NAGARA bukan cuma sentra unggulan untuk pembudidayaan buah semangka. Daerah yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini juga bukan hanya terkenal sebagai penempa-penempa besi hebat. Dari Nagara ini pula pernah hidup seorang ‘penempa jiwa’ yang saleh dan wara. Kesalehan tokoh masyarakat Nagara yang dihormati ini layak menjadi bahan renungan Ramadhan kita. Beliau memberikan kepada kita sebuah pelajaran besar bagaimana pentingnya menjaga amanah di zaman dengan perilaku korupsi yang akut ini.
One Response
Adalah Habib Ibrahim bin Umar AlHabsyi yang menjadi pokok tulisan kali ini. Habib Ibrahim saat masih tinggal di Hadramaut adalah orang dekat Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad AlHabsyi (24 Syawal 1259 H-20 Rabi’ul Akhir 1333 H atau 1839-1913 M), pengarang Shimthu’d-Durrar (Maulid Habsyi).
Sebagai orang kepercayaan Habib Ali, Habib Ibrahim adalah asisten pribadi merangkap juru tulis beliau. Mungkin sudah mendapat bekal ilmu cukup dari sang guru, Ibrahim akhirnya merantau ke Indonesia dan memilih tinggal Kampung Nagara, yang jauh dari pusat kota.
Satu keterangan menyebutkan, Habib Ibrahim datang ke Kalimantan menyusul rombongan Habib Zen AlHabsyi (Martapura) yang lebih dulu tiba di Tanah Banjar. Habib Zen (1866-1982), merupakan salah satu murid Habib Ali. Hubungan kekerabatan sebagai sesama AlHabsyi dan kedekatan saat masih sama-sama tinggal di Hadramaut memungkinkan mereka selalu saling berkomunikasi.
Habib Zen dan Habib Ibrahim jika ada acara keluarga di Banjarmasin, selalu menggelar pembacaan Maulid Habsyi di kediaman Habib Ahmad Alhabsyi Pal 1 (saudara tua Habib Zen yang meninggal tahun 1963 dalam usia lebih 100 tahun).
“Yang memimpin pembacaan adalah Habib Ibrahim karena beliau lebih tua. Habib Ahmad memanggil beliau dengan sebutan ami (paman, red),” ujar Habib Agil bin Salim Bahsin, warga Jalan A Yani Km 1.
Agil mengungkapkan lagu bacaan Maulid Habsyi di zaman Habib Ibrahim dan kawan-kawan berbeda dengan model sekarang yang penuh kembangan dan tambahan-tambahan.
“Beliau memakai lagu lawas (lagu asli Hadramaut seperti yang dibawakan Habib Ali sang pengarang, red),” katanya.
Suatu ketika masyarakat Nagara berniat membangun masjid besar (jami). Habib Ibrahim menjadi panitia pembangunan. Dengan kebiasaan yang dibawanya dari Hadramaut, Habib Ibrahim juga setia mencatat berbagai keperluan bangun-membangun dengan potlot (pensil).
Saat tugasnya selesai dan masjid sudah terbangun, Habib Ibrahim memutuskan ingin menghabiskan masa tuanya dengan kembali ke kampung halamannya di Hadramaut.
Cerita potlot inilah yang mengubah jalan hidup Habib Ibrahim. Rupanya, potlot inventaris masjid itu terbawa oleh Habib Ibrahim ke Hadramaut. Merasa bukan haknya, Habib Ibrahim pun memutuskan mengembalikan potlot itu ke Nagara.
Umur manusia di tangan Tuhan. Rencana Habib Ibrahim untuk berkumpul dan bermakam di kampung halaman batal terlaksana. Sebab tak lama setelah mengembalikan potlot itu, beliau berpulang ke rahmatullah. Habib Ibrahim pun dimakamkan tak jauh dari bangunan masjid jami.
Kini, masjid peninggalan Habib Ibrahim yang berlokasi di Sungai Mandala itu lebih dikenal sebagai Masjid Jami Habib Ibrahim. Sayang, sebagaimana peristiwa di beberapa tempat, bangunan bersejarah inipun kehilangan ruh-nya karena renovasi oleh panitia masjid merubah total bangunan aslinya.
Yang tertingal hanya kenangan kepada ketokohannya. Tidak diketahui pula ada di mana sekarang potlot bersejarah yang pernah jalan-jalan ke Hadramaut itu. (bersambung) ali
Leave a reply