Aidid Yang Dicintai Tukang Kebun
May 6, 2007
ali | Uncategorized
AIDID adalah salah satu fam dari keluarga Ba’Alawi. Apa hubungannya dengan Dipo Nusantara (DN) Aidit, Ketua CC PKI yang riwayat hidupnya mencengangkan dunia perpolitikan di tanah air pada era tahun 60-an itu?
2 Responses
Menurut satu versi, ketika di Bangka Belitung (dulu bagian dari provinsi Sumatera Selatan, kini menjadi provinsi berdiri sendiri), leluhur tokoh Komunis Indonesia itu mengabdi kepada seorang tuannya yang memiliki fam Aidid. Begitu cintanya, leluhur keluarga DN Aidit kepada Sayyid (Habib) yang tak diketahui namanya itu, hingga kakek Aidit memberi nama anak lelakinya yang baru lahir dengan nama marga tuannya. Leluhur Aidit yang memberi nama anak lelakinya dengan nama belakang Aidit itu bekerja sebagai tukang kebun di keluarga Aidid.
Belakangan, ketika nama DN Aidid berada di puncak sebagai salah satu tokoh politik yang sangat diperhitungkan di Indonesia, dan kemudian berakhir tragis dengan terbunuhnya di suatu daerah di Boyolali, Jawa Tengah, pemilik nama Aidid menjadi pembicaraan.
“Banyak Aidid yang menyembunyikan identitas diri famnya takut dikaitkan dengan DN Aidit,” ujar Habib Alwi Aidid, Ketua Perkumpulan Maula Aidid ketika ditemui Mata Banua di Jakarta.
Perkumpulan Maula Aidid semula adalah tempat berhimpun para keluarga yang memiliki fam Aidid. Belakangan keanggotaan perkumpulan keluarga ini bertambah luas dengan ikut bergabungnya sejumlah fam-fam lainnya. Pertemuan antarAidid mulai marak seiring tumbangnya kekuasaan Orde Baru. Jati diri Aidid yang sesungguhnya pun mulai dikenal lagi.
Tapi tak banyak yang mengetahui keberadaan Aidid, termasuk di kalangan keluarga Ba’Alawi. “Saya sering di panggil mas, dan sebutan-sebutan lainnya. Tapi setelah mereka tahu saya Aidid banyak yang minta maaf,” ujar Habib Alwi, seraya tersenyum.
Habib Alwi sendiri tak mempermasalahkan panggilan penghormatan seperti Habib atau yang sejenisnya. Hanya banyak kalangan yang mencintai keturunan keluarga ahlul bait menjadi risih setelah mengetahui kedudukan Aidid diantara keluarga Ba’Alawi.
Nama Aidid berasal dari Muhammad bin Ali Shahib AlHauthoh (Muhammad Maula Aidid 1334-1442 M). Muhammad Maula Aidid mempunyai enam anak lelaki. Masing-masing Ahmad AlAkbar (tak meninggalkan keturunan), Abdurrahman Bafaqih (wafat 1464 M) yang menurunkan Ahmad, Zen dan Atthayib. Abdurrahman adalah leluhur keluarga Bafaqih beserta adiknya yang bernama Abdullah Bafaqih. Abdullah berputra tiga yakni Alwi (keturunannya terputus), Husin (yang memiliki buyut bernama Abubakar yang menjadi Sultan di Komoro Afrika Utara) dan Ahmad (keturunannya banyak menyebar di Nusantara). Putra keempat Muhammad Maula Aidid adalah Ali (wafat 1499 M) yang selanjutnya membawa nama Aidid berlanjut hingga sekarang. Putra kelima dan keenam masing-masing Alwi dan AlFaqih Ahmad keturunannya terputus.
Di Tanah Banjar, jejak Aidid dapat dirunut dari sosok bernama Jalaluddin Aidid. Ia salah satu keturunan dari Muhammad Maula Aidid yang dari Aceh pernah datang ke bumi Banjar (Kalimantan Selatan) di penghujung abad ke-16. Jalaluddin, menurut satu versi, adalah anak Sayyid Muhammad Wahid (Aceh) dan Syarifah Halisyah.
Sayyid Jalaluddin beristri Tamami putri Sultan Abdul Kadir Alaudin di Banjar. Sultan Abdul Kadir kemungkinan besar adalah penguasa di Kerajaan Pagatan.
