AlHabsyi Berlabuh di Daratan Banjar

TUMBUHNYA komunitas keluarga Al-Habsyi di bumi Banjar diawali oleh datangnya Ahmad, Zen, dan saudara-saudara mereka. Tiada catatan waktu yang jelas kapan mereka tiba pertama kali. Diperkirakan ini terjadi di sekitar penghujung abad ke-19 atau permulaan abad ke-20. Saat itu, di Banjarmasin paling tidak sudah ada satu keluarga Al-Habsyi yang berdiam di daerah Ujung Murung, yakni Sayid Idrus bin Hasan Al-Habsyi. Sayid Idrus adalah kepala orang Arab di Banjarmasin. Pada tahun 1863 ia menjadi anggota Dewan Pengadilan di Banjarmasin (sebuah lembaga mewakili pemerintah pusat yang merupakan bentukan Belanda pasca dihapuskannya kesultanan Banjar pada tahun 1860).

Tags: , ,

12 Responses

  1. sambungan hal depan (AlHabsyi)
    26 Apr ’07 9:41 am #

    Sayid Idrus AlHabsyi sebelum menetap di Banjarmasin sempat tinggal di Sambas, Kalbar. Di Sambas, Sayid Idrus menikah dengan kerabat kesultanan Sambas yang bernama Noor. Dari perkawinan mereka lahir Sayid Hasan, yang kelak menggantikan sang ayah menjadi Kapten Arab di Banjarmasin. Sayid Idrus meninggal dunia di Banjarmasin tahun 1296 H (1876 M) dan bermakam di Turbah Sungai Jingah. Idrus di dipercaya sebagai Al-Habsyi pertama yang bermakam di alkah khusus sayid dan syarifah itu. Sayid Hasan bersahabat dekat dengan Surgi Mufti H. Jamaludin bin Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjari.

    Ketika Sayid Hasan mendahului berpulang ke rahmatullah, Mufti H. Jamaludin (1793-1928) menangis luar biasa. Saudara perempuan Hasan yakni Syarifah Mahani kelak juga menikah dengan lelaki Al-Habsyi bernama Sayid Muhammad bin Agil. Sayid Muhammad disebut-sebut sebagai guru tarikat yang mempunyai murid Panglima Batur (pejuang perang Banjar yang dihukum gantung oleh Belanda tahun 1905). Keluarga Sayid Muhammad pernah menyembunyikan keberadaan Ratu Zaleha ketika pejuang wanita cucu Pangeran Antasari ini diburu-buru oleh Belanda. Sayid Hasan bin Idrus Al-Habsyi mempunyai 2 putra dan 3 putri, masing-masing: Sayid Husin, Sayid Abubakar, Syarifah Sehah, Syarifah Aisyah, Syarifah Noor .

    Sayid Husin menikah dengan wanita Banjar bernama Intan dan mempunyai 4 anak perempuan yakni Syarifah Sidah, Syarifah Salmah, Syarifah Mastora dan Syarifah Maryam. Sedang Abubakar, anak Sayid Hasan dengan perempuan di Alalak (?) menurunkan anak cucu Al-Habsyi di Alalak Berangas. Syarifah Fatima anak Sayid Muhammad bin Agil Al-Habsyi kemudian dinikah oleh Sayid Hasan bin Saleh Assegaf, pendatang asal Hadramaut. Sayid Hasan Assegaf adalah pedagang besar yang berniaga sampai Afrika, India, Singapura dan Surabaya. Sebagai pedagang ia mencatat aktivitas jual belinya menggunakan sistem administrasi dan akuntansi berbahasa Arab.

    Sayid Hasan-lah yang mengajak Kapten Arab Sayid Alwi anak Abdullah bin Alwi Al-Habsyi ke Banjar. Syarifah Fatimah adalah nenek dari Ali bin Muhammad Assegaf (ketua Rabitah Alawiyyin Kalsel) dan (alm) Umar bin Muhammad Assegaf (mantan Ketua PHRI dan Ketua Apindo Kalsel). Syarifah Muzenah anak Sayid Muhammad lainnya menikah dengan Sayid Abdullah bin Abdul Kadir Al-Habsyi. Lazim terjadi, tiap pendatang orang Arab akan melaporkan diri dan identitasnya dicatat oleh kepala orang Arab (Kapten Arab).

