Alaydrus Nun Jauh di Pulau

Suatu ketika seorang Habib berziarah ke makam Syekh Muhammad Arsyad AlBanjari di Kalampayan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar. Di makam Datu Kalampayan itu, Sang Habib dengan tertib membaca Kitab Sabilal Muhtadin yang ada di tangannya. Sabilal Muhtadin adalah kitab fiqih klasik karya utama ulama besar penyebar agama Islam di Kalsel pada abad ke-18 itu.

Tags: , ,

49 Responses

  1. Anonymous
    6 May ’07 11:07 am #

    Selang beberapa masa, Habib Mustofa bin Abdul Qadir Alaydrus itu menerima kunjungan Syekh HM Zaini Ghani yang populer dengan sebutan Guru Sekumpul. Mereka bertemu di Jakarta. Guru Sekumpul dipesani oleh leluhurnya Datu Kelampayan (lewat mimpi) agar membantu memakmurkan Majelis Taklim Sang Habib yang tinggal di Tebet, Jakarta itu.

    “Syekh Arsyad menyampaikan lewat mimpi kepada Guru Sekumpul menyatakan bahwa saya adalah salah satu muridnya. Syekh juga menitip pesan ke Guru Sekumpul untuk membantu saya,” tutur Habib yang pandai berbahasa logat Melayu ini.

    Habib Mustofa Alaydrus memiliki sebuah Majelis Taklim di samping tempat tinggalnya di Tebet, Jakarta. Namanya (kebetulan sama) Sabilal Muhtadin. Nama Sabilal Muhtadin, menurut Habib Mustofa ia ambil dari nama sebuah kitab karangan Habib tempo doeloe. Di Lantai 2 Majelis Taklimnya terdapat foto Datu Kelampayan dan Guru Sekumpul.

    Habib Mustofa Alaydrus kerap diundang berdakwah ke berbagai pelosok pedalaman Kalteng dan berbagai Kabupaten di Kalsel. “Saya pernah ke Sampit, dan daerah-daerah pedalaman Barito lainnya. Waktu di sana, saya pernah tercebur ketika mandi di sungai,” ujarnya.

    Nama Habib Mustofa Alaydrus cukup populer dan dihormati oleh kalangan pejabat di Kalsel. Seorang kepala daerah tingkat II di daerah ini yang berniat maju mencalonkan diri untuk jabatan Gubernur Kalsel, mematuhi nasihat Habib Mustofa agar menunda pencalonannya saat Pilkada 2005 lalu. Kini kepala daerah itu masih menjadi orang nomor satu di wilayahnya.

    Habib Mustofa tetap tinggal di Jakarta, namun beliau bolak- balik mengadakan acara dakwah di beberapa Kota di Pulau Kalimantan. Beberapa Habib dari fam (keluarga) Alaydrus di daerah ini memiliki catatan minim tentang asal-usul dan latar belakang kedatangan mereka ke Tanah Banjar.

    Seseorang yang bermakam satu-satunya di depan Masjid Habib Ibrahim AlHabsyi di Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, termasuk salah satunya. Namanya Habib Ahmad bin Husin Alaydrus. Beliau wafat 1903/1904.

    Menurut Habib Ahmad bin Ali Alaydrus, salah satu ahli nasab habaib di Kalsel, Habib Ahmad berasal dari Jatinegara, Jakarta. Namun Ahmad angkat tangan soal mengapa Habib Ahmad sampai memilih dan kemudian bermakam di Nagara.

    Di Nagara, memang pernah terdapat pemukiman sejumlah habaib. Kini nama daerah itu disebut dengan Simpang Habib. Pada zaman Habib Alwi bin Abdullah Kapten Arab Barabai masih hidup, beliau kerap saling kunjung dengan kolega-koleganya para Habib dari Nagara.

    Habib Ahmad bin Husin Alaydrus memiliki seorang putra bernama Abubakar. Abubakar pernah duduk sebagai anggota legislatif. Beliau bersahabat dengan Idham Chalid. Habib Abubakar adalah salah satu pemuka NU di Kalsel.

    Menurut keterangan, Habib Abubakar-lah yang mempengaruhi ke-NU-an Ideham Chalid. Semula, alam pemikiran keagamaan Ideham Chalid agak dipengaruhi warna Muhammadiyah. Persahabatannya dengan Habib Abubakar membuat tokoh politisi sepuh asal Kalsel yang kini tinggal di Jakarta itu menjadi tokoh NU utama. Ideham Chalid pernah beberapa kali menjabat Ketua PBNU sebelum digantikan Gus Dur.

    Habib Abubakar memiliki dua putra yaitu Habib Muhammad (tinggal di Kelua, Kabupaten Tabalong) dan Habib Yahya (tinggal di Bincau, Kabupaten Banjar).

    Seorang bermarga Alaydrus lainnya adalah Habib Muhammad yang bermakam di Desa Mengkaok, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar. Beliau disebut-sebut putra dari Sunan Saleh Iderus. Makamnya menjadi salah satu objek ziarah. Beliau tinggal di Mengkaok sekitar tahun 1800.

    Belum jelas hubungan antara Habib Muhammad dengan dengan Pangeran Syarif Ali bin Abdurrahman Alaydrus, penguasa Sebamban pada zaman penjajahan Belanda. Pangeran Syarif Ali adalah cucu Sultan Kubu (Kalbar) Idrus bin Abdurrahman.

    Anak keturunan Syarif Ali Alaydrus bertebaran di Pagatan, Tanjung, Kandangan, Banjarmasin, Banjarbaru, hingga Yogyakarta.
    Anak buyut Imamul Auliya’ Sultonil Mala’ Waghautsil Akabir Syamsi Syumus AlHabib Abdullah bin Abubakar Alaydrus RA memang ada di mana-mana.

    Di masyarakat mereka menjadi orang biasa (kebanyakan), berprofesi sebagai pendidik, pendakwah, birokrat di pemerintahan, politisi, hingga menjadi pengusaha ternama. ali

  2. Anonymous
    6 May ’07 11:12 am #

    yusmili@yahoo.com <yusmili@yahoo.com> wrote:
    > Assalamualaikum wr wb,
    > Kenalkan ngaran ulun yudi yusmili. Tinggal di
    > Banjarmasin (Komp. Beruntung Jaya Jl. Hayam Wuruk).
    > Dapat ngaran pian di website NA Jakarta.
    >
    > Pian ada menulis silsislah pian yaitu bin Ahmad bin
    > Husin bin Ali bin Muhammad bin Syarif Ali Alaydrus.
    > Nah, ulun handak tahu sejarah hidup P. Syarif Ali.
    > Datu itu nang berkedudukan di Sebamban kalu?
    >
    > Pian bagana di mana? Apa hubungan pian wan Sayid
    Ahmad Alaydrus(Tanjung)?
    >
    > Salam,
    >
    > > yudi
    > 0818.876.717

    salam kenal juga. Benar Pangeran Syarif Ali makamnya
    di Sebamban di perkebunan kelapa sawit Tanah Bumbu.
    Maaf Aku belum begitu banyak mengenal manakib beliau
    yang aku tahu beliau cucu habib Abdurahman alaydrus yg
    datang dari hadramaut ke pontianak.

    Mengenai Ami Ahmad Tanjung beliau sepupu sama abah. Abah sudah lama meninggal dan ibuku masih ada di sungai mesa sedang
    aku begawi di Marabahan tepatnya di kecamatan
    Mandastana. syukron.//Fuad Syekh-<fsalaydrus_bjm@yahoo.com

  3. Anonymous
    6 May ’07 11:14 am #

    Berjalan di jalan para salafunas sholihin

    Dari : Ali Ridho bin Mustofa Barakbah

    Jaman berganti jaman hingga jaman kita sekarang ini tidak akan pernah lepas dengan apa yang dinamakan fitnatuz zaman (fitnah jaman). Berbagai fitnatuz zaman telah menerpa kita umat Islam, khususnya bagi kita, Bani Alawy, yang mempunyai garis keturunan dengan Rasulullah saw. Fitnatuz zaman tersebut ada yang berkenaan dengan materi dan keduniaan, dan ada juga yang berkenaan dengan agama dan akidah. Fitnatuz zaman yang terakhir inilah yang paling mengkhawatirkan bagi kita.

    Di akhir-akhir jaman ini, banyak kita jumpai di antara kita, mereka yang terkena fitnatuz zaman berupa agama dan akidah, sehingga mereka berpaling dari apa-apa yang dituntunkan oleh agama. Mereka berani untuk mengambil “jalan” yang berbeda dengan apa-apa yang telah ditempuh oleh orangtua-orangtua mereka yang sholeh. Mereka bahkan dengan bangga menunjukkan jalan yang mereka pilih sendiri, seakan-akan mereka baru saja menemukan jalan baru menuju kepuasan beragama dan berakidah. Ini semua dapat disebabkan karena begitu derasnya pengaruh lingkungan yang membentuk pemikiran mereka. Mereka bisa jadi orang yang kurang mengenyam pendidikan agama dan akidah, atau bahkan sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang oleh sebagian orang disebut sebagai “cendikiawan” yang begitu berbangga akan pemikiran-pemikiran barunya. Hanya saja yang pasti mereka kurang mengenal jalan yang ditempuh oleh orangtua-orangtua mereka yang sholeh, sehingga mereka tergelincir mengikuti jalan-jalan yang lain.

    Mungkin dalam ini, kita akan merasa malu jika saja kita bisa melihat bagaimana sejarah dan perjalanan hidup para ulama besar Islam yang begitu tawadhu’. Tidaklah mereka mengamalkan sesuatu melainkan mereka telah melihat itu diamalkan oleh generasi sebelum mereka. Kita dapat menyimak perkataan Al-Hafidz Ibnu Rajab tentang hal ini dalam bukunya Fadhlu Ilmis Salaf Alal Khalaf,

    “Para imam dan fuqaha ahli hadits sesungguhnya mengikuti hadits shahih, jika hadits tersebut telah diamalkan di kalangan para sahabat atau generasi sesudahnya, atau oleh sebagian dari mereka. Adapun apa yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena mereka tidak akan meninggalkannya kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan. Umar Ibin Abdul Aziz berkata, ‘Ambillah pendapat yang sesuai dengan orang-orang sebelum kalian, karena mereka lebih mengetahui daripada kalian’ “.

    Meskipun mereka, para imam dan fugaha ahli hadits, adalah para ulama besar, tapi mereka tidak pernah bangga akan ketinggian ilmunya. Sebaliknya, mereka begitu tawadhu’ dan merasa bukan apa-apa dibandingkan dengan para pendahulunya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Ibnu Hajar, Ar-Romly, Al-Khatib, Al-Qasthalany, Fakhrur Razy, dan ulama-ulama besar selainnya, dimana mereka berkata,

    “Tidak ada sesuatu yang merupakan hasil dari usaha keras kami.” Karena semuanya berkat ulama pendahulunya.

    Al-Habib Muhammad bin Hadi As-Saqqaf juga pernah berkata,

    “Demikianlah kami ini yang selalu teledor untuk tidak berjalan mengikuti salaf (pendahulu) kami. Kalau saja kami ini berjalan diatas jalan yang telah ditempuh oleh para salaf kami, maka pasti kami akan mendapatkan apa-apa yang mereka dapatkan, dan kami dapat menjadi seperti mereka.”

    Padahal kita tahu bagaimana kedalaman ilmu dan ketinggian maqam dari Al-Habib Muhammad bin Hadi As-Saqqaf. Namun toh demikian, semuanya tidaklah membuat beliau berbangga diri, akan tetapi merasa kecil di hadapan salafnya. Sikap inilah yang senantiasa membawa beliau untuk selalu berjalan di jalan para salafnya.

    Hal yang senada juga diungkapkan oleh Al-Imam Abubakar As-Sakron,

    “Kami ini tidak punya apa-apa. Hanya saja mereka (para salafunas sholihin) berjalan dengan kaki mereka, lalu kami ikut berjalan pada bekas tapak kaki mereka.”

    Asy-Syeikh Umar Al-Muhdhor pernah berkata mengenai diri Al-Imam Abdullah Al-’Aidrus,

    “Tidaklah aku nikahkan Asy-Syeikh Abdullah dengan putriku Aisyah, kecuali aku telah melihat dirinya berusaha dengan keras terhadap ahwal keluarga Ba’alawy semuanya.”

    Itulah sikap yang telah ditunjukkan oleh para salafunas sholihin. Mereka tidak lain kecuali berjalan sesuai apa yang telah ditempuh oleh pendahulunya. Pernah diceritakan oleh Al-Habib Alwi bin Abdullah Al-Atthas,

    “Ketika Syeikh Barakwah datang ke kota Tarim dengan tujuan untuk menarik dan mengajak saadah Bani Alawy guna mengikuti thariqahnya, maka dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Al-Faqih Al-Muqaddam. Di saat itu, Al-Faqih Al-Muqaddam berkata kepadanya, ‘Keluar kau dari kota ini, agar keturunanku tidak terpedaya oleh kelakuanmu yang menarik itu.’ Maka setelah itu, segera ia lari meninggalkan kota Tarim.”

    Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad pernah berkata,

    “Tarim…, tidak ada di dalamnya kecuali Allah, Rasul-Nya, Al-Faqih Al-Muqaddam dan thariqah orang-orang yang berendah diri di hadapan Allah. Tidak datang kepada kami kecuali darinya. Dan sungguh para salaf kami telah membuat landasan-landasan bagi kami di dalam berbagai urusan, maka tidaklah kami mengikuti seseorang kecuali mereka.”

    Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad juga pernah berkata dalam kitabnya Tatsbitul Fuad,

    “Adapun apa-apa yang telah berlalu dari salaf, baik yang sebelum jaman Asy-Syeikh Abdullah Alaydrus, maupun sampai jaman beliau, tidaklah kami ini kecuali terikat dengan mereka dan mengikuti apa-apa telah mereka bawa. Dan begitupun dari jaman beliau sampai jaman kita sekarang ini, tidaklah kami mengikuti kecuali apa-apa telah mereka lalui. Dan barangsiapa yang mengambil jalan baru, maka resiko akan ia tanggung sendiri.”

    Dalam perkataannya tersebut, Al-Habib Abdullah Alhaddad memperingatkan kita untuk tidak mengambil jalan baru, jalan yang tidak ditempuh oleh para salaf kita. Beliau sampai-sampai pernah berkata,

    “Tidak sepantasnya bagi seorang dari keturunan Bani Alawy untuk memilih jalan di luar jalan yang sudah ditempuh oleh para pendahulunya. Tidak sepantasnya ia berpaling dari thariqah dan siroh mereka. Mereka bahkan harus sebaliknya, mengikuti dan bahkan berusaha menarik orang yang mengaku sudah mendapatkan jalan di luar jalan yang ditempuh olehnya dan oleh keluarga Bani Alawy. Hal ini dikarenakan thariqah mereka telah disaksikan nilai kebenarannya oleh Al-Qur’an, As-Sunnah, jejak-jejak sholihin dan perjalanan para salafus sholeh. Itu semua terjadi karena mereka (keluarga Bani Alawy) menerima thariqah tersebut generasi dari generasi sebelumnya, ayah dari kakeknya, dan terus begitu sampai kepada baginda Nabi SAW. Kedudukan (maqam) mereka bertingkat-tingkat (di sisi Allah), ada yang utama dan ada yang lebih utama, ada yang sempurna dan ada yang lebih sempurna.”

    Dalam kalamnya yang lain beliau juga mengatakan,

    “Bagus dan memang sudah sepatutnya bagi orang dari keluarga Bani Alawy untuk menyeru manusia dan mengajak mereka kepada jalan yang telah ditempuh oleh pendahulunya. Betapa buruknya kalau ia justru membuang thariqah salafnya dan menyerahkan dirinya untuk mengikuti suatu thariqah yang bukan sebaik-baiknya thariqah. Semoga jangan demikian. Yang seharusnya ia dapat mengambil barakah dengan memegang perjalanan hidup para pendahulunya dan menaruh keyakinan kepada mereka. Berkenaan dengan hal itu, seseorang dari keluarga Bani Alawy tidak akan mendapatkan keberkahan selama-lamanya jika ia membuang thariqahnya dan memakai atribut yang bukan atribut para pendahulunya (semoga Allah meridhoi mereka semua).”

    Inilah peringatan bagi kita agar kita tidak berjalan menyimpang dari jalan para aslafunas sholihin. Terlebih lagi membuang thariqah salafnya dan menggantikannya dengan thariqah yang lain, serta berbangga karena hal itu. Lebih keras lagi, Al-Habib Muhammad bin Ahmad bin Ja’far bin Ahmad bin Zein Alhabsyi memperingatkan,

    “Qodho (ketetapan) itu tidak dapat dipungkiri, dan syariat harus diikuti tanpa dikurangi dan ditambahi. Para imam kita keluarga Bani Alawy telah melintasi jalur yang mulus dan jalan yang lurus. Barangsiapa yang mencari aliran baru untuk dirinya sendiri atau untuk putra-putrinya dengan cara tidak menempuh di jalan para datuk-datuknya yang saleh dan mulia, maka pada akhir umurnya ia akan menemui kekecewaan dan kebinasaan.”

