Mereka Yang Hilang dan Menjadi Biasa

Ia seorang lelaki tua. Usianya sekitar 90-an tahun. Matanya tak mampu menatap mata tamu yang datang ke rumah gubuknya. Penglihatanya sudah terbatas. Selamat, lelaki sepuh itu, tinggal berdua bersama istrinya, yang berusia sekitar 80-an tahun. Mereka hidup jauh dari keramaian kota. Di Desa Jingah Habah. Tak ada nama desa ini di dalam peta. Jingah Habang berada di Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Keduanya meniti waktu menunggu Yang Maha Rahim memanggil mereka ke pelukan-Nya. Habib Selamat adalah putra Habib Usman bin Habib Awal. Habib Awal kakek dari Habib Selamat berasal dari Kampung Saka Cina, Kabupaten Banjar yang pertama kali masuk ke Jingah Habang. Haib Awal meninggal dunia di Mekah ketika menunaikan ibadah haji. “Bahasyim atau Ba’abud sama saja,” katanya, ketika ditanya soal nama famnya. Habib Selamat hanya mengetahui bahwa ayahnya mempunyai dua saudara yakni Habib Husin dan Syarifah Tora. Habib Husin, pamannya, bermukim di Kampung Saka Cina.

Tags: , ,

32 Responses

  1. Anonymous
    6 May ’07 12:02 pm #

    Seorang warga Jingah Habang mengantar Mata Banua menemui Habib Selamat, lelaki tua tadi. “Bib, ini ada tamu, handak batamu pian,” ujar Fauzi, tetangga Habib Selamat tersebut. Fauzi menemani Mata Banua menemui Habib Selamat karena ia sendiri lama tak bertemu dengan Habib paling sepuh di Jingah Habang itu.

    “Siapa anaknda dan dari mana?” ucapnya pelan membuka percakapan, ketika pintu rumah telah terbuka. “Apa kabar?” sambung Habib Selamat.

    “Umur saya sudah tua, tak lama lagi,” kata Habib Selamat.

    Habib Selamat adalah salah satu tokoh tua yang disegani di kawasan perbatasan Desa Labuan Batu dan Jingah Habang. Habib Selamat adalah putra dari Habib Usman bin Habib Awal. Habib Awal, kakek dari Habib Selamat, berasal dari Kampung Saka Cina, Kabupaten Banjar yang pertama kali masuk ke Jingah Habang. Habib Awal meninggal dunia di Mekah ketika menunaikan ibadah haji.

    Habib Selamat adalah salah satu dari sekian keturunan Nabi yang tak memiliki rantaian nasab yang lurus. Artinya, Habib Selamat tak tahu lagi siapa nama pedatuan (leluhur) di atasnya.

    “Bahasyim atau Ba’abud sama saja,” ucap Habib Selamat, ketika ditanyakan soal nama famnya. Habib Selamat hanya mengetahui bahwa ayahnya mempunyai dua saudara yakni Habib Husin dan Syarifah Tora. Habib Husin, pamannya, bermukim di Kampung Saka Cina.

    Beberapa nama Habib di Jingah Habang juga tak jelas nasabnya antara fam Bahasyim dan Ba’abud. Kedua fam ini memang pendatang paling dini dari Hadramaut (Yaman Selatan) dibanding keluarga Ba’Alawi lainnya seperti Assegaf, AlHabsyi, AlKaff yang datang kemudian.

    Keluarga Habib Hamid bin Abdurrahman tukang sunat terkenal di Jalan Belitung juga termasuk yang nasabnya tak tuntas. Sebenarnya dulu ketika Habib Hamid masih hidup, beliau memegang (memiliki) catatan silsilah lengkap dan bersambung sampai ke Rasulullah Muhammad SAW. Sepeninggal Habib Hamid catatan berharga milik keluarga berupa selembar kertas berisi urutan nama-nama pedatuan itu terpotong (sobek salah satu bagian). Akibatnya, anak cucu Habib Hamid hanya mengenal leluhurnya hanya sampai nama kakek dari Habib Hamid yang bernama Alwi. Ada dugaan fam keluarga Habib Hamid antara Bal Ghoits atau AlHabsyi.

    Habib Taufik, putera Habib Hamid sudah mencari keterangan tentang siapa leluhurnya kepada Syarifah Mariam, adik ayahnya yang masih hidup dan kini berusia 95 tahun. Tapi apa nama fam mereka belum terjawab. Yang diketahui hanya bahwa Habib Alwi datunya itu mempunyai 3 anak lelaki yakni Ahmad, Ali dan Aburrahman. Taufik tidak berani mereka-reka nama fam leluhurnya karena hal itu bukan perkara sembarangan dan dapat menimbulkan permasalahan di belakang hari. Baik Habib Alwi maupun anaknya bermakam di Alalak Tengah, Banjarmasin.

    Jika keluarga Habib Selamat dan Habib Hamid kabur tentang nama fam, Habib Segaf AlHabsyi (warga Jalan Sulawesi), Habib Yusuf Ba’abud (Jalan Pramuka), Habib Abdul Qadir AlQadri (Basirih) dan Habib Suriansyah Ba’abud (Sungai Jingah) dan Syarifah Ramlah Ba’abud (Pekapuran) lain lagi.

    Habib Segaf mengetahui nasabnya hanya sampai lapis ke tujuh di atasnya yakni mulai orangtuanya Abubakar bin Segaf bin Abubakar bin Husin bin Ahmad bin Abdullah bin Ali AlHabsyi. Siapa di atas Ali AlHabsyi Segaf tak mampu menjawab. Untuk menyelesaikan urusan nasab silsilah ini, Segaf meminta seorang keponakannya yang sedang menuntut ilmu di pondok Darul Mustafa asuhan Habib Umar bin Hafiz di Tarim, Hadramaut untuk meneliti siapa leluhur mereka.