    Kedatangan Ahmad, Zen dan saudara mereka Salim dan Umar ke Banjarmasin kemungkinan juga karena adanya kontak kekeluargaan sebagai sesama Al-Habsyi. Ayah Ahmad dan Zen, Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi yang berdiam di Hadramaut suatu ketika kemudian datang mengunjungi putra-putranya di Banjarmasin. Sayid Muhammad bin Alwi karena sakit dan sudah tua akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Turbah Sungai Jingah Banjarmasin.

    Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi mempunyai 7 putra. Husin, putra sulung, pernah singgah ke Banjar tapi kemudian balik lagi ke Hadramaut. Abdillah putra kedua memilih hijrah ke Aceh dan bermukim di sana hingga akhir hayatnya.. Putra Muhammad lainnya Ahmad berdiam di Pal 1 (Jl. A. Yani Km 1), Zen dari Banjarmasin kemudian memilih bertempat tinggal di Martapura,, Ali berdiam di Lawang (daerah perbatasan Malang-Pasuruan), Salim (tinggal di sekitar Pasar Rambai, kampung Telawang Banjarmasin dan kemudian tinggal di Basirih), serta si bungsu Umar di Pal 1. Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi mempunyai tiga saudara yakni Abdullah, Syekh dan Hasan. Abdullah tetap tinggal di Hadramaut, sedang Syekh (?) dan Hasan juga memilih hijrah ke Banjarmasin. Ahmad anak Muhammad kemudian menikah dengan sepupunya Syarifah Fetum anak Syekh. Zen menikah dengan perempuan dari keluarga Assegaf dan menetap di Martapura. Salim menikah dengan Syarifah Mariam anak Habib Hamid bin Abas Bahasyim (Habib Wali di Basirih Banjarmasin). Umar menikah dengan Syarifah Mariam anak Sayid Husin bin Hasan Al-Habsyi. Kapten Arab Sayid Alwi anak Abdullah menikah dengan sepupunya Syarifah Raguan anak Syekh. Hasan, saudara Sayid Muhammad yang tinggal di Martapura, mempunyai putra bernama Ali. Ali punya putra Hamid. Keluarga inilah yang menurunkan Al-Habsyi di Kota Intan Martapura.

    Kawin dengan Pegustian

    Keluarga Al-Habsyi selain menikah dengan keluarga dekat sesama keturunan pendatang asal Hadramaut juga ada yang membentuk keluarga dengan wanita Banjar berdarah bangsawan. Muhammad Al-Habsyi, misalnya, menikahi perempuan Banjar bernama Hajjah Gusti Hadijah binti Gusti Musa. Dari garis ibu, ibu Gusti Hadijah yang bernama Gusti Maryam adalah buyut dari raja Banjar Sultan Sulaiman (w 1825).

    Anak-anak mereka yang berdarah bangsawan banjar itu kemudian menikah dengan keluarga Al-Habsyi. Syarifah Buhayah dinikah oleh Ali bin Hasyim Al-Habsyi. Syarifah Noor dinikah oleh Achmad bin Muhammad Assadiq Al-Habsyi. Syarifah Lawiyah anak Ali dan Syarifah Buhayah menikah dengan Sayid Saleh bin Husin anak Sayid Muhammad bin Alwi Al-Habsyi. Sayid Saleh adalah pendatang kelahiran Hadramaut.

    Sebelum ke Banjar, Sayid Saleh pernah tinggal di Garut (Jabar) dan berkeluarga di sana. Dari perkawinan itu lahir Sayid Ahmad yang kemudian bersama ayahnya menetap di Banjarmasin. Sayid Ahmad bin Saleh Al-Habsyi menikah dengan Syarifah Hadijah dan mempunyai 8 anak. Syarifah Salmah (Wanamah) anak Ali dan Syarifah Buhayah lainnya menikah dengan Sayid Hasyim bin Abdul Kadir Al-Habsyi, pada tahun 1942.

