$theTitle=wp_title(" - ", false); if($theTitle != "") { ?>
cerita tentang ahlul bait, habib, sayyid, keluarga Nabi Muhammad SAW
Dua foto dimaksud adalah Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik) dan Habib Saleh Tanggul (Jember). Di kamar tamu lainnya adapula foto seorang habib yang dikenal dengan panggilan Habib Neon (Surabaya).
One Response
Ada alasan khusus nampaknya mengapa foto-foto itu yang dipajang. “Yang mengenalkan orang Banjar cinta dengan para habaib itu kakek saya,” ujar Abah Anang, panggilan akrab ulama khasrimatik ini.
Abah Anang lantas bercerita kakeknya dari pihak bapak, H Abdul Kadir Banjar, yang tinggal di Tangerang dulu sering bersilaturrahmi kepada Sayyid Usman Bin Abdullah Bin Yahya. Mufti Batavia abad ke-19 (kelahiran Pekojan, Jakarta 1 Desember 1822 dan meninggal dunia di Pondok Bambu, Jakarta 20 Januari 1914) ini merupakan sahabat dekat Abdul Kadir Banjar.
Ayah beliau Habib Abdullah bin Agil bin Umar Bin Yahya adalah menantu seorang ulama Mesir yang juga bermukim di Pekojan yaitu Syekh Abdurrahman bin Ahmad Al-Misri. Ibunya adalah Aminah binti Abdurrahman Al-Misri.
“Kakek dulu sering membawa abah ke tempat Sayyid Usman. Kebiasaan ini berlanjut, abah membawa saya kalau bersilaturrahmi ke sejumlah tokoh habaib waktu kami tinggal di Surabaya,” ujar Abah Anang.
Sebagai catatan, H Abdul Kadir Banjar adalah saudagar intan berlian yang berniaga ke Singapura dan terakhir bermukim di Kampung Kali Pasir, Tangerang karena menikah dengan wanita Banten. Beliau meninggal dunia tahun 1923 (dalam usia 90-an tahun) dan bermakam di Kampung Kali Pasir, Tangerang.
Ayahanda Abah Anang, KH Seman, bahkan kelahiran Tangerang, sebelum akhirnya bermukim di Surabaya. “Ini saya waktu ikut abah berkunjung ke Habib Neon,” ujar Abah Anang, menjelaskan foto di ruang tamunya saat masih muda tengah memangku seorang sayyid kecil.
Ditarik garis ke belakang, hubungan batin antara keluarga Abah Anang dengan keluarga sayyid sudah terbangun sejak zaman Datu Kalampayan (Syekh Muhammad Arsyad). Datu Kelampayan merupakan anggota empat serangkai bersama bersama Syekh Abdussamad Palimbani, Syekh Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdurrahman Al-Misri (kakek Sayyid Usman Bin Yahya). Mereka berempat merupakan murid Syekh Muhammad Samman Al-Madani, pendiri tarekat Samman yang adalah keturunan Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Bagi kalangan muhibbin (para pecinta ahlul bait), memasang foto-foto pemuka habaib memiliki arti sendiri. Selain itu ada pula kebiasaan mencium tangan sebagai tanda penghormatan.
Orang Banjar, terutama yang tinggal di Martapura dikenal sangat menghormati ulama, apalagi jika diketahui berasal dari golongan sayyid.
Kediaman Habib Abdurrahman Barakbah di sekitar Jalan Pangeran Hidayatullah Martapura, misalnya, tak pernah sepi dari tamu yang datang dengan pelbagai maksud dan hajat. Beberapa orangtua yang datang meminta agar anaknya lancar dalam soal sekolah, yang lainnya berharap agar urusan dagangnya laku. Ada lagi yang minta didoakan soal hubungan rumah tangga. Habib Abdurrahman biasa terbuka melayani tamunya selepas shalat Ashar hingga pukul 5 sore.
Begitu pula yang terlihat di kediaman Habib Abdullah Alaydrus di sekitar Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Penulis pernah menyaksikan seorang yang datang dengan maksud didoakan agar lulus dalam ujian penerimaan PNS.
Keduanya boleh dikatakan dua habaib paling sepuh yang saat ini hidup di Martapura. Setiap ada acara keagamaan umat ‘memaksa’ keduanya untuk berdoa buat mereka. Tubuh mereka pun menjadi rebutan pelukan dan ciuman umat yang mencintai para keturunan ahlul bait. (bersambung) ali
Leave a reply