Mengenang Sang Penatagama Ngabdulrahman

ISLAM merupakan agama mayoritas rakyat Kalimantan Selatan. Perjalanan agama tauhid rakyat di daerah ini tak lepas dari sejarah terbentuknya keraton Banjar Islam yang ditegakkan oleh Sultan Suriansyah pada tahun 1526.

Tags: , ,

One Response

  1. ali
    21 Sep ’07 12:09 pm #

    Mulanya, Suriansyah yang di masa muda dikenal sebagai Pangeran Samudera adalah keturunan dari Dinasti Negara Daha yang Hindu. Sengketa istana dengan sang paman, Pangeran Tumanggung, yang membuat Samudera melarikan diri, bersembuyi dan menyamar menjadi seorang nelayan di daerah sekitar Kuin hingga Balandean.

    Patih Masih dan kawan-kawan (Patih Balit, Balitung, Kuin dan Patih Muhur) yang me-raja-kan pemuda ini di daerah yang sekarang di kenal dengan Kuin.

    Disebutkan pula peranan Demak, dalam peneguhan eksistensi kekuasaan Sultan Suriansyah. Tak hanya itu, diceritakan pula tentang perjanjian memeluk Islam (bagi Sultan dan seluruh rakyatnya), sebagai syarat turunnya bantuan Demak dalam perang saudara tersebut.

    Perang akhirnya berakhir dengan perdamaian. Pangeran Tumanggung menyerahkan kekuasan dan aset-aset kerajaan (termasuk rakyat Negara Daha) kepada sang keponakan.

    Di balik Hikayat Banjar itu, ada figur dari Demak yang memberi warna keislaman di daerah ini. Khatib Dayan, namanya. Boleh dibilang, Khatib yang dikirim secara khusus sebagai utusan dari kerajaan Demak ini yang menjadi penatagama (penghulu) pertama di Tanah Banjar.

    Siapa Khatib Dayan? Menurut Arthum Artha, wartawan yang juga penulis buku tentang budaya dan sejarah Banjar, Khatib Dayan adalah Sayyid Abdurrahman. Menurut orang Jawa dan babad Banjar, kata dia, ditulis Ngabdulrahman Penatagama. Abdurrahman, sangat setia kepada Sultan Suriansyah. Dialah yang selalu mendampingi raja.

    Sedang menurut Amir Hasan Kiai Bondan (Suluh Sedjarah Kalimantan, 1957), pemuka Banjar lainnya yang berperan dalam syiar Islam adalah Haji Batu. Haji Batu (Syekh Abdul Malik) menjadi pembantu Khatib Dayan dalam mengislamkan penduduk dalam lingkungan kerajaan.

    Menurut versi Kuin, Khatib Dayan merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati. Pendiri keraton Cirebon ini aslinya bernama Syarif Hidayatullah. Sunan Gunung Jati, yang dikenal sebagai salah satu Wali Songo yang bertugas di Cirebon merupakan keturunan dari waliyullah Muhammad Shahib Mirbath. Muhammmad Shahib Mirbath adalah keturunan generasi ke-16 dari Nabi Muhammad SAW.

    Silsilah Syarif Hidayatullah (keturunan ke-24) tersambung dari orangtuanya Abdullah bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Husin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik bin Alwi Umul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.

    Sunan Gunung Jati, memiliki putra bernama Sultan Hasanudin (Sultan Banten I). Khatib Dayyan, menurut sumber Kuin, merupakan buyut dari Sultan Hasanudin. Ayah dari Khatib Dayan adalah Sultan Maulana Ahmad (Cirebon) bin Sultan Yusuf (Cirebon) bin Sultan Hasanudin.

    “Khatib Dayyan kawin dengan seorang anak Sultan Suriansyah. Dari perkawinan itu lahir Khatib Hamid yang tinggal di Kuin Utara,” ujar Syarif, warga Kuin sambil membuka silsilah keluarganya.

    Khatib Hamid menurunkan anak cucu yang juga berprofesi sebagai Khatib. Putranya yang bernama Khatib Muhidin memiliki anak yang juga meneruskan jabatan sebagai Khatib yakni Jamain.

    Lusa, tanggal 24 September, warga Banjarmasin merayakan Hari Jadi kotanya yang ke-481. Tak ada salahnya, kita mengenang kembali perjuangan Sultan Suriansyah (pendiri kesultanan Banjar Islam), Khatib Dayyan (pendakwah pertama di lingkungan keraton dan masyarakat Banjar), Syekh Abdul Malik (Haji Batu) dan penyebar-penyebar agama Islam lainnya yang telah menanam jasa di daerah ini. (bersambung) ali