    Dari perkawinan ini lahir Syarifah Aminah dan Sayid Ahmad (pemimpin pengajian di Ratu Zaleha Banjarmasin). Sayid Hasyim bin Abdul Kadir Al-Habsyi membuka Maulid Habsyi pertama di rumah Habib Ahmad bin Sultan Assegaf (menantu Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi) di Pal 1. Sayid Hamzah anak Ali dan Syarifah Buhayah yang lain, menikah dengan anak Kapten Arab Alwi bin Abdullah Al-Habsyi.

    Sayid Hamzah dikenal sebagai manusia serba bisa dan otodidak. Selain aktif bermain gambus, pandai melukis, juga pandai mengajar (menjadi guru). Sayid Hamzah pada tahun 50-an dikenal sebagai penceramah yang kerap tampil di RRI Banjarmasin dan memimpin sebuah Majelis Ta’lim Golkar. Selain menikah dengan anak Kapten Arab, Sayid Hamzah punya istri di Bali.

    Rumpun keluarga Al-Habsyi yang lain adalah Abdullah bin Husin Al-Habsyi. Abdullah datang ke Banjarmasin melewati Palembang. Tak hanya dikenal sebagai ulama besar, Abdullah merupakan seorang pedagang ekspor impor yang punya hubungan luas dengan aktivitas dagang di manca negara. Abdullah diketahui punya dua putra yakni Hasan (kelahiran Palembang) dan Husin (kelahiran Banjarmasin). Husin, putra Abdullah dari hasil perkawinannya dengan perempuan Banjar bernama Mariam, tercatat pernah melakukan 99 kali perkawinan. Anak keturunannya berjumlah 32-35 orang tersebar di pelbagai kota di Kalsel hingga Samarinda, Kaltim.

    Salah satu istrinya adalah perempuan Kandangan bernama Antung Syahrul. Anak mereka Ahmad yang kelahiran Simpang Lima Kandangan dipanggil masyarakat dengan sebutan Antung (gelar keturunan bangsawan Banjar). Selain Husin, Abdullah juga mempunyai 4 anak perempuan, salah satunya bernama Syarifah Noor yang menikah dengan Sayid Muhammad (Al-Habsyi), pendatang asal dari Geidun, Hadramaut. Sayid Muhammad merupakan seorang hafiz (hafal Qur’an). Tiap kali akan bersalaman dengan orang lain ia terlebih dulu bertanya, “Sudah berwudlu belum?”

    Dari perkawinan Syarifah Noor dengan Sayid Muhammad lahir Syarifah Fatmah yang kemudian menikah dengan sepupunya Antung Ahmad (Kandangan) bin Husin. Dari perkawinan tersebut kemudian lahir Sayid Alwi Al-Habsyi. Tiga saudara perempuan Syarifah Noor juga menikah dengan lelaki kelahiran Hadramaut yakni Sayid Abdullah, Sayid Isa dan Sayid Abdurrahman. Empat orang sayid asal Hadramaut yang menikah dengan 4 putri Sayid Abdullah bin Husin Al-Habsyi ini meninggal dunia tahun 1940-an dan juga bermakam di Turbah Sungai Jingah.

    Selain rumpun keluarga tersebut di atas, masih ada nama Muhamamad bin Abdillah Al-Habsyi. Ia merupakan Kapten Arab pengganti Alwi bin Abdullah Al-Habsyi. Muhammad terkenal sebagai saudagar kaya raya yang mempunyai istri hingga 40 orang. Perjalanannya dari Hadramaut kemudian ke pelbagai kota di Jawa lalu bermukim di Banjar hingga akhir hayatnya.

    Ia mempunyai istri di Semarang Surabaya dan Banjar. Muhammad mempunyai saudara bernama Abdul Kadir. Ia pun sebagaimana saudaranya kelahiran Hadramaut. Orintasi hidup Abdul Kadir ini terbilang langka. Ia jauh dari dari gemerlap kegidupan duniawi. “Sidin ini wali, kada tahu diduit,” ujar Syarifah Noor, cucunya.

