula beliau selalu diawasi secara ketat oleh pemerintahan Abbasiyah.
Seringkali Imam as dijebloskan dalam penjara, sampai akhirnya beliau diracun dan meninggal syahid pada tanggal 8 Rabiul Awwal 260 H. Beliau dimakamkan di samping ayahnya, Imam Ali Al-Hadi as, di kota Samarra.
Imam Hasan Al-‘Askari as senantiasa berada dalam pengawasan para penguasa, karena adanya riwayat-riwayat dari Nabi saw yang menguatkan, bahwa Al-Mahdi as adalah Imam ke-12 dan dia adalah anak dari Imam Hasan Al-‘Askari. Sebab itulah para penguasa merasa takut akan kemunculannya yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan. Akan tetapi, Imam Hasan Al-‘Askari as telah berhasil merahasiakn putranya itu, betapa pun sulitnya keadaan waktu itu.
Meski demikian, saudara Imam Hasan Al-‘Askari as yang bernama Ja’far Al-Kaddzab berusaha untuk menunggu kesempatan guna menyatakan dirinya sebagai imam setelah wafatnya beliau dengan dukungan orang-orang Bani Abbasiyah. Akan tetapi, Allah SWT menggagalkan seluruh makar dan muslihatnya itu.
Ketika Imam Mahdi as muncul secara tiba-tiba, yang saat itu beliau masih kecil, dan datang untuk menyalati jenazah ayahnya, banyak orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Dengan begitu, mereka mengimani kepemimpinannya. Mereka pun percaya bahwa dialah Imam Al-Mahdi ajf yang dinanti-nantikan.[]
Mutiara Hadis Imam Hasan Al-‘Askari
• “Tidak ada kemuliaan bagi orang yang meninggalkan kebenaran, dan tidak ada kehinaan bagi orang yang mengamalkannya.”
• “Dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih unggul di atas keduanya: iman kepada Allah dan kawan yang bermanfaat.”
• “Keberanian seorang anak terhadap orang tuanya di masa kecil akan mendorongnya kepada kedurhakaan terhadapnya di saat dewasa.”
• “Bukan termasuk kebajikan menampakkan kegembiraan di hadapan seorang yang sedih.”
• “Cukup bagimu sebuah pelajaran yang menjauhkanmu dari segala yang tidak kau sukai dari orang lain.”
• “Seluruh keburukan telah terkumpul dalam satu rumah, dan kuncinya adalah dusta.”
Riwayat Singkat Imam Hasan Al-‘Askari
Nama : Hasan.
Panggilan : Abu Muhammad.
Gelar : Al-‘Askari.
Ayah : Imam Ali Al-Hadi as.
Ibu : Susan.
Kelahiran : Madinah, 232 H.
Wafat : 260 H.
Makam : Samarra, Irak.
Imam Muhammad Al-Mahdi
Hari Lahir
Imam Al-Mahdi as lahir pada 15 Sya’ban 255 H. Kelahiran beliau sungguh menghidupkan harapan di dalam jiwa-jiwa kaum tertindas di dunia.
Ayah Imam as adalah Imam Hasan Al-Askari as dan ibunya bernama Nargis, seorang wanita suci keturunan salah satu Hawariyyun (sahabat setia) Nabi Isa as, yaitu Sam’un Ash-Shafa.
Imam Mahdi as adalah Imam terakhir Ahlulbait as. Secara khusus, sang datuk, Rasulullah saw telah memberitakan kehadirannya dalam sejumlah hadis-hadis yang mutawatir, bahwa “Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah disesaki oleh kezaliman.”
Beliau dikenal dengan panggilan Abul Qasim, dan gelar mulia “Al-Mahdi”. Dengan demikian, beliau membawa nama sekaligus panggilan junjungan kita Muhammad saw, sebagaimana beliau pun membawa risalah agamanya, Islam.
Para penguasa zalim menjadi begitu awas dan senantiasa mengintai kelahiran Imam Mahdi as, sehingga mereka berupaya menggagalkannya. Persis dengan apa yang telah dilakukan Fir’aun; mengawasi setiap ibu yang hamil dan bayi yang lahir. Namun, mereka tidak sadar bahwa Fir’aun, meskipun mengerahkan segenap kekuatan raksasa yang dimilikinya sampai membunuh secara massal bayi-bayi yang baru lahir, usahanya itu mengalami kegagalan total.
Al-Mu’tamid, Khalifah Abbasiyah—sosok Fir’aun pada masanya—pun ingin melakukan hal yang sama. Ia pun mencoba mengikuti langkah Fir’aun berusaha mencegah kemunculan Sang Pembela Kebenaran yang akan merongrong kekuasaannya. Ia seketat mungkin mengawasi rumah Imam Hasan Al-Askari as.
Ketika Imam Hasan as diracun, beliau dibawa dalam keadaan lemah dari penjara ke rumahnya. Al-Mu’tamid menugaskan lima orang pengawal pergi menyertai Imam untuk mewaspadai dan berjaga-jaga di sekeliling rumah Imam jika ada peristiwa yang terjadi di rumah itu. Tidak hanya mengutus mata-mata, ia juga mengirim beberapa bidan ke rumah Imam untuk menjaga dan membantu proses kelahiran istri Imam as.
Kota Samarra berubah menjadi kota duka atas kematian Imam Hasan Al-Askari. Orang-orang menutup tempat kerja mereka untuk melayat ke rumah Imam. Penduduk kota itu mengusung jenazah suci Imam dengan tangan mereka sendiri dalam upacara penguburan yang kudus, agung, dan akbar.
Khalifah Abbasiyah sangat gusar dan kesal atas kerumunan massa yang datang melayat Imam. Ia berusaha keras untuk menutupi kejahatannya dan mengumumkan bahwa kematian Imam merupakan sebuah kejadian yang wajar dan alamiah.
Al-Mu’tamid mengutus saudaranya untuk menghadiri upacara pemakaman dan bersaksi bahwa tidak ada yang membunuh Imam. Di sisi lain, ia membagi-bagikan harta peninggalan Imam untuk menunjukkan bahwa Imam tidak meninggalkan anak yang dapat menunaikan shalat jenazah dan menjadi pewaris sah atas harta peninggalan beliau.
Namun, betapapun usaha untuk menutupi cahaya kebenaran, kehendak Allahlah yang tetap berlaku. Ketika Imam Al-Askari as dibunuh, putra beliau berusia lima tahun. Ia mencapai kedudukan imamah pada usia lima tahun, seperti Nabi Isa yang diangkat sebagai nabi ketika ia masih dalam buaian.
Ketika mereka meletakkan jenazah suci Imam Al-‘Askari as, saudara beliau—yang bukan orang baik-baik—hendak memimpin shalat jenazah. Namun, putra beliau, Imam Al-Mahdi ajf—yang masih belia—mendorongnya ke samping dan beliau sendiri maju ke depan memimpin shalat jenazah tersebut. Setelah selesai shalat jenazah, beliau menghilang dari pandangan mata.
Orang-orang Syiah telah melihat Imam Al-Mahdi di kediaman sang ayah, Imam Hasan Al-‘Askari yang saat itu masih hidup. Di kediaman itu pula mereka mendengarkan nasihat beliau tentang anaknya kepada mereka. Setelah syahadah Imam Hasan as, mereka tetap berhubungan dengan Imam Al-Mahdi hingga beberapa waktu lamanya.
Keadaan ketika Imam Al-Mahdi Lahir
Hakimah, bibi Imam berkata, “Aku pergi ke rumah anak saudaraku, pada hari Kamis bulan Sya’ban. Ketika aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, Imam berkata, ‘Wahai bibi, tinggallah malam ini bersama kami karena putra kami akan segera lahir.’
“Aku sangat bergembira dan berbahagia mendengarkan kabar itu dan pergi menjumpai Nargis (Ibunda Imam Al-Mahdi). Namun, aku tidak menemukan tanda-tanda kehamilan pada diri beliau. Aku terkejut dan bergumam, ‘Tidak melihat tanda-tanda kelahiran bayi padanya.’