    Segaf hanya memiliki catatan keluarga yang menerangkan bahwa ayahnya Abubakar memiliki saudara bernama Abdurrahman. Segaf, kakeknya, mempunyai saudara Muhammad dan Ahmad. Ketiganya adalah putra dari Abubakar bin Husin yang datang dari Tarim ke Tanah Banjar dan kemudian bermakam di Martapura. Habib Abubakar mempunyai seorang putri bernama Syarifah Noor yang dikawin oleh Habib Muhdhor bin Salim bin Aqil bin Ahmad Bin Syekh Abubakar (bermakam di Keramat Manjang Barabai). Habib Abubakar dan Habib Muhdhor bertetangga ketika sama-sama menjadi penduduk Tarim. Ayah dari Habib Abubakar yakni Husin bin Ahmad bin Abdullah bin Ali AlHabsyi bermukim di Ma’ala, Mekah.

    Demikian juga dengan Habib Yusuf Ba’abud yang mengetahui leluhurnya hanya sampai lapis intah. Silsilah Ba’abudnya terputus di Habib Yusuf bin Alwi bin Hasan bin Muhammad bin Ali.

    Sementara Habib Abdul Qadir AlQadri mengetahui leluhurnya sampai enam lapis di atas namanya. Yakni Abdul Qadir bin Kadri bin Abdullah bin Abubakar bin Umar bin Ahmad bin Yahya. Di atas itu, tiada keterangan siapa nama orangtua Habib Yahya, leluhurnya.

    Catatan keluarga mereka menuturkan bahwa Habib Abdullah bin Abubakar AlQadri datang dari Pontianak dan berlayar ke Tanah Banjar. Di daerah Danau Panggang, Amuntai kapalnya pecah. Habib Abdullah kemudian kawin dengan perempuan di Pejukungan, Barabai. Sebagai pelaut Habib Abdullah kemudian melanjutkan perjalanannya
    dan mendarat di Sungai Sawang, Tabatan, Kabupaten Barito Kuala. Anak cucu Habib Abdullah ‘tersembunyi’ di Basirih dan Sungai Sawang (4 jam perjalanan air dari Kota Marabahan).

    Lain lagi Suriansyah pemilik fam Ba’abud yang sehari-hari berkerja di sebuah toko optik ternama di kota ini. Ayahnya bernama Husin bin Abdullah bin Irsyad Ba’abud. Irsyad, adalah seoramg pedagang berperahu dan bermukim di Gunung Batu Besar, Kotabaru. Irsyad mempunyai saudara di Palembang.

    Namun, Suriansyah tak mengetahui di mana dan siapa nama saudara datunya yang bermukim di Palembang. Hubungan komunikasi antara Palembang dan Banjar terputus sejak ratusan tahun silam. Kakeknya Abdullah kelahiran Pagatan, Tanah Bumbu, begitu pula ayahnya, Husin. Abdullah kakeknya malah dikenal oleh orang-orang Bugis Pagatan dengan nama Pa Saro. Abdullah (Pa Saro) bekerja sebagai petani, sedang anaknya Husin pedagang rempah-rempah berkapal bergelar Benggolo.

    Syarifah Ramlah juga hanya dapat menyebut leluhurnya sampai lapis datu. Datunya bernama Usman Ba’abud yang berputra Ali. Ali kemudian memiliki putra Umar, seorang pedagang rokok. Syarifah Ramlah Ba’abud pada periode 80-an sampai awal 2000 dikenal sebagai salah satu penceramah wanita dari kalangan Syarifah yang sering diminta mengisi acara Isra Mi’raj dan Maulid Nabi. Beberapa koleganya sebagai penceramah wanita adalah Syarifah Janah (Antasan), Syarifah Aisyah (Cempaka) dan Syarifa Nurul Azni Ar-Rifai (Teluk Tiram).

    Beberapa dari keluarga Ba’Alawi dikenal dan dikenali jati dirinya. Tapi, beberapa lagi samar-samar dan hilang dan menjadi orang ‘biasa’ tanpa atribut. Mereka tidak diketahui bahwa dalam diri orang-orang ‘hilang’ ini mengalir darah keturunan manusia paling mulia di muka bumi ini. ali

  2. Anonymous
    6 May ’07 12:07 pm #

    BUKU TERKAIT BAABUD

    Buku “Asal-usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, dsb, di Indonesia”, Jakarta, 1975, Penerbit tidak ada; hal 12.

    Oleh Tharick Chehab Guru Besar L.B. IAIN Jakarta

    Keluarga Al Ba’abud:

    Sayid Ahmad bin Muchsin Ba’abud tiba dari Hadramaut di Pekalongan pada permulaan abad ke 19, dan menikah dengan seorang puteri Regen Wiradesa. Anak cucunya Sayid Muhsin bin Husain bin Ahmad Ba’abud bergelar Raden Suro Atmojo. Saudaranya Ahmad bergelar Raden Suro Diputro.

    Buku “Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya”, Cet 2, jakarta, Pnerbit Lentera, 1999, hal 160

    Oleh Drg. H. Muhammad Syamsu As.

    Sultan Hamengku Buwono I wafat pada tahun 1792 M, lalu digantikan oleh putranya Hamengku Buwono II (Sultan sepuh). Hamengku Buwono II ini cerdik, lincah, berani dan tidak menyukai Belanda. Ketika sikapnya ini tampak oleh Belanda, maka dipecatlah ia oleh Gubernur Jenderal (Hindia Belanda) Daendels.

    Habib Alwi Ba’abud adalah ulama Arab yang hidup saat itu. Salah seorang putri Sultan Hamengku Buwono II, yaitu Bendoro Raden Ayu Samparwadi, kawin dengan Raden Tumenggung Hassan Manadi, yang sebelumnya bernama Sayid Husein bin Habib Alwi Ba’abud. Dari perkawinan ini lahir seorang putra yang ikut diasingkan ke Penang, yang selanjutnya dipindahkan di pengasingan Ambon.

    Ket:

    -Sultan Hamengku Buwono II diasingkan di Penang 1812-1816, kemudian dipindahkan ke Ambon.

