cerita tentang ahlul bait, habib, sayyid, keluarga Nabi Muhammad SAW
Friday, March 28, 2008
Ketika Alawiyin Menggelar Maulid Nabi (2) Pesona Sang Habib Dari Hadramaut
PERHELATAN Maulid Akbar Nabi Besar Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Ikatan Pemuda Alawiyin (IKAPA) Kalsel kali ini boleh dibilang terobosan. Gairah menggelar acara dakwah ini dilandasi semangat untuk kebangkitan kembali kaum Alawiyin.
Habib Muhammad bin Shaleh Alatas
Posted by
ali
at
15:51:38
Comments
3 Responses to “Ketika Alawiyin Menggelar Maulid Nabi (2) Pesona Sang Habib Dari Hadramaut”
Dimotori oleh kaum muda antara lain Muhammad bin Ali Assegaf, Muhammad Al-Habsyi, Sulaiman bin Ibrahim Alaydrus, Hamid bin Alwi Al-Hamid, Abdullah bin Ali Al-Habsyi dan Ibrahim bin Alwi Al-Kaff, ide untuk menggelar peringatan Maulid bertujuan menguatkan tali silaturahmi dan menjalin Ukhuwah Islamiyah (persatuan dan persaudaraan sesama umat Islam).
Sebelumnya, terbetik bisik-bisik di luaran bahwa acara ini untuk kampanye menghidupkan paham golongan Syiah. Namun, para Alawiyyin muda terus bekerja mewujudkan rencana yang sudah disusun rapi.
“Mudah-mudahan nanti malam tak turun hujan,” kata Abdillah bin Salim Al-Kaff, salah satu panitia, di sore yang mendung menjelang persiapan acara.
Pemasangan tenda, menggelar permadani dan pembuatan panggung tempat penceramah dikerjakan secara gotong royong oleh pemuda Alawiyin dan warga masyarakat Jalan Sungai Mesa.
Kerja keras IKAPA mendapat simpati Habib Aboe Bakar Al-Habsyi, yang datang ke acara malam itu. Usai memberi sambutan, angggota Komisi V DPR RI yang juga memiliki darah Alawiyin ini menggelontorkan dana sebesar Rp10 juta.
Salah satu tamu istimewa yang datang menjadi pembicara di Maulid Akbar adalah Habib Muhammad bin Shaleh Alatas. Habib Muhammad datang-jauh-jauh dari Hadramaut (Yaman Selatan) dalam misi dakwah. Antara Habib Aboe Bakar rupanya masih ada hubungan kekerabatan dengan Habib Muhammad. Istri Habib Muhammad masih satu keluarga dengan ibu Habib Aboe Bakar, yakni sama-sama bermarga Alatas (Al-Athas).
Para sesepuh Alawiyin yang hadir seperti Habib Umar bin Husin Alaydrus, Habib Ali bin Muhammad Assegaf, Habib Abdurahman bin Alwi Assegaf dan Habib Agil bin Salim Bahsin, warga dan jamaah Langgar Al-Hinduan tampak serius menyimak kalimat-kalimat Habib Muhammad.
Ceramah Habib Muhammad yang disampaikan dalam bahasa Arab ini membuat acara Maulid Nabi di Sungai Mesa, pada malam ke-17 Rabiul Awwal (24/3) itu seakan memiliki ‘roh’. Tekanan dan nada bicara Habib yang tegas, dalam, dan berwibawa, menjadi magnet tersendiri bagi yang hadir. Terutama bagi kalangan muhibbin (pecinta keturunan Ahlul Bait Nabi).
Habib Muhammad mengajak jamaah yang hadir untuk bergembira menyambut kelahiran Baginda Nabi sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta). Bahkan, kata dia, kelahiran ‘Sang Pemberi Syafaat’ adalah hari raya terbesar bagi kaum muslimin.
Ia juga mengajak orang yang mengaku muslim menunjukkan cinta mereka kepada Rasulullah dengan hati dan perbuatan. Contoh ungkapan orang yang cinta, kata dia, batu yang dilewati dalam perjalanan Nabi saja mengucapkan salam kepada Rasulullah. Pohon kurma yang tidak punya akal dan tidak punya hati, tak mau kalah memperlihatkan cinta.
“Pohon kurma menjerit ketika tak lagi menjadi tempat bersandar Nabi. Bagaimana dengan kita? Kita harus menangis karena hati kita kotor. Tidak punya semangat seperti pohon kurma,” ungkapnya.
Di akhir ceramahnya, Habib Muhammad mengingatkan lagi pentingnya menjaga sikap dan perbuatan sebagai seorang makhluk ciptaan Allah SWT.
“Jagalah syariat, jagalah ketentuan Allah. Jauhi larangan Allah, laksanakan perintah-Nya. Takwa ada dalam hati. Yang telah masuk dalam hatinya taqwa, masuk perhatian Allah kepadanya,” katanya.
Usai berbicara dan begitu turun dari panggung, jamaah berdiri menyambutnya. Beberapa berebut untuk mencium tangan Sang Habib yang malam itu tampak gagah dengan jubah dan surban serba putih.
Sebagai pemuncak acara, Habib Zainal Abidin bin Muhsin Al-Hinduan mengajak hadirin untuk gemar berdzikir kepada Allah SWT dan bershalawat kepada Baginda Rasul.
Habib muda asal Situbondo, Jawa Timur ini juga menyatakan pentingnya menuntut ilmu. “Menurut Imam Ali, ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta warisan dari Qarun. Jika ingin kebaikan di dunia dan di akhirat, harus menggunakan ilmu,” kata Zen yang marga keluarganya dipakai untuk nama langgar bersejarah di Sungai Mesa itu.