    Dan, sebagai penutup, marilah kita camkan sungguh-sungguh pesan dari Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi kepada kita semua,

    “Siapa yang tidak menempuh jalan leluhurnya, pasti akan bingung dan tersesat.
    Wahai para cucu Nabi, tempuhlah jalan mereka”

    Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari fitnatuz zaman dan diberikan kekuatan untuk dapat berjalan di jalan para salaf kita.

    Ya Robbi usluk binaa nahjath thoriiqis sawiyyah
    fi thoriiqin Nabiy was saadatil Alawiyyah
    Ya Robbistajib wa’jal bi syarbah haniyyah

    Wallohu a’lam…

  4. Anonymous
    6 May ’07 11:16 am #

    Dunia adalah putri akhirat. Barangsiapa menikahi sang putri, maka haram baginya sang ibu. [Asy-Syeikh Abubakar bin Salim]

    Sedikit dari amalan batiniah lebih baik dari lautan amalan lahiriah. [Al-Imam Abdurrahman As-Saggaf]

  5. Anonymous
    6 May ’07 11:17 am #

    Selalu bermujahadah

    Kalam Al-Allamah Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz

    Perhatikanlah bagaimana para mujahid sebelum kita berjuang dan menanggung derita. Lalu kita yang datang setelah mereka, apa yang telah kita perbuat?. Sedangkan mereka, baik yang terdahulu maupun yang datang kemudian, telah menjual harta mereka untuk Allah, menjual diri mereka untuk Allah.

    Perhatikanlah Khodijah binti Khuwailid RA, tanyakan kepadanya apa yang telah beliau perbuat?. Apa yang telah beliau lakukan?. Rasulullah, pemimpin alam ini, berkata, “Ia beriman kepadaku disaat orang-orang ingkar. Ia membenarkanku disaat mereka mendustakanku. Dan ia menebusku dengan diri dan hartanya”. Semoga Allah meridhoinya. Karena inilah, beliau mendapat salam dari Allah.

    Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau memiliki 9 toko di kota Makkah. Toko-toko itu satu demi satu tutup karena besarnya infaq yang beliau keluarkan di jalan Allah. Pada saat hijrah, ketika kendaraan telah siap, beliau sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Beliau menggunakan duri pohon kurma untuk menjahit bajunya yang usang, karena tidak memiliki jarum. Sebuah jarum pun beliau tak punya !!. Meneteslah airmata Rasulullah SAW melihatnya berjalan mengenakan pakaian usang yang baru dijahitnya. Beberapa hari sebelum meninggal, Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya orang yang paling kupercaya harta dan dirinya adalah Abu Bakar. Andaikata aku hendak menjadikan seseorang dari umatku sebagai teman dekat, tentulah aku akan memilih Abu Bakar” (HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi dan Ibin Majah). Semoga Allah meridhoi mereka semua.

    Kemudian Ali bin Abi Tholib KW. Perhatikanlah bagaimana beliau mempertaruhkan nyawanya dengan tidur di tempat tidur Rasulullah ketika Rasul hendak hijrah. Bagaimana beliau menunaikan titipan dan amanat, menghunus pedang di jalan Allah, mencurahkan segala kemampuan untuk menolong agama Allah. Sehubungan dengan Ali KW ini, Rasulullah pernah bersabda, “Besok akan kuserahkan bendera Islam kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya”. Bagaimana agung kecintaan ini.

    Perhatikanlah pula Al-Hasan yang gugur karena diracun. Perhatikanlah Al-Husein yang tubuhnya terpisah menjadi dua. Meskipun demikian, mereka tak akan menyesal di akherat nanti. Mengapa ?. Karena mereka telah menempuh jalan Rasulullah SAW dan meneladani beliau.

    Bagaimana dengan kita wahai saudaraku?. Ruh kita tidak lebih mahal dari Ruh Al-Husein! Tidak lebih mahal dari ruh Hasan bin Ali! Tidak pula lebih mahal dari ruh Ali bin Abi Tholib KW. Lalu mengapa kita tidak merenungkan hal ini?. Mengapa kita tidak bersikap sidq?. Mengapa kita tidak ber-tawajjuh dan menghadapkan hati kepada Allah?. Bukankah kalian ingin melihat wajah mereka di hari kiamat?. Masuk bersama mereka?. Karena itu, ikutilah mereka, teladanilah mereka. Sesungguhnya tempat yang paling menyenangkan adalah tempat mereka.

    Apakah kalian ingin berada dekat mereka?. Menemani mereka?. Melihat mereka?. Perhatikanlah niat kalian, tujuan kalian dan keikhlasan kalian. Semua pintu telah terbuka untuk kalian, namun mengapa kalian enggan memasukinya?. Masuklah bersama mereka yang masuk. Raihlah kesuksesan bersama mereka yang sukses. Hari ini adalah hari yang penuh dengan karunia. Hari diampuninya segala dosa. Hari untuk menghadap kepada Allah. Hari untuk ber-tawajjuh kepada-Nya.

    Setelah mereka, datanglah orang-orang yang selalu ber-mujahadah (berjuang keras). Al-Muhajir Ahmad bin Isa datang dan berjuang, bahkan menginfakkan jutaan uang di jalan Allah dan berusaha mengembalikan umat manusia ke jalan Muhammad bin Abdullah. Al-Fagih Al-Muqaddam datang dan berjuang. Kemudian datang Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf, Abu Bakar As-Sakron, Umar Al-Muhdhor dan Al-Aidrus, yaitu mereka-mereka yang selalu memerangi hawa nafsu. Berkata Sayyidinal Aidrus, “Setelah kucapai puncak kesulitan dalam memerangi nafsu, kuraih semua cita-citaku”. Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang berjuang di jalan Kami, Kami pasti akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. 29:69). Setelah itu datanglah Syeikh Abu Bakar bin Salim dan murid beliau, Ahmad bin Muhammad Alhabsyi, yang setiap hari menuntut ilmu.

    Lalu kemanakah perginya ilmu tersebut dari keluarga kita?. Ketahuilah, ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang tersimpan di hati para leluhur dan salaf kalian!. Ilmu yang mereka milikilah yang akan menjadikan kalian mulia, di dunia dan di akherat. Lalu dimanakah letak ilmu tersebut dalam keluarga kita, anak perempuan dan istri kita?.

    [Disarikan dari Ulama Hadramaut, Al-Habib Umar Bin Hafidz, cetakan I, penerbit Putera Riyadi Solo]

  6. Anonymous
    6 May ’07 11:22 am #

    KESULTANAN KUBU

    Bagian I LEMBAR SEJARAH Sejarah Kesultanan Kubu memiliki kaitan yang erat dengan sejarah Pontianak. Sejarah pantas berhutang budi kepada sekelompok kecil petualang dan saudagar Arab yang singgah di sana atas kemunculan serta tegaknya kedua Kesultanan tersebut pada awalnya. Yaitu ketika 45 penjelajah Arab yang berasal dari daerah Hadramaut di Selatan Jazirah Arab, yang pada mulanya bertujuan untuk mencari keuntungan dengan berdagang di lautan Timur-jauh (Asia) berlabuh di sana. Leluhur dan Tuan Besar (Sultan) Kesultanan Kubu pertama, yaitu Syarif Idrus Al-Idrus, adalah menantu dari Tuan Besar (Sultan) Mampawa (Mempawah). Beliau Syarif Idrus juga merupakan ipar dari Sultan pertama Kerajaan Pontianak (Al-Qadri). Pada awalnya Beliau Syarif Idrus membangun perkampungan di dekat muara sungai Terentang, barat-daya pulau Kalimantan.

    Sebagaimana keluarga sepupunya (Al-Qadri), Keluarga Syarif Idrus Al-Idrus (the Idrusi) tumbuh menjadi keluarga yang kaya-raya melalui perdagangan yang maju. Mereka membangun hubungan yang terjaga baik dengan Kerajaan Inggris Raya, pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Sir Thomas Stanford Raffles (yang membangun Singapura), saat Raffles ditugaskan di Hindia Belanda. Hubungan ini berlanjut hingga setelah kembalinya Belanda ke Indonesia (Hindia Belanda) dan dirintisnya pembangunan pulau Singapura.

    Bagaimanapun juga, hubungan ini tidak disukai oleh Kerajaan Belanda, yang secara formal mereka mengendalikan Pulau Kalimantan berdasarkan kontrak perjanjian bangsa-bangsa yang ditetapkan pada tahun 1823. beberapa keluarga Al-Idrus sempat juga mengalami perubahan kesejahteraan hidup menjadi sengsara pada masa itu. Mereka ada yang meninggalkan Kalimantan demi menjauhi sikap buruk Belanda ke daerah Serawak, yang mana waktu itu menjadi daerah territorial Kerajaan Inggris Raya, demi harapan yang lebih baik akan keberhasilan dalam perdagangan. Sedangkan Keluarga Al-Idrus yang memilin bertahan di Kubu, bagaimanapun juga, tak jua mendapatkan kehidupan serta perlakuan yang lebih baik dari pemerintah Belanda.

    Pemerintah Belanda menurunkan Syarif Abbas Al-Idrus dari jabatan Tuan Besar Kesultanan atas dukungan sepupunya, Syarif Zainal Al-Idrus ketika terjadi perebutan jabatan Sultan pada tahun 1911. Akhirnya ia justru terbukti menemui kesulitan dalam pemerintahan serta diturun-tahtakan dengan tanpa memiliki pewaris/pengganti yang jelas, delapan tahun kemudian. Tidak adanya Pewaris tahta, baru ditetapkan dan disahkan setelah beberapa tahun kemudian. sehingga pejabat kesultanan yang ada selama kurun waktu itu hanyalah “Pelaksana sementara” (temporary ruler).

    Setelah beberapa lama, akhirnya Syarif Shalih, mendapatkan kehormatan agung dari pemberi wewenang untuk menjabat sebagai Sultan, tetapi kemudian tertahan saat kedatangan tentara Jepang di Mandor, pada tahun 1943.

    Dewan kesultanan dan Keluarga Bangsawan tak semudah itu menyutujui pergantian Kesultanan kepada Syarif Shalih. Hingga akhirnya justru Jepang menempatkan putra bungsu Sultan terdahulu yaitu Syarif Hasan, sebagai pemimpin Dewan Kesultanan akan tetapi belum sempat terjadi karena Jepang terlebih dulu kalah pada PD II dan meninggalkan Indonesia. Beliau justru baru menerima pengesahan sebagai Pemimpin Kesultanan (Tuan Besar) Kubu pada tahun 1949, setelah Pemerintah Indonesia terbentuk. Kesultanan Kubu itu sendiri akhirnya berakhir dan menghilang ketika dihapus oleh Pemerintahan Republik Indonesia pada tahun 1958.

    Sayyid Idrus bin Sayyid ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Tuan Besar Kubu (1772 – 1795) –(lahir di Dukhum-Hadramaut Yaman, catatan sejarah menyatakan Beliau pernah singgah di Batavia bersama Al-Habib Husain bin Abubakar al-Idrus– makamnya di Keramat Luar Batang, Jakarta Utara)– membangun perkampungan Arab di pesisir Sungai Terentang, yang mana menjadi cikal-bakal Kesultanan Kubu pada tahun 1772. Gelar Sayyid atau Habib atau Syarif yang disandang beliau menandakan bahwa beliau termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyid Al-Imam Husain ra.

    Beliau Syarif Idrus menikahi putri H.H. Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Mahmud Badaruddin I Jayawikrama Candiwalang Khalifat ul-Mukminin Sayyidul-Iman, Sultan of Palembang, pada tahun 1747. Syarif Idrus wafat pada tahun 1795, penerus Beliau :

    1) Syarif Muhammad bin Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu – lihat bawah.

    2) Syarif ‘Alawi bin Syarif Idrus al-Idrus, Tuan (Sultan) Ambawang (Kerajaan kecil bagian dari Kesultanan Kubu). Beliau mencoba menjadikan Ambawang sebagai Kesultanan yang terpisah dari Kubu pada tahun 1800 akan tetapi tidak diijinkan oleh Pemerintah Belanda yang dideklarasikan pada tahun 1833 sebagai Kesultanan terpisah. Beliau wafat di Ambawang.

    3) Syarif Abdurrahman bin Syarif Idrus (Sultan /Tuan Besar I Kubu) Al-Idrus. Syarif Abdurrahman bin Syarif Idrus Al-Idrus ini menikahi Syarifah Aisyah Al-Qadri yang merupakan putri dari Sultan Syarif Abdurrahman bin Husein Al-Qadri (Sultan I Kesultanan Pontianak di Kalimantan Barat). Berputra Sultan Syarif Ali Al-Idrus yang mendirikan Kesultanan Sabamban di Angsana (sekarang masuk wilayah Keramat Dermaga, Kabupaten Tanahbumbu –Kalimantan Selatan – Indonesia). Sultan Syarif Ali Al-Idrus menjabat sebagai Sultan Sabamban hingga akhir hayatnya. Jadi Keluarga Sultan Syarif Ali mempertemukan dua jalur kebangsawanan Kalimantan, yaitu dari jalur Kesultanan Kubu (Al-Idrus) dan Kesultanan Pontianak (Al-Qadri).

    Syarif Ali Al-Idrus pendiri Kesultanan Sabamban yang merupakan cucu dari Sultan (Tuan Besar) Kubu -Syarif Idrus Al-Idrus ini, pada awalnya menetap di daerah Kubu-Kalimantan Barat (bersama keluarga bangsawan Kesultanan Kubu). Pada masa itu Beliau telah memiliki satu istri dan berputra dua orang yaitu : Syarif Abubakar Al-Idrus dan Syarif Hasan Al-Idrus. Karena ada suatu konflik kekeluargaan, akhirnya Syarif Ali Al-Idrus memutuskan untuk hijrah/pindah ke Kalimantan Selatan dengan meninggalkan istri dan kedua putranya yang masih tinggal di Kesultanan Kubu, melalui sepanjang Sungai Barito hingga sampai di daerah Banjar.

    Di daerah Banjar tersebut, beliau mendirikan Kesultanan Sabamban dan menjadi Sultan yang Pertama, bergelar Sultan Syarif Ali Al-Idrus. Pada saat beliau menjadi Sultan Sabamban ini, Beliau menikah lagi dengan 3 (tiga) wanita; Yang pertama Putri dari Sultan Adam dari Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan, yang Kedua dari Bugis (Putri dari Sultan Bugis di Sulwesi Selatan), yang ketiga dari Bone (Putri dari Sultan Bone di Sulawesi Selatan). Pada saat beliau telah menjabat sebagai Sultan Sabamban inilah, kedua putra beliau dari Istri Pertama di Kubu-Kalimantan Barat yaitu Syarif Abubakar dan Syarif Hasan menyusul Beliau ke Angsana – Kesultanan Sabamban, dan menetap bersama Ayahandanya.

    Dari Ketiga istri beliau di Banjar-Kalimantan Selatan serta satu Istri beliau di Kubu-Kalimantan Barat tersebut, Sultan Syarif Ali memiliki 12 (duabelas) putra. Putra-putra beliau yaitu : Dari Istri Pertama (Kubu-Kalimantan Barat) : 1) Syarif Hasan bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus, putra beliau : Sultan Syarif Qasim Al-Idrus, Sultan II Sabamban menjabat sebagai Sultan setelah sepeninggal Kakeknya yaitu Sultan Syarif Ali bin Syarif Abdurrahman Al-Idrus, hingga akhirnya Kesultanan Sabamban ini hilang dari bumi Kalimantan Selatan. 2) Syarif Abubakar bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus

    Dari Istri ke-dua, Putri Kesultanan Banjar, Istri ke-tiga (Putri Sultan Bugis) dan Istri ke-empat (Putri Sultan Bone), menurunkan putra-putra beliau : 3) Syarif Musthafa bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus, 4) Syarif Thaha bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus, 5) Syarif Hamid bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 6) Syarif Ahmad bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 7) Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 8) Syarif Umar bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 9) Syarif Thohir bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 10) Syarif Shalih bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus 11) Syarif Utsman bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus dan 12) Syarif Husein bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus.

    Setelah wafatnya Sultan Syarif Ali Al-Idrus, Jabatan Sultan tidak diteruskan oleh putra-putra beliau, akan tetapi yang menjadi Sultan II Sabamban adala justru cucu beliau yaitu Sultan Syarif Qasim Al-Idrus, putra dari Syarif Hasan (Syarif Hasan adalah putra Sultan Syarif Ali Al-Idrus dari Istri Pertama/Kubu, waktu Syarif Ali masih menetap di Kubu-Kalimantan Barat).

