Pejuang Sejati Yang Gugur Di Jalan Allah
Oct 1, 2007
ali | Uncategorized
KECINTAAN yang mendalam Imam Ali kepada Rasulullah benar-benar terbukti lewat perjuangannya. Penderitaan dan kesedihan dalam medan perjuangan mewarnai kehidupannya. Namun, penderitaan dan kesedihan yang paling dirasakan adalah saat ditinggalkan Rasulullah SAW. Tidak cukup itu, 75 hari kemudian istrinya, Fatimah Zahra, juga meninggal dunia.
One Response
Kepergian Rasulullah SAW telah membawa angin lain dalam kehidupan Imam Ali r.a. Terjadinya pertemuan Saqifah yang menghasilkan pemilihan khalifah pertama, baru didengarnya setelah pulang dari kuburan Rasulullah SAW. Sebab, pemilihan khalifah itu menurut sejarah memang terjadi saat Rasulullah belum dimakamkan. Pada tahun ke-13 H, khalifah pertama, Abu Bakar as-Shiddiq, meninggal dunia dan menunjuk khalifah ke-2, Umar bin Khathab sebagai penggantinya. Sepuluh tahun lamanya khalifah ke-2 memimpin dan pada tahun ke-23 H, beliau juga wafat. Namun, sebelum wafatnya, khalifah pertama telah menunjuk 6 orang calon pengganti dan Imam Ali r.a. termasuk salah seorang dari mereka. Kemudian terpilihlah khalifah Utsman bin Affan.
Pada tahun 35 H, khalifah Utsman terbunuh dan kaum muslimin secara demokrasi memilih serta menunjuk Imam Ali sebagai khalifah dan pengganti Rasulullah SAW dan sejak itu beliau memimpin negara Islam tersebut.
Selama masa kekhalifahannya yang hampir 4 tahun 9 bulan, Ali mengikuti cara Nabi dan mulai menyusun sistem yang islami dengan membentuk gerakan spiritual dan pembaharuan.
Dalam merealisasikan usahanya, beliau menghadapi banyak tentangan dan peperangan, sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan pembaharuan yang dicanangkannya dapat merobohkan dan menghancurkan keuntungan-keuntungan pribadi dan beberapa kelompok yang merasa dirugikan.
Akhirnya, terjadilah perang Jamal dekat Bashrah antara beliau dengan Talhah dan Zubair yang didukung oleh Mua’wiyah, yang mana di dalamnya Aisyah ‘Ummul Mukminin’ ikut keluar untuk memerangi Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Peperangan pun tak dapat dihindari, dan akhirnya pasukan Imam Ali r.a. berhasil memenangkan peperangan itu sementara Aisyah ‘Ummul Mukminin’ dipulangkan secara terhormat ke rumahnya. Perang Jamal adalah perang saudara pertama dalam sejarah Islam karena konflik yang dihadapi oleh keluarga Nabi sendiri.
Kemudian terjadi perang Siffin, yaitu peperangan antara beliau melawan kelompok Mu’awiyah, sebagai kelompok oposisi untuk kepentingan pribadi yang ‘merampas’ negara yang sah.
Peperangan itu terjadi di perbatasan Irak dan Syiria dan berlangsung selama setengah tahun. Beliau juga memerangi Khawarij (orang yang keluar dan lingkup Islam) di Nahrawan, yang dikenal dengan nama perang Nahrawan.
Hampir sebagian besar hari-hari pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. digunakan untuk peperangan intern melawan pihak-pihak oposisi yang sangat merugikan negara Islam.
Akhirnya, menjelang Subuh, 19 Ramadhan 40 H, ketika sedang shalat di Masjid Kufah, kepala beliau ditebas dengan pedang beracun oleh Abdurrahman bin Muljam. Imam Ali akhirnya menghadap Illahi pada malam Jumat, 21 Ramadhan 40 H. Menjelang wafatnya, pria sejati ini masih sempat memberi makan kepada pembunuhnya.
Singa Allah, yang dilahirkan di rumah Allah ‘Ka’bah’ dan dibunuh di rumah Allah ‘Mesjid Kufah’, yang mempunyai hati paling berani, yang selalu berada dalam didikan Rasulullah SAW sejak kecilnya serta selalu berjalan dalam ketaatan pada Allah hingga hari wafatnya, telah mengakhiri kehidupan dan pengabdiannya untuk Islam.
Beliau memang telah tiada namun itu tidak berarti seruannya telah berakhir. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.S:2:154) (bersambung) sumber :www.asyraaf.com
Profile Imam Ali
Nama : Ali bin Abi Thalib r.a.
Gelar : Amirul Mukminin
Julukan : Abu Al-Hasan, Abu Turab
Ayah : Abu Thalib (Paman Rasulullah SAW)
Ibu : Fatimah binti Asad
Lahir : Mekkah, Jumat 13 Rajab
Wafat : Malam Jumat, 21 Ramadhan 40 H.
Umur : 63 Tahun
Makam : Najaf Al-Syarif, Irak
Jumlah Anak : 36 Orang, 18 laki-laki dan 18 perempuan
Anak laki-laki : 1. Hasan Mujtaba, 2. Husein, 3. Muhammad Hanafiah, 4. Abbas al-Akbar, yang dijuluki Abu Fadl, 5. Abdullah al-Akbar, 6. Ja’far al-Akbar, 7. Utsman al- Akbar, 8. Muhammad al-Ashghar, 9. Abdullah al-Ashghar, 10. Abdullah, yang dijuluki Abu Ali, 11. `Aun, 12. Yahya, 13. Muhammad al-Ausath, 14. Utsman al-Ashghar 15.Abbas al-Ashghar, 16. Ja’far al-Ashghar, 17. Umar al-Ashghar, 18. Umar al-Akbar.
Anak Perempuan : 1. Zainab al-Kubra, 2. Zainab al-Sughra, 3.Ummu al-Hasan, 4. Ramlah al-Kubra, 4. Ramlah al-Sughra, 5. Ummu al-Hasan, 6. Nafisah, 7. Ruqoiyah al-Sughra, 8. Ruqoiyah al-Kubra, 9. Maimunah, 10. Zainab al-Sughra, 11. Ummu Hani, 12. Fathimah al-Sughra, 13.Umamah, 14.Khodijah al-Sughra, 15 Ummu Kaltsum, 16. Ummu Salamah, 17. Hamamah, 18. Ummu Kiram.
Leave a reply