Puasa, Ikhlas dan Buka Bersama
May 6, 2007
ali | Uncategorized
PUASA di kalangan ahlul bait (keturunun keluarga Nabi) dijalankan berdasarkan fiqih tertentu. Bagi mayoritas penganut mazhab Syafi’i seperti halnya di Indonesia tentu melakukan puasa berdasarkan hukum sesuai pendapat Imam Syafi’i, sedangkan bagi kalangan ahlul bait penganut Syiah, pelaksanaan puasa dimaknai secara hukum Syiah pula.
One Response
Namun diantara kutub-kutub perbedaan tersebut, yang umum dilakukan oleh keluarga Ba’Alwi adalah melakukan amalan wirid pada malam-malam tertentu Ramadhan.
Ada wirid (bacaan yang diulang-ulang) Khataman Qur’an. Wirid membaca Qur’an itu bisa dilakukan di luar waktu Tarawih atau di dalam shalat Tarawih. Biasanya waktu Khataman Qur’an itu dilakukan pada tanggal-tanggal ganjil, antara tanggal 25 dan 27 Ramadhan.
“Misalnya, tanggal ke-25, istilahnya bukan Khataman Tarawih, tetapi Khataman Qur’an dalam tarawih,” ujar Habib Ismail bin Yahya, seorang pengurus Naqobatul Asyraf, Jakarta ketika dihubungi Mata Banua via handphone.
Di Indonesia, tradisi Khataman Qur’an dijalankan oleh para Habaib di Jakarta dan Solo. Habib Anis bin Alwi AlHabsyi, tuan rumah Khataman Qur’an di Solo, kerap menjadi kiblat umat dalam melaksanakan ibadah-ibadah Ramadhan. Pengunjung biasanya datang dari berbagai daerah di Indonesia. Dari Jakarta, Surabaya, Yogya, dan kabupaten tetangga Solo. Warga Banjar asal Martapura yang bermukim di Solo sejak ratusan tahun silam di Kampung Jayengan termasuk diantara ribuan umat yang memadati Majelis Khataman Qur’an Habib Anis.
“Ini (Khataman Qur’an) kebiasan di Hadramaut,” jelas Habib Ismail bin Yahya.
Habib Ismail menjelaskan, di kalangan Habaib pada saat buka puasa juga ada kebiasaan. Ketika tanda azan berbunyi, langsung berbuka, setelah itu santai untuk menurunkan makam minum. Setelah buka sekitar 15 menit baru melaksanakan shalat Maghrib.
“Ini yang terjadi di kalangan Habaib. Tapi maksudnya bukan untuk menunda shalat,” kata Habib Ismail. Soal apakah ketika berbuka langsung makan penuh atau tidak itu tergantung masing-masing orang. Yang pasti, ada jeda waktu santai 15 sekitar menitan sebelum menunaikan shalat Maghrib.
Sementara itu, Habib Umar bin Husin Alaydrus, 65 tahun, salah satu tokoh Habaib di Banjar ketika ditanya puasa yang sempurna menyatakan: puasa orang yang ikhlas.
Keikhlasan itu hanya mengharap ridho Allah SWT. Ridho Allah tergantung ridho ibu bapak. “Kalau tidak ridho, lalu puasa untuk mengharap apa?” ujar Habib Umar bin Husin Alaydrus.
Dari segi syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, bergaul dengan pasangan selama periode tertentu. Yakni
sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari. “Inilah puasa yang lazim kita ketahui. Inilah puasa orang awam,” ujar Jalaluddin Rakhmat.
Jalaluddin menyatakan, menurut ahli tarikat, setelah menyempurnakan puasa secara syariat, kita harus mengendalikan alat indera kita supaya tidak bertentangan dengan ridho Allah. Ada dua macam alat indera: lahiriah dan batiniah. Berdasarkan pancaindera lahiriah, ada lima macam puasa.
Pertama, puasa bicara. Kedua, puasa melihat. Ketiga, puasa mendengarkan. Keempat, puasa penciuman. Kelima puasa, cita rasa.
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih lebihan. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan (QS 7: 31). Termasuk puasa keempat ialah kita tidak menyentuh apapun yang dilarang Tuhan.
Di atas puasa cita rasa indera lahiriah, ujar Jalaluddin, ada puasa yang lebih berat: puasa indera batiniah. Yang dikendalikan adalah pemikiran, hati, imajinasi dari segala yang menjauhkan kita dari kehadiran Allah SWT. Betapapun sulitnya, puasa ini baru menyampaikan kita pada puasa dari segi tarikat. “Hakikat puasa masih harus kita jelang,” tulis Jalaludin dalam bukunya Reformasi Sufistik (Puasa: Syariat dan Tarikat).
Ketua Rabitah Allawiyyin Kalsel Habib Ali bin Muhammad Assegaf mengungkapkan tradisi berbuka puasa bersama sudah dilakukan oleh Habaib di Banjar ratusan tahun silam.
“Buka puasanya bergantian,” ujarnya. Maksudnya, tempat berbuka puasa bersama keliling dari ruah Habib satu ke rumah Habib yang lainnya yang kena giliran menyelenggarakan.
Bagaimana menunya? Tak ada menu spesial (khusus). “Menunya biasa (seperti menu kita sekarang ini, red),” kata Habib Ali bin Muhammad Assegaf.
“Pada Hari Raya berkumpul di rumah Kapten Arab. Habis dari masjid lalu berkunjung ke rumah-rumah untuk silaturahmi. Acara berkeliling itu setelah habis shalat,” tutur Habib Ali, 79 tahun.
Leave a reply