    Jadi sepanjang sejarahnya, Kesultanan Sabamban ini hanya dijabat oleh dua Sultan saja, yaitu pendirinya Sultan Syarif Ali Al-Idrus sebagai Sultan I dan cucu beliau sebagai Sultan II Sabamban yaitu Sultan Syarif Qasim Al-Idrus.

    Sementara itu, setelah tidak adanya lagi Kesultanan Sabamban tersebut, anak-cucu keluarga bangsawan dari keturunan Sultan Syarif Ali Al-Idrus ini, menyebar ke seluruh wilayah Kalimantan Selatan pada umumnya dan ada yang hijrah ke Malaysia, Filipina, pulau Jawa dan di belahan lain Nusantara hingga saat ini.

    4) Syarif Mustafa bin Syarif Idrus al-Idrus (Tuan Besar Kubu).

    5) Syarifa Muzayanah [dari Menjina] binti Syarif Idrus al-Idrus (Tuan Besar Kubu). Lahir pada 1748 (putri dari Putri Kerajaaan Palembang).

    6) Syarif Muhammad (1795 – 1829) ibni al-Marhum Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal dunia pada 1795. Menerima perlindungan dari Belanda saat ia menyetujui kontrak perjanjian dengan Pemerintah NEI (Hindia Belanda), 4 Juni 1823. Beliau meniggal pada 7 Juni 1829, memiliki keturunan, tiga putra :

    1) Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Muhammad al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar of Kubu – lihat bawah. 2) Syarif Taha bin Syarif Muhammad al-Idrus, Kampong Sungai Pinang. 3) Syarif Mubarak bin Syarif Muhammad al-Idrus. Menggantikan kaknya sebagai Pemimpin di Kampong Sungai Pinang.

    Syarif ‘Abdu’l Rahman (1829 – 1841) ibni al-Marhum Syarif Muhammad al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 7 Juni 1829. Menikahi Syarifa Idja. Beliau meninggal pada 2 Februari 1841, memiliki keturunan, three putra : 1) Syarif Ismail bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu – lihat bawah. 2) Syarif Hasan bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu – lihat bawah. 3) Syarif Kasim bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. menikahi putri Pangeran Syarif Hamid, Batavia. Beliau memilki, seorang putra: a) Syarif Ismail bin Syarif Kasim al-Idrus. 4) Syarif Aqil bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Menikahi Syarifa Jara. Beliau memiliki keturunan :

    a) Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Akil al-Idrus. Menikahi Syarifa Piah ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, putri kedua dari Syarif Hasan bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Beliau memilki, dua anak. b) Syarif Hamid bin Syarif Akil al-Idrus. Menikahi Syarifa Kamala. a) Syarifa Saha binti Syarif Akil al-Idrus. Menikah dengan Syarif Umar ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Putra ke-empat Syarif Hasan bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu. Beliau memilikidu anak – lihat bawah. b) Syarifa Bunta binti Syarif Akil al-Idrus. 1) Syarifa Saida binti Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Menikah dengan Syarif Muhammad Ba-Hasan, dan memiliki keturunan : a) Syarifa Saha binti Syarif Muhammad Ba-Hasan. Menikah dengan Syarif Umar Al-Qadri, of Pontianak. 2) Syarifa Nur binti Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Menikah dengan Syarif Alawi, memiliki keturunan dua putra : a) Syarif ‘Abdu’llah bin Syarif Alawi. Menikah dengan Syarifa Saliha, memiliki dua anak. b) Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Alawi.

    Syarif Ismail (1841 – 1864) ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 2 February 1841, dilantik pada 28th May 1841. memiliki beberapa istri, termasuk (yang pertama) Tengku Embong binti al-Marhum Tengku Besar Anum (d.s.p.), Putri bungsu dari H.H. Tengku Besar Anum ibni al-Marhum Sultan ‘Abdu’l Jalil Shah, Panembahan of Sukadana, dengan istri keduanya, Tengku Jeba binti Tengku Ja’afar, Putri tertua dari Tengku Ja’afar bin Tengku Musa, Tengku Panglima Besar of Karimata. Syarif Ismail juga menikahi (yang kedua) Syarifa Zina.

    Beliau meninggal 19 September 1864, memiliki keturunan, 4 laki-laki dan 8 perempuan : 1) Syarif ‘Abdu’l Rahman ibni al-Marhum Syarif Ismail (Putra Mahkota) menikahi Syarifa Amina. Beliau hilang saat pergi ke Serawak (diperkirakan meninggal dunia), pada 1866. 2) Syarif Muhammad Zainal Idrus ibni al-Marhum Syarif Ismail, Tuan Kubu – lihat bawah. 3) Syarif Said ibni al-Marhum Syarif Ismail. Menikahi Syarifa Zina, dan memiliki dua anak. 4) Syarif ‘Ali ibni al-Marhum Syarif Ismail. Menikahi Syarifa Marian. 1) Syarifa Nur binti al-Marhum Syarif Ismail. She meninggal sebelum 1903. 2) Syarifa Dara binti al-Marhum Syarif Ismail. menikah dengan sepupunya, Syarif ‘Ali ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Putra Bungsu Syarif Hasan ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Beliau memilki, 3 anak – lihat bawah. 3) Syarifa Fatima binti al-Marhum Syarif Ismail. 4) Syarifa Amina binti al-Marhum Syarif Ismail. 5) Syarifa Rola binti al-Marhum Syarif Ismail. menikah dengan Syarif Mahmud, dan memiliki 3 anak. 6) Syarifa Zina binti al-Marhum Syarif Ismail. menikah dengan Syarif Mansur, dan memiliki 1 anak. 7) Syarifa Talaha binti al-Marhum Syarif Ismail. 8) Syarifa Mariam binti al-Marhum Syarif Ismail.

    Syarif Hasan (1864 – 1871) ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Kakak tertuanya pada 19 September 1864. dilantik pada 5 Maret 1866. Resmi memegang jabatan Tuan Kubu mulai 7 July 1871. menikah dengan Syarifa Isa. Beliau meninggal pada 4 November 1900, memiliki 13 putra dan 6 putri : 1) Syarif Muhammad ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. Lahir sebelum 1862. 2) Syarif ‘Ali ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. Lahir sebelum 1862. Beliau meninggal pada waktu muda. 3) Syarif ‘Abbas ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu – lihat bawah. 4) Syarif ‘Abdu’llah ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. Lahir pada 1870. menikah dengan Syarifa Selina, dan memiliki lima anak. 5) Syarif Yasin ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. Lahir 1872. menikah dengan Syarifa Muna, dan memiliki keturunan, 4 anak. 6) Syarif ‘Umar ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa Saha binti Syarif Akil al-Idrus, putri tertua Syarif Akil bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Beliau memilki, dua anak. 7) Syarif Kasim ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. DH Kubu, Mbr. of the Cncl. of Regency (Anggota Majelis Rakyat Kabupaten/DPRD) 1919-1921. menikah dengan Syarifa Kamariah. Beliau meninggal pada 16 Juni 1921. 8) Syarif Taha ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa Darah, dan memiliki keturunan, 2 anak. 9) Syarif Usman ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa ‘Isa al-Idrus. 10) Syarif Sajaf ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. 11) Syarif Husain ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. 12) Syarif ‘Ali ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan sepupunya, Syarifa Dara, Putri kedua Syarif Ismail ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. 13) Syarif Zaman [Seman] ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus.

    1) Syarifa Shaikha binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. 2) Syarifa Sipa binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif ‘Abu Bakar, dan memiliki keturunan, 2 anak. 3) Syarifa Piah binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Akil al-Idrus, Putra tertua Syarif Akil bin Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus. Beliau memilki, dua anak – lihat atas. 4) Syarifa Talaha binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif Kechil, dan memiliki keturunan 2 anak. 5) Syarifa Saida binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad, dan memiliki keturunan dua anak. 6) Syarifa Mani binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus. 7) Syarifa Kembong binti al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus.

    Syarif ‘Abbas (1900 – 1911) ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Lahir 1853, Pendidikan Khusus. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 4 November 1900. Dilantik pada 6 July 1901. Diturunkan dari tahtanya pada April 1911. memiliki beberapa istri, termasuk Syarifa Kamariah. Beliau memiliki dua putra dan 10 putri : 1) Syarif ‘Abdu’l Rahman ibni al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. Lahir 1903. Beliau meninggal pada usia muda.. 2) Syarif Ahmad ibni al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus [Wan Sulung]. Beliau terbunuh pada 1906. 1) Syarifa Inah binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. 2) Syarifa Zubaida binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Mahmud, dan memiliki keturunan tiga anak. 3) Syarifa Kamala binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Hamid, dan memiliki satu anak. 4) Syarifa Buntat binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Kasim, dan memiliki satu anak. 5) Syarifa Isa binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. 6) Syarifa Tura binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad Zainal Idrus ibni al-Marhum Syarif Ismail al-Idrus, Tuan Besar of Kubu (Lahir pada 1851), Putra kedua Syarif Ismail ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. 7) Syarifa Nur binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad [Mo] al-Idrus, dan memiliki satu anak. 8) Syarifa Saliha binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif ‘Umar al-Idrus. 9) Syarifa Kuning binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus. 10) Syarifa Kebong binti al-Marhum Syarif ‘Abbas al-Idrus.

    Syarif Muhammad Zainal Idrus (1911 – 1921) ibni al-Marhum Syarif Ismail al-Idrus, Tuan Besar Kubu. Lahir 1851, Putra kedua Syarif Ismail ibni al-Marhum Syarif ‘Abdu’l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu, Pendidikan Khusus. Dipilih oleh Belanda untuk menggantikan sepupunya yang diturun-tahtakan sebelumnya pada 26 September 1911. Dilantik pada 15 January 1912. Menyerahkan menyerahkan wewenang Kesultanan kepada Dewan Kabupaten pada 1919. di-turun-tahtakan tanpa adanya pilihan pengganti pada 11 April 1921. memiliki 3 istri, termasuk Syarifa Tura binti al-Marhum

    Syarif ‘Abbas al-Idrus, Putri ke-enam Syarif ‘Abbas ibni al-Marhum Syarif Hasan ‘Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Beliau memiliki, 7 putra : 1) Syarif Mustafa ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus. 2) Syarif Akil [Agel] ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus. Lahir1877, Pendidikan Khusus. Menikah dengan putri Syarif Said al-Idrus pada 1900. Beliau memilki 3 putra : a) Syarif ‘Usman ibni al-Marhum Syarif Akil al-Idrus. b) Syarif Tani ibni al-Marhum Syarif Akil al-Idrus. c) Syarif Mohsen [Mukhsin] ibni al-Marhum Syarif Akil al-Idrus. 3) Syarif Ja’afar ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus. 4) Syarif Husain ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus (putra dari istri pertama). 5) Syarif Hasan ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus, Tuan Besar of Kubu (putra dari istri kedua)- lihat bawah. 6) Syarif ‘Usman ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus (putra dari istri ke-tiga). 7) Syarif Salim ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus.

    Syarif Salih (1921 – 1943) ibni al-Marhum Idrus al-Idrus, Tuan Besar Kubu. Lahir 1881, Pendidikan khusus. Dipilih oleh Belanda, bersama Dewan Kesultanan, dikenal sebagai Senior Mbr. of the Cncl. of Regent 1919 (Anggota Senior Dewan Rakyat Kabupaten). Menjadi Asisten Bupati pada 16 Juni 1921. Dikenal sebagai Pelaksana Sementara Kesultanan, pada September 1921. Dilantik pada 7 February 1922. Ditangkap oleh Jepang pada 23 November 1943. Menerima: Knt. of the Order of Orange-Nassau (17.8.1940) Gelar Ksatria-Bangsawan dari Kerajaan Belanda (17 Agustus 1940), dan Lesser Golden Star for Loyalty dan Merit (Gelar Pengabdian dan Jasa Luar Biasa dari Kerajaan Belanda). Beliau dibunuh (dipancung) oleh tentara Jepang di Mandor pada 28 Juni 1944, memiliki dua putra : 1) Syarif Yahya ibni al-Marhum Syarif Salih al-Idrus. Beliau memiliki putra : a) Syarif Hamid bin Syarif Yahya al-Idrus. b) Syarif ‘Abdu’l Rahman bin Syarif Yahya al-Idrus. 2) Syarif Husain bin Syarif Salih al-Idrus. Excluded from the succession because of physical dan mental incapacity. Beliau memiliki seorang anak : a) Syarif Yusuf bin Syarif Husain al-Idrus. (Mbr. of the Cncl. of Regency (Anggota Senior Dewan Rakyat Kabupaten) 1946).

    Syarif Hasan (1943 – 1958) ibni al-Marhum Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus, Tuan Besar of Kubu, Pendidikan: HIS Pontianak. Menjadi Ketua bestuur comite oleh Jepang pada tahun 1943. Dilantik sebagai Pemimpin Dewan Rakyat Daerah (Cncl. of Regency/DPRD) pada 1946. Terpilih sebagai head of the self-governing monarchy (Pemimpin Kerajaaan-kerajaan di Indonesia) pada 16 August 1949. Diturunkan dari tahtahnya saat Kesultanan Kubu dihapus oleh Pemerintah RI pada tahun 1958.

    SELESAI

    KETERANGAN

    NASAB BANI ALAWI – AL-HUSAINI : Bani Alawi ialah gelar marga yang diberikan kepada mereka yang nasab-nya bersambung kepada Sayyid Alawi bin Ubaidullah (Abdullah) bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Ahmad bin Isa Al-Muhajir telah meninggalkan Basrah di Iraq bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadhramaut di Yaman Selatan. Cucu Ahmad bin Isa yang bernama Alawi, merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadramaut. Oleh itu anak-cucu Alawi digelar Bani Alawi, yang bermakna “Keturunan Alawi”. Panggilan Bani Alawi atau Ba’Alawi juga ialah bertujuan memisahkan kumpulan keluarga ini daripada cabang-cabang keluarga yang lain yang juga keturunan dari Nabi Muhammad SAW.

    Bani Alawi (Ba ‘Alawi) juga dikenali dengan kata-nama Sayid (jamaknya: Sadah) atau Habib (jamaknya: Haba’ib) atau Syarif (jamaknya: Asyraf, khusus bagi bangsawan/ningrat-nya). Untuk kaum wanitanya dikenal juga dengan sebutan Syarifah. Keluarga yang bermula di Hadhramaut di negara Yaman ini, telah berkembang dan menyebar, dan saat ini banyak diantara mereka yang menetap di segenap pelosok dunia baik Arab, Indonesia, Asia Tenggara, India, Afrika dan lainnya.

    GELAR DAN ISTILAH : Putra Mahkota/Pangeran : Syarif (atau Sayyid) (nama pribadi) ibni al-Marhum Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama marga/keluarga), Tuan Besar Kubu (aslinya: Yang di-Pertuan Besar).

    Anggota laki-laki keluarga Kesultanan yang lain, keturunan pada garis Bapak: Syarif (atau Sayyid) (nama pribadi) ibni Syarif (or Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama marga/keluarga).

    Anggota wanita keluarga Kesultanan, keturunan pada garis bapak: Syarifah (nama pribadi) binti Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama marga/keluarga).

    ATURAN SUKSESI (PERGANTIAN) : Pemilihan Raja dijalankan oleh Dewan Kesultanan (Council of the State) dan Anggota Senior dari Keluarga kebangsawanan yang menjabat Mufti/Qadhi (Ruling House).

    SUMBER DATA : Maktab Ad-Daimy, Badan Pencatatan Nasab Bani Alawi – Al-Husaini, Rabithah Alawiyah Pusat, Jakarta–Indonesia, Attn: Habib Zainal Abidin Seggaf As-Seggaf (Ketua) dan Habib Abubakar Seggaf As-Seggaf (Wakil), Buku Data Nasab Bani Alawi-Al-Husaini, No. 1, hlm. 149, (Jakarta: Maktab ad-Daimy), 1997

    Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali Bin Yahya dan Team Penulis Panitia Muktamar ke-10 Jam’iyah Ahli Al Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah 1426H/2005 M – Pekalongan, Mengenal Thariqah – Panduan Pemula Mengenal Jalan Menuju Allah; Last Chapter, Sekilas Tentang Thariqah Alawiyah, (Jakarta: Aneka Ilmu), 2005

    http://www.asyraaf.com (Telaah Kitab Al-Mu’Jamul Lathif halaman 140-141, tentang Qabilah Marga Al-Idrus)

    Al-Habib Muhammad bin Abubakar Asy-Syalli Ba-‘Alawy, As-Syaikh Al-Akbar Abdullah Al-Idrus dalam Al-Masyra’ Ar-Rawiy fi Manaqib As-Sadah Al-Kiram Bani Alawiy, tt

    Sayyid Ahmad bin Muhammad As-Syathiri, Sirah As-Salaf Min Bani ‘Alawiy Al-Husainiyin, (Jeddah: dicetak oleh Alam Ma’rifah), 1405H/1984

    Prof Dr. HAMKA, Soal Jawab Agama Islam, (Kuala Lumpur: Pustaka Melayu Baru), 1978.