    Muhammad mempunyai dua putra yakni Idrus dan Alwi. Yang terakhir ini pernah mendapat sorotan majalah karena kemampuanya mengusir setan (hantu). Ali anak Idrus menikah dengan sepupunya Syarifah Noor anak Alwi. Dari perkawinan mereka lahir antara lain Abdillah (pemilik Toko Kitab Adinda di Jalan P. Antasari) dan Syarifah Ni’mah.

  2. Kenangan dengan Habib Anis AlHabsyi
    26 Apr ’07 9:49 am #

    Kenangan Bersama Habib Anis Bin Alwi AlHabsyi

    Khataman Qur’an Masjid Riyadh

    Berharap Berjumpa (Lagi) Nikmat Ramadhan

    Ribuan jemaah dari pelbagai kota memenuhi kompleks Masjid Riyadh Solo. Beruntunglah mereka yang mengisi Ramadhan dengan amal ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.

    Lebih dari 2000 umat Islam yang merupakan jemaah Shalat Tarawih tumpah ruah memenuhi kompleks Masjid Riyadh di Jalan Gurawan, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Selasa, 1 November 2005 lalu. Malam itu memang bukan malam biasa. Tetapi malam istimewa karena malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan atau hari ke-29. Lailatul Qadr (malam yang nilainya lebih dari seribu bulan, malam di mana para malaikat dan Jibril turun ke dunia untuk mengatur segala urusan) dipercaya datang pada bilangan ganjil di 10 malam akhir bulan Ramadhan yaitu malam ke-21, 23, 25, 27 dan ke-29.

    Jemaah mulai berdatangan beberapa jam sebelum acara di mulai. Bahkan ada yang datang sehari sebelumnya, terutama bagi mereka yang tinggal di luar kota Solo. Mereka datang secara khusus untuk mengikuti Shalat Tarawih penutup serta pelaksanaan Khatmil Qur’an (Khataman Qur’an) yang dipimpin oleh Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi.

    Ahmad Ashadi, 25, yang asal Kudus, Jawa Tengah, misalnya, sudah tiba satu hari sebelum pelaksanaan acara bersama sejumlah anggota rombongan menggunakan transportasi bus angkutan umum. “Saya datang Senin kemarin bersama teman-teman. Kami dari Kudus, semuanya berjumlah 20 orang,” ujar Ashadi kepada wartawan Alkisah. Ashadi, sore itu, usai mengerjakan shalat Ashar, membantu panitia menata dan menggelar karpet di halaman kompleks Masjid Riyadh.

    Sementara itu, Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi, imam besar Masjid Riyadh sekaligus tuan rumah, sejak ba’da Zuhur tampak mengawasi pemasangan tenda dan perlengkapan-perlengkapan pendukung acara lainnya. Sembari menyambut tamu-tamu yang datang dari pelbagai penjuru luar kota.

    Usai memimpin shalat Ashar, Habib Anis kembali masuk kamar menemui tamu-tamunya. Ustad Abubakar mengisi pengajian singkat siraman rohani ba’da Ashar sebelum Maghrib. Dalam uraian ceramahnya, Ustad Abubakar antara lain memaparkan tentang rusaknya amal ibadah seseorang akibat perbuatan hasad (dengki). Disinggung pula tentang perselisihan yang dapat membuat do’a seseorang menjadi tidak makbul (terkabul). “Hindarilah perselisihan karena itu dapat membuat do’a kita tertolak,” katanya mengutip Imam Ghazali.

    Satu persatu, jemaah berdatangan mengisi shaf-shaf kosong di ruang utama masjid berukuran sekitar 10 x 10 meter itu. Yang datang belakangan, terpaksa kebagian tempat di serambi selatan dan timur masjid serta sayap utara masjid yang bertembusan dengan kediaman Habib Anis. Beberapa jemaah terlihat berziarah sambil memanjatkan do’a di makam pendiri Masjid Riyadh Solo Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, orangtua dari Habib Anis.

    Di bagian lain, para jemaah wanita –selain warga Solo dan sekitarnya sebagian datang bersama suami masing-masing dari luar kota– menempati lantai dua bangunan gedung cukup megah kompleks Masjid Riyadh yang bersatu dengan kediaman keluarga Habib Anis.