    - Hal 161 UPIIS:

    Pada bulan Juli 1825 Gubernur Jendral de Kock diangkat sebagai peimpin tentara Belanda. Belanda mengangkat kembali Sultan Hamengku Buwono II yang sudah diasingkan di Ambon bertahta kembali dengan maksud agar bisa mempengaruhi cucundanya Pangeran Diponegoro, sehingga mau menghentikan perlawan bersenjata. Usaha ini diketahui dan idasari pangeran Diponegoro hingga siasat ini mnenemui kegagalan.

    - Hal 12 APWSSI:

    Satu cabang dari keluarga Bin Yahya tiba di pulau Pinang pada permulaan abad 19, namanya Tahir. Beliau menikah dengan seorang puteri dari keluarga Sultan Yogyakarta (Sultan yang dibuang ke pulau Penang selama 1812-1816).

    Sayid Tahir datang ke Jawa tinggal di Semarang. Puteranya yang ketiga Ahmad, bergelar Raden Sumodirjo yang kemudian tinggal di Pekalongan, memperisterikan seorang syarifah dari keluarga Ba’abud. Puteranya Sayid Saleh bergelar Raden Sumodiputro. Sedang satu-satunya puterinya menikah dengan seorang Sayid dari Hadramaut.

    KETURUNAN BA’ABUD DI INDONESIA

    Sekilas mengenai keturunan Ba’abud Kharbasani

    Di dalam ilmu nasab ada 3 kelompok keluarga yang memakai/menyandang gelar Ba’abud ini, ketiga kelompok tersebut adalah :
    1. Ba’abud Kharbasani
    2. Ba’abud Dabjan Al Abdullah Ba’Alawi
    3. Ba’abud Maghfun Al Ammul Faqih

    Ke tiga keluarga Ba’abud ini berasal dari cabang yang berbeda, namun menyandang gelar yang sama. Kami akan membatasi penguraian ini pada keluarga Ba’abud Kharbasani.

    Yang pertama kali menyandang gelar Ba’abud ini adalah As Syech Al Imam Abdullah Ba’abud (wafat di Tarim 834 H) bin Ali (wafat 775 H) bin As Syech Al Imam Muhammad Mauladawilah (wafat di Tarim 765 H).

    As Syech Al Imam Abdullah Ba’Abud mempunyai putra Al Imam Abdurrahman, Al Imam Abdurrahman mempunyai putra Al Imam Abubakar. Al Imam Abubakar inilah yang pertama kali masuk ke wilayah Kharbasani, sehingga keturunannya menyandang gelar Ba’abud Kharbasani.
    Kami akan membatasi penguraian ini pada generasi Al Habib Muchsin bin Abdullah bin Abubakar bin Husin bin Ahmad bin Abubakar Ba’abud Kharbasani bin Abdurrahman bin Abdullah Ba’Abud .

    Al Habib Muchsin bin Abdullah mempunyai 7 orang putra yaitu :

    I. Hasan keturunannya tidak tercatat lagi setelah generasi ke 2.
    II. Zain keturunannya tidak tercatat lagi setelah generasi ke 1.
    III. Muhammad keturunannya dalam jumlah yang kecil tersebar di Tarim dan Jakarta.
    IV. Syech keturunannya ada di Jakarta dan sebagian besar sudah tak tercatat lagi.
    V. Abubakar
    VI. Husin
    VII. Umar, yang mempunyai putra Muchsin.
    Al Habib Muchsin ini mempunyai 4 putra yaitu :

    VII.1. Al Habib Ahmad bin Muchsin Ba’Abud Kharbasani.

    Al Habib Ahmad datang dari Hadramaut pada awal abad 1800 M tiba di Pekalongan di daerah Wiradesa. Beliau kawin dengan putri Bupati Wiradesa Raden Jayaningrat I.

    Al Habib Ahmad ini mempunyai 2 orang putra yaitu :

    VII.1.1. Husin wafat di Wiradesa mempunyai 4 orang anak yaitu :
    - Ahmad (Raden Surodiputro), wafat di Wiradesa.
    - Muchsin (Raden Suroatmojo) menjadi Patih Brebes, dan keturunannya sudah sangat membaur dan memakai nama-nama jawa/Indonesia dan keturunannya ada di Wiradesa Pekalongan.
    - Zain, keturunannya ada di Wiradesa Pekalongan.
    - Ali (wafat 1334 H), keturunannya ada di Wiradesa Pekalongan.

    VII.1.2. Umar wafat di Wiradesa dan mempunyai 3 putra yaitu :
    - Alwi
    - Abdurrahman keturunannya ada di Pekalongan, Banjarmasin, dan Balikpapan.
    - Ahmad

    VII.2. Al Habib Abdullah bin Muchsin Ba’abud Khorbasani

    Al Habib Abdullah ini mempunyai anak Alwi dan menikah dengan janda Sultan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I.
    Al Habib Alwi ini mempunyai putra yaitu Hasan Al Munadi wafat di Temegongan dekat Purworejo dan menikah dengan anak Sultan Yogyakarta, Sri Sultan HB II . Dari sini Al Habib Alwi mempunyai 2 putra yaitu :

    VII.2.1. Ibrahim gelar Madyo Kesumo (wafat di Manipa Ambon), yang mempunyai 3 putra yaitu:
    1. Ahmad Wongsodipura
    2. Abbas Kusumo Atmojo
    3. Muhammad Irfan (Madyo Wijoyo), yang keturunannya tersebar di Jakarta,Tarakan, Wonosobo, Banyumas,Sukabumi, Bandung, Surabaya, Purwakarta, Jokjakarta, Purworejo, Cimahi, Padang, Semarang dan Randu Dongkal Pemalang.

    VII.2.2. Abubakar Puspodipuro (wafat di Yogyakarta), yang mempunyai 2 putra yaitu:
    1. Ishaq Pusodipuro
    2. Abdul Kadir, keturunannya ada di Pekalongan, Pemalang, Luanu, Bulus Purworejo dan Purworejo.

    VII. 3. Al Habib Soleh bin Muchsin Ba’abud Kharbasani
    Beliau mempunyai 2 putra yaitu :
    VII.3.1. Husin
    VII.3.2. Hasan mempunyai 3 putra yaitu :
    1. Hamid
    2. Abdurrahman (wafat di Pekalongan)
    3. Ahmad (wafat di Palembang).