    Ronald Lewcock, Wadi Hadhramaut and The Walled City of Shibam, UNESCO, 1986

    D. Van Der Meulen dan H. Von Wissmann, Hadramaut -Some of Its Mysteries Unveiled

    J. P. J. Barth, Overzicht der afdeeling Soekadana, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van kunsten en wetenschappen. Deel L, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Albrecht & Co., Batavia, 1897.

    J.J.K. Enthoven, Bijdragen tot de Geographie van Borneo’s Wester-afdeeling. E.J. Brill, Leiden, 1903.

    H. von Dewall, “Matan, Simpang, Soekadana, de Karimata-eilanden en Koeboe (Wester-afdeeling van Borneo)”, Tijdschrisft voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel XI, Vierde Serie Deel II, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia, 1862.

    UCAPAN TERIMA KASIH :

    D. Tick, Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia “Pusaka”. pusaka.tick@tiscali.nl (Mirza Hafiz)dan christopher.buyers@virgin.net

    Kami akan sangat bersukacita jika mendengar dari siapa saja yang memberikan perubahan, koreksi atau tambahan untuk sumbangan pemikiran apapun tentang artikel ini. Silahkan hubungi kami di : mas_doel@yahoo.com

  7. Anonymous
    10 Jun ’07 12:50 pm #

    Post at 8-2-2007 06:19 PM Profile | P.M.
    Assalamualaikum wr wb,

    Sungguh cerita ini pernah saya dengar dan amat menyedihkan. Moyang saya tidak pernah melarang anaknya, seorang Syarifah (nenek saya) berkahwin dengan seorang yang bukan Syed (datuk saya). Hasil dari perkawinan ini, dapatlah bapa saya dan kemudiannya saya. Oleh itu, saya ini bukanlah syed…entah macam mana, berjodohlah pulak saya dengan seorang Syarifah dari keluarga Al Edrus. Isteri saya pula, hilang nasabnya, walaupun keluarganya memang menggunakan nama Syed dan Syarifah. Saya tolong carikan dan dalam pencarian itu, tentunya saya dipersoalkan mengapa saya sibuk mencari dan ada pula mereka yang dengan secara direct kata saya dah menzalimi Rasulullah dengan berkahwin dengan seorang Sharifah. Masya Allah sedih saya kerana saya tahu saya perlu cari nasab isteri serta keluarganya kerana ini adalah cucunda Rasulullah dan tidak berniat saya untuk menjatuhkan martabat mereka. Sungguh saya jatuh cinta dengan beliau dan beliau pun begitu juga. Sebaiknya kita kahwinlah…

    Jadi dalam pencarian itu, banyaklah kita doa dan banyaklah tuan syed dan juga syarifah yang menolong dan ada pula memarahi saya. Alhamdulillah, ada juga dari golongan Syed (ini peringkat dah tua…imagine around 60 years and above) yang tolong dari segi doa dan beri semangat dari segi advice. Saya berterima kasih dengan mereka ini. Dalam pencarian, macam macam mimpi kita dapat. Akhirnya dapat juga nasab isteri saya ini. Alhamdulillah. lama mencari akhirnya dapat. Dalam ingin mensahkan nasab ini…kena marah lagi…kerana, saya ini bukan syed dan isteri saya syed dan saya sibuk sibuk nak tahu…kenapa? Saya kata, ini nasab perlu dicari supaya anak cucu tak lupa diri siapa…itu yang penting…saya ditanya lagi…anak cucu awak syed ke…saya jawab…mereka sungguh masih tetap anak cucu Rasulullah…kerana setahu saya, bapa sebelah emak saya masih tetap datuk saya juga…hmmm…

    Masya Allah, dua tiga bulan yang lepas, berbagai benda aneh berlaku kepada saya. Saya sehingakan mimpi datuk saya yang bukan syed itu datang dan berkata dengan saya dan seperti mengamanahkan saya untuk mencari nasab beliau. Yang anehnya, bukankah dia lebih tahu…kalau lebih tahu, kan lebih baik beritahu saya saja kat mimpi tu. Entahlah, saya pun cari…masya Allah…bila jumpa…rupanya, datuk saya pun Syed juga, cuma dia tak guna title itu kerana dulu diburu dan hendak dibunuh…lalu ditukar nama dan juga tidak menggunakan gelaran itu di depan nama mereka….yang aneh sekali, beliau dari keluarga Al Idrus juga….Allahu Akbar…itu pasallah saya hairan tengok anak saya ini…muka dia, tak ada muka melayu langsung…muka arab habis habis…saya ingatkan genetic coding nenek saya (sharifah) dengan genetik codding isteri saya yang telah kick in…rupanya…bukan begitu…Bila tengok balik muka atok serta bapa saya…memang muka arab habis habis…begitulah ironicnya kehidupan…kekadang kita ingatkan Syarifah kahwin orang biasa…rupanya…keturunan Syed rupanya…

  8. Abdullah
    11 Jun ’07 4:21 pm #

    Alafwu minna…kalo boleh & bisa, tolong apa yang Ana masukin ke blog Antum tolong di delete aja…Soalnya ana belum ijin sama pihak yang bersangkutan untuk memasukkan tentang Kesultanan Kubu ataupun Sabamban ke dalam blog Antum…Syukran Katsir atas pengertian Antum…InsyaAllah kalo ada tulisan yang lain akan ana kirim ke blog antum…

    Salam
    Abdullah

  9. Anonymous
    12 Jun ’07 10:25 am #

    Oke. Tapi, siapa sebenarnya yang menulis tentang Kesultanan Kubu itu? Di wikipedia memang ada. Saya pernah bertemu dengan Habib M Effendi Aleydrus di Yogya. Salam.

  10. Abdul Hadi Al-Idrus
    31 Aug ’07 9:47 am #

    assalamu’alaikum wr.wb
    sebelumnya perkenalkan dulu nama ulun abdul hadi al-idrus ulun tinggal di balikpapan kaltim, nama lengkap ulun abdul hadi bin habib ibrahim al-idrus bin habib abdullah al-idrus bin syarif umar al-idrus bin syarif al-idrus, mungkin pian tau makam kai ulun habib abdullah al-idrus dan syarif umar al-idrus,mungkin pian tahu keluarga al-idrus dari muchtar bin zainal abidin al-idrus yang makam beliau ada di negara kandangan,yakni said yusuf al-idrus yang tinggal di martapura, kebetulan istri beliau syarifah haliamtusa’diyah kakak ulun yang paling tuha, salam kenal buat nasab al-idrus dari jalur syarif ali al-idrus pendiri kesultanan sabamban, dan mengenai habib ahmad di tanjung ulun pernah ketemu wan sidin di Balikpapan pas ada acara aqiqahan di wadah mertua kakak ulun di DAM ( Balikpapan ) Habib Mahmud Al-Bahasyim, ohyaa bila pian ada di marabahan pian pinandukah dengan Habib Abdurrahman Bin Habib Ibrahim Al-Idrus ( Abahnya Husin ) Beliau kakak ulun yang nomor tiga. Mudah-mudahan pian kenal, alamat beliau kalau tidak salah ada di jalan pangeran wangkang rt dan nomor rumahnya nya ulun lupa,sekali lagi salami buat nasab al-idrus dari jalur syarif ali pedatuan kita.ulun aktif di berbagai organisasi,sekarang ulun wakil sekretaris I GP Ansor Kota Balikpapan, LAKPESDAM NU Kota Balikpapan, BKPRMI,PMII Kaltim
    terima kasih sebelumnya
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalamu’alaikum WR.WB

  11. ali
    31 Aug ’07 10:42 am #

    Waalaikum salam wr wb. Insya Allah nanti akan silaturahmi ke Marabahan atau Martapura. Adakah nomor telepon atau HP pian? Di Martapura yang sepuh ada Habib Abdullah Alaydrus, usia sekitar 60-an tahun. Datang ke Banjar sekitar tahun 1970-an Asal Surabaya. Kalau ada acara penting di sekitar Matpaura, beliau pasti hadir.

    Ada lagi pendatang dari Jakarta (Condet). Habib Ali Abdullah Alaydrus (majelis Dzikir Ihya Ulumuddin). Di Kalsel, di Landasan Ulin Km 23, Banjarbaru.

    Yang paling tua di Banjarmasin, Habib Umar Alaydrus, 60-an tahun, di Pasir Mas.

    Bisakah pula minta no kontak Said Yusuf?

    Kirim salam semua untuk Habaib di Balikpapan dan kota lain di Kaltim.

    Boleh dibagi informasi kalau ada cerita Habib di Kaltim. Di Samboja, katanya, ada Alaydrsu yang berkeramat besar.

    Wassalamualaikum wr wb.

  12. abdul hadi al-idrus
    31 Aug ’07 3:36 pm #

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Ulun mohon ma’af bila ulun lancang menulis di blog ini, perkenalkan nama ulun abdul hadi al-idrus bin habib ibrahim al-idrus bin habib abdullah al-idrus bin habib umar al-idrus bin syarif ali al-idrus pendiri kesultanan sabamban, ulun tinggal di Balikpapan Kaltim,ulun ada delapan bersaudara, tujuh yang masih hidup dan satu yang meninggal. kakak ulun yang paling tuha ngarannya syarifah halimatusa’diyah al-idrus suami kakak ulun ngarannya sayid yusuf al-idrus yang saat ini begawi di BPPT Banjarbaru, ada jua nang begana di marabahan ngarannya sayid abdurrahman al-idrus kakak ulun nang nomor tiga, pada kesempatan ini ulun titip salam gasan semua fam al-idrus dari jalur syarif ali al-idrus, dimana aja berada, dan sekaligus untuk mendapatkan informasi abang ulun di malaysia yang sudah meninggalkan balikpapan kaltim kurang lebih 30 tahun namanya sayid umar faruq bin habib ibrahim al-idrus. syukron katsier
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalamu’aalaikum Wr.Wb

  13. abdul hadi al-idrus
    31 Aug ’07 3:59 pm #

    ASSALAMU’ALAIKUM WR.WB
    AFWAN… ADA YANG BISA MEMBANTU ANA UNTUK MENDAPATKAN MAKAM AYAH HABIB IBRAHIM (alm) YAKNI HABIB ABDULLAH BIN SYARIF UMAR AL-IDRUS
    Syukron Katsier
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  14. Abdul Hadi Al-Idrus
    2 Sep ’07 5:47 am #

    Assalamu’alaikum Wr.WB
    Maaflah dngsanak ulun agak telat kasih informasi no hp ulun dan said yusuf
    no. hp ulun 0813 462 38709 dan 0815 456 14378 sedang said yusuf di martapura itu (0511 ) 733 5951, pian ada beisi no hp habib ahmad Al-Idrus di tanjungkah….) kalau ada tlng di sms kan ke hp ulun,melalui ini mari kita saling bertukar informasi sebagai langkah untuk mempererat tali silaturrahiem keluarga besar kita,…nah mengenai makam keramat di kaltim or di Bppn , memang ada di beberapa tempat seperti habib Saleh Al-Idrus di Penajam Paser Utara ulun sudah pernah kesana wan kekawalan majelis Habsyi, dan di tenggarong tepatnya di kutai lama itu jg ada kalalu tidak salah ngaran sidin Habib Abdurrahman Al-Idrus beliau murid Sunan Giri , terus juga ada di sekitar kota Balikpapan tepatnya di daerah pelabuhan semayang itu ada makam berkubah suami istri dari fam al-idrus menurut cerita-cerita orang tuha disitu beliau datang dari sulawesi. kalau yang di PPU tadi, makam sidin ada dalam hutan masuknya aja lewat rawa2 ulun kesana sudah 3 kali berziarah yang terakhir pd saat tengah malam. sampai disini dulu lah kaina kita sambung,
    Syukron Katsier atas atensi pian.
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalamu’aikum,WR.B

  15. ali
    2 Sep ’07 8:56 am #

    Insya Allah.

    Ini no rumah Ami Ahmad Alaydrus (Tanjung) 0256-2022607, HP sidin menyusul ada di catatan lain. Nanti di-SMS. Pian lawaskah sudah tinggal di Balikpapan?i
    Bisakah pian menceritakan sedikit manakib Habib Abdurrahman Alaydrus, murid Sunan Giri itu? Juga ulun handak mandengar cerita habib Saleh Alaydrus di Penajam Paser Utara yang bermakam di dalam hutan dan sepasang suami istri yang berkubah di Pelabuhan Semayang itu?

    Ulun pernah juga mencari seorang Habib yang tinggal agak jauh dan makamnya parak pinggir banyu di Kabupaten Banjar (Gambut). Fam sidin juga Alaydrus. Ulun ada ketemu anak cucunya di Kandangan (Kabupaten Hulu Sungai Selatan) dan setelah tanya sini-tanya situ akhirnya ketemu.

    Apakah pian membaca Ratib Alaydrus?

    Assalamu alaikum wr wb.

  16. Abdul Hadi Al-Idrus
    3 Sep ’07 8:41 am #

    Assalamu’alaikum dingsanak…
    Maafi ulunlah karena ulun baru kewarnet adink sepupu ulun kebetulan dia buka usaha warnet sorang jadi ulun bisa belelawasan disini ( Diwarnetnya )

    Ulun lahir di balikpapan pd tahun 1974, abah ulun ( Habib Ibrahim Alaydrus ) kalau menurut cerita-ceritanya sidin khadam tuan guru kasyful anwar. sidin lahir di kandangan terus menempuh pendidikan di Darussalam Martapura kemudian beliau merantau ke jawa, sumatera, dan ke sulawesi, hidup beliau dari pesantren-kepesantren ketika sidin masih bujang.Dan kemudian kembali lagi ke banjar tp begana di kota baru, kemudian sidin merantau di balikpapan dan kembali lagi ke kota baru selang 6 bulan kemudian, dan balik pulang ke Balikpapan, dan tinggal menetap sampai akhir hayat sidin tahun 1977, abah ulun lahir tahun 1901.

    Dan mengenai kisah habib abdurrahman yang ada dikutai itu biasa kelau orang-orang diasana menyebut makam kelambu kuning, kalau menurut kisah senior ulun di PMII Cak Suadi D. Pranoto, beliau pernah bilang bahwa Habib Abdurrahman itu adalah utusan sunan giri untuk menyiarkan agama Islam dan pertukaran tekhnologi pertanian pada saat itu di kutai, namun tantangan yang menolak beliau juga kada sedikit terutama dari raja kutai , singkatnya diadulah kesaktian antar keduanya dan beliau memenangkannya rasa-rasanya beliau itu ke kutai mengendarai parang yang berjalan diatas air dari pulau jawa sampai ke kutai dan julukan beliau adalah PANGERAN TUNGGANG PARANGAN dan beliau berdua datang,tapi satunya ulun lupa ngarannya sepertinya kalau kada’salah satunya itu masih cucu joko tingkir, mungkin itu dulu ulun bisa sedikit cerita tentang beliau di kutai tersebut, dan kaina bila ada informasi dari kekwalan PC PMII Kab.Tenggarong Kukar ulun informasikan lagi kisah sidin.