    Dua menit menjelang waktu berbuka puasa tiba, Habib Anis kembali memasuki baris pertama masjid. Sebiji kurma, sepotong kue bika dalam bungkusan plastik dan segelas minuman hangat menjadi hidangan pembuka jemaah berbuka puasa. Habib Anis berbaur dengan jemaah Masjid Riyadh menyantap makanan pembuka itu. Habib Anis kemudian mengimami pelaksanaan shalat Maghrib berjemaah. Usai shalat Maghrib jemaah mendapat suguhan nasi kotak dengan lauk rendang daging, serundeng plus air mineral.

    Meski sempat dilanda hujan ringan, pada pukul 16.00, jemaah yang datang tak henti. Cuaca agak dingin tak menyurutkan langkah dan semangat mereka untuk mengisi ibadah terakhir di bulan yang penuh berkah itu. Yoyok, 30, misalnya, sengaja berangkat sendirian tanpa teman dengan mengendarai sepeda motor dari kabupaten tetangga Solo yaitu Karanganyar. “Ini pertama kali saya ikut tarawih di Masjid Riyadh. Saya ingin mendapat Lailatul Qadr,” ungkapnya. Jemaah lainnya, Muhammad, berangkat dari Jepara ke Solo juga naik kendaraan roda dua berboncengan dengan seorang temannya. Sementara Ihwan, seorang jemaah peserta pengajian Habib Anis sejak dua tahun lalu, sengaja datang dari Yogya dengan menumpang kereta api. Semuanya dengan tujuan mencari ridha Ilahi dengan melakukan ibadah terakhir di penghujung bulan Ramadhan.

    Habib Anis, yang merupakan putra pendiri Masjid Riyadh Solo Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi dan sekaligus cucu pengarang Kitab Maulud Habsyi (Shimthu’d-Durar) yakni Al-Habib al-Imam al-‘Allaamah Ali bin Muhammad Al-Habsyi, kembali memimpin shalat Isya berjemaah. Dalam shalat Isya ini, jemaahnya masjid Riyadh bertambah istimewa dengan kedatangan sejumlah tokoh agama dan habib dari Jakarta, dan kota-kota sekitar Solo.

    Pada pelaksanaan Shalat Tarawih (20 rakaat) dan Witir (3 rakaat) ini, Habib Anis bergantian menjadi imam dengan anaknya. Habib Husain putra pertama Habib Anis maju ke depan untuk menjadi imam pertama selama 12 rakaat. Habib Anis kemudian tampil berikutnya menyelesaikan 11 bilangan rakaat terakhir termasuk Witir. Shalat Tarawih malam itu dimulai dengan membaca surah Adh-Dhuhaa (surah Al-Qur’an ke-93) dan diakhiri dengan surah An-Naas (surah ke-114, surat terakhir dari Al-Qur’an).

    Bersama-sama jemaah, Habib Anis kemudian membaca Al-Fatihah (surah pertama Al-Qur’an), lima ayat awal surah Al-Baqarah (surah ke-2). Jemaah kemudian membaca do’a shalawat yang biasa dibaca Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi ketika merampungkan ibadah shalat Tarawih. Beberapa tempo sebelumnya, panitia membagikan sepotong kue dan minuman untuk menghapus dahaga dan penat hadirin.

    Lampu-lampu utama kemudian dimatikan, dan yang tertingal hanya lampu kecil di atas mihrab, ketika Habib Anis kemudian membacakan do’a khatam Qur’an (Fushul) dari Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, yang kemudian dirangkai dengan khotbah yang pernah dibaca Wali Qutb Syekh Abdul Qadir Jailani di malam khataman Qur’an pada bulan Ramadhan. Seorang jemaah tua yang duduk di samping Alkisah, tak kuasa menahan haru. Sambil terisak-isak ia mengucap,” Yaa Kariim, Yaa Kariim,” berulang kali. Selama masa pembacaan do’a-doa ini suara tangis dari berbagai sudut membentuk irama seperti bersahut-sahutan. Do’a dan khotbah dibaca bergantian oleh para habib. Beberapa diantaranya membacanya sambil menahan rasa haru.