“Pada saat-saat itu, Imam datang padaku dan berkata, ‘Duhai bibi, jangan bersedih. Nargis seperti ibunda Nabi Musa as, dan si bayi seperti Musa yang lahir secara tersembunyi dan tanpa tanda-tanda apa pun yang menyertai kelahirannya. Temuilah Nargis, dia akan segera melahirkan pada Shubuh hari.’
“Aku berbahagia menemani Nargis, sambil mengamati apa yang dikatakan oleh Imam bahwa tanda-tanda kelahiran Nargis muncul sebelum matahari terbit di ufuk timur. Seberkas cahaya membentang antara diriku dan dia sehingga aku tidak dapat melihat Nargis lagi. Aku ketakutan dan keluar dari bilik itu untuk menjumpai Imam dan melaporkan apa yang telah terjadi. Beliau tersenyum dan berkata, ‘Kembalilah, beberapa saat lagi engkau akan melihatnya.’
“Aku kembali ke kamar dan melihat seorang bayi baru lahir dan tengah melakukan sujud lalu ia mengangkat tangannya ke angkasa sembarai berzikir dan memuji Allah dengan segala kepemurahan-Nya, kebesaran-Nya, dan keesaan-Nya.”
Kisah Ibunda Nargis
Salah seorang budak Imam Hadi as, Busyr Al-Anshari menukil sebuah kisah sehubungan dengan kejadian itu:
Suatu hari, Imam Hadi as memanggilku dan berkata padaku, “Aku ingin memberikan sebuah pekerjaan untukmu. Pekerjaan ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga untukmu.” Beliau memberikan sebuah surat disertai dengan seikat kantong yang berisi 200 Dinar emas. Beliau berkata, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke Baghdad. Nantikan kapal yang akan berlabuh besok harinya di sungai Furat (Eufrat). Di dalamnya terdapat banyak budak-budak yang dibawa untuk diperjualbelikan. Kebanyakan pembeli dan penjual itu berasal dari Bani Abbas dan beberapa pemuda dari suku bangsa yang lain.
“Di atas kapal itu, ada seorang wanita yang, ketika ia diminta untuk menampakkan dirinya, enggan memenuhi permintaan itu. Salah seorang pemuda maju ke depan dan berkata kepada tuannya, ‘Aku siap membeli wanita itu dengan harga 200 Dinar emas.’ Tetapi si wanita itu tidak setuju dengan tawaran pemuda itu. Lalu tuannya berkata, ‘Kamu tidak ada pilihan lain kecuali harus dijual. Kamu harus terima tawaran pemuda itu.’ Tapi ia menukas, ‘Tunggu sebentar! Pembeliku akan segera datang.’ Lalu kau maju ke depan berikan surat itu kepadanya, dan katakanlah ‘Jika wanita ini berhasrat kepada orang yang mengirim surat ini, aku akan membelinya.’ Setelah membaca surat yang disodorkan padanya, wanita itu merasa senang. Lalu bayarlah harganya dengan uang ini, dan serahkanlah kepada tuannya. Setelah itu, bawalah wanita itu kemari.”
Aku kerjakan apa yang diperintahkan Imam kepadaku. Aku beli wanita itu dari tuannya. Dalam perjalanan, ia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang mengejutkan. Katanya, ‘Aku adalah putri Raja Romawi. Datukku adalah sahabat dekat Nabi Isa. Ayahku menginginkan agar aku menikah dengan keponakannya. Suatu hari, ia mengadakan sebuah pertemuan akbar di istana dan meminta kemenakannya duduk bersanding denganku di singgasana. Seluruh bangsawan Nasrani dan para pengawal kerajaan berkumpul untuk menikahkan aku dengannya. Tiba-tiba istana berguncang, yang membuat segala sesuatunya berserakan hingga saudara sepupuku itu terjatuh dari singgasana. Meski begitu, mereka tetap bersikeras untuk menikahkanku dengannya. Mereka kembali mengadakan pertemuan itu. Namun, kejadian yang sama juga kembali terjadi. Para bangsawan Nasrani menganggapnya sebagai sebuah tanda buruk. Mereka segera meninggalkan istana. Pada malam yang sama, aku tertidur dalam keadaan sedih dan pilu. Aku bermimpi melihat dua orang pria dengan cahaya yang memancar dari tubuhnya datang ke istana. Beberapa orang berkata bahwa pria itu adalah Nabi Isa, dan yang lainnya berkata bahwa pria itu adalah Rasulullah saw. Rasulullah saw berhadapan dengan Nabi Isa as, beliau berkata, ‘Aku meminang cucumu untuk cucuku.’ Nabi Isa as sangat gembira dengan pinangan itu. Beliau menerima pinangan Rasulullah saw. Aku bangkit dari tempat tidurku dan tidak mengungkapkan perihal mimpi itu kepada siapa pun. Hingga suatu hari, aku jatuh sakit dan ayahku memanggil seluruh tabib untuk memeriksa kondisiku. Namun, tidak satu pun dari mereka yang dapat menyembuhkan sakitku. Aku memohon kepada ayahku untuk membebaskan orang-orang muslim yang ada dalam penjara ketika itu. Ia mengabulkan permohonanku. Ia membebaskan tawanan-tawanan muslim. Segera setelah itu aku pun sembuh dari sakitku. Pada malam yang sama, aku sekali lagi bermimpi melihat dua orang wanita yang penuh dengan cahaya. Mereka berkata bahwa wanita itu adalah ibunda Nabi Allah Isa as dan Fatimah, putri Rasulullah saw. Fatimah maju ke depan dan berkata kepadaku, ‘Jika engkau ingin menjadi istri putraku, engkau harus menjadi muslim.’ Dalam mimpi malam itu, aku menerima Islam melalui tangannya. Lalu, ia membawaku menjumpai anaknya, Imam Hasan Al-Askari. Cintanya menawan hatiku dengan kuat, dan seluruh badanku lemas siang dan malam. Sampai pada suatu malam, aku melihat Imam Hasan Al-Askari dalam mimpi. Aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana aku dapat menjadi istrimu?’ Beliau berkata, ‘Ayahmu dalam waktu dekat ini akan mengirim serdadunya untuk berperang melawan serdadu muslim, dan engkau akan berada di barisan belakang serdadu itu. Serdadu muslim akan memenangkan perang itu dan engkau akan ditahan sebagai tawanan perang. Lalu engkau akan dibawa ke Baghdad untuk dijual. Engkau akan dibawa ke Baghdad dengan kapal yang melintasi sungai Furat. Kapal itu akan berlabuh di sungai itu dan mereka akan membawamu keluar dari kapal itu untuk dijual. Para pembeli akan datang untuk membelimu. Namun, tunggulah sampai seseorang (utusan) datang untuk membelimu. Ia akan datang dengan membawa surat dari ayahku. Dialah yang akan menjadi pembelimu dan membawamu pergi.’ Aku terjaga dari mimpi dan merasa gembira. Setelah beberapa waktu berlalu, apa yang diceritakan oleh Imam Hasan Al-‘Askari dalam mimpi itu terjadi. Wahai Busyr! Hingga saat ini, tidak ada seorang pun yang tahu akan kisah ini dan mengenali aku. Berhati-hatilah, jangan engkau ceritakan kisah ini kepada siapapun. Simpanlah kisah ini untukmu saja.”
Ketika Nargis menukilkan kisah itu kepadaku, terasa gemetar sekujur tubuhku. Sejak saat itu, aku menghormatinya dan menemaninya seakan-akan aku ini adalah budaknya. Aku membawa beliau ke hadirat tuanku, Imam Hadi as.
Imam Hadi as bertanya kepada wanita itu, bagaimana kisahmu sampai memeluk Islam? Dia menjawab, “Anda bertanya sesuatu yang Anda lebih tahu ketimbang aku.”