    Mengenai Habib Saleh Alaydrus yang makam sidin di kabupaten Penajam Paser Utara tepatnya di daerah lawe-lawe itu ulun kada tau kisah sidin karena makam tersebut hampir hilang tanpa jejak dan tidak ada yang tahu keberadaan tentang beliau apa yang beliau lakukan disana, tetapi yang menemukan makam tersebut adalah tuan Guru Marzuki ( Alm) seorang ulama kharismatik di daerah handil di Kaltim,yang masih paman Guru sekumpul , kisahnya Beliau di mimpikan tentang habib tersebut dan dalam mimpi beliau itu disampaikan letak makam habib Saleh Alaydrus tersebut oleh habib tersebut sangat detail beliau jelaskan dalam mimpi tentang makam beliau. Alhamdulillah ulun sudah kesana rasa-rasanya ada tiga makam disana satu yang berkubah dan dua nang kada’ terus terang ulun beberapa waktu lalu ketuju wan kekawalan ziarah tengah malam selepas jam 12 malam hanyar berangkat, untuk daerah balikpapan aja terutama makam muslimin yang jarak dengan rumah ulun kurang lebih 300 meter habis ulun kelilingi ke makam para habaib disana mulai membaca maulid habsyi, sampai betahlil, memang ada beberapa makam habaib di dekat rumah ulun, selain almarhum abah ulun ada jua habib ahmad al-habsyi dan anak sidin masih ada di balikpapan didaderah kampung baru namanya di kecamatan balikpapan barat, beliau sudah sepuh sekali. tokoh masyarakat di Balikpapan ulun rancak silaturrahiem ke beliau. Tapi nang paling ulun kada bisa lupa itu pas ziarah ke makam habib saleh alaydrus, tengah malam hujan deras tetap berangkat nyebrang laut sekitar 45 menit naik ferry , masuk hutan dan rawa-rawa asli hujan deras, tapi dengan semangat dan tekad membara dan sudah di rancang sedemikian rupa , alhamdulillah sampai jua walau basah kuyup , dan pas masuk kekubah sidin langsung nyaman suasana dan asyik bujur disana , dan setelah prosesi ziarah telah selesai kita guringan di kubah sidin habis sholat subuh kita sambung guringnya dan tanpa terasa jam 11 siang hanyar tebangun , pas guring itu ulun dimimpikan oleh beliau dan tanpa isyarat apapun beliau tersenyum aja dan mengelus kepala ulun, itu nang ulun kada lupa sampai sekarang,,

    Mengenai makam suami istri di pelabuhan semayang itu atau biasa kita sebut pulau tukung adalah perantau dari sulawesi selatan yang ulun tahu beliau adalah panyiar agama Islam jua, dan karomah beliau terutama sang suami mampu manjadikan kapal beliau ( TUKUNG/JUKUNG) menjadi pulau kecil jadi sang istri dimakamkan d daratan dan sekitar seratus meter dari makam istri hanyar makam sang suami pulaunya sangat kecil dan beliau ( suami ) dimakamkan di puncak pulau tersebut, kalau ulun biasa memancing itu kelihatan karena dari pantai hanya berjarak 20 meter, aja.

    Ohya ada lagi dangsanak di daerah kelandasan belakang masjid besar At-Taqwa itu ada komplek makam habaib dan syarifah, ada sekitar 6 ( Enam ) makam disana, bahkan ada satu anak perempuan dari Syarif Ali Al-Idrus dan ada fam khairid dan albahsyim dan salah satu habaib yang dim akamkan di komplek tersebut adalah yang mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid at-taqwa tersebut, ulun biasa kalau pas kepingin bejalanan ke masjid Attaqwa tersbut ulun biasa mampir di belakang masjid samping Sekretariat MUI Balikpapan untuk kirim Fatihah kebeliau-beliau,

    Ohya nang dikandangan itu siapa-siapa aja…? kalau keluarga ulun yang dikandangan tinggal itu selain habib zen, abahnya reza ada habib ahmad ( Almarhum ) kemudian di pelaihari habib idrus al-idrus (almarhum ) pensiunan kepala kantor pariwisata disana , abahnya syarif , di martapura ada habib thaha abahnya abdurrahman siddik dan said yusuf kakak ipar ulun abahnya lukman, robi . Jadi habib zen, habib taha , habib ahmad, habib idrus , said aqiel al-idrus di kota baru, dan said yusuf dimartapura itu BERSAUDARA alias kakak beradik beliau-beliau lahir dan besar di kandangan pas di higa taksian sedan.dan silsilah said yusuf yang di martapura adalah SAID YUSUF AL-IDRUS BIN HABIB ALWI AL-IDRUS BIN HABIB ZAINAL ABIDIN AL-IDRUS BIN HABIB MUCHTAR AL-IDRUS BIN HABIB UMAR ALI-IDRUS BIN SYARIF ALI AL-IDRUS BIN SYARIF ABDURRAHMAN AL-IDRUS BIN HABIB IDRUS AL-IDRUS BIN HABIB ABDURRAHMAN AL-IDRUS BIN HABIB ALI AL-IDRUS BIN HABIB HASAN AL-IDRUS BIN HABIB AHMAD AL-IDRUS BIN HUSEIN AL-IDRUS BIN ABDULLAH AL-IDRUS YANG MENURUNKAN HUJAN SUSU DI HADRAMAUT YAMAN DAN JULUKAN BELIAU ALLABANY (HUJAN SUSU ) SELANJUTNYA BIN HABIB ABU BAKAR ASSYAKRAN BIN HABIB ABDURRAHMAN ASSEGAF . jadi HABIB MUCHTAR tadi adalah saudara dari HABIB ABDULLAH kai ulun dan makam sidin jua raib kemana, anak dari SYARIF UMAR BIN SYARIF ALI AL-IDRUS Dan habib ahmad alaydrus tersebut adalah masih kakak sepupu ulun tapi ulun baru sekali ketemu wan sidin itu rasanya sudah sekitar 6 tahun yang lalu.

    Ohya setahu ulun dalam sebuah kitab yang dikarang oleh habib yang membuat ratib hadad judul kitabnya kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia adalah THORIQOH MENUJU JALAN KEBENERAN biasanya Ratib yang dibaca dari keluarga al-Idrus adalah Ratib Assyakran aja , karena silsilah al-idrus itu ada sejak HabibAbdullah Al-Idrus (ALLABANI ) yang mempunyai karomah adalah dapat menurunkan hujan susu di hadramaut atas kehendak ALLAH SWT.
    Ok dngsnak itu dululah yang ulun bisa informasikan,tolong kalau salah harap dikoreksi info ini. dan kalau ada kisah-kisah lain bisa pian email ulun lagi.
    Syukron Katsier
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  17. ali
    3 Sep ’07 11:32 am #

    Ulun ada mendengar HabibTunggang Parangan alias Janggut Merah (janggut sidin merah?) adalah Habib Hasyim bin Yahya. Parangan, katanya, sejenis ikan hiu. Dan beliau dari Sulawesi menunggang ikan parangan itu. Ulun da membaca di katimnet, Ketua Rabithah Alawiyah Kaltim Alwi AS ada menyebut-nyebut tentang ketokohan Habib Janggut Merah Tunggang Parangan. Teman beliau sesama penyebar Islam di Kutai adalah Datuk Ri Bandang.

    Mungkin yang dimaksud dengan Habib Abdurrahman, murid Sunan Giri, ini sosok yang berbeda?

    Habib Saleh itu sayang lawang pian. Makanya sidin lihum dan mamusut kapala cucunya. Kaya ayah kalau sayang ka anak, katuju mengelus-ngelus kepala anak.

    Soal Kandangan itu kuncinya ada di Habib Ahmad Tanjung. Ada satu nang handak ulun tamui tapi balum sampat. Yakni Habib Yahya Alaydrus (mantan bupati Pangkakan Bun). Sidin jar badiam di Banjarbaru. Habib Yahya (kalau kada salah) bin Salim, masih turunan Pangeran Syarif Ali Sebamban. Sayang ya, nggak ada rekaman foto Pangeran Syarif Ali Alaydrus?

    Ratib Assakran itu bukankah karya kuitan AlHabib Abdullah Alaydrus, AlHabib Abubakar AsSakran bin Abdurrahman Assegaf ? Ada lagi ratib/wirid bacaan AlHabib Ali, dingsanak AlHabib Alaydrus. AlHabib Abdullah ada mengarang Ratib sendiri –yang kurang populer di Indonesia–. Usia Ratib Alaydrus ini bahkan lebih tua dari Ratib Haddad dan Ratib Alatas.

    Ada beberapa versi ya tentang hujan susu ini. Ada yang menyebut yang berdoa lalu mendatangkan hujan susu ini adalah anak AlHabib Abdullah Alaydrus yang bernama Abubakar AlAdni (tinggal di Aden). Ceritanya, waktu masuk sebuah kota, Abubakar dicegat oleh seorang Yahudi yang meminta bukti apa tanda bahwa beliau anak Alaydrus.

    Sampai di sini dulu, kaina disambung lagi.

    Assalamualaikum wr wb.

  18. Abdul Hadi Al-Idrus
    3 Sep ’07 12:43 pm #

    Assalamu’alaikum dngasnakku
    syukron atas info pian , karena jujur ulun katakan ulun lawas banar kada membuka lagi kisah nang di tenggarong tadi, bujur mengenai hujan susu memang banyak versi.itu jua nang dikatakan wan ustdz mashadi jebolan bangil. dan ustdz jauzi kawan ulun jebolan hadramaut..
    dan mengenai habib yahya alaydrus mantan bupati pangkalan bun.. beliau adingnya kak ipah halus nang begana di kandangan. Wan kak ipah halus biasa ulun mengiau sidin lawas jua begana di balikpapan.karena suami sidin Almarhum Habib Ismail ulun lupa fam sidin pernah begawi sebagai sopir diperusahan unocal 76 sekarang chevron. di balikpapan. dan satu bulan lalu ada walimahan kemanakan ulun di mtp , lukman al-idrus ,kak ipah halus datang jua dan titip salam gasan ulun lewat abang ulun, said sulaiman nang begawi di kideco jaya agung batu kajang sidin betakun kaya apa khabarnya ayip hadi, jar abang ulun baik2 aja. kebetulan ulun kada sempat ke MTP karena ulun bujur2 sibuk di balikpapan. nah bila pian handak mencari informasi nang lebih akurat tentang habib yahya al-idrus, pian bisa jua datang ke martapura wadahnya said yusuf al-idrus / syarifah halimatussa’diyah al-idrus untuk mendapatkan informasi tentang mantan bupati tersebut..ialah susah jua mencari gambar syarif ali al-Idrus., tapi jar kisahnya kakak ulun sidin itu awak tinggi besar, mata elang,,layaknya keturunan arablah , itu didapat dari kisah almarhum abah ulun karena jar kakak ulun almarhum abah ulun pernah mimpi batamu wan sidin..wallahu’alam bisshowwab.
    itu dulu dangsnaklah kaina lagi kita bekesahan…….
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  19. ali
    4 Sep ’07 8:19 am #

    Assalamu alaikum wr wb. Mudah-mudahan pian sekeluarga di Balikpapan sehat walafiat.

    Ini ulun kutipkan artikel yang pernah ditulis di koran Mata Banua, Sabtu, 12 Agustus 2006, yang berjudul “Rahasia Alaydrus, Angsana dan Kandangan (Jejak Sayyid (Habib) di Tanah Banjar (8).

    “… Makam Pangeran Syarif Ali Alaydrus terdapat di Angsana (235 km dari Banjarmasin). Pangeran Syarif Ali mempunyai meriam yang dipakainya untuk berperang melawan Belanda. Meriam peninggalan tersebut kini berada di sebuah kantor keluarahan di Angsana-Sebamban.

    Putra PS Ali yang bernama Thahir dari Kotabaru merantau ke Sampit dan di sana kemudian menikah dengan perempuan asal Nagara. Pohon kelapa tanaman mereka kemudian ditinggalkan karena Thahir bersama sang istri pulang kampung, ke daerah asal istrinya di Nagara (Kandangan) . Suatu ketika Thahir mengunjungi kakeknya di Pontianak. Thahir akhirnya tak kembali ke Tanah Banjar karena meninggal dunia di Pontianak.

    Hasan, salah satu putra Thahir, berdiam di Kandangan (di depan terminal taksi, seberang penjara Kandangan). Masyarakat Kandangan sangat menghormati Hasan. Di waktu mudanya ia pernah berdagang sampai Tambilahan (Riau) dan Singapura. JIka ia pergi ke pasar Kandangan, para pedagang di pasar tersebut berebut menghadiahinya dengan berbagai macam oleh-oleh aneka buah-buahan dan sayur, makanan dan berbagai ragam benda lainnya.

    Putra Hasan yang bernama Ali bekerja sebagai supit truk. Di zaman gerombolan tahun 40-an-50-an, ketika ada konvoi truk, hanya truk Ali yang aman dari ganguan. Jika Ali berada di depan, truk yang di belakang yang dihentikan oleh gerombolan. Begitu pula sebaliknya, jika Ali berada di belakang, konvoi truk di barisan depan mendapat gangguan gerombolan. Gerombolan itu tak mengusik Ali karena memandang ayahnya yang merupakan figur kharismatik.

    NB: Ali adalah ayahanda Habib Ahmad Tanjung. Informasi artikel tersebut ulun peroleh dari wawancara dengan Habib Ahmad. Saya pernah mellihat foto diri Habib Hasan bin Tahir bin Pangeran Syarif Ali Alaydrus di rumah anak sidin Habib Ali (kuitan Habib Ahmad badiam di Pa1/Sungai Baru Banjarmasin). Ada kharisma memang. di foto itu Habib Hasan pakai jas, berkacamata, kumis tebal, berpeci (kalau gak salah peci khas orang-orang Arab/Turki). Perawakan kayaknya jangkung. Jadi sosok yang digambarkan oleh almarhum abah pian itu tentang Datu Pangeran Syarif Ali kayaknya tak keliru. Apalagi sidin menjadi penguasa Sebamban.

    Dari catatan ulun –informasi dari sebuah buku– pada tahun 1860, Pangeran Syarif Ali berjabatan Kepala di Sebamban bersama-sama Pangeran Abdul Kadir (Kepala di Pulau Laut), Pangeran Syarif Hamid (Kepala di Batulicin), Pangeran Muda Muhammad Aribillah (Kepal di Bangkala Tjengol dan mannunggol) dan Pangeran Mangku (Kepala di Sampanahan).

    Kaina disambung lagi dingsanak.
    Assalamu alaikum wr wb.

  20. ali
    4 Sep ’07 8:54 am #

    (sambungan)

    Kebun kelapa di Sampit yang dtinggalkan Habib Thahir dan istrinya itu sebenarnya dititipkan kepada tetangga. Suatu ketika putra sidin yang tertua Ja’far (saudara Habib Hasan) ke Sampit untuk melihar-lihat kebun kelapa itu. Namun si tetangga tak mengakui. Dan, akhirnya muntah darah-lah si tetangga yang khianat itu. Ja’far punya anak namanya Salim (kuitan Habib Yahya, mantan bupati Pangkalan Bun).

    Begitu juga cerita tentang meriam, menurut Habib Ahmad Tanjung, orang yang mengutak-atik meriam (mamacam-macami, jar bahasa banjar) di Angsana itu katulahan. Sakit, lalu mati.

    Ulun ni ada niat handak ziarah ke makam sidin. Tapi balum ada kesempatan.

    Yang berkeramat di Samboja itu, menurut Ami Segaf AlHabsyi (salah satu habaib yang sering jalan-jalan ke Jawa dan Kutai), adalah Habib Alwi bin Husin Alaydrus. Beliau pernah kawin di Kampung Jingah Habang, Kabupaten Banjar dan mempunyai anak. Dan, dari kelompok keluarga ini katanya ada yang pindah ke Bandung: Habib Usman (almarhum) yang punya majelis itu, ada kaitan keluarga dengan Habib Alwi ini.

    Bisakah pian menambahkan info tentang Yang berkeramat di Samboja ini? Berapa Kilometer jaraknya dari Kota Balikpapan? Ulun pernah ke Samarinda, ke Balikpapan belum. Jadi buta kakap kada punya bayangan tentang “isi” habaib di sana. Terima kasih. Salam wan Rabithah di sana. Khususnya, Habib Alwi, karena ulun dengar sidin ini sebenarnya pejuang angkatan 66 di Banjarmasin. Urang yang membuat sejarah, bukan urang yang membaca sejarah (mengutip kata-kata kakeknya Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad AlHaddar).

    Assalamualaikum wr wb.

  21. abdul hadi al-idrus
    5 Sep ’07 3:34 am #

    Assalamu’alikum dingsanak
    Ulun baru baca email pian di blog pian ini..maklum ulun ada sedikit insiden kemareen, kaki ulun keseleo berat, jalan agak terpincang pincang , lutut ulun bengkak…karena dihantam pemain lain dari samping pas maen bola hari senin kemarin.