    Lampu yang semula padam kemudian dinyalakan kembali pada waktu giliran Habib Najib bin Thoha Assegaf menjadi pembicara terakhir yang menyita perhatian dan menggedor jiwa serta perasaan ketika menjelaskan khotbah khataman Qur’an dalam bahasa Indonesia.

    “Kita sekarang berada di penghujung, detik-detik terakhir. Ramadhan akan berangkat meninggalkan kita. Beruntunglah orang-orang yang mengisi Ramadhan dengan amal ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. Celakalah yang ketika Ramadhan datang tidak mengisinya dengan amal baik, membiarkan hari, jam, menit, detik lewat. Seakan-akan tak ada karunia yang dilebihkan Allah kepada kita, padahal Allah membuka pintu bagi orang-orang yang ingin mendekatkan diri. Beruntunglah orang yang tadarus, shalat tarawih, bersedekah, menghubungkan tali silaturahmi. Tapi, tidak semua orang yang memanfaatkan bulan Ramadhan,” papar Habib Najib.

    Adik ipar Habib Anis ini kemudian mengungkapkan betapa kepergian Ramadhan merupakan kehilangan. Terputuslah Tarawih, terputus perkumpulan di masjid, lampu-lampu di masjid pun dipadamkan, yang biasanya menyala berjam-jam. Semua kembali menjadi suasana biasa. “Apakah Ramadhan telah kita isi dengan amalan kepada Allah?”

    Merugilah, orang yang berkata, aku masih bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun depan. Padahal ia tak berbuat apa-apa. Sedang umur manusia di tangan Tuhan. “Mana ayah kita, mana ibu kita, mana suami kita, mana istri kita, mana saudara kita, mana anak kita, mana kakek kita, mana kawan-kawan kita yang Ramadhan kemarin masih bersama kita? Mereka telah berangkat meninggalkan kita lebih dulu (menghadap Ilahi). Mereka akan kita susul. Semua akan dipertanggungjawabkan kepada Allah,” ingat Habib Najib.

    Meski manusia banyak berbuat dosa dan suka melanggar perintah-Nya, Allah akan menerima hamba-hambaNya jika mereka mau bertobat. Kata Habib Najib, Allah masih memberikan kepada kita berupa ayat kegembiraan. “Kepada hamba-hamba-Ku yang kelewat batas, jangan sekali-kali berputus asa, jangan sekali-kali berputus asa. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Ya, Allah pada malam ini kami minta ampun, banyak dosa, berlumuran dosa. Engkau yang menutup aurat kami, sehingga orang tidak tahu kedurhakaan kami. Seandainya Kau tolak kami, kemana kami lari?” Hujan isak tangis, tanpa dikomando, kembali terdengar di antara jemaah Masjid Riyadh. Bahkan ada yang memekik histeris.

    Pada bagian lain uraiannya, Habib Najib mengemukakan tentang anak saleh tergantung dari orangtua yang saleh. Didiklah anak dengan menanamkan amal baik, bukan membesarkannya dengan uang dan harta. “Anak yang saleh adalah modal yang lebih besar dari harta,” kata habib yang sehari-hari menjadi pengajar tafsir di Masjid As-Saggaf Wiropaten, Solo ini.

    Hampir selama 45 menit Habib Najib menyampaikan khotbahnya hingga waktu menunjukkan jam 23.00. Di bagian akhir Habib berdo’a untuk keselamatan negeri dan mengajak para pemimpin supaya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. “Semoga negeri ini dijaga dari tangan-tangan kotor. Yang akan menghancurkan negeri, yang akan menghancurkan ajaran Islam, hancurkan mereka. Yang merubah ajaran Islam dan berpikir negatif tentang Islam, hancurkan dan enyahkan,” ujar Habib Najib.