    Dari sinilah keluarga Ba’Abud yang ada di Palembang berasal. Selanjutnya keturunannya tersebar ke Banjarmasin, Bulus Purworejo, Pekalongan dan Semarang.

    Keturunan Al Habib Ahmad ini ada 3 orang yaitu :
    1. Sholeh (wafat di Gersik dan terputus).
    2. Ali (wafat di Palembang). Dari sini juga jalur keluarga Ba’Abud Palembang.
    3. Ahmad (wafat di Semarang) keturunannya ini ada di Palembang

    VII.4. Al Habib Idrus bin Muchsin Ba’abud Kharbasani
    Beliau mempunyai 5 putra yaitu :
    VII.4.1. Usman.
    Keturunan dari Al Habib Usman ini ada di Cirebon dan Semarang, namun tak tercatat lagi untuk generasi ke 2. Ada keterangan, salah satu keturunannya Habib Ishaq bin Usman Ba’Abud. Al Habib Ishaq ini memiliki 3 putra yaitu :
    Muhammad (keturunannya di Cirebon dan tak tercatat lagi)
    2.Yusuf, terputus.
    3. Usman, terputus.

    VII.4.2. Hasyim

    Keturunan dari Al Habib Hasyim ada di Wonosobo dan sudah tak tercatat lagi pada generasi ke 2.

    VII.4.3. Muchsin
    Keturunan dari Al Habib Muchsin ini ada di Wirodesa Pekalongan dan sudah tak tercatat lagi pada generasi ke 2.

    VII.4.4. Abubakar
    Keturunan dari Al Habib Abubakar ini ada di Pekalongan, Jatibarang, Pemalang, Idramayu, kendal dan Jakarta.

    VII. 4.5. Ali (terputus, kemungkinan meninggal dalam usia muda).

    Sumber: Naqobatul Asyrof Al-Kubro – The Alawiyin Family Gen WebLinks

    (sesuai buku Habib Ali b Ja’far b Syech Assegaff jilid 3 dan buku induk jilid 6)

    Kirima : Alidien Hasan Al Ali b Abdullah

    Date: Tue, 4 Nov 2003

    ASAL USUL BAABUD

    BA’ABUD

    BA’ABUD merupakan bahasa Arab, yang berasal dari kata ‘ABUD berarti “banyak melakukan ibadah”.

    Ada 4 golongan leluhur Alawiyin yang bergelar Al-Ba’abud.
    Al Ba’abud Magfun, keturunan Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Marbad. Disandang (pertama kali) oleh Waliyullah Al Muallim Muhammad Abud bin Abdullah bin Muhammad Maqfun bin Abdurrahman Al Babathinah.

    Tentang gelar Magfun karena suka beruzlah artinya suka menyendiri
    dengan maksud untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Waliyullah Al Muallim Muhammad Abud dilahirkan di kota Tarim. Keturunannya berada di Bur (Hadramaut), di kota Madinah Aal Munawwarah, Mesir dan Indonesia.

    Waliyullah Al Muallim Muhammad Abud pulang ke Rahmatullah di kota Tarim pada bulan Dzulhijjah tahun 975 hijriyah.
    Al Ba’abud Dijan (Dabjan, red.), keturunan Muhammad Al Faqih Muqaddam. Disandang (pertama kali) oleh Waliyullah Abdullah bin Ali Dijan bin Ahmad.

    Tentang sebutan Dijan diartikan dengan dua pengertian:
    Pertama: Dijan sebuah dusun di Hadramaut. Dimana ayah Waliyullah Abdullah Abud yaitu Ali bin Ahmad bermukim di dusun Dijan tersebut.

    Kedua: Dijan diartikan dengan keindahan atau keperkasaan. Mungkin keluarga Waliyullah Abdullah Abud bin Ali tersebut adalah orang-orang yang gagah perkasa dan pemberani.

    Waliyullah Abdullah Abud dilahirkan di Gasam (Hadramaut). Keturunannya berada di Ghaiydhah di Difar di India dan Indonesia. Beliau berpulang ke Rahmatullah pada sekitar tahun 816 hijriyah.
    Al Ba’abud Kharbasyan, keturunan Muhammad Alfaqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbad. Disandang (pertama kali) oleh Waliyullah Ahmad bin Abubakar Kharbasyan bin Abdurrahman bin Abdullah Abud bin Ali bin Muhammad Mauladawilah.

    Tentang sebutan “Kharbasyan” diartikan sebuah dusun yang letaknya tidak jauh dari kota Makkah Al Mukarramah, di mana leluhur Waliyullah Ahmad bin Abubakar Kharbasyan telah bermukim di dusun Kharbasyan tersebut.

    Beliau dilahirkan di kota Makkah Al Mukarramah. Keturunannya berada di Khuruf Al Zaidan di kota Tarim Hadramaut, di Oman dan Indonesia.

    Belia kembali ke Rahmatullah di kota Tarim sdekitar tahun 947 hijriyah.
    Al Ba’abud Bin Syaichan, keturunan Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammaad Shahib Marbad. Disandang oleh Abdurrahman bin Abdullah Abud bin Ali bin Muhammad Mauladawilah.

    Beliau dilahirkan di Mikha’. Keturunannya hanya berada di Hijaz dan Oman, Habsyah (Afrika) dan India.

    Beliau pulang ke Rahmatullah di kota Makkah AlMukarromah sekitar 1044 hijriyah.

    Buku : Petunjuk Monogram Silsilah berikut Biografi Dan Arti Gelar Masing-masing Leluhur Alawiyyin. Hal. 42-43. Penyusun Muhammad Hasan Aidid, Penerbit Amal Shaleh, Cetakan Perdana 1999. (Telaah Al Mu’jamul Lathif, hal 134)

    PENGANTAR

    PENGANTAR

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Allahumma Shalli ‘ala Muhammad Wa ali Muhammad

    Assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

    Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta, yang tiada tuhan selain Dia. Dengan rahmat, taufiq dan inayah Allah SWT, saya mencoba memulai membuka situs yang sederhana ini untuk ajang berbagi informasi yang bermanfaat dan silaturahmi antar hamba Allah.