Beliau lalu berkata, “Berita gembira untukmu tentang seorang anak yang akan memenuhi alam semesta ini dengan keadilan dan hukum, seorang anak yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia.”
Kemudian, beliau memalingkan wajahnya kepada saudarinya, Hakimah, “Wahai saudariku! Inilah wanita yang kau nanti-nantikan selama ini. Bawalah ia bersamamu dan ajarkan Islam kepadanya.”
Hakimah memeluknya erat dan ia membawanya pergi dengan penuh hormat.
Periode Kehidupan Imam Al-Mahdi
Periode kehidupan Imam Muhammad Al-Mahdi ajf dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1. Pra-imamah
Yaitu, sejak lahir hingga syahadah ayahanda beliau, Imam Hasan Al-Askari as. Periode ini berlangsung selama lima tahun.
Selama periode ini, Imam Hasan as senantiasa menjaga putranya ini sedemikian rupa hingga tidak ada yang dapat melihatnya kecuali sebagian sahabat-sahabat dan orang-orang yang dekat dengan beliau.
Penjagaan ketat ini beliau lakukan lantaran kuatir terhadap penyusupan orang-orang Abbasiyah dan mata-mata mereka yang begitu ketat mengawasi kediaman beliau.
2. Kegaiban Kecil (Ghaibah Shughra)
Periode ini dimulai pada waktu beliau berusia enam tahun dan terus berlanjut hingga beliau berusia tujuh puluh enam tahun. Selama periode ini, aparat pemerintahan dan agen-agennya tidak dapat bertemu dengan beliau. Akan tetapi, sahabat-sahabat beliau tetap memiliki kesempatan untuk bertemu dengan beliau dan meminta jalan keluar atas masalah-masalah yang mereka hadapi.
Selama masa Kegaiban Kecil ini, ada empat orang yang menjadi sahabat khusus Imam Al-Mahdi ajf, sekaligus menjadi perantara antara Imam dan pengikutnya. Mereka membawa dan mengirim surat atau pun uang dari umat dan menyampaikannya kepada Imam as, dan juga sebaliknya menyampaikan jawaban Imam kepada mereka.
Empat sahabat Imam Mahdi as itu adalah:
1. Utsman bin Sa’id
2. Muhammad bin Utsman
3. Husain bin Ruh
4. Ali bin Muhammad Samuri
Periode ini berakhir dengan wafatnya sahabat keempat Imam pada tahun 329 H. Sebelum wafatnya, beliau telah menyatakan berakhirnya keperantaraan dan kedutaan. Dengan begitu, Imam Al-Mahdi ajf segera memasuki periode baru dalam hidupnya, yaitu Kegaiban Besar.
3. Kegaiban Besar (Ghaibah Kubra)
Sepanjang periode ini—yang entah sampai kapan, hanya Allah SWT Yang Mahatahu—Imam Muhammad Al-Mahdi ajf menghadiri perhelatan dan acara perkumpulan yang diadakan oleh pengikut beliau. Beliau hadir tanpa diketahui oleh seorang pun.
Tidak ada satu orang pun yang mengenali beliau. Mereka menganggapnya sebagai orang asing. Setelah Imam meninggalkan tempat itu, dengan melihat tanda-tanda yang ada, barulah mereka sadar bahwa Imam telah datang ke tempat mereka.
Masa Penantian
Imam Al-Mahdi ajf tidak menunjukkan dirinya kepada fuqaha (ulama dan pakar hukum Islam) yang handal dalam memecahkan masalah-masalah keagamaan yang mereka hadapi dan masyarakat Islam selama kegaiban beliau. Namun demikian, mereka menyediakan lahan dalam rangka menyongsong revolusi yang akan dicetuskan oleh Imam ma’shum ini.
Orang-orang di masa kini, menantikan kedatangannya. Penantian ini tidak berarti hanya duduk tanpa ada usaha yang berarti sama sekali, pasif, acuh tak acuh, tidak berusaha, dan tidak berupaya membuka jalan bagi kemunculan Imam ajf. Sebaliknya, orang yang menanti adalah orang yang penuh pengharapan, berusaha, bekerja, bergerak, sadar dan giat, memiliki keyakinan yang teguh pada Imam Al-Mahdi, sehingga ia melempangkan jalan bagi kemunculan dan kedatangan beliau.
Seorang penanti sejati persis ibarat pendaki gunung, yang menantikan waktu untuk menaklukkan puncak gunung dan berjuang untuk mencapai puncak yang ditujunya. Ia senantiasa siap-sedia untuk melakukan apa saja yang diperlukan demi menginjakkan kaki di atas puncak. Tak pelak lagi, ia harus memiliki perencanaan yang matang untuk mencapai puncak kesuksesan dan sadar, bahwa duduk diam berpangku tangan tidak akan membawanya kepada tujuan.
Dengan demikian, penantian berarti pergerakan, usaha, upaya, pikiran yang teguh, berkarya, dan berkreasi untuk kemaslahatan umat manusia. Jika prinsip dasar ini tidak tertanam secara baik dalam masyarakat, umat manusia akan beku, putus asa dan kecewa, serta tidak lagi berpandangan optimistis dalam menatap masa depan yang gemilang.
Prinsip Penantian (Intizharul Faraj) dalam Islam adalah sebuah prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari agama yang memberikan kabar gembira tentang masa depan yang gemilang dan pelaksanaan segenap keadilan sosial bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ia membina dirinya untuk mewujudkan cita-cita luhur ini sebegitu rupa sehingga ia mampu memerangi dan menghilangkan kegelapan, menyingkirkan para sufi gadungan dan kaum yang bersikap permusuhan terhadap Imam Mahdi ajf.
Dengan kekuatan pergerakannya yang tak terbendung itu, seorang muslim akan menciptakan sebuah lingkungan yang siap membentuk pemerintahan tunggal alam semesta. Sehingga, ketika tiba masa kemunculan insan yang telah diciptakan Allah SWT dengan pesona kepribadian yang luhur ini, seluruh maksud dan tujuan Islam akan menjadi kenyataan, Insya Allah. Dialah Imam Mahdi ajf.
Mukjizat Imam Mahdi
Dari sekian mukjizat Imam Mahdi ajf, di sini kita akan menyimak dua mukizat saja.
a. Lolos dari Kejaran Penguasa
Syeikh Thusi menukil riwayat dari seseorang yang bernama Rashiq, yang merupakan antek dari Khalifah Abbasiyah, Mu’tadhid. Ia bercerita, “Suatu hari Mu’tadhid memanggilku dan berkata, ‘Aku telah mendengar kabar bahwa di kediaman Hasan Al-’Askari ada seorang anak.’ Ia menemaniku beserta dua orang anteknya yang lain. Ia berkata, ‘Bergegaslah pergi ke Samarra dan geledah rumah Hasan Al-Askari. Jika engkau temukan seorang anak muda di sana, bunuh dan bawa kepalanya kemari.’”
“Kami pun bergegas menuju ke Samarra. Kami tiba di depan pintu Imam Hasan Al-Askari tanpa menjumpai sedikit pun rintangan di jalan. Kami melihat seorang budak sedang duduk di depan pintu. Kami masuk ke rumah tanpa lagi peduli pada si budak itu. Di sebuah sudut rumah yang indah itu, terdapat sebuah kamar yang menarik perhatian kami. Kami singkap tirai yang menghalangi. Kami temukan sebuah kamar besar yang penuh dengan air dan di kamar itu ada sebuah karpet yang menghampar dan seorang anak muda sedang sibuk mengerjakan salat.
“Salah seorang dari utusan Khalifah itu mencoba memasuki kamar itu. Namun, dengan seketika ia tenggelam. Kami berusaha dengan susah payah untuk menyelamatkannya. Si utusan itu pingsan akibat ulahnya itu.