    Usai khotbah, jemaah lalu berdiri dan membaca shalawat. Habib Anis, Habib Najib dan sejumlah habib lainnya kemudian berpindah duduk di sayap utara masjid yang merupakan ruang zawiah. Tampak antara lain Habib Dr. Salim Al-Jufry, Habib Husin Mulachela, Habib Jamal As-Saggaf, Habib Umar Zahir, Habib Ali bin Alwi Al-Habsyi (adik Habib Anis), Habib Syech bin Abdulkadir As-Saggaf, Habib Soleh Al-Jufry, Habib Dhia Al-Jufry, dan beberapa tokoh ulama lainnya. Sambil menikmati suguhan tuan rumah berupa bakso, dan aneka buah-buah seperti anggur, rambutan, lengkeng, dan salak, para habib bersama jemaah Masjid mendengarkan hiburan qasidah yang dibawakan oleh santri-santri Pondok Pesantren Riyadhus Salihin Sragen.

    Habib Anis dengan wajah riang terlihat menikmati syair-syair yang mengandung pujian kepada Allah dan Rasullullah tersebut. Acara berakhir tepat pukul 01.00, dan Habib Anis masuk ke kamar untuk beristirahat. Sebelum itu puluhan jemaah dari anak kecil hingga jemaah dewasa berusaha mendekati Habib Anis untuk bersalaman sambil mencium tangan beliau. Jemaah sekitar Solo pulang ke rumah masing-masing, sementara jemaah luar kota bertahan sampai pagi. Jemaah asal luar kota berkesempatan sahur bersama di kediaman Habib Anis.

    Habib Alwi Mulachela, warga Duren III Selatan, Jakarta, mengungkapkan menghabiskan bulan Ramadhan di majelis Habib Anis memiliki kesan tersendiri. “Saya tinggal di sini sejak malam ke-19. Ada suasana yang tak saya temukan di tempat-tempat lain,” katanya.

    Kepada Alkisah, Habib Novel bin Muhammad Alaydrus menjelaskan, selama Ramadhan ini, Masjid Riyadh dua kali menggelar acara khataman Qur’an. Pertama, malam ke-19 Ramadhan yang merupakan khataman Qur’an dari hasil bacaan tadarus harian sehabis Shalat Zuhur. Kedua, malam ke-29 Ramadhan, khataman bacaan Qur’an yang dibaca dalam Shalat Tarawih. Bedanya dengan malam terakhir Ramadhan, pada malam ke-19 acara Shalat Tarawih dan khataman Qur’an berlangsung lebih cepat dan hanya sampai jam 22.50. “Waktu malam ke-19, jemaah juga penuh, bahkan ada sekitar 13 orang jemaah yang datang dari Malaysia,” ungkap Habib Alwi Mulachela.

    Para jemaah yang bertahan hingga Subuh, akhirnya berpamitan kepada Habib Anis ba’da Shalat Subuh. Mereka pulang ke rumahnya masing-masing, karena besoknya merupakan Hari Lebaran Idul Fitri. *** (penulis:Bintang Ali Hafiz Emre)

  3. Anonymous
    2 Sep ’08 5:22 am #

    salam, tuan dan puan
    alhamdulillah dan selamat berpuasa diucapkan…
    saya juga ingin mencari keluarga datuk saya di banua banjar, dikhabarkan dari kandangan?. nama datuk saya tamin bin marin bin julak. beliau ini meninggal dunia di sungai gadung, semanggol, daerah kerian, perak tahun 1945/46. Semasa merantau ke Batu Pahat, Johor tahun 1920an bersama anak sulungnya Rahmah dan menantunya Mukhtar ada meninggalkan keluarga di Kandangan?, banjar.
    Setelah Tamin ini meninggal dunia anak sulungnya Rahmah dan Mukhtar serta anak perempuan, lahir tahun 1942/43, mereka balik semula ke banua banjar sekitar tahun 1947/48…
    kisah keluarga tamin di malaysia dan singapura ada saya tulis di blog ibnutamin@blogspot.com

    Bagaimana ya untuk menjejaki mereka ini……..

    sekian, wassalam
    abd rahim bin durani
    ibnutamin@blogspot.com

  4. Anonymous
    12 Dec ’08 12:06 pm #

    ass.wr.wb
    kepada pengasuh blog adakah kisah tentang keluarga al asy syathri/asy syathiri
    wass.wr.wb