    Ulun terima kasih banyak wan pian banyak nang ulun dapat dari informasi tentang beberapa hal yang berkaitan dengan anak cucu syarif ali..memang ulun pernah jua baca dari tulisan sayid efendi al-idrus yang tinggal di jogja tentang sejarah kesultanan Sabamban , kemudian di tambah dengan kisah-kisah para habib kakak-kakak sepupu ulun terutama dari Habib Thaha bin Alwi al-Idrus kakak kandung Said Yusuf al-Idrus, karena rasanya-rasanya sidin nang tahu bujur kisah-kisah Pangeran Syarif Ali.sampai dengan kesaktian nang pangeran syarif ali miliki,memang kakak sepupu ulun, habib thaha al-idrus sedikit antik orangnya..tinggal sidin jua masih di wilayah martapura tapi sejak pindah rumah dari di sekumpul ulun kada ketemu wan sidin lagi.kecuali anak sidin Abdurrahman Siddik masih d sekumpul. Habib Thaha tadi termasuk habib dari keluarga ulun yang menyimpan kisah-kisah tentang pangeran syarif Ali dan masih menggunakan metode berdasarkan ingatan dari kisah-kisah turun menurun dari jalur abah sidin yakni Habib Alwi Bin Zainal Abidin Al-Idrus, kata orang2 di negara dan keluarga di kandangan sidin itu wali , bujur atau kada ulun kada tahu. Ulun pernah melihat foto-foto di kandangan
    wadahnya almarhum Habib Zein tapi ulun kada’tahu siapa aja , yang ulun tahu itu dan sampai wayah ini hanya foto ami ulun yakni Habib Zainal Abidin bin Habib Muchtar Al-Idrus kemanakan kai ulun Abdullah,sebenarnya kalau mau di urut keluarga kakak ipar ulun said yusuf al-idrus di martapura jatuhnya adalah kemanakan ulun,karena sidin kawin wan kakak ulun jadilah sidin kakak ipar…pian ada beisi info tentang Syarif Umar Bin Syarif Al-Al-Idrus kah….? Kalau pian ada bebagi kitalah kisah sidin…dari balikpapan ke samboja itu 38 KM dari rumah ulun, kebetulan rumah ulun jalur menuju kesamarinda tepatnya di KM 0,5 Jl.Sukarno Hatta. Balikpapan..kalau dibalikpapan ulun rancak jua ketemu dangan habib sulaiman al-idrus bukan kakak ulun nang begawi di Bt Kajang ngarannya nang sama.beliau jua dari jalur Syarif Ali tapi abah sidin dan terus keatas ulun kada tahu.tapi wan Habib Ahmad Tanjung akrab banar wan sidin. biasa kalau ada acara-acara keluarga di Balikpapan rancak ketemuan wan sidin jua, sebenarnya tiap bulan ada arisan Alawiyyin di Balikpapan tapi ulun kada umpat, rancak mintuha kakak ulun Habib Mahmud Al-Bahasyim ma’ajak ulun menggantikan kakak ulun said sulaiman al-idrus nang begawi di kideco jaya agung batu kajang,ulun kadang2 kada PD umpat kumpul-kumpul wan habaib di Balikpapan tapi banyak nang kenal jua wan ulun, memang selain itu sering ada undangan kumpul-kumpul di kirim ke rumah ulun..sekali lagi bila pian ada literatur tentang Syarif Umar bin Syarif Ali, ulun bujur-bujur kehilangan jejak tentang sejarah sidin, rancak jua ulun betakun wan kakak2 ulun dan ami-ami ulun tapi beliau-beliau mengatakan kada tau pasti gimana sejarah hidup sidin dan kalau makam sidin jar kakak ulun di daerah tarjun.ulun belum sempat jua jalan ataw ziarah ke makam syarif Ali, dan belum sempat jua ke Kota Baru..duitnya dicarikan dululah……he..he…he… ulun hanya sekali ke daerah tabuniao di pelaihari silaturrahmi wan habib Nuncy Assegaf Pian pinandukah wan sidan dan sekali ke sungai danau wadahnya Habib Saleh Assegaf rumah sidin dekat pom bensin sungai danau urusan perjodohan hm….hm….hm….hm….. dan kada sempat singgah di wadah kakak sepupu ulun habib saleh al-idrus sepupu dari almarhum habib usman al-idrus Kotabaru . Dan habib Saleh al-idrus mempunyai majelis jua. Ok dingsanak….., ulun terima kasih banyak atas atensi pian..mudah-mudahan ini merupakan media untuk mempererat tali silaturrahiem kita dan semoga Allah SWT menjadikan kita saudara dunia akhirat, amien
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  22. ali
    5 Sep ’07 10:52 am #

    Bismillahi Rahmanir Rahiim.
    Assalamualaikum wr wb
    Smoga cepat sembuh, ya.

    Ulun ada usul nah. Pangeran Syarif Ali ini kan sebenarnya tokoh. Anak keturunannya banyak. Ada di mana-mana. Di Yogya ulun pernah bertemu, Habib Muhamad Effendie Aleydrus. Sidin membuka majelis di daerah Gedong Kuning. Ulun pernah sekali bertatap muka. Riwayat sidin ini unik.

    Dari berbagai keterangan, Habib Muh (begitu orang Yogya menyebut) katanya pernah kehilangan ‘jati dirinya’. Entah bagaimana, sidin mencari-cari fam. Rupanya, dari orangtua sidin, entah tidak bercerita atau sengaja menyembunyikan identitas. Saya dapat cerita, sidin pernah memakai fam Bin Yahya. Kata Habib Seggaf AlHabsyi, beberapa tahun silam ia pernah bertemu dengan seorang anak muda, urang Banjar, yang mengaku berfam Bin Yahya dan punya leluhur di Tambarangan, Kabupaten Tapin, Kalsel. Agak ganjil memang ada Bin Yahya ada di Tambarangan. Abah sidin, seorang tentara, namanya kalau kada salah Hasan Baderi. Sidin ini ujar dekat dengan Habib Lutfi Bin Yahya (Pekalongan) dan almarhum Guru Sekumpul.

    Dari Kandangan, ulun juga dapat cerita, Habib Muh mencari jati dirinya. Ini kalau nggak salah ingat, soal ini clear setelah sidin ketemu dengan Habib Ahmad Tanjung, yang menguasai soal-soal Alaydrus dari jurusan Pangeran Syarif Ali.

    Lalu, sekitar setahun silam ulun bertemu dengan kerabat Alaydrus, yang juga tak mengetahui siapa sosok Datu Syarif Ali.

    Ulun ada usul, bagaimana jika keluarga besar Alaydrus dari cabang Syarif Ali (terutama) bertemu di suatu tempat. Oh ya, adakah keluarga yang menggelar haul sidin? Dengan bertemu paling tidak cerita yang bertebaran dan berserakan bisa dikumpulkan dan disusun.
    Selain itu silaturahmi keluarga makin rapat. Yang terpisah jadi menyatu lagi. Yang hilang kontak, dapat terang lagi. Ulun kira, dengan pengalaman organisasi pian bisa mendesain ini. Kontak Habib Ahmad Tanjung, kita kontak Habib Muh (mudahan sidin membaca blog ini, red), kontak keluarga lain-lainnya.

    Tempat pertemuan bisa di Banjarmasin, di Kandangan (pusat Alaydrus di Hulu Sungai) atau tempat lain yang memungkinkan. Setelah itu, jika mungkin ziarah bersama ke Datu. Waktunya pas hari libur. Mungkin acara didesain seperti basaruan (pertemuan keluarga). Keluarga bekumpul, tapi memiliki agenda jelas. Kepanitian gotong royong. Embrionya mungkin 1-2 orang bertemu, ditambah 1-2 lagi. Kada ngalih-ngalih, bubuhan dingsanak nang parak-parak dulu kaya apa?

    Melalui forum ini di masa depan mungkin bisa dirancang, pertemuan lanjutan membahas hal-hal penting lainnya.

    Bagaimana pendapat pian?

    Itu nang ada di kepala ulun. Sekian dululah paparan ulun.

    Oh ya, terima kasih ajakan persaudaraan pian. Ulun himung banar. Semoga kita berkumpul dalam kebaikan. Seperti yang diajarkan dan dicontohkan oleh leluhur-leluhur kita.

    Assalamualaikum wr wb.

  23. abdul hadi al-idrus
    7 Sep ’07 2:08 am #

    Assalamu’alaikum dangsanakku
    Wacana dan usulan pian serta ide pian .ulun ketuju banar..untuk mambuat semacam haul atau apalah namanya untuk mengenang Pangeran Syarif Ali , karena memang anak sidin itu kan 14 urang nang dari bini sidin dari fam alqodri dua.. salanjutnya dari bidin sidin yang kedua ketiga dan kempat ada 12 urang,laki-laki semuaannya.. kalau dihitung-hitung kada’ sedikit anak-cucu turunan sidin,dan ada dimana-mana sedang di Balikpapan ini aja ada beberapa.. Ok dngsnak kaina ulun coba komunkasikan dengan kakak-kakak sepupu ulun.. tapi menurut ulun sebaiknya yang punya inisiatif untuk melaksanakan itu kada mesti harus dengan kumpul-kumpul secara besar dari turunan sidin bisa dimulai dari salah satu turunan sidin, anggapalah dari anak-cucu turunan syarif umar bin syarif ali nang memulai haulan pengeran syarif ali.jadi nang tekumpul anak-cucu syarif umar misalnya..tapi kada menutup kemungkinan anak cucu dari dingsanak syarif umar diundang seperti habib ahmad tanjung dari jalur syarif tohir, dari jalur syarif hamid dan lain2.. pelan-pelan dulu asal rutin setiap tahun dilaksankan haul tersebut. Ulun yakin Insya Allah , tekumpul banyak anak cucu dari jalur Pangeran Syarif Ali Al-Idrus tadi yang datang darimana-mana..kalau perlu kita meulah forum sendiri bukan berarti lepas dari robithoh alawiyah artinya tetap dibawah jalur robithoh alawiyah apapun namanya forum itu seperti Forum Silaturrahmi anak cucu syarif Ali Al-Idrus atau apakah judulnya forum itu.. Itu dululah dngsnak pendapat ulun.. ulun terima kasih ide dan usul pian sekali lagi Insya Allah akan ulun kmunikasikan dengan nang senior-senir di keluarga ulun terutama dari jalur Syarif Umar dulu..kalau sidin-dan beliau-beliau setuju hanyar digarap sebagai alat dan media silaturrahmi keluarga anak-cucu dari Jalur Syarif Ali. salam hangat dari ulun…semoga dangsanakku ini tambah sukses,,, amien.
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalamu’alikum Wr.WB

  24. abdul hadi al-idrus
    7 Sep ’07 12:00 pm #

    Assalamu’alaikum dangsanak…
    Ulun ada tambahan informasi dari kakak ulun di martapura.. mengenai haul syarif ali al-idrus memang sudah diperingati tiap tahun di angsana oleh keluarga dan anak cucu syarif ali di sana namun kurang di publikasikan sesama klan di luar kalsel.. dan tadi ulun coba tawarkan untuk haul syarif umar bin syarif ali kakak ulun setuju.. aja . Insya Allah kakak ulun seperanakan akan tulak ke Balikpapan ba’da puasa ini. nanti ulun bicarakan untuk tindak lanjutnya. dan ketika ulun mencoba mengorek keterangan tentang hal ihwal perjalanan hidup syarif umar , alhamdulillah dapat walau sedikit , setelah kakak ulun kasak kusuk mencari ke keturunan syarif umar yang lain dan ada yang bilang kok tiba-tiba hadi kepingin mengetahui tentang perjalanan hidup syarif umar bin syarif ali… jar kakak ulun , memang hadi lagi mengumpulkan data darimana aja untuk dicatatnya sebagai bahan pengetahuan dan catatan untuk anak-anaknya kelak walau si hadi sampai saat ini hadi kada bebini…..

    Syarif Umar Bin Syarif Ali hidup beliau di abdikan dalam hal keagamaan , konsentrasi beliau hanya berdakwah dan tidak ikut dalam pemerintahan abah sidin . walaupun beliau dapat jatah daerah kekuasaan di Tarjun tapi beliau tidak terlalu konsen disitu. dari hari-kehari dan dari tahun ketahun hanya mensyiarkan islam saja. sebagai putra pangeran syarif ali al-Idrus beliau tetap saja mendapat gelar kehormatan dengan gelar PENGERAN TARJUN dan memang beliau adalah ulama besar di jaman itu.. kubah beliau ada di daerah tarjun tepatnya dekat areal pabrik semen di kota baru..
    sekian dululah dngsank info ulun.. kalau ini salah bisa pian perbaiki atau pian tambahkan kisah sidin bila pian dapat infonya..semoga kesuksesan menyertai pian selalu. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1428 H..dan semoga ALLAH SWT selalu meredhoi persaudaraan kita ini dunia akhirat.. walau kita tidak bertemu secara langsung FACE TO FACE.
    mudah-mudahan juga Allah Swt. menyatukan hati dan perasaan kita ,, dan semoga Allah mempertemukan khadam kita untuk bertemu dalam mimpi..
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  25. ali
    9 Sep ’07 10:15 am #

    Assalamualaikum wr wb

    Sekitar setahun yang lalu ulun ada mencatat tentang seorang yang bermakam di areal pabrik semen. Namanya dan famnya kada tahu. Ujar kisah, makam ini terbilang aneh karena dalam wilayah lokasi pabrik semen. Kadada nang wani mamindah. Subhanallah sakalinya padatuan pian. Pangeran Tarjun, sebuah gelar yang bagus!

    Insya Allah ini sebuah informasi awal untuk menelusuri jejak-jejak keturunan Syarif Ali yang lain.

    Sayang ulun, belum berkesempatan pergi ke wilayah
    Tanah Bambu dan Kotabaru. Banyak Alaydrus di sini.
    Selain dari cabang Syarif Ali, juga ada dari Alaydrus Sulawesi.

    Tiga bersaudara Alaydrus dari Sulawesi ini merupakan sosok yang populer di wilayah ini. Mereka Alaydrus yang terjun di bidang bisnis.

    Mungkin pian pernah mendengar pengusaha minyak bernama Sayyid Ja’far Alaydrus. Beliau, katanya, lebih banyak berada di Balipapan, mengendalikan sejumlah usahanya. Beliau Presiden Direktur PT Benua Raya Katulistiwa. Usahanya terbentang mulai daru bidang kontraktor, supplier, export, import, transport BBM Pertamina, perdagangan umum dan jasa hingga jasa penyeberangan fery.

    Saudaranya Sayed Galib Alaydrus (popular dengan nama Andi Tanrang), adalah politisi Golkar, dulu pernah ikut pilkada di Tanah Bambu. Saudara lainnya Maulana Alaydrus.

    Sekian dulu. Kaina disambung lagi.

    Selamat menjalankan ibadah Puasa!

    Assalamualaikum wr wb.

  26. abdul hadi alaydrus
    10 Sep ’07 9:19 am #

    Assalamu’alaikum WR.Wb dangsankku
    Baru tebaca nah email pian di blog pian….dangsanakku…merinding jua ulun ketika ditulisan pian tentang padatuan ulun ,Syarif Umar Alaydrus.. Asli ulun merinding.. mudah2 bila ulun ada rezeki handak bejalanan kekubah sidin, ulun handak bujur beziarah dan betamu wan sidin. ulun sebenarnya merasa berdosa jua wan sidin sebagai anak cucu sidin ulun harus bertanggung jawab mengamankan. dan melestarikan apa nang sudah pedatuan ulun ulah demi kemashlahatan urang banyak…
    Dangsanaku.. memang dibalikpapan ada seorang habaib nang sukses dan hampir umpat Pilkada Balikpapan sayang kada’ada partai nang mengusung sidin.. Sayid Ja’far Alaydrus bujur memang sidin turunan habib dari Sulsel, tapi beliau ketika masih halus beliau lawas tinggal di Kota Baru atau mungkin beliau lahir di Kota Baru.karena menurut salah satu ading beliau,Ulun lupa ngarannya tapi tahu urangnya ketika bertemu wan ulun , kebetulan ulun pernah ngobrol ..beliau cerita waktu saya masih kecil di kota baru saya sering dengan abang saya sayid ja’far bla..bla.bla..bla.. dst.. ulun hanya diam sambil mendengarkan.. Sayid Ja’far Alaydrus rumah sidin persis di depan Sekretariat PPP di Kampung Baru kecamatan Balikpapan Barat Kota Balikpapan sidin pengusaha yang sangat sukses dan beliau rasa-rasanya punya villa sendiri di kawasan industri kariangau sebuah kawasan industri yang akan berkembang beberapa tahun kedepan.
    Ok Itu dulu dangsanak… kaina kita sambung lagilah
    maaf ulun agak telat,, lagi maurusi macam-macam ,gasan persiapan bulan puasa ini
    Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalamu’alaikum WR.Wb

  27. Abdul Hadi Alaydrus
    3 Oct ’07 7:18 am #

    Assalamu’alaikum dangsanaku….
    Informasi terbaru dari Pangeran Tarjun ( Syarif Umar Bin Syarif Ali Alaydrus ) , menurut kakak ipar ulun sayid yusuf , makam syarif umar alaydrus, bujur memang kada ada nang wani memindah dari areal pabrik semen , karena ketika akan dibangun pabrik semen tersebut , pihak perusahaan handak memindah makam sidin .. tapi justru banyak makan korban .. dan menurut kisah masyarakat disekitar pabrik semen tersebut..kadang-kadang muncul seekor kuda putih berkeliling di sekitar makam sidin , info ini didapat dari kisah habib mustafa ,juru kunci makam syarif Umar alaydrus .. masih keluarga ulun jua juru kunci tersebut… ok terima kasih banyak dan ulun salut wan pian , salam takzim dari ulun karena blog pian mampu memberikan pencerahan dan pemahaman bagaimana mestinya memahami kisah-kisah teladan para habaib di tanah banjar dan sekaligus sebagai bahan pelajaran yang berharga buat keturunan syarif ali .. ulun sudah sarankan kepada seluruh keluarga ulun untuk membuka blog pian agar faham siapa sebenarnya Syarif Ali Alaydrus dan keturunan beliau yang sudah membuat sejarah di bumi kalimantan ini… dan informasi dari blog pian ini jua sudah ulun sosialisasikan ke sayid yusuf di MTP dan kemanakan ulun. Sayid Lukman dan Sayid Ibnu Aroby sudah jua membuka blog pian..mereka2 jua mengucapkan terima kasih atas keberadaan blog pian.. Sekian dulu, Dan semoga Allah SWT selalu memberikan inspirasi gasan pian dangsanku Yudi / Ali , Amien
    Wallahul Muawaffieq Ilaa Aqwamith Thorieq
    Wassalam’alaikum Wr.Wb

  28. ahmad zarqon
    11 Mar ’08 5:52 am #

    Assalamu’alaikum wr wb

  29. ali
    11 Mar ’08 9:30 am #

    Wa alaikum salam wr wb. Mas Ahmad Zarkon tinggal di mana? Ada cerita (kisah) tentang Alaydrus atau yang lainnya, boleh dituturkan di blog ini.