“Utusan yang lainnya juga mencoba memasuki kamar itu, dan seperti utusan yang pertama, ia pun tenggelam dalam air itu. Kami menyeretnya keluar. Ia juga jatuh pingsang. Beberapa saat berlalu, kedua utusan itu siuman. Dalam keadaan gemetar karena takut, kami menunggangi kuda dan beranjak meninggalkan rumah itu menuju istana Khalifah.
“Kami menemui Khalifah Mu’tadhid pada tengah malam. Ia dengan sengaja berjaga-jaga dan sedang menantikan kedatangan kami. Kami ceritakan kisah yang baru saja kami alami. Ia pun ikut ketakutan sebagaimana kami. Ia berkata, ‘Tidak seorang pun yang boleh tahu kejadian ini. Simpan baik-baik rahasia ini dan jangan katakan kepada siapa pun. Jika saja aku tahu bahwa kalian membocorkan rahasia ini kepada orang lain, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian.’
Hingga akhir hayatnya, Mu’tadhid tidak sedikit pun memiliki keberanian untuk bercerita perihal kejadian itu.
2. Jumlah Uang dalam Kantong
Ali bin Sinan bercerita, “Sekelompok orang dari Qom berangkat menuju Samarra dengan membawa sejumlah uang untuk menjumpai Imam Hasan Al-Askari. Setibanya di sana, mereka baru tahu bahwa Imam Hasan Al-Askari telah wafat. Mereka tetap tidak percaya dan mulai berpikir tentang apa yang seharusnya dilakukan.
“Hingga beberapa waktu, mereka diperkenalkan dengan seseorang yang bernama Ja’far, saudara Imam Hasan Al-Askari as. Ketika mereka menjelaskan maksud kedatangannya, Ja’far berkata, ‘Serahkan uang yang kalian bawa itu kepadaku, karena akulah pengganti Imam Hasan’. Mereka berkata, ‘Kami harus menanyakan kepada Imam jumlah uang yang kami bawa dan pemilik dari setiap kantong uang itu.’
“Cara demikian itu pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, Ja’far merasa malu dan berkata, ‘Kalian berdusta kalau saudaraku biasa menanyakan hal-hal seperti itu. Karena apa yang kalian tanyakan itu hanya dapat diketahui oleh Allah SWT, Sang Mahatahu, Sang Mahahadir di setiap tempat. Tidak satu pun orang yang dapat mengetahui hal itu selain-Nya.’
“Kafilah dari Qom itu tetap bersikeras dengan sikap mereka, sehingga membuat Ja’far mengadukan mereka kepada Khalifah. Khalifah memanggil mereka dan memerintahkan untuk menyerahkan uang itu kepada Ja’far. Mereka memohon kepada Khalifah, ‘Uang ini bukan milik kami. Uang itu adalah simpanan umat. Kami tidak punya pilihan lain kecuali menyerahkan uang ini kepada seseorang yang menjadi pengganti Imam Hasan as, dan jika tidak, kami akan mengembalikan uang ini kepada pemiliknya.’
“Khalifah menerima permohonan mereka dan membiarkan mereka pergi. Ketika kafilah Qom itu memutuskan untuk meninggalkan kota, seorang pemuda datang mendekat dan berkata, ‘Imam memanggil kalian semua untuk berjumpa dengan beliau.’
“Mendengar undangan itu, mereka sangat bersuka cita dan mengikuti pemuda itu menuju rumah Imam Hasan Al-Askari. Sesampainya di sana, kafilah itu menjumpai seorang pemuda, tanda-tanda dan aura Imamah nampak dari wajahnya. Mereka mengulangi pertanyaan sebagaimana yang telah dilontarkan kepada Ja’far.
Imam tersenyum dan berkata, ‘Duduklah. Aku dapat memberi tahu kepada kalian tentang isi setiap kantong ini berikut pemiliknya.’ Lalu, Imam menyebutkan satu persatu pemilik kantong uang itu dan jumlahnya.
“Kami sangat bergembira melihat kenyataan bahwa kami telah menemukan siapa yang selama ini kami cari. Kami mengambil kantong uang itu dan menyerahkannya kepada Imam as.
“Perjumpaan dengan Imam as adalah sebuah kesempatan emas untuk menanyakan masalah-masalah yang kami hadapi. Kami pun mengutarakan permasalahan-permasalahan dan dijawab oleh beliau dengan gamblang. Beliau memerintahkan kepada kami untuk tidak lagi membawa uang kepada beliau, dan meminta untuk menyerahkannya kepada wakil yang akan ditunjuk oleh beliau. Dan bila kami memiliki pertanyaan, kami mengirimnya kepada beliau dan beliau mengirim jawaban pertanyaan itu.
“Kami pun pamit dari beliau. Kami bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat dan anugerah yang besar ini; dapat berjumpa dengan beliau.”
Orang-orang Yang Bertemu Imam
Walaupun Imam Muhammad Al-Mahdi ajf tidak menunjukkan diri beliau kepada siapa pun secara langsung dalam masa Ghaibah Kubra ini, namun mereka yang memiliki jiwa yang suci dan bertakwa, sewaktu-waktu dapat berjumpa dan berbicara dengan beliau.
Di sini kami akan sebutkan beberapa kejadian yang menceritakan perjumpaan mereka dengan Sang Imam ajf. Mereka itu antara lain:
1. Ismail bin Hirqili Syamsuddin
Syamsuddin bercerita, “Pernah ayahku berkisah tentang kakinya yang terluka dan kemudian terobati. Ketika masih muda, ayahku menderita luka dan infeksi pada bagian pahanya. Luka itu sungguh membuatnya tidak berdaya.
“Suatu hari ia berkunjung kepada salah seorang sahabatnya, Sayyid Raziuddin Thaus di Hillah, Irak. Sahabat itu membantunya dengan mengumpulkan para tabib untuk memeriksa dan mengobati luka infeksi itu. Akan tetapi, setelah para tabib itu memeriksa luka itu, mereka memberikan jawaban negatif. Mereka berkesimpulan bahwa paha yang terinfeksi karena luka itu harus segera di operasi. Resiko yang dapat terjadi adalah paha ayahku itu diamputasi atau ia akan mati.
“Tahun berikutnya, Sayyid yang baik hati itu mengajak ayahku pergi ke Baghdad dan membawa beliau untuk diperiksa oleh para tabib di kota itu. Jawaban mereka atas pemeriksaan itu sama dengan jawaban tabib sebelumnya.
“Kesedihan, kekecewaan, dan rasa kecil hati menyelimuti perasaan ayahku ketika itu. Ia datang berziarah ke Haram Imam Al-Askari as di Samarra. Di Haram itu, beliau bermalam dan bertawassul untuk meminta pertolongan kepada Imam Zaman ajf.
“Tatkala fajar menyingsing, ia pergi ke arah Sungai Dajlah untuk membasuh pakaiannya sekaligus mandi, lalu kembali berziarah ke Haram Imam Al-Askari. Ayahku mengatakan, ‘Pada perjalananku kembali menuju Haram Imam Al-Askari, aku berjumpa dengan dua orang penunggang kuda. Semula, aku pikir mereka itu adalah orang-orang dari suku Badui. Mereka memberikan salam kepadaku. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Mari mendekat kepadaku.’ Karena aku telah membersihkan pakaianku, aku tidak mendekat kepada mereka. Aku lihat orang-orang Badui Arab itu kotor. Aku khawatir bajuku yang masih basah itu akan ternodai oleh tangan mereka.
‘Selagi aku masih berpikir tentang mereka, tiba-tiba ia menarikku untuk mendekat padanya. Ia menempelkan tangannya pada lukaku yang membuatku mengerang kesakitan. Setelah beberapa saat, ia mengangkat tangannya dari pahaku yang terluka itu seraya berkata, ‘Ismail, sekarang engkau telah sembuh. Janganlah engkau bersedih dan berkeluh kesah lagi.’
‘Aku terkejut ketika orang itu memanggil namaku. Ia pergi meninggalkan aku yang masih termangu dan sibuk dengan pikiranku sendiri.