    Saya memberi nama situs ini dengan nama Baabud, karena ide awal situs ini untuk lebih mendekatkan keluarga Baabud di Indonesia yang nampaknya tersebar tempat mukimnya. Dengan situs ini diharapkan bisa menjadi sarana untuk saling menginformasikan maslahat yang bermanfaat, baik berkenaan dengan silsilah, kekeluargaan, keagamaan, atau ma’isah. Namun semangat yang mendasarinya adalah tali kekerabatan dan silaturahmi yang mempunyai nilai akhlakul karimah; dan bukan untuk pengelompokan eksklusif, ashobiyah atau ujub.

    Dengan izin Allah, semoga rintisan home page ini semakin lama bisa menjadi bertambah baik dan bermanfaat, serta Allah dan RasulNya meridhoinya.

    Jakarta, 11 Oktober 2005 (7 Ramadhan 1426)

    Salam Takzim

    Zaenal Abidin bin Ali Baabud

  3. Anonymous
    31 Jul ’07 3:01 am #

    ALHAMDULILLAH,Mudah-mudahan blog ini bisa menjadi tempat bertukar informasi,dan menjadi ajang media dakwah untuk kita semua. hamzah bin alwi ba’bud sampit kal-teng

  4. ali
    31 Jul ’07 11:22 am #

    Salam kenal. Banyakkah Ba’abud di Sampit?
    Leluhur Balghaits di Banjar ternyata bermakam di Sampit (Habib Umar Balghaits). Bahasyim, juga banyak? Ada fam apa lagi di sana?
    Leluhur pian, datang dari mana? Banjar-Sampit atau….?. Bagaimana dengan populasi Bahsin? Di Banjarmasin saya kenal dengan Ami Agil (Agil bin Salim Bahsin). Kata beliau kai datunya dari Sampi turun ke Banjar. Bagaimana dengan Ba’abud pian?

  5. Anonymous
    11 Nov ’07 11:52 pm #

    antum siapa? baabud cuma sedikit disini.yg paling banyak bahsin.bahasyim ada juga disini cuma sedikit.ami agil adalah sepupu dari umi ana. afwan baru di jawab…………. hamzah bin alwi baabud

  6. ali
    12 Nov ’07 9:14 am #

    Saya orang yang insya Allah berhati gembira. Alhamdulillah. Smoga Allah dan Rasul kekasih-Nya selalu menjaga hati saya.

    Kenal dengan Alidien Hasan Al Ali b Abdullah?

  7. Anonymous
    16 Nov ’07 2:03 am #

    alhamdulillah.. hb alidien sekarang dlm perjalanan ke banjarmasin.sekarang(16/11/07) berada di k.kapuas.munkin ini malam berangkat ke bjm

  8. alkaff
    17 Feb ’08 1:58 am #

    assalamua’alaikum…. afuan min kum ana mau tanya soal silsilah ar arifai yang ada di malaysia dan sekitar nya kalau antum ada tolong kirim email nya ke alamat ini… ali_alkaf2002@yahoo.com

  9. Anonymous
    3 Dec ’08 2:45 am #

    ali,

    SILSILAH KELUARGA AL BA’ABUD

    Alhabib Ahmad bin Muchsin Ba’abud
    ( Mereka yang hilang dan Menjadi Biasa )

    Menjadi orang “ BIASA “ tanpa atribut mereka tidak diketahui bahwa dalam diri orang – orang yang “ HILANG “ ini mengalir darah keturunan manusia paling mulia di muka bumi ini.

    BA’ABUD merupakan bahasa arab, yang berasal dari kata ‘ABUD berarti “ BANYAK MELAKUKAN IBADAH “

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Allahumma Shalli’ala Muhammad Wa ali Muhammad

    Assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

    Yth, Bpk. Zaenal Abidin bin Ali Ba’abud

    Setelah saya membaca tentang silsilah Keturunan dan asal usul dari BA ‘ABUD di Indonesia melalui wabe site BA ‘ABUD tertanggal 11 Oktober 2005 yang dirintis oleh Bapak, saya ucapkan banyak terimakasih atas prakarsa ini semoga dengan adanya wabe site ini dapat mendekatkan kembali dan meningkatkan tali silahturahmi di antara kita khususnya seluruh keturunan keluarga BA ’ABUD di Indonesia.
    Melalui website ini saya memperkenalkan diri saya nama :
    “ SRI SUGIHATI SLAMET “ nama panggilan sehari – hari “ TIEKE “ yang mewakili KEL. Besar “ SLAMET “ salah satu keturunan dari keluarga BA ‘ABUD akan menyampaikan comment dan koreksi mengenai silsilah keturunan Al BA ‘ABUD yang tertuang dalam wabe site tersebut khususnya yang terkait dengan garis keturunan saya putra / putri Kel. Rd. SLAMET

    Comment dan Koreksi mengenai :

    I. page 5 VII.I.I. ___ HUSIN wafat di Wiradesa, koreksi bukan punya 4 ( empat ) orang anak , akan tetapi mempunyai 3 ( tiga ) orang anak yaitu :

    1. MUCHSIN ( Raden SUROATMODJO ) menjadi patih BREBES, AHMAD ( Raden SURODIPOETRO ) salah satu putranya Rd. SUROATMODJO dan saya adalah salah satu keturunan nya akan saya jabarkan silsilah keturunan tersebut.
    2. ZAIN keturunannya ada di Wiradesa, Pekalongan
    3. ALI keturunannya ada di Wiradesa, Pekalongan

    II. page 6 VII.4.3. ___Keturunan ALHABIB MUCHSIN koreksi keturunannya masih tercatat, masih ada dan akan saya jelaskan alur Silsilah keturunan tersebut

    Demikian komentar dan koreksi dari saya setelah membaca isi wabe site tentang silsilah keturunan BA ‘ABUD di INDONESIA, semoga dapat menjadi lebih jelas alur garis keturunan masing – masing keluarga khususnya keturunan dari BA ‘ ABUD, semoga informasi ini dapat bermanfaat dan akan lebih mendekatkan lagi keluarga keturunan BA ‘ABUD di Indonesia.
    Sekali lagi saya haturkan banyak terimakasih dan mohon maaf atas terlambatnya memberi komentar dan koreksi.