  30. Anonymous
    12 May ’08 3:46 pm #

    Anak Cucu Pangeran Syarif Ali Alaydrus:

    Manaqib Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus
    bin Asy-Syarif As-Sayyid Abdurrahman Al-Idrus Sabamban Kal-Sel

    Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus adalah pendiri dari kerajaan Sabamban dengan nama lain yang dikenal oleh masyarakat setempat “ Makam Keramat Dermaga “ (Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan) pada pertengahan abad ke-18, kurang lebih hampir bersamaan dengan periode pemerintahan Sultan Adam (Raja Banjar ke-12 periode 1825-1857).

    Orang tua Sultan Asy-Syarif Ali Al-Idrus yaitu Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Idrus adalah anak dari Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus pendiri dari Kerajaan Kubu pertama, sedangkan Uminya Syarifah Aisyah Al-Qadri Jamalullail adalah putri Sultan Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail pendiri Kerajaan Pontianak dari istri yang bernama Putri Utin Chandra Midi yang bergelar Sri Paduka Ratu Sultan putri ketiga dari Panembahan Mempawah Opu Daeng Menambun bin Daeng Rilaga.

    Perkawinan Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Idrus dengan Syarifah Aisyah Al-Qadri Jamalullail, lahirlah 6 (enam) orang putra yaitu :

    1. Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus
    2. Asy-Syarif Al-Habib Aqil Al-Idrus
    3. Asy-Syarif Al-Habib Husein Al-Idrus
    4. Asy-Syarif Al-Habib Dayud Al-Idrus
    5. Asy-Syarif Al-Habib Saggaf Al-Idrus
    6. Asy-Syarif Al-Habib Alwi Al-Idrus

    Jadi keluarga dari sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus Sabamban mempertemukan 2 jalur darah kerajaan Kalimantan, yaitu dari jalur Raja Kubu (Al-Idrus) dan Raja Pontianak (Al-Qadri Jamalullail).

    Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus diasuh serta dibina dua kerajaan besar yaitu Kerajaan Kubu dan Kerajaan Pontianak dan dibina oleh Abahnya sendiri juga dibina oleh Ami-aminya yang salah satu Aminya menjabat Kesultanan Ambawang pertama yaitu Sultan Asy-Syarif Al-Habib Alwi Al-Idrus.

    Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus pendiri kerajaan Sabamban yang merupakan cucu dari Tuan Besar Raja Kubu Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus ini pada awalnya beliau menetap di daerah Kubu bersama keluarga Abahnya dari kerajaan Kubu, pada masa itulah beliau mendapatkan istri dan berputra dua orang yaitu Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus dan Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus.

    Karena ada suatu konflik keluarga di Kubu, akhirnya Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus suka berkunjung ke tempat Kakeknya dari Umi di Pontianak yang merupakan Raja Pontianak, dari sana beliau mendapatkan informasi tentang jalur ke Kalimantan Selatan, karena kakeknya sering berlayar ke Negeri Banjar dari Mempawah dan tinggal di Negeri Banjar selama empat bulan, kemudian berlayar lagi ke Negeri Pasir (Kutai) dan berhenti di situ selama tiga bulan, setelah itu kembali ke Negeri Banjar setelah dua bulan menetap di sana, kakeknya Sultan Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail di kawinkan dengan Putri Sultan Sepuh, Saudara dari Panembahan Batu yang bernama Ratu Syahbanun. Sebelum kawin, Kakeknya yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail di lantik oleh Panembahan Batu menjadi Pangeran dengan gelar Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam. dua tahun kemudian Syarif Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail kembali ke Negeri Mempawah, setahun kemudian kembali lagi ke Negeri Banjar, selama empat tahun di Banjar beliau memperoleh dua orang anak. Anak yang laki-laki diberi nama Syarif Alwi diberi gelar Pangeran Kecil dan yang perempuan bernama Syarifah Salmah diberi gelar Syarifah Putri.

    Dari kisah Kakeknya ini akhirnya Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus tambah mantap tekatnya untuk pergi ke negeri Banjar apalagi ada ajakan dari Abahnya Asy-Syarif Al-Habib Abdrurrahman bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus, ikut serta pula Sepupunya Asy-Syarif Al-Habib Ja’far bin Abu Bakar keturunan dari Asy_syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus dan juga Aminya Asy-Syarif Al-Habib Zain bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus, memutuskan untuk hijrah ke Banjar dengan meninggalkan istri serta kedua putranya yang masih berdiam di Kerajaan Kubu. Beliau berlayar melalui sungai Kapuas ke laut lepas lalu masuk sungai Barito hingga sampai ke daerah Sabamban di daerah Banjar Kalimantan Selatan, lalu beliau membuka wilayah pemukiman dan mendirikan kerajaan Sabamban serta beliau diminta menjadi Raja Sabamban pertama yang bergelar Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus.

    Masyarakat Banjar umumnya pada waktu itu terbagi menjadi dua golongan sosial masyarakat yaitu : golongan Masyarakat Jaba ( awam ) dan golongan Tutus. Golongan masyarakat Jaba adalah golongan pengabdi kepada golongan masyarakat Tutus, sedangkan golongan Tutus itu sendiri adalah golongan masyarakat yang memiliki keturunan bangsawan Raja atau istilahnya darah biru. Masyarakat Banjar umumnya percaya golongan Tutus memiliki kekuatan Bathin / Rohani yang tidak bisa ditandingi oleh golongan masyarakat Jaba. Kedudukan Raja di anggap sebagai pelindung dan pemelihara masyarakat dari malapetaka dan bencana, dan Tahta memiliki kekuatan gaib yang hanya mampu di duduki oleh orang dari golongan Tutus. Istilah Tutus itu sendiri mengacu kepada pengertian kekuatan irasional yang berarti seorang Tutus itu adalah orang yang suci dan terlepas dari unsur-unsur duniawi serta pengaruhnya. Demikian pula halnya dengan tahta kerajaan yang dianggap bukan benda duniawi yang mana tahta di datangkan dari luar dunia, tahta adalah barang suci yang terbebas dari pengaruh dunia, oleh karena itu tahta hanya bisa diduduki orang Tutus, dan jika tidak maka itu akan menimbulkan bencana dan malapetaka. Jadi Raja dan Tahta adalah dwitunggal sebagai wujud kekuasaan religius dan pemerintahan.

    Hal itu yang kemungkinan menyebabkan kenapa masyarakat Sabamban waktu itu meminta Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjadi Sultan Sabamban, karena Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus itu sendiri kalau Nasabnya di telusuri ke atas baik Nasab dari Abah maupun Umi beliau adalah merupakan Keturunan Bani Alawi Dzurriyatur-Rasul yang dikenal orang seluruh dunia dimana keturunan ini menurunkan para Imam, Auliya, Sholihin serta Shidiqin. Juga Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus merupakan keturunan daripada Raja-Raja besar seperti ; Kubu, Pontianak, Mempawah serta Mataram di Jawa. Hal itu tercermin dari pribadi Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang selain menjabat Raja Sabamban juga berperan sebagai Ulama yang giat menyebarkan agama Islam di wilayah Kalimantan, khususnya wilayah yang pernah beliau singgahi.

    Pada saat Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjadi Raja Sabamban ini, beliau menikah lagi dengan tiga wanita, antara lain ; putri dari kesultanan Bone, putri dari Kesultanan Banjar di daerah Nagara Hulu Sungai Selatan, serta putri dari kesultanan Makasar. Dari ketiga istri beliau di Banjar Kalimantan Selatan serta seorang istri beliau di Kubu Kalimantan Barat, Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus memiliki 12 putra yaitu :

    Dari istri pertama di Kubu :
    1.Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus (Makamnya dekat makam Raja Sabamban)
    2.Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus ( Makamnya di Angsana, di Pantai)

    Dari istri kedua putri kesultanan Bone Sulawesi Selatan :
    3.Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus (Makamnya di Tatatakan, depan Masjid Tambarangan Kabupaten Tapin)
    4.Asy-Syarif Al-Habib Thoha Al-Idrus (Makamnya di Batulicin, Tanah Bumbu)
    5.Asy-Syarif Al-Habib Hamid Al-Idrus (Makamnya di Batulicin, Tanah Bumbu)
    6.Asy-Syarif Al-Habib Ahmad Al-Idrus (Makamnya di Batulicin, Tanah Bumbu)

    Dari istri ketiga putri Kesultanan Banjar di daerah Nagara Hulu Sungai Selatan:
    7.Asy-Syarif Al-Habib Thohir Al-Idrus ( Makamnya di Kalimantan Barat )
    8.Asy-Syarif Al-Habib Umar Al-Idrus (Makamnya di Terjun, Kotabaru)
    9.Asy-Syarif Al-Habib Husein Al-Idrus (Makamnya di Kotabaru)
    10.Asy-Syarif Al-Habib Sholeh Al-Idrus (Makamnya di Angsana, di Pantai)

    Dari istri keempat putri Sultan Makasar Sulawesi Selatan :
    11.Asy-Syarif Al-Habib Muhammad Al-Idrus (Makamnya di Angsana, di Pantai)
    12.Asy-Syarif Al-Habib Utsman Al-Idrus (Makamnya di Pagatan, Tanah Bumbu)

    Pada masa Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjabat sebagai Raja Sabamban itulah daerah ini mulai berkembang ramai dan makmur, banyak para pedagang dari luar daerah berdatangan ke Sabamban. Dan dari para pedagang itulah tersebar berita tentang keberadaan serta kemasyhuran kerajaan Sabamban, sehingga sampailah berita itu ke tanah kelahiran Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus di Kubu dan Pontianak Kalimantan Barat. Yang mana ketika kedua anak beliau dari istri pertama di Kubu Kalimantan Barat yaitu Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus dan Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus mendengar berita tentang keberadaan Abahnya di Sabamban akhirnya memutuskan menyusul Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus ke Sabamban serta menetap di sana bersama Abah dan saudara-saudara sebapak-lain ibu mereka.

    Menjelang De Banjarmasinche Krijg ( Perang Banjar ) yang di mulai dari tahun 1859 M itulah, Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus wafat, lalu jabatan sebagai Raja Sabamban kedua yang seharusnya dijabat oleh Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus selaku putra Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang pertama yang lahir di Negeri Banjar, akan tetapi karena beliau tidak berkenan dan tidak menginginkan kedudukan itu, maka keponakan beliau yang jadi yaitu Asy-Syarif Al-Habib Gasim bin Asy-Syarif Al-Habib Hasan bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus itulah yang menjabat sebagai Raja Sabamban II.

    Setelah wafatnya dua Raja yang sangat gigih menentang Belanda yaitu: Raja Sabamban I Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjelang De Banjarmasinche Krijg serta wafatnya Sultan Adam Raja Banjar ke-12 pada tanggal 1 November 1857, maka pemerintah kolonial Belanda sebagai penjajah Indonesia termasuk Kalimantan Selatan waktu itu semakin semena-mena dan terjadilah kekacauan di mana-mana hingga pecahlah perang banjar yang pertama pada tanggal 28 April 1859 meliputi seluruh wilayah Kalimantan Selatan.

    Adapun disebabkan berkobarnya perang dan pemerintah kolonial Belanda ingin menguasai kerajaan Sabamban beserta asetnya, maka dari pihak keturunan Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang sangat anti pada penjajah Belanda membumi hanguskan sendiri istana kerajaan Sabamban agar tidak bisa dikuasai pihak Belanda.

    Akan tetapi sampai sekarang kita masih bisa menjumpai jejak warisan peninggalan kerajaan Sambamban ini berupa kehalusan Akhlaq budi pekerti para keturunannya serta kedalaman ilmu mereka yang merupakan Dzurriyatur-Rasul, di samping itu jejak fisik bukti peninggalan ini kerajaan Sabamban itu bisa kita temui berupa tiang-tiang pilar istana dan meriam milik kerajaan Sabamban yang sekarang di tempatkan di kantor kecamatan Angsana, serta makam Raja-Rajanya yaitu Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus dan Sultan Asy-Syarif Al-Habib Gasim Al-Idrus yang dikenal masyarakat sebagai “ Makam Keramat Dermaga “ di dekat pantai Sabamban, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Indonesia.

    Akhirnya, sepanjang sejarahnya kerajaan Sabamban ini hanya dijabat oleh dua orang Raja saja yaitu ; Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus sebagai pendiri sekaligus Sultan pertama dan cucu beliau Sultan Asy-Syarif Al-Habib Gasim Al-Idrus sebagai sultan kedua, hingga akhirnya kerajaan Sabamban ini hilang dari muka bumi Kalimantan Selatan. Hanya saja, keturunan beliau hampir semua dijiarahi, yang dianggap makam keramat (Waliyullah).

    Salah satu putra Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus ( adiknya Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus ) dari Kotabaru merantau ke Sampit dan di sana kemudian menikah dengan perempuan asal Nagara. Di Sampit ini beliau memiliki kebun kelapa yang oleh beliau kemudian ditinggalkan karena Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus bersama sang istri pulang kampung, ke daerah asal istrinya di Nagara (Kandangan) . Suatu ketika Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus mengunjungi kakeknya di Pontianak yaitu Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman bin Sultan Kubu Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus. Akhirnya Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus tak kembali ke tanah Banjar karena meninggal dunia di Pontianak. Kebun kelapa di Sampit yang dtinggalkan Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus dan istrinya itu sebenarnya dititipkan kepada tetangga. Suatu ketika putra beliau yang tertua Asy-Syarif Al-Habib Ja’far Al-Idrus (saudara Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus) ke Sampit untuk melihat-lihat kebun kelapa itu. Namun si tetangga tak mengakui. Dan, akhirnya muntah darah-lah si tetangga yang khianat itu. Asy-Syarif Al-Habib Ja’far Al-Idrus punya anak namanya Asy-Syarif Al-Habib Salim Al-Idrus ( Abahnya Habib Yahya Al-Idrus, mantan Bupati Pangkalanbun), disamping itu juga ada salah satu buyutnya Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Ahmad Al-Idrus Tanjung, selaku yang menangani nasab dan mendata nasab yang dapat dipercaya sebagai dasar rujukan oleh Maktab Ad-Daimy dan Naqobatul Asyraaf untuk wilayah Kalimantan.

    Kemudian Asy-Syarif Al-Habib Umar Bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus (Adik Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus) yang bermukim di daerah Tarjun, Kotabaru. Beliau kemudian dikenal sebagai “ Pangeran Tarjun “ menyebarkan agama Islam atau Ulama di sana hingga akhir hayat beliau dan di makamkan di daerah Tarjun, yang selalu dijiarahi oleh masyarakat, karena memiliki karomah atau Waliyullah, tepatnya di dekat area pabrik semen Kotabaru.

    Adapun Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus setelah pernyataan ketidak inginan beliau untuk menjadi Sultan, maka beliau lebih memilih mengembangkan syi’ar agama Islam ke daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan khususnya hingga akhir hayat beliau dan di makamkan depan Masjid Tambarangan di daerah Tatakan kabupaten Tapin yang terkenal dengan sebutan “ makam Turbah tua / Surgi Syarif Mustafa “ yang saat ini lagi dalam proses dibangun. Di sebelah makam Asy_syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus ini juga terdapat makam istri kedua beliau. Dan sampai sekarang, makam beliau menjadi salah satu tempat yang sering dijiarahi oleh masyarakat, Karena menurut cerita beliau adalah salah satu keturunan Sultan sekaligus Ulama dan Waliyullah yang memiliki banyak karomah.
    Adapun beberapa karomah beliau antara lain :

    1.ketika beliau berbicara dengan Abahnya Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus, suaranya masih ada di tampat, akan tetapi beliau berdua sudah tidak terlihat lagi karena sudah jauh menghilang.