‘Aku yakinkan diriku bahwa orang itu adalah Imam Al-Mahdi ajf. Aku membuntuti beliau dan memohon padanya untuk berhenti. Tiba-tiba ia berbalik dan berkata kepadaku, ‘Ismail pulanglah.’
‘Aku tidak menghiraukan perkataannya itu. Aku tetap berlari mengejarnya. Orang yang beserta beliau dalam perjalanan itu turut berbicara, ‘Wahai Ismail pulanglah. Apakah engkau tidak merasa malu mengabaikan perintah Imam Mahdi?’
‘Mendengar perkataan orang tersebut, dugaanku benar bahwa beliau adalah Imam Mahdi dan Sang Pelindung Umat.
‘Aku pun berhenti dan menatap beliau pergi. Selang beberapa saat kemudian mereka telah menjauh dan menghilang dari pandanganku.’
Syamsuddin menuturkan, “Sejak hari itu ayahku menjadi lebih sering ke Samarra. Namun sayang, beliau tidak melihat Imam lagi hingga akhir hayat beliau dengan asa dan kerinduan untuk bersua lagi dengan Imam Mahdi ajf.
2. Sayyid Muhammad Jabal Amili
Sayyid Muhammad Jabal Amili menuturkan perjalanannya kepada seorang sahabatnya. Ia berkata, “Setahun aku dalam perjalanan ke Masyhad. Karena tidak memiliki uang yang cukup, aku menjadi sangat susah.
“Hingga pada suatu waktu, sebuah kafilah bergerak. Namun karena aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan, aku pergi berziarah ke Haram (pusara) Imam Ridha di Masyhad dan mengadukan kesulitanku kepada beliau. Dengan perut kosong menahan lapar, aku tetap mengejar kafilah itu. Sebab, jika aku berdiam diri di kampungku pada musim dingin, aku akan mati kedinginan.
“Aku berusaha berlari mengejar kafilah itu, tetapi aku justru kehilangan arah. Aku tersesat jalan dan mendapati diriku di tengah padang sahara yang panas membakar. Karena rasa lapar, aku sama sekali tidak lagi kuasa menggerakkan badanku. Aku berusaha mencari tumbuh-tumbuhan sahara dan rerumputan gurun pasir untuk mengganjal perutku yang kosong. Namun aku sama sekali tidak dapat menggerakkan badanku, apalagi untuk menemukannya.
“Hingga malam pun tiba dan kegelapan menyelimuti padang sahara. Raungan binatang buas, dengungan hewan-hewan padang pasir membuatku tercekam rasa takut. Aku menjerit menangis dan pasrah menanti maut yang sebentar lagi akan datang menjemputku.
“Tidak lama setelah bulan menampakkan dirinya dan suara bising kawanan hewan-hewan sahara itu berhenti, tiba-tiba aku menangkap bayangan sebuah bukit kecil, tumpukan bukit pasir. Aku berusaha mengangkat kaki menuju tempat itu. Aku melihat ada sumur di sana. Aku menimba air dari sumur itu untuk melepaskan dahagaku dan mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat. Namun aku tak lagi berdaya sama sekali. Aku tidak memiliki tenaga sedikit pun untuk bergerak karena menahan rasa lapar. Aku merangkak ke tempat itu untuk tidur dan pasrah menantikan ajalku.
“Tiba-tiba, aku melihat seseorang datang menunggang kuda, bergerak ke arahku. Aku berpikir, orang ini barangkali salah seorang dari kawanan rampok padang pasir. Aku tidak memiliki sesuatu apapun sehingga ia akan membunuhku dan membebaskanku dari rasa lapar.
“Ketika orang itu tiba di dekatku, ia menyampaikan salam kepadaku. Aku menjawab salamnya itu. Dan dengan salamnya itu tertepislah dugaanku. Ternyata, ia bukanlah dari kawanan rampok padang pasir.
“Ia bertanya, ‘Apa yang sedang kau cari?’
“Aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan sisa-sisa kekuatan yang kumiliki. Aku mengatakan bahwa aku lapar dan tersesat jalan.
“Ia berkata, ‘Engkau memiliki buah melon di sampingmu. Mengapa engkau tidak memakannya?’
“Aku yang tadinya mencari kesana-kemari sesuatu yang dapat aku makan, berpikir bahwa ia sedang bercanda. Aku berkata padanya, ‘Anda jangan bergurau. Tinggalkanlah aku sendirian menanti ajal kan tiba.’
“Ia berkata, ‘Aku tidak bercanda. Lihat apa yang di sampingmu!’
“Kulihat, ada tiga buah melon tergeletak di sebelahku.
“Ia berkata, ‘Makanlah satu dari buah melon itu dan sisanya engkau simpan sebagai bekal perjalananmu dan tempuhlah jalan ini. (Orang itu menunjukkan jalan kepadanya, penj.). Menjelang matahari tenggelam, engkau akan sampai di sebuah kemah. Merekalah yang akan menuntun jalan untukmu sampai pada kafilah yang engkau ingin susul.’
“Setelah berkata-kata, orang itu pun menghilang. Seketika aku mengerti bahwa orang itu adalah Imam Mahdi ajf.
“Sesuai dengan petunjuknya, aku makan satu dari buah melon itu. Aku merasa sedikit pulih dan kuat untuk melanjutkan perjalanan. Pada hari berikutnya, aku makan lagi satu dari buah melon itu dan kembali melanjutkan perjalanan.
“Sebagaimana yang beliau katakan, sebelum Maghrib aku berhasil tiba di kemah yang dimaksudkan oleh beliau. Orang-orang yang berada di kemah itu mengajakku masuk ke dalam dan mereka menjamuku dengan ramah. Setelah itu, mereka menunjukkan jalan kepadaku untuk dapat menyusul kafilah.”
Mungkinkah Berusia Sepanjang Itu?
Pada dasarnya, ilmu pengetahuan—seperti Fisiologi—menegaskan ihwal raga manusia yang tersusun dari miliaran sel. Dengan berlalunya waktu, sel-sel tersebut menjadi tua, usang, lalu punah, digantikan oleh sel-sel yang lebih muda. Demikianlah bagaimana daur kehidupan berputar.
Sesuatu yang menjadikan manusia menjadi usang, menghentikan sel-sel itu dari aktifitasnya, dan dapat membawa kematian kepada manusia adalah bakteri dan virus yang berbahaya yang menerobos masuk ke dalam raga manusia dengan berbagai cara dan menyerang sel-sel aktif itu, lalu membinasakannya.
Ilmu Kedokteran (pencegahan dan pengobatan penyakit) merupakan bukti yang kuat, bahwa jika manusia menguasai ilmu pengetahuan dengan sempurna, mengenal dengan baik keadaan tubuhnya dan zat-zat yang berbahaya, merawat kesehatannya dan teliti dalam memilih makanan, maka hidupnya di dunia ini akan berlangsung lama. Ia tidak akan segera mengalami ketuaan.
Dalam pandangan para ilmuwan, mereka telah mampu memperpanjang kehidupan beberapa hewan melalui beberapa eksperimen. Dengan cara seperti ini dan berkat manfaat ilmu pengetahuan yang semakin menyebar dan menerapkan pola dan aturan kesahatan yang ketat, manusia dapat hidup lebih lama hingga beberapa abad.
Seorang ilmuwan telah sekian tahun berusaha mencari dan menyingkap tirai ilmu pengetahuan, untuk sekedar mengenal sekelumit dari rahasianya. Akan tetapi, Imam Mahdi ajf menerima anugerah seluruh khazanah ilmu pengetahuan itu. Dengan anugerah Ilahi itulah beliau tidak kesulitan untuk melintasi jalan-jalan yang ditempuh oleh para ilmuwan tersebut.
Dengan cara seperti ini, tidak akan menjadi mustahil—dari sudut pandang ilmu pengetahuan—bahwa Imam Mahdi ajf dengan keluasan ilmu yang diberikan Allah SWT kepadanya, dapat menjalani hidupnya untuk ratusan tahun dengan tetap sehat dan muda. Ketuaan dan kerentaan tidak berlaku padanya.