    Terlampir Silsilah Keturunan BA ‘ABUD di Indonesia

    Bekasi, 2 Desember 2008

    Salam Takzim

    Sri Sugihati Slamet / Tieke Slamet

    SILSILAH KETURUNAN BA ‘ABUD DI INDONESIA
    Kami akan membatasi penguraian ini pada generasi

    Keterangan:
    jumlah mantu-anak-cucu-buyut R. Slamet X Titien Dolariah ada 78 orang

    contact by mail : sugihati52@yahoo.com

    Saya minta alamat e-mailnya untuk memberikan data yang selengkapnya

    Terima kasih.

    • garis
      10 Jun ’11 2:06 pm #

      bisa dijelaskan nama anak2 habib abdurrahman ba’bud pekalongan

  10. Anonymous
    3 Dec ’08 2:48 am #

    SILSILAH KELUARGA AL BA’ABUD

    Alhabib Ahmad bin Muchsin Ba’abud
    ( Mereka yang hilang dan Menjadi Biasa )

    Menjadi orang “ BIASA “ tanpa atribut mereka tidak diketahui bahwa dalam diri orang – orang yang “ HILANG “ ini mengalir darah keturunan manusia paling mulia di muka bumi ini.

    BA’ABUD merupakan bahasa arab, yang berasal dari kata ‘ABUD berarti “ BANYAK MELAKUKAN IBADAH “

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Allahumma Shalli’ala Muhammad Wa ali Muhammad

    Assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

    Yth, Bpk. Zaenal Abidin bin Ali Ba’abud

    Setelah saya membaca tentang silsilah Keturunan dan asal usul dari BA ‘ABUD di Indonesia melalui wabe site BA ‘ABUD tertanggal 11 Oktober 2005 yang dirintis oleh Bapak, saya ucapkan banyak terimakasih atas prakarsa ini semoga dengan adanya wabe site ini dapat mendekatkan kembali dan meningkatkan tali silahturahmi di antara kita khususnya seluruh keturunan keluarga BA ’ABUD di Indonesia.
    Melalui website ini saya memperkenalkan diri saya nama :
    “ SRI SUGIHATI SLAMET “ nama panggilan sehari – hari “ TIEKE “ yang mewakili KEL. Besar “ SLAMET “ salah satu keturunan dari keluarga BA ‘ABUD akan menyampaikan comment dan koreksi mengenai silsilah keturunan Al BA ‘ABUD yang tertuang dalam wabe site tersebut khususnya yang terkait dengan garis keturunan saya putra / putri Kel. Rd. SLAMET

    Comment dan Koreksi mengenai :

    I. page 5 VII.I.I. ___ HUSIN wafat di Wiradesa, koreksi bukan punya 4 ( empat ) orang anak , akan tetapi mempunyai 3 ( tiga ) orang anak yaitu :

    1. MUCHSIN ( Raden SUROATMODJO ) menjadi patih BREBES, AHMAD ( Raden SURODIPOETRO ) salah satu putranya Rd. SUROATMODJO dan saya adalah salah satu keturunan nya akan saya jabarkan silsilah keturunan tersebut.
    2. ZAIN keturunannya ada di Wiradesa, Pekalongan
    3. ALI keturunannya ada di Wiradesa, Pekalongan

    II. page 6 VII.4.3. ___Keturunan ALHABIB MUCHSIN koreksi keturunannya masih tercatat, masih ada dan akan saya jelaskan alur Silsilah keturunan tersebut

    Demikian komentar dan koreksi dari saya setelah membaca isi wabe site tentang silsilah keturunan BA ‘ABUD di INDONESIA, semoga dapat menjadi lebih jelas alur garis keturunan masing – masing keluarga khususnya keturunan dari BA ‘ ABUD, semoga informasi ini dapat bermanfaat dan akan lebih mendekatkan lagi keluarga keturunan BA ‘ABUD di Indonesia.
    Sekali lagi saya haturkan banyak terimakasih dan mohon maaf atas terlambatnya memberi komentar dan koreksi.

    Terlampir Silsilah Keturunan BA ‘ABUD di Indonesia

    Bekasi, 2 Desember 2008

    Salam Takzim

    Sri Sugihati Slamet / Tieke Slamet

    SILSILAH KETURUNAN BA ‘ABUD DI INDONESIA
    Kami akan membatasi penguraian ini pada generasi

    Keterangan:
    jumlah mantu-anak-cucu-buyut R. Slamet X Titien Dolariah ada 78 orang

    contact by mail ; sugihati52@yahoo.com

    Saya minta alamat e-mail Anda untuk mengirim data yang lebih lengkap.

    Terima Kasih.
    Salam Al Ba’abud.