    2.Apabila beliau berada di suatu tempat, dan ada orang Belanda yang menunggang kuda atau naik Kereta Kuda, maka seketika juga kuda itu akan berhenti berjalan dan menurunkan ekornya menutupi bagian belakangnya.

    3.Apabila beliau berwudhu, sewaktu-waktu beliau menceburkan diri ke sungai atau kolam, ketika beliau naik ke daratan maka bagian tubuh yang basah hanya daerah wudhu saja.

    4.Ketika ditembak, peluru hanya menempel di jubah beliau dan ketika dikibaskan maka peluru itu berjatuhan di tanah, sebagian lagi mengenai pepohonan.

    5.Bila ada burung yang terbang di atas makam beliau maka akan terjatuh seketika.

    6.Di waktu malam hari, makam beliau seperti ada cahaya yang terang.

    7.Masyarakat sekitar kadang-kadang melihat dua ekor Macan yang menjaga makam beliau.

    Itulah beberapa karomah beliau yang sering diceritakan oleh masyarakat setempat dan para keluarga keturunan beliau.

    Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus meninggalkan beberapa putra dan putri dari tiga orang istri beliau, yaitu ;

    Dari putri Bugis di Batulicin, melahirkan :
    1.Asy-Syarif Al-Habib Muhammad Al-Idrus
    2.Syarifah Syaikha Al-Idrus

    Dari istri kedua di Tatakan yang bernama Alama binti Amidin, keturunan Datu Labas (makamnya di Lok Paikat, Tapin), melahirkan :
    3.Asy-Syarif Al-Habib Umar Al-Idrus (Makamnya di belakang Masjid Tambarangan)
    4.Syarifah Alaiyah Al-Idrus
    5.Syarifah Qomariah Al-Idrus
    6.Syarifah Masturah Al-Idrus
    7.Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus (Makamnya di belakang Masjid Tambarangan).

    Dari istri ketiga, Syarifah Mujenah binti Al-Habib Ali Asseggaf (Kandangan) :
    8.Asy-Syarif Al-Habib Alwi Al-Idrus, tidak memiliki keturunan.

    Anaknya Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus yang bermukim di daerah Tatakan, Rantau Kabupaten Tapin, memiliki tiga istri dan menurunkan keturunan yang antara lain :

    1.Asy-Syarif Al-Habib Hasan Badri Al-Idrus (domisili Jogja atau Bulungan).
    2.Asy-Syarif Al-Habib Ahmad Al-Idrus (makamnya di Halong, Paringin).
    3.Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus (makamnya di depan makam Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus).
    4.Asy-Syarif Al-Habib Abdul Hamid Al-Idrus (domisili Rantau)
    5.Syarifah Aminah (domisili Rantau)
    6.Syarifah Zubaidah (domisili dekat komplek makam Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus).
    7.Syarifah Aisyah (domisili dekat komplek makam Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus).
    8.Syarifah Nurhayati / Ibu Ifah Nur (domisili di depan Polsek Tambarangan)

    Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus memiliki kegemaran berjiarah ke makam Syekh Maulana Abdussamad Al-Palimbangi yang lebih dikenal sebagai “ Datu Sanggul ” (Ulama yang sezaman dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari). Dan ketika bermunculan kelompok-kelompok “Gerombolan” di era pasca kemerdekaan antara tahun 1945 sampai tahun 1950, Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus ini merupakan figur tokoh kharismatik yang disegani baik dari pihak Gerombolan maupun dari pihak pemerintahan. dimana setiap yang memiliki hubungan dengan Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus tidak akan diganggu oleh kelompok Gerombolan juga tidak akan ditangkap oleh Pemerintah. Beliau merupakan salah satu tokoh yang giat menyebarkan syi’ar Islam hingga beliau wafat pada tahun 1960 M, dan dimakamkan di belakang Masjid Tambarangan, Tatakan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan dan dikenal sebagai Keramat Betatak.

    Mengenai gelar Keramat Betatak ini dikarenakan suatu ketika beliau hendak shalat subuh dan mengambil air wudhu di sungai, sarung beliau diinjak dari belakang oleh seorang pria dan seorang wanita yang menyimpan iri dengki kepada beliau, hingga menyebabkab beliau terjatuh dalam posisi tengkurap, lalu dua orang tadi yang sebelumnya sudah menyiapkan senjata tajam, segera menyerang Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus. Akan tetapi serangan pria itu tidak dapat menembus kulit beliau sedikit pun, hanya wanita saja yang dapat melukai tubuh beliau, begitu juga wanita itu yang segera menyayat punggung beliau seperti menyayat ikan, namun sayatan itu tidak dapat begitu dalam melukai beliau, hanya sedalam kurang lebih ½ cm. Selama beberapa hari beliau berada di pinggir sungai dalam posisi tengkurap namun beliau tidak meninggal, sampai akhirnya ditemukan dan dibawa oleh sanak keluarga ke rumah, dan beliau kembali sehat seperti sedia kala hanya dalam tempo beberapa hari. Lain halnya dengan pria dan wanita pelaku penyerangan itu yang mengalami muntah darah dan menjadi gila hanya dalam tempo yang singkat setelah aksi jahat mereka, kemudian rumah mereka pun terbakar beserta pria dan wanita yang telah menjadi gila itu, dan mereka terbakar hidup-hidup di dalam rumah mereka. Sejak itulah Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus di kenal sebagai Keramat Betatak.

    Adapun salah Satu cucu Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Muhamad Effendi bin Asy-Syarif Al-Habib Hasan Badri bin Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus Raja Sabamban pertama, telah dinobatkan selaku Imam Mursyid salah satu Thariqah Mu’tabarah pada hari Kamis 16 Ramadhan 1423 / 21-11-2002, oleh Rais Am Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah Indonesia yaitu Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya, Pekalongan (Jateng).

    Demikianlah sedikit daripada kisah Raja Sabamban I Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus beserta keturunannya yang InsyaAllah akan bermanfaat, serta akan memberikan Barokah bagi kita semua yang membacanya.

    Akhirul kalam, salah dan khilaf adalah semata dari saya yang dhaif ini dan kebenaran hanyalah kepada Allah Azza Wa Jalla. saya mohon ampunan atas kesalahan serta mengharapkan keridhoan-Nya. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin.

    .::SELESAI::.

    Narasumber : Ir.Asy-Syarif Al-Habib Muhamad Effendi bin Hasan Badri bin Hasyim bin Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus

    Penulis : Eko Setiadi@102007
    (dari kisahbanua.blogspot.com)

  31. Anonymous
    23 Apr ’09 2:31 pm #

    Abdul Hadi Al-Idrus,

  32. Anonymous
    23 Apr ’09 3:21 pm #

    ali,

  33. muhammad iqbal
    11 Oct ’09 2:54 am #

    Habib Ahmad bin Ali Alaydrus yang saya hormati
    saya ingin bertanya tentang biograpi dan silsilahnya kakek
    saya, yang bernama Al Habib Amsar Al Irsyad Al Aydrus

  34. syeikh mohamad din
    9 Jan ’10 9:03 am #

    Asallamuailkum habib semua !! Syok juga saya baca ,kisah kisah mencari Nasab ni. Memang saya juga begitu, kerana AL HASANI yang malang ini ,nasab nya juga tidak ditulis. Saya tidak tahu mengapa !Saya hanya di cerita kan olih datuk, nenek, saya sahaja tanpa di tulis. Pada kajian saya AL HASANI ( SAIYID ISMAIL PULAU BESAR) keturunan nya banyak yang menentang penjajah!!! yang SYAHID pada1521 M di MELAKA iaitu Pengeran Seberang Lor dan isteri nya yang ke 3, Syarifah Siti Zubaidah binti Saiyid Ismail Al Jailani…dan SAIDAH ini lah yang diktakan SELIR olih PENJAJAH PORTUGIS…Dan dari SAIDAH inilah yang melahirkan RADEN ABDULLAH yang meneruskan perjuangan bapa nya PATI UNUS dengan menjadi ADIPATI JEPARA… ..2 lagi anak PENGERAN SEBERANG LOR ..SYAHID, di Pengairan PULAU BESAR MELAKA.Anak anak itu dari isteri PATI UNUS yang pertama iaitu PUTERI RATU MAS NYAWA atau PUTERI GUNUNG LEDANG….RAHSIA INI sudah lama kami simpan dan saya sendiri ,mencari dan mencari dan akhir nya saya dapat…setelah saya munajat di surau pulau besar pada tahun 2006..dimasa itu saya tidak ada INTERNET… Setelah ada ,Saya buka blog PATI UNUS dan jumpa tapi malang nya PENULIS BLOG itu mengatakan SAIDAH itu seorang SELIR…INGIN SAYA TEGAS KAN SAIDAH itu ialah anak kepada SYEIKH SULTAN ARIFFIN SAIYID ISMAIL AL HASANI AL JAILANI….DALAM KAJIAN SAYA, RANGKAIAN NASAB SYEIKH ISMAIL memang bersambung ke JAMBI dan ke BANTEN…ke JAMBI ialah anak nya SYEIKH AHMAD SALIM/AHMAD QODIR/AHMAD TAJUDIN/AHMAD SYAH dan mungkin DATUK PADUKA BERHALO/PANGLIMA ALANG DAIK HITAM….ke BANTEN melalui cucu nya yang dilarikan pada tahun 1521. selepas perang iaitu RADIN ABDULLAH./ARYA JEPARA….RADEN ini lah yang selalu menyerang MELAKA di sepanjang hidup beliau selama 100 tahun lebih, RADEN ini juga yang paling di benci olih penjajah dan di takuti olih penjajah dan dalam keturunan kami di gelar NAKHODA HITAM.Beliau ,apa bila berperang tidak pernah kalah. ini lah yang dicerita kan kepada saya olih nenek saya, sambil berlinang air mata. Dalam keturunan kami yang mati SYAHID ialah 1..PATI UNUS 2..RADEN ABU BAKAR 3. RADEN ABU SHAHID/ BARKAT 4..SYARIFAH SITI ZUBAIDAH 5.SYEIKH AHMAD KAMAL/ PANGLIMA LIDAH HITAM 6.RAJA HAJI 7.RAJA AHMAD bin RAJA HAJI… Dan itu lah yang saya tahu ,serba sedikit cerita dari nenek saya…Sekarang bolih lah saya cerita kan kerana negara kami sudah merdeka. untuk pengetahuan / ini ialah atau. WASALLAM

  35. syeikh mohamad din
    9 Jan ’10 4:59 pm #

    Setelah saya baca , cara anda mencari nasab ,hampir sama dalam saya mencari nasab !! Saya memang tau , sampai 6,keturunan saya keatas saya iaitu ; mohamad din b abdul jalil b ahmad said ( dalam i/c datuk..md.sayed) b ahmad kecik b ahmad hitam b umar saad.b ahmad maulana…Kata datuk saya kami orang bugis. Datuk saya ni garang beb !cerita lebih lebih nahas kau !!! Pada tahun 1998, pada jam 3.00 pagi. selepas saya buat solat malam, saya berzikir, dalam masa berzikir saya rasa hampir ke 1000, hati saya macam berkecamuk, peloh sejok keluar, pelik ,pagi yang dingin nyaman ,badan berpeloh sejok!!dalam pada itu saya kuat kan zikir kan kosong kan fikiran ikut metode zikir yang saya belajar..tiba tiba saya dengar orang beri salam..lembut sekali..saya tak layan..di beri nya salam lagi dan katanya …kenapa tidak jawap salam datuk?..maka saya jawap salam itu..kata nya buka mata !!saya pun buka mata ..masaallah ..seorang yang berjubah putih, berserban putih berdiri didepan saya…hati takut,tak usah cerita lah..tinggi nya dalam dekat 6 kaki,..kata nya..kenapa takut ?.dalam takut takut saya tanya siapa ? kata nya.. SYEIKH MAULANA ISMAIL..saya kata ..mana ada datuk saya SYEIKH MAULANA ISMAIL..kata nya ada, kamu cari!!saya tanya buat apa datuk datang ??( dah berani sikit beb)..kata nya , umur kamu sudah cukup 40 tahun.dan datuk nak turun kan ilmu!! saya tanya ilmu apa? kata nya kamu nak ilmu apa ? kata saya, kalau ilmu ubat orang sakit ,saya mahu tapi guna kan ayat quran je!! serapah saya tak mahu !!kata nya ,gunakan ayat quran la !!datuk tak pernah, guna kan serapah !!kata saya, baik lah…kata nya ,nanti datuk beri,..dia beri salam dan hilang…bau nya beb..wangiii sekali macam kasturi..tapi lagi lembut…lepas tu saya mengigil juga ,saya zikir kembali,..baru lah tenteram….Untuk pengetahuan Habeb..saya memang bolih mengubat orang semenjak ,umur saya 16 tahun lagi…pagi itu sebelum subuh, ..saya dah sampai ke masjid dalam pukul 5.00..lepas subuh, saya pun bertanya dengan pak long saya (IMAM MASJID).Saya cerita kan sampai habis,..kata beliau…datuk engkau lah..saya tanya ,datuk mana..pak long..kata nya …alaaa.. kau tau nanti.Selepas itu saya selalu bermimpi, datuk tu datang dan ajarkan saya cara cara berubat..sebenar nya ayat ayat yang di gunakan simple je…fatihah,ayat kursi,4 kul dan ayat yang biasa sya baca…Saya terfikir juga..mana satu datuk aku yang nama syeikh maulana ismail ni!!kekadang bila dalam mimpi tu bolih tanya pulak tu!!saya tanya ..datuk ni , datuk kami yang mana !!! tiada jawapan dari beliau..cuma bertanya kamu tak ke gunong Ledang ke ?lagi pelik kat gunong ledang ,mana ada datuk…sambil tu tanya gak kat nenek saudara, kat bapa saudara,datuk saya (SYEIKH AHMAD SAID DAH WAFAT ) tanya kat bapa saya semua nya tak tahu atau kau akan tau…Saya belajar lagi ilmu perubatan dengan almarhum tabib muhamad nabun(meniggal 2008) dan tanya beliau dan diberikan saya zikir pada jumlah tertentu dan siapkan pada masa tertentu dan berdoa kaepada ALLAH minta petunjuk. AKHIR nya apabila saya habis kan semua itu ,saya seolah olah dah bolih bercakap dengan datuk saya,..dalam masa yang sama saya berzikir…SAYA rasa pelik !!!saya tanya kan ke guru saya , kata nya itu lah ilmu mata makrifat.Lepas itu baru saya tanya datuk saya tu dan baru lah diberitahu ia nya ialah cicit dari SYEIKH SULTAN ARIFFIN SAIYID ISMAIL AL HASANI AL JAILANI…Kalau gitu aku ni SAIYID..saya kata, datuk jangan main main, keturunan ni keturunan nabi, ketulah kami nanti, kata saya…katanya DEMI ALLAH DAN RASUL NYA KAMU MEMANG SAIYID…pergi ke PULAU BESAR DAN MUNAJAT KAT SURAU…Pulau Besar ni bib, saya dah lama tidak pergi,masa itu( tahun 2003) memang saya nak pergi tapi tiada kesempatan lagi…Tahun terakhir saya pergi pada tahun 1971…masa tu macam ada satu bisikan hati, untuk bertanya kepada pak busu saya busu Ismail, Bukit Rambai,..saya jumpa dia di kuburan,Masjid Bukit Rambai, dan tanya beliau, dia tak banyak cakap,terus di bawa nya saya ke satu kubur,dan kata nya inilah makam SYEIKH AHMAD IBRAHIM ,saya kata, su kita ni SAIYID ke? macam tak caya je,..dimarahi nya saya..kepala otak kau, busu kata SAIYID, SAIYID le ? dan terus diterang kan kepada saya, satu persatu….saya faham dan yakin !!!! Pada tidak sampai seminggu,..isteri saya..beriya iya nak ke Pulau Besar, saya katakan hari sabtu, anak tak sekolah kita pergi,.balik hari ( tidak bermalam)..ok kata nya…pada hari sabtu minggu itu..saya dan isteri saya ke Pulau Besar…sampai di sana saya munajat di makam datuk ( dalam hati saya…kalau betul kami ini anak cucu datuk, kami nak tau nasab kami..ya ALLAH perkenankan doa kami ini) Lepas itu kami balik dan isteri saya kata ..tak syok lah tak tidor sana (pulau)…ok lah nanti kita tidur, tunggu cuti sekolah…pada cuti sekolah bulan 7, tahun 2007, saya pergi ke Pulau Besar berserta dengan dengan keluarga dan kawan kawan seramai 10 orang dan bermalam di sana,buat perkemahan…malam itu saya ke surau pada pukul 2.00 pagi, ..lepas solat sunat saya pun mula duduk dan saya berdoa dalam hati saya ..YA ALLAH JIKA KAMI BERNASAB DARI RASUL MU…DARI TITISAN SYEIKH ISMAIL INI.KAU BERI LAH