Di sisi lain, usia panjang Imam Mahdi tidak begitu ajaib daripada dipadamkannya api Namrud oleh Nabi Ibrahim as, dibelahnya sungai Nil oleh Nabi Musa as dan diubahnya beberapa orang menjadi ular. Semua itu menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah SWT.
Berkenaan dengan masalah ini, Al-Qur’an dan sejarah umat manusia memberikan teladan dan contoh beberapa nabi yang berusia panjang, dan juga termasuk orang-orang biasa. Sebagai contoh, Nabi Nuh as yang telah hidup selama 950 tahun, atau Lukman as yang telah hidup selama 400 tahun.
Demikian juga Bukht Nashr mampu hidup selama 1507 tahun, Nabi Sulaiman selama 712 tahun, dan Raja India, Firoze Rai selama 537 tahun.
Fakta-fakta yang tersebut di atas tadi merupakan bukti bahwa lamanya hidup seseorang di dunia tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Dan ini bisa saja terjadi di setiap zaman.
Bagaimana Imam Al-Mahdi Mengungguli Kekuatan Dunia?
Ketika para pemikir dan orang-orang pintar dunia sibuk dalam perlombaan senjata-senjata pemusnah massal, tampaknya tidak ada tanda-tanda perdamaian. Dunia ini tetap saja membara dengan peperangan dan ketidakadilan. Kutub-kutub kekuatan dunia terus berambisi untuk meluaskan kekuasaan dan wilayahnya melalui campur tangan perang.
Dengan keadaan dan kondisi yang menguatirkan dan mengenaskan ini, kerusakan semakin merejalela dalam kehidupan umat manusia, dan dosa serta kejahatan terus meluas.
Dalam keadaan seperti ini, medan penyambutan sebuah pemerintahan yang adil dan bebas dari perang serta agresi akan menjadi kenyataan. Seluruh bangsa-bangsa akan merasa jenuh dan muak dengan kezaliman pemerintahan mereka yang hanya memikirkan pengembangan kejahatan dan ketidakadilan yang membuat dunia runtuh. Persis sebagaimana kemunculan bintang cerlang Islam di daerah Hijaz, pun demikian setelah lima abad dalam kubangan tirani Jahiliyyah, adalah sebuah medan yang patut dipersiapkan untuk menyambut kemunculan Nabi Islam Muhammad saw.
Masyarakat yang teraniaya bersiap-siap menerima Islam dan panggilan Tauhid Allah serta Keadilan Nabi saw. Sekelompok manusia menerima Islam sebagai panji pergerakan mereka.
Jika kita amati revolusi-revolusi yang meletus di seluruh dunia, kita temukan bahwa keberhasilan para pemimpin mengusung sebuah revolusi adalah landasanguna mewujudkan medan dalam sebuah masyarakat yang menumbuhkan kekecewaan dan kebencian besar mereka terhadap para penguasa zalim akibat pemerintahan mereka yang tidak adil. Medan semacam ini akan mengantarkan para pemimpin sampai kepada tampuk kekuasaan.
Berdasarkan keyakinan itu, revolusi Imam Mahdi akan terlaksana secara alami, yang seiring dengan munculnya medan yang siap dan memadai di tengah masyarakat. Karena, revolusi agung Imam Mahdi akan bersifat global dan tidak terbatas pada suatu tempat. Oleh karena itu, seluruh masyarakat dunia harus bersedia untuk menyongsong revolusi agung itu di tengah keadaan mereka saat itu sesuai dengan apa yang disingkapkan oleh Rasulullah saw, “Kekejaman, kedurjanaan, dan kerusakan akan merajalela di seluruh dunia.”
Tekanan yang hebat dari pemerintahan zalim akan membuat bangsa-bangsa menjadi hulu ledak yang besar, sehingga mereka akan saling bahu-membahu menghadapinya. Dan masyarakat yang selama ini diperlakukan secara tidak adil dan tidak beradab akan memenuhi panggilan nurani mereka. Ibarat buah yang matang di pohonnya, akan jatuh ke tanah hanya dengan sedikit goyangan.
Dalam kondisi seperti ini, seluruh kekuatan dunia, betapapun mereka dilengkapi dengan persenjataan militer yang canggih, tidak akan dapat membendung dan menghentikan kebangkitan dan revolusi agung ini, meskipun dengan cara pembantaian massal.
Pada saat dunia menghadapi kekalahan dan kelesuan jiwa, mereka membutuhkan seorang pemimpin yang luar biasa. Yaitu, seorang pemimpin yang lengkap dengan pengetahuan, kesadaran sejarah, mengenal seluruh tingkat kebudayaan manusia dengan baik, dan bergaul aktif secara langsung, serta sanggup mengamati secara cermat akan perubahan-perubahan sejarah dan seluruh kejahatan-kejahatan di masa lampau.
Dialah yang menjadi hujjah dan penegak amanah Ilahi yang menyerukan janji keadilan dan kemanusiaan di bumi, menghimpun orang-orang yang tertindas di seluruh dunia untuk meruntuhkan pemerintahan-pemerintahan penindas. Daripada meluangkan tenaga demi pemusnahan dan penghancuran satu sama lainnya, mereka menggalang persatuan secara menata, sehingga mendapatkan tenaga dan sumber-sumbernya demi kemakmuran dan kesejahteraan satu sama lainnya.
Dialah Imam Al-Mahdi ajf yang akan mewujudkan sebuah dunia yang bebas dari rasa takut, cemas dan memenuhinya dengan berkat dan rahmat.[]
Riwayat Singkat Imam Al-Mahdi
Nama : Muhammad.
Gelar : Al-Hadi, Al-Mahdi dan Al-Qa’im.
Julukan : Abul Qasim.
Ayah : Imam Hasan Al-Askari as.
Ibu : Nargis Khatun.
Kelahiran : Samarra, 256 Hijriah.
Imam Muhammad Al-Baqir a.s.
a. Biografi Singkat Imam Muhammad Al-Baqir a.s.
Imam Muhammad Al-Baqir a.s. dilahirkan di Madinah pada tanggal 1 Rajab atau 3 Shafar 57 H. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan ibunya adalah Fathimah binti Imam Hasan Al-Mujtaba a.s. yang lebih dikenal dengan julukan Ummu Abdillah. Dengan demikian, nasabnya bersambung ke Bani Hasyim, baik dari sisi ayah maupun ibu.
Imam Baqir a.s. syahid pada hari Senin, 7 Dzul Hijjah 114 H. dalam usia 57 tahun. Ia diracun oleh Hisyam bin Abdul Malik, salah seorang khalifah Bani Umaiyah, dan dikuburkan di pemakaman Baqi’.
Ia adalah salah seorang anak kecil yang ditawan (oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad) pada peristiwa berdarah Karbala`. Pada waktu itu ia masih berusia 3,6 tahun dan 10 hari.
Imam Baqir a.s. dikenal karena keluasan ilmu dan takwanya. Ia selalu menjadi rujukan muslimin dalam setiap problema. Keberadaan Imam Baqir a.s. adalah sebuah pengantar bagi perbaikan umat. Masyarakat mengenalnya sebagai putra orang-orang luhur yang rela mengorbankan jiwa dan raga mereka demi mencegah penyelewengan umat yang hampir saja memusnahkan Islam. Dengan pengorbanan mereka ini, diharapkan muslimin dapat mengetahui bahwa para penguasa yang memerintah atas nama Islam tidak seperti kenyataan di alam realita. Mereka tidak pernah mau untuk mempraktekkan Islam dalam pemerintahan mereka.
Imam Baqir a.s. mengambil keputusan untuk mengekspos penyelewengan para penguasa dari garis Islam tersebut kepada khalayak ramai, dan memahamkan kepada mereka bahwa peristiwa itu bukan sekedar mimpi belaka.