Istri Jalaluddin adalah kerabat kerajaan Gowa Tallo. Karena mempunyai istri yang berasal dari keluarga kerajaan tersebut, Jalaluddin datang ke Gowa Tallo. Sayang, di sana ulama keramat yang merupakan keturunan ke-27 dari Rasulullah ini kurang mendapat peran. Jalaludin kemudian pindah ke Cikoang –Kecamatan Marbo, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, yang kini menjadi basis keluarga Aidid di Makassar (Lihat Mata Banua, 7 Agustus: Bunda Nur, Aidid dan Presiden Soekarno).
Anak cucu keturunan Aidid hingga kini tersebar di Makassar, Banjarmasin, Sungai Danau (Tanah Bumbu), Jakarta (di Tebet dan Penjaringan) dan Johor (Malaysia).
Di Banjarmasin sendiri, keturunan keluarga besar Aidid tersebar di Kampung Melayu, Jalan Sulawesi, Jalan Saka Permai, Gatot Subroto dan Kompleks Banjar Indah Permai. Cabang dari keluarga di Banjarmasin ini kemudian menyebar ke Pasir Grogot, Kaltim melalui sosok bernama Habib Ali bin Ahmad Aidid.
Habib Ali (1900-1950) pernah menikah dengan Syarifah Lawiyah di Grogot. Waktu pertama masuk di Grogot, Habib Ali pernah dikeroyok sekitar 20 orang penduduk lokal karena mereka merasa tak senang dengan kehadiran Habib Ali. Para pengeroyok itu, menurut cerita pihak keluarga, lengkap bersenjata parang siap membinasakan Habib Ali. Tanpa diduga parang-parang itu berguguran di tanah. Para pengeroyok itu berteriak berulang kali meminta ampun kepada Habib Ali. “Apa salah saya sehingga saya kalian serang?” kata Habib Ali.
Sejak kejadian itu Habib Ali mendapat tongkat gading dari seorang warga Grogot. Tongkat Habib Ali pernah digunakan pihak keluarga untuk mengusir hembusan api yang mengarah rumah anak cucu Habib Ali di Kampung Melayu. Syarifah Hindun, putri Habib Ali memasang tongkat itu di halaman depan rumahnya, dan… tiupan hawa panas yang siap membakar rumah keluarga Habib Ali berbalik arah. “Peristiwa kebakaran itu terjadi 10-11 tahun silam,” ujar Syarifah Fatimah, cucu Habib Ali.
Di lain peristiwa, Habib Ali yang hobi bermain catur di sekitar langgar Darun Najah Simpang Empat Pasar Lama ini didatangi kerabatnya yang tergopoh-gopoh memberi tahu bahwa salah satu putri Habib Ali telah meniggal dunia di rumah. Habib Ali saat itu, tengah bermain catur. “Pulang saja kamu duluan, saya sudah tahu,” jawab Habib Ali.
Di waktu kecil Habib Ali pernah ikut ayahnya Habib Ahmad bertamu kepada seorang keluarga Tionghoa di Jalan Sulawesi. Maksud kedatangan Habib Ahmad adalah ingin meminjam burung dalam sangkar peliharaan seorang Tionghoa itu. Masalahnya, beberapa waktu sebelumnya Habib Ali tertarik dengan burung dalam sangkar itu dan bermaksud memilikinya. Habib Ali tak berhenti menangis sebelum keinginannya terkabul.
Habib Ahmad pun menemui orang Tionghoa. Permintaan Habib Ahmad ditolak. Tak lama kemudian burung itu mati dan bangkainya dibuang di belakang rumah orang Tionghoa. Habib Ahmad kembali mengunjungi rumah orang Tionghoa untuk menanyakan soal burung. Orang Tionghoa melaporkan bahwa burung peliharaannya telah mati. “Di mana bangkainya?” ujar Habib Ahmad. Orang Tionghoa kemudian menunjukkan tempat ia membuang bangkai burung yang tak bernyawa lagi itu.
Habib Ahmad memungut burung itu itu dan meniupnya. Burung itu bergerak dan orang Tionghoa akhirnya mengizinkan Habib Ali memiliki burung itu.(bersambung) ali
Asslm Habib..skdr info klwrga Al-Aidid dri turunan Sayyid Djalaluddin Al-Aidid trdapat pula di kota palu (Sulteng)
Leave a reply