  11. syeikh mohamad din
    9 Jan ’10 6:56 pm #

    SETELAH SAYA BACA KISAH DIATAS !! Ini lah yang berlaku di Melaka..Ini di sebab kan olih penjajah !!!Nenek moyang kami lari dari INDONESIA kerana takut hilang zuriat, mereka lari dari Belanda yang menindas dan membunuh ,tetapi lari ke Inggeris yang menjajah fikiran!!!! ibarat kata perpatah : lari dari mulut harimau tetapi ,masuk ke mulut buaya !!! Tanyalah orang tua tua kita, barang buatan apakah paling baik ? jawapan nya ..barang orang putih( di MALAYSIA ) INGGERIS..Sudah di jajah ratusan tahun…mana mungkin..dia tidak memuji tuan nya…Bagitu lah realiti ,kalau jiwa dan jasmani di jajah…Inilah sebab nya nenek moyang kita menentang penjajah !!! Kalau lah tidak bijaksana nya datuk kami, bertiga iaitu PANGLIMA LIDAH HITAM 2.SYEIKH AHMAD MAULANA 3..PENGERAN ARIA NASHARUDIN ..membuang kan gelaran nama masing masing , kami pun tidak tau samada ,kami ada di dunia ini atau tidak…itu lah sebab yang saya perkatakan AL HASANI dari jurai SYEIKH ISMAIL PULAU BESAR lah yang paling di benci olih penjajah..AL HASANI ini lah hilang di telan waktu, kerana tidak ada sesiapa yang menulis dan tidak ada sesiapa untuk rujukan…hampir semua penduduk MELAKA dari MUAR,KESANG, MERLIMAU, UMBAI,TELOK MAS,KELEBANG membawa ke pesisir pantai ke PANTAI PUTERI,TANJUNG BIDARA, BUKIT RAMBAI ,TANGGA BATU dan lain tempat, berketurunan AL HASANI ini. Tetapi sayang mereka sendiri tidak tau,..mereka hanya tau, mereka berketurunan BUGIS..hanya sesetengah orang lama yang berumur 80 tahun,yang mengaku mereka keturunan SYEIKH QODIR JILANI..bila saya tanya ,bagaimana nasab nya sampai ke SYEIKH itu ,mereka tidak tau…ITU LAH SEBAB nya saorang yang bergelar FAQIR WALI mencelah dalam blog nuraflah…yang mengata kan 100 % tidak betul..saya marah…beliau hanya lah pelajar di kedah….400 batu dari Melaka…hampir 6 tahun saya berusaha mencari NASAB saya,..dari JOHOR ke KELANTAN,ke TERENGGANU.ke PERAK, ke SELANGOR, ke PAHANG,ke NEGERI SEMBILAN baru lah dapat….senang senang je dia kata tak betul!!! Dalam catitan saya NASAB TERAS terus ke atas yang hidup sekarang ini saya memang kenali, ada nama nama yang saya tulis tidak kurang dari 300 orang, yang saya kenali bapa nya, ibu nya ,datuk nya bah kan moyang nya….di Kedah dan Perlis mungkin ada jika orang itu nenek moyang nya orang selatan semenanjung…begitu juga di sabah dan serawak….kalau di INDONESIA saya percaya dari JAMBI dan BANTEN, khas nya TASIK MALAYA kerana kalau ikut wikipedia..orang Tasik malaya datang nya dari tentera MELAKA ,yang menolong RADIN ABDULLAH bin PATI UNUS semasa perang hebat tahun 1521 dahulu…ITU lah sebab nya RADEN ARIA MOHYIDIN bin SULTAN MUHAMAD WANGSA 2….datang ke PANTAI ROMBANG dan buka kampung itu ,tetapi mengubah nama menjadi TOK BULANG/ TOK DIN…Al marhum inilah yang melahir kan orang orang di pesisir PANTAI PUTERI.,termasuk lah kaum kerabat isteri saya.Mereka ini lah keturunan, SATU LAGI AL IDRUS yang hilang!!!! Mereka terkejut setelah saya bukakan nasab mereka…kata mereka ..patut la..kami semua putih, putih dan hidung mancung,berbadan tinggi, dalam 5 -6 kaki. memang bib dalam keturunan isteri saya…keseluruhan nya berhidung mancung tidak pesek…bagitu juga dari keturunan saya…keseluruhan keluarga saya tinggi nya 5 kaki 6 inci, malah datuk saya tinggi nya 5 kaki 9 inci…ada juga yang rendah tetapi tidak ramai…Bagi saya bib, saya amat bersyukur kepada ALLAH kerana di beri nya saya hidayah dan dapat saya mencari nsab saya dan isteri saya, dan telah saya tuliskan untuk rujukan anak cucu keturunan kami,supaya tidak hilang ditelan waktu atau sejarah keturunan ini tidak menjadi seperti cerita dongeng orang tua tua yang mendodoi anak mereka, yang apabila anak sudah tidur nyanyian itu terus hilang bersama mimpi yang tidak pasti penhujung nya….Nasihat untuk menulis nasab ini saya terima juga dari setiausaha Persatuan Sejarah MELAKA.iaitu CIKGU HAJI JAMIL…..TERIMA KASIH..JUMPA LAGI…

    • wahyudi almahdi
      20 Aug ’11 9:35 pm #

      ana mau bertanya….’ benarkah klo seorang said menikahi perempuan yg bukan dr kalangan ahlul bait (jaaba) atau sebaliknya syarifah mengawini pria yg bukan dr keturunan rasulullah, hukumnya HARAM…..?

  12. alwie yusuf bahasyim
    19 Mar ’10 4:26 am #

    ana mau tanya jadi gmn dgn keturunan ba bud di banjarmasin apa sohih?…..

  13. yusransyah
    6 Apr ’10 3:50 am #

    saya keturunanan dari syahabuddin al ashghor saman bin h. muridi bin kurdi bin usman bin jalil bin abdullah bin abdurrahman bin ahmad bin hasan bin syabuddin al ashghor

  14. yusransyah
    6 Apr ’10 4:01 am #

    saya mau tanya benarkah anak dari syahabuddin al ashghor ada yang bernama muhammad dan saudaranya bernama hasan

  15. fauzi
    16 Jul ’10 7:20 am #

    ada yg tahukah keluarga bin yahya di bulungan kaltim?