Hisyam bin Abdul Malik, seorang khalifah dinasti Bani Umaiyah ketika melihat Imam Baqir a.s. dan bertanya siapakah dia, masyarakat di sekelilingnya menjawab bahwa ia adalah seorang yang dikagumi oleh penduduk Kufah. Orang ini adalah pemimpin Irak.
Ketika musim haji tiba, ribuan muslim yang berasal dari Irak, Khurasan dan kota-kota lain bertanya kepadanya tentang banyak hal mengenai Islam. Hal ini menunjukkan betapa ia sangat berpengaruh di dalam hati umat manusia.
Fuqaha` dari berbagai aliran dan disiplin ilmu sering mengadakan dialog dengan Imam Baqir a.s. berkenaan dengan permasalahan-permasalahan ilmiah yang sangat pelik dengan tujuan untuk mempermalukannya di hadapan khalayak. Akan tetapi, dengan jawaban-jawaban yang mematikan dan memuaskan ia memaksa mereka untuk bertekuk lutut di hadapannya.
“Universitas” Imam Baqir a.s. adalah sebuah tempat penting bagi para ilmuwan dan muhaddis yang pernah belajar darinya. Jabir Al-Ja’fi berkata: “Abu Ja’far a.s. meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis kepadaku”. Muhammad bin Muslim berkata: “Dalam setiap permasalahan yang kuanggap sulit, aku pasti menanyakannya kepada Abu Ja’far a.s. sehingga aku mendapatkan tiga puluh ribu hadis darinya”.
Imam Baqir a.s. pernah berkata tentang pengikut Syi’ah: “Para pengikut kami, Syi’ah Ali akan membela kami sepenuh hati dan demi menjaga agar agama tetap hidup mereka selalu bersatu dalam membela kami. Jika mereka marah, kemarahan tidak akan menjadikan mereka berbuat zalim, dan jika mereka sedang bahagia, mereka tidak akan melampaui batas. Mereka adalah sumber berkah bagi tetangganya dan dalam menghadapi para penentang, mereka selalu memilih jalan damai. Syi’ah kami taat kepada Allah”.
b. Sikap Imam Baqir a.s. terhadap Para Khalifah Zalim
Imam Baqir a.s. hidup sezaman dengan lima khalifah dinasti Bani Umaiyah. Mereka adalah Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz, Yazid bin Abdul Malik dan Hisyam bin Abdul Malik. Mereka semua kecuali Umar bin Abdul Aziz tidak kalah dengan para pendahulunya dalam berbuat lalim dan selalu membuat problema baginya. Akan tetapi, dengan situasi dan kondisi yang seperti ini, ia masih menyempatkan diri untuk mendidik dan mengajar para muridnya sebagai sebuah gebrakan baru dalam bidang ilmiah. Dengan ini ia ingin untuk membentuk sebuah pusat ilmu keislaman yang pada masa imamah putranya, Imam Shadiq a.s. pusat tersebut membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Metode tabligh para imam Syi’ah, khususnya Imam Sajjad dan Imam Baqir a.s. adalah metode tabligh bawah tanah (under ground) sehingga tidak seorang pun yang mengetahui kegiatan-kegiatan mereka. Metode tabligh bawah tanah ini ketika suatu hari bocor dan muncul ke permukaan, dapat membuat para khalifah marah besar. Hal inilah yang memaksa mereka untuk mengasingkan dan memenjara para imam a.s. Akhirnya, Imam Baqir a.s. yang selalu menjadi pusat kemarahan penguasa saat itu syahid diracun pada 114 H. Jenazahnya dikuburkan di samping kuburan ayahnya di pekuburan Baqi’.
c. Keutamaan dan Ilmu Imam Baqir a.s.
Imam Baqir a.s. pada masa imamahnya telah berhasil menyebarkan pengetahuan, khususnya dalam bidang hukum dan fiqih. Di samping ikut aktif dalam menangani problema ilmiah yang berkembang waktu itu, ia juga aktif mendidik para murid handal seperti Muhammad bin Muslim, Zurarah bin A’yan, Abu Nashir, Hisyam bin Salim, Jabir bin Yazid, Hamran bin A’yan dan Buraid bin Mu’awiyah Al-’Ajali.
Imam Baqir a.s. adalah kebanggaan Bani Hasyim pada zamannya dalam zuhud, takwa dan akhlak. Keilmuannya dikenal di seluruh penjuru negeri sehingga ia dijuluki dengan baaqirul uluum (penyingkap rahasia ilmu pengetahuan).
Seorang ulama besar Ahlussunnah yang bernama Ibnu Hajar Al-Haitsami menulis: “Muhammad Al-Baqir telah menyingkap rahasia ilmu pengetahuan dan menjelaskan hakikat hukum dan hikmah ilmu pengetahuan sehingga hal itu tidak tersembunyi kecuali bagi orang-orang yang bodoh atau berhati kotor. Oleh karena itu, ia dikenal dengan julukan penyingkap rahasia ilmu, pemilik rahasia dan pengibar bendera ilmu pengetahuan”.
Abdullah bin ‘Atha`, salah seorang ilmuwan yang hidup sezaman dengan Imam Baqir a.s. berkata: “Saya tidak pernah melihat para ilmuwan Islam kecil dan hina kecuali ketika mereka menghadiri majelis ilmiah Muhammad bin Ali (Al-Baqir)”.
d. Lomba Memanah
Hisyam bin Abdul Malik memutuskan untuk mengundang Imam Baqir a.s. mengikuti lomba memanah. Tujuannya adalah supaya ia hina di hadapan khalayak ketika ia kalah dalam perlombaan tersebut. Dengan ini, sebelum Imam Baqir a.s. memasuki istana Khalifah, ia memerintahkan beberapa prajurit istana untuk memasang tempat sasaran panah (yang terbuat dari kayu) dan mulai memanah.
Imam Baqir a.s. masuk ke istana dan duduk di sebuah tempat. Hisyam berkata kepadanya: “Tidakkah Anda ingin mengikuti lomba memanah?” “Usiaku sudah tua dan masa memanahku sudah lewat. Maafkanlah aku!”, jawabnya pendek. Hisyam yang merasa menemukan kesempatan untuk mengalahkannya, memaksanya untuk mengikuti perlombaan tersebut. Akhirnya ia memerintahkan salah seorang pembesar Bani Umaiyah untuk memberikan panahnya kepada Imam Baqir a.s.
Imam Baqir a.s. mengambil panah tersebut dan bersiap siaga untuk membidikkan panahnya. Panah meluncur kencang dan tepat mengenai tengah sasaran. Ia bersiap siaga kembali untuk memanah. Panah kedua meluncur kencang memecahkan tangkai panah sebelumnya dan tepat menancap di tengahnya. Demikian seterusnya hingga panah kesembilan. Kemahiran Imam Baqir a.s. memanah ini membuat orang-orang yang hadir menganga keheranan. Hisyam bin Abdul Malik yang melihat rencananya gagal total, juga ikut merasa heran seraya berseloroh: “Sangat bagus wahai Abu Ja’far! Kamu adalah kebanggaan para pemanah Arab dan ‘Ajam. Tidak masuk akal jika engkau berkata saya sudah tua”. Akhirnya ia menundukkan kepala dan hanyut dalam pikirannya.
Pada kesempatan ini kami haturkan hadis-hadis pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Baqir a.s. dengan harapan hadis-hadis tersebut dapat menjadi pelita penerang jalan kita dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah.
1.Akibat baik dan buruk
“Alangkah mungkin orang yang tamak kepada dunia akan mendapatkannya di dunia. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan seluruhnya, dunia itu akan menjadi bala` baginya dan ia menjadi sengsara karenanya. Dan alangkah mungkin seorang membenci urusan akhirat. Akan tetapi, ia dapat menggapainya kemudian dan ia hidup bahagia karenanya”.
2. Keutamaan terbaik dan jihad terbaik
“Tiada keutamaan seperti jihad dan tiada jihad seperti menentang hawa nafsu”.