  5. Asif
    17 Mar ’10 9:30 am #

    http://persian.packhum.org/persian/main?url=pf%3Ff%26file%3D09801020%26ct%3D0

    Ass.Wr.Wb,

    Saya terpanggil untuk masuk keblog ini untuk membetul satu perkara tentang keturunan Al-Hasani dari Zayd bin Hasan bin Ali yang telah dikatakan pupus. Maaf sebenarnya keturunan ini lebih suka dikenali dengan keturunan Bugis Wajo, mereka berkembang biak diWajo dan Samarinda Indonesia juga berkembang biak diPerak, Malaysia. Kerana tiada gelaran dipangkal nama maka mereka ini tidak dikenali. Sila masuk kelaman web diatas, banyak informasi yang bolih didapati, salah satu perkara besar ialah pembantaian olih keturunan Bani Umayah terhadap keturunan Sayyids di Tabaristan. Dan yang sedih sekali berbunuhnya antara adek beradek sayyids setelah Tabaristan berjaya ditawan kerana berebut mejadi Sultan.
    Wassalam.

  6. Taufik
    1 Oct ’10 4:11 am #

    Salam untuk penulis di blog ini saya hanya ingin menanyakan adakah penulis tahu tentang asal usul nenek saya yg keturunan kesultanan banjar nenek saya bernama Ratu khadijah ( biasa dipanggil antung galuh ). dulu waktu saya masih kecil ada utusan pemda dari bajarmasin mengajak nenek saya pulang tapi nenek saya menolaknya karena nenek tidak mau jauh dari makam suaminya di jakarta

  7. Jam tangan grosir
    11 Nov ’10 6:35 pm #

    Hai, salam persahabatan sebelumnya. Maaf baru bisa melakukan kunjungan balik karena habis melakukan perjalanan panjang ke Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia dalam rangka mengikuti kegiatan New Media Dialogue + Borneo Bloggers Award 2010. Thanks…

  8. free sms
    26 Jan ’11 7:13 am #

    can i copy this post to my blog?

  9. jam tangan
    5 Mar ’11 4:36 pm #

    Hrmm aneh, komentar saya tiba2 menghilang. Pokoknya saya ingin mengatakan bahwa artikel ini bagus supaya tahu bahwa orang lain juga menyebutkan ini, karena saya mengalami kesulitan mencari info yang sama di tempat lain. Ini adalah tempat pertama yang mengatakan kepada saya jawabannya. Terima kasih.

  10. Syarifah Susan
    3 Jul ’11 4:05 pm #

    syayyid Hamzah Al-Habsy putra dari Ali dan Syarifah Buhayyah, menikah lagi dengan syarifah fatmah al-habsy dari Lombok (bukan dari bali),, tepatnya di Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah,,,syayyid hamzah dan syarifah fatmah memiliki empat orang anak, yakni syayid ali, syayyid ja’far, syarifah muznah, dan syayyid abdurrahman,,, dan kebetulan syayyid ali mempunyai anak empat orang, yakni syarifah buhayyah, syayyid muhsin, syarifah susan soraya, dan syayyid abdullah,,, (kebetulan sy sndiri syarifah susan soraya),, trimakasih kami luruskan bahwa, istri syayyid hamzah bukan dari bali,, tapi dari Lombok,,,

    • MUZMA ALHABSYIE
      26 Oct ’11 8:21 am #

      SALAM UNTUK PENULIS DI BLOG INI, SAYA HANYA INGIN MENANYAKAN ADAKAH PENULIS TAU TENTANG ASAL USUL KAKEK SAYA YANG BERNAMA ALHABIB IBRAHIM BIN JAFAR BIN THOHA BIN HASAN BIN SYEH ALHABSYIE YANG BERASAL DARI GORONTALO.

  11. muhammadi alkaff
    18 Sep ’11 5:13 pm #

    Kalo tidak tau sejarah keturunan alhabsi habib hasan dan husin alhabsi binn abdullah alhabsi jangan makanya bertanya dulu kepada keluarganya terima ksaih