  16. fauzi
    16 Jul ’10 7:30 am #

    maksudnya asal usul mereka,ane lg mencari garis keturunan datu datu ana yg jelas,menurut kisah kisah org tua2 dulu,datu ana(moyang) ada hubungan keluarga dgn datu agil palembang(bin yahya)tolong informasinya…

  17. fauzi
    20 Jul ’10 5:24 pm #

    afwan,ternyata ana salah masuk pintu…

  18. Banyu Bening
    22 Jul ’10 5:43 am #

    Rasulullah tidak pernah mengajarkan tentang kemuliyaan seseorang karena mempunyai garis keturunan. akan tetapi perbuatan dan ibadah orangnya yang menentukan manusia itu mulia atau hina.
    Saya sangat menghormati seorang dzuriat alim dan berperilaku terpuji, selain itu walaupun sayyid tapi gak punya akhlak, apabedanya dengan orang biasa.
    Munculnya Sayid di dunia Islam, jika tidak bisa membawa diri akibatnya hanyalah rasa kebanggan dan kesombongan karena masih keturunan nabi, suatu contoh munculnya konsep bahwa Syarifah harus nikah dengan Sayyid, jika syarifah nikah dengan orang ajam, maka akibatnya sayarifah tersebut dikucilkan dan diputus hubungan silaturrahminya dengan keluarganya. lalu apa bedanya dengan kasta dalam agama Hindu? jika di Hindu ada Kasta Brahmana maka di Islam ada Kasta Habaib.
    Nasehat Untuk para Habaib
    Ingatlah hakekat manusia bukan fisik kita semata, bukan darah yang mengalir ditubuh kita, bukan karena kita dilahirkan dalam keluarga Sayyid, akan tetapi hakekat manusia adalah Ruh. semua manusia mempunyai Ruh, Ruh berasal dari Allah. badan ini hanylah topeng dan tempelean belaka.
    Bukankah ketika mati masihkah berharga jasad tersebut?
    Bukankah kita lahir tidak mempunyai nama?
    maka matipun kita tidak membawa appa-apa.
    dalam Al-Qur’an dan Hadits tidak ada yang bisa menjamin seorang Sayyid masuk surga, tetapi amal perbuatan seseoranglah yang bisa menentukan masuk surga.

  19. hilmi
    25 Aug ’10 10:37 pm #

    terselamat nya anak cucu adalah berkat dari doa tok nenek.
    maka keturunan perlu diketahui.
    doa rasulullah kepada anak curu keturunan nya.
    doa rasulullah kepada sahabat dan keturunan sahabat.
    doa rasulullah kepada sekelian umat..

    kita islam dan selamat kerana doa mereka.
    mengapa tidak dikenang jasa mereka….????

  20. Egi
    26 Aug ’10 11:15 am #

    Subhanallah keturunan Al Ba’bud sudah banyak. Bagaimanakah dengan Sayyidina Muchsin bin Khusin Al Ba’bud yang di makamkan di Tegal Arum yang bersamaan dengan Sunan Amangkurat ? Beliau juga mempunyai anak bernama Raden Suru Syahputro yg di makamkan di jatibarang… Masing2 menjabat Patih Brebes dan wedana…. Mohon infonya. Terima kasih.,

  21. Egi
    26 Aug ’10 11:15 am #

    Subhanallah keturunan Al Ba’bud sudah banyak. Bagaimanakah dengan Sayyidina Muchsin bin Khusin Al Ba’bud yang di makamkan di Tegal Arum yang bersamaan dengan Sunan Amangkurat ? Beliau juga mempunyai anak bernama Raden Suro Syahputro yg di makamkan di jatibarang… Masing2 menjabat Patih Brebes dan wedana…. Mohon infonya. Terima kasih.,

  22. Egi 'Revisi'
    26 Aug ’10 11:20 am #

    Subhanallah keturunan Al Ba’bud sudah banyak. Bagaimanakah dengan Sayyidina Muchsin bin Khusin Al Ba’bud yang di makamkan di Tegal Arum yang bersamaan dengan Sunan Amangkurat ? Beliau juga mempunyai anak bernama Raden Suro Syahputro yg di makamkan di jatibarang… Masing2 menjabat Patih Brebes dan wedana…. Mohon infonya. Terima kasih.,

  23. sry priharti ningsih
    16 Sep ’10 6:17 am #

    saya orang biasa tapi saya mau tahu tentang keturunan ba abud yang di palembang katanya sudah meninggal tapi disini dijelaskan masih ada keturunaannya

  24. sry priharti ningsih
    16 Sep ’10 6:21 am #

    bisakah Anda jelaskan tentang keturunan ba,abud yang ada dipalembang yaitu Ahmad

  25. sry priharti ningsih
    16 Sep ’10 6:28 am #

    dengan kerendahan hati moho Saudara memberi penjelasan dan kapan saya akan mandapat jawabannya

  26. muhammad
    22 Oct ’10 5:49 pm #

    Ana punya sepupu,dia marganya alaydrus dari pacitan.apa benar alaydrus yang berasal dari pacitan sudah terputus nasabnya.terima kasih ya habib atas penjelasanya.

  27. sayid hendy iwan kusuma ba'abud
    29 Oct ’10 4:28 pm #

    ana punya abi sayid mirza ba’abud
    ana punya kakek sayid mamud ba’abud
    ana punya buyut sayid gibon ba’abud beliau dahulu tinggal di samarinda dan balikpapan . mohon dibantu

  28. Haris padilah
    14 Sep ’11 9:36 am #

    Assalamualaikum.sy ponakan dari habib suriansyah(sungai jingah banjarmasin) bin husin bin abdullah bin irsyad al ba’abud.yg trcantum di atas tulisan ini.sy skarg bermukim di kota kabupaten pelaihari tanah laut.sy mw brtanya apa sudah di temukan silsilah yg menyambung ke saudaranya irsyad al ba’abud itu yg konon katanya brada di palembang.di tunggu informasinya.trimksih..

  29. husein
    3 Oct ’11 12:52 pm #

    Di FB ada akun yg membahas masalah nasab alawiyyin yaitu BAG [berantas alawiyyin gadungan]di situ pernah di bahas masalah alaydrus pacitan yg tidak di akui oleh rabithah alawiyyin padahal ada naskah nasabnya yg di tulis oleh annasabah habib ali bin jakfar assegaf,yg ingin saya tanyakan alasannya apa rabithah menolak nasab yg di keluarkan oleh habib ALI bin JAKFAR thd keluarga alaydrus pacitan ini.?

  30. Hamba illahi
    4 Nov ’11 2:46 pm #

    As_salam.biarlah sudah nasab yg terputus itu.biar allah dan rosul-NYA yg mengetahui.pabila benar ana adalah keturunan rosulullah s.a.w…