3. Jiwa yang agung
“Kuwasiatkan lima hal kepadamu: (1) jika engkau dizalimi, jangan berbuat zalim, (2) jika mereka mengkhianatimu, janganlah engkau berkhianat, (3) jika engkau dianggap pembohong, janganlah marah, (4) jika engkau dipuji, janganlah gembira, dan (5) jika engkau dicela, kontrollah dirimu”.
4. Ambillah nasihat yang baik
“Ambillah nasihat baik dari orang yang mengucapkannya meskipun ia tidak mengamalkannya”.
5. Indahnya kesabaran yang disertai dengan ilmu
“(Jika sesuatu digabung dengan yang lain), tidak ada gabungan yang lebih indah dari kesabaran yang digabung dengan ilmu”.
6. Kesempurnaan yang paling sempurna
“Kesempurnaan yang paling sempurna adalah tafakkuh (mendalami) agama, sabar menghadapi musibah dan ekonomis dalam mengeluarkan biaya hidup”.
7. Tiga kriteria agung
“Tiga hal adalah kemuliaan dunia dan akhirat: memaafkan orang yang menzalimimu, menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, dan sabar ketika engkau diperlakukan sebagai orang bodoh”.
8. Kontinyu dalam berdoa
“Sesungguhnya Allah membenci seseorang yang meminta-minta kepada orang lain berkenaan dengan kebutuhannya, dan menyukai hal itu (jika ia meminta kepada)-Nya. Sesungguhnya Ia suka untuk diminta setiap yang dimiliki-Nya”.
9. Keutamaan orang alim atas ‘abid
“Seorang alim yang dapat dimanfaatkan ilmunya lebih utama dari tujuh puluh ribu ‘abid”.
10. Dua karakter orang alim
“Seorang hamba bisa dikatakan alim jika ia tidak iri kepada orang yang berada di atasnya dan tidak menghina orang yang berada di bawahnya”.
11. Tiga pahala
“Jika mulut seseorang berkata jujur, maka perilakunya akan bersih, jika niatnya baik, maka rezekinya akan ditambah, dan jika ia berbuat baik kepada keluarganya, maka umurnya akan ditambah”.
12. Tinggalkanlah kemalasan
“Janganlah malas dan suka marah, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Barang siapa yang malas, ia tidak akan dapat melaksanakan hak (orang lain), dan barang siapa yang suka marah, maka ia tidak akan sabar mengemban kebenaran”.
13. Penyesalan di hari kiamat
“Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah orang yang berbicara keadilan dan ia sendiri tidak melaksanakannya”.
14. Buah silaturahmi
“Silaturahmi dapat membersihkan amalan, memperbanyak harta, menghindarkan bala`, mempermudah hisab (di hari kiamat) dan menunda ajal tiba”.
15. Berucap ramah dengan orang lain
“Ucapkanlah kepada orang lain kata-kata terbaik yang kalian senang jika mereka mengatakan itu kepadamu”.
16. Hadiah Ilahi
“Allah akan memberikan hadiah bala` kepada hamba-Nya yang mukmin sebagaimana orang yang bepergian akan selalu membawa hadiah bagi keluarganya, dan menjaganya dari (godaan) dunia sebagaimana seorang dokter menjaga orang yang sakit”.
17. Jujur dan melaksanakan amanat
“Bersikaplah wara’, berusahalah selalu, jujurlah, dan berikanlah amanat kepada orangnya, baik ia adalah orang baik maupun orang fasik. Seandainya pembunuh Ali bin Abi Thalib a.s. menitipkan amanat kepadaku, niscaya akan kuberikan kepadanya”.
18. Perbedaan antara ghibah dan tuduhan
“Ghibah adalah engkau membicarakan aib (yang dimiliki oleh saudaramu) yang Allah telah menutupnya (sehingga tidak diketahui oleh orang lain), dan menuduh adalah engkau membicarakan aib yang tidak dimiliki olehnya”.
19. Pencela dibenci Allah
“Allah membenci pencela yang tidak memiliki harga diri”.
20. Tanda-tanda rendah hati
“(Engkau dapat dikatakan rendah hati jika) engkau rela duduk di sebuah majelis yang lebih rendah dari kedudukanmu, mengucapkan salam kepada orang yang kau jumpai, dan menghindari debat meskipun engkau benar”.
21. Menjaga harga diri adalah ibadah terbaik
“Ibadah yang terbaik adalah menjaga perut dan kemaluan”.
22. Tanda-tanda Syi’ah sejati
“Syi’ah kami (yang sejati) adalah orang yang takut kepada Allah dan menaati-Nya”.
23. Sumber dosa adalah tidak kenal Allah
“Tidak akan bermaksiat kepada Allah orang yang mengenal-Nya”.
24. Akal adalah makhluk Allah terbaik
“Ketika Allah menciptakan akal, Ia berfirman kepadanya: “Kemarilah!” Ia pun menghadap. Ia berfirman kembali: “Mundurlah!” Ia pun mundur. Kemudian Ia berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih Kucintai darimu, dan Aku tidak akan menyempurnakanmu kecuali bagi orang yang Kucintai. Semua perintah, larangan, siksa dan pahala-Ku tertuju kepadamu”.
25. Hisab atas dasar akal
“Sesungguhnya Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya pada hari kiamat sesuai dengan kadar akal yang telah dianugerahkan kepada mereka di dunia.”
26. Pahala guru dan murid
“Sesungguhnya pahala orang yang mengajarkan ilmu adalah seperti pahala orang yang belajar darinya, dan ia masih memiliki kelebihan darinya. Oleh karena itu, pelajarilah ilmu dari ahlinya dan ajarkanlah kepada saudara-saudaramu sebagaimana ulama telah mengajarkannya kepadamu”.
27. Dosa mufti yang tidak berilmu
“Barang siapa yang mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang cukup, maka ia akan dilaknat oleh malaikat rahmat dan azab serta dosa orang yang mengamalkan fatwanya akan dipikul olehnya”.
28. Ulama neraka
“Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak dimiliki kecuali oleh ahlinya”.
29. Tanda-tanda seorang faqih
“Faqih yang sebenarnya adalah orang yang zahid terhadap dunia, rindu akhirat dan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah SAWW”.
30. Bergurau tanpa mencela
“Sesungguhnya Allah azza wa jalla menyukai orang-orang yang suka bergurau dengan orang lain dengan syarat tanpa cela-mencela”.
31. Azab untuk tiga kriteria
“Tiga kriteria yang penyandangnya tidak akan meninggal dunia kecuali ia telah merasakan siksanya: kezaliman, memutuskan tali silaturahmi dan bersumpah bohong, yang dengan sumpah tersebut berarti ia telah berperang melawan Allah”.
32. Yang disukai Allah
“Sesuatu yang paling utama di sisi Allah adalah engkau meminta segala yang dimiliki-Nya”.
33. Kontinyu dalam doa
“Demi Allah, seorang hamba tidak berdoa kepada-Nya terus menerus kecuali Ia akan mengabulkannya”.
34. Berdoa di waktu sahar
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu, berdoalah pada waktu sahar hingga matahari terbit, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan”.
35. Berdoa untuk orang lain
“Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seorang hamba untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya”.
36. Mata-mata yang tidak akan menangis
“Semua mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga mata: mata yang bangun malam di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada-Nya dan mata yang tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah”.
37. Orang yang tamak bak ulat sutra
“Perumpamaan orang yang tamak bagaikan ulat sutra. Ketika sutra yang melilitnya bertambah banyak, sangat jauh kemungkinan baginya untuk bisa keluar sehingga ia akan mati kesedihan di dalam sarangnya sendiri”.
38. Jangan berwajah dua
“Hamba yang paling celaka adalah hamba yang berwajah dan bermulut dua; ia memuji saudaranya di hadapannya dan menghibahnya di belakangnya, jika saudaranya itu dianugerahi nikmat, ia iri dan jika ia ditimpa musibah, ia menghinanya”.