Mendung di sore hari, dan kekhawatiran acara akan terkendala hujan yang sering menyiram Kota Banjarmasin tak terjadi hingga acara berakhir pada jam 22.50. Malam itu cuaca seolah bersahabat. Alawiyin dan warga masyarakat Sungai Mesa pun bergembira bersama menikmati hidangan yang telah disediakan. ali
Dimotori oleh kaum muda antara lain Muhammad bin Ali Assegaf, Muhammad Al-Habsyi, Sulaiman bin Ibrahim Alaydrus, Hamid bin Alwi Al-Hamid, Abdullah bin Ali Al-Habsyi dan Ibrahim bin Alwi Al-Kaff, ide untuk menggelar peringatan Maulid bertujuan menguatkan tali silaturahmi dan menjalin Ukhuwah Islamiyah (persatuan dan persaudaraan sesama umat Islam).
Sebelumnya, terbetik bisik-bisik di luaran bahwa acara ini untuk kampanye menghidupkan paham golongan Syiah. Namun, para Alawiyyin muda terus bekerja mewujudkan rencana yang sudah disusun rapi.
“Mudah-mudahan nanti malam tak turun hujan,” kata Abdillah bin Salim Al-Kaff, salah satu panitia, di sore yang mendung menjelang persiapan acara.
Pemasangan tenda, menggelar permadani dan pembuatan panggung tempat penceramah dikerjakan secara gotong royong oleh pemuda Alawiyin dan warga masyarakat Jalan Sungai Mesa.
Kerja keras IKAPA mendapat simpati Habib Aboe Bakar Al-Habsyi, yang datang ke acara malam itu. Usai memberi sambutan, angggota Komisi V DPR RI yang juga memiliki darah Alawiyin ini menggelontorkan dana sebesar Rp10 juta.
Salah satu tamu istimewa yang datang menjadi pembicara di Maulid Akbar adalah Habib Muhammad bin Shaleh Alatas. Habib Muhammad datang-jauh-jauh dari Hadramaut (Yaman Selatan) dalam misi dakwah. Antara Habib Aboe Bakar rupanya masih ada hubungan kekerabatan dengan Habib Muhammad. Istri Habib Muhammad masih satu keluarga dengan ibu Habib Aboe Bakar, yakni sama-sama bermarga Alatas (Al-Athas).
Para sesepuh Alawiyin yang hadir seperti Habib Umar bin Husin Alaydrus, Habib Ali bin Muhammad Assegaf, Habib Abdurahman bin Alwi Assegaf dan Habib Agil bin Salim Bahsin, warga dan jamaah Langgar Al-Hinduan tampak serius menyimak kalimat-kalimat Habib Muhammad.
Ceramah Habib Muhammad yang disampaikan dalam bahasa Arab ini membuat acara Maulid Nabi di Sungai Mesa, pada malam ke-17 Rabiul Awwal (24/3) itu seakan memiliki ‘roh’. Tekanan dan nada bicara Habib yang tegas, dalam, dan berwibawa, menjadi magnet tersendiri bagi yang hadir. Terutama bagi kalangan muhibbin (pecinta keturunan Ahlul Bait Nabi).
Habib Muhammad mengajak jamaah yang hadir untuk bergembira menyambut kelahiran Baginda Nabi sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta). Bahkan, kata dia, kelahiran ‘Sang Pemberi Syafaat’ adalah hari raya terbesar bagi kaum muslimin.
Ia juga mengajak orang yang mengaku muslim menunjukkan cinta mereka kepada Rasulullah dengan hati dan perbuatan. Contoh ungkapan orang yang cinta, kata dia, batu yang dilewati dalam perjalanan Nabi saja mengucapkan salam kepada Rasulullah. Pohon kurma yang tidak punya akal dan tidak punya hati, tak mau kalah memperlihatkan cinta.
“Pohon kurma menjerit ketika tak lagi menjadi tempat bersandar Nabi. Bagaimana dengan kita? Kita harus menangis karena hati kita kotor. Tidak punya semangat seperti pohon kurma,” ungkapnya.
Di akhir ceramahnya, Habib Muhammad mengingatkan lagi pentingnya menjaga sikap dan perbuatan sebagai seorang makhluk ciptaan Allah SWT.
“Jagalah syariat, jagalah ketentuan Allah. Jauhi larangan Allah, laksanakan perintah-Nya. Takwa ada dalam hati. Yang telah masuk dalam hatinya taqwa, masuk perhatian Allah kepadanya,” katanya.
Usai berbicara dan begitu turun dari panggung, jamaah berdiri menyambutnya. Beberapa berebut untuk mencium tangan Sang Habib yang malam itu tampak gagah dengan jubah dan surban serba putih.
Sebagai pemuncak acara, Habib Zainal Abidin bin Muhsin Al-Hinduan mengajak hadirin untuk gemar berdzikir kepada Allah SWT dan bershalawat kepada Baginda Rasul.
Habib muda asal Situbondo, Jawa Timur ini juga menyatakan pentingnya menuntut ilmu. “Menurut Imam Ali, ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta warisan dari Qarun. Jika ingin kebaikan di dunia dan di akhirat, harus menggunakan ilmu,” kata Zen yang marga keluarganya dipakai untuk nama langgar bersejarah di Sungai Mesa itu.
Mendung di sore hari, dan kekhawatiran acara akan terkendala hujan yang sering menyiram Kota Banjarmasin tak terjadi hingga acara berakhir pada jam 22.50. Malam itu cuaca seolah bersahabat. Alawiyin dan warga masyarakat Sungai Mesa pun bergembira bersama menikmati hidangan yang telah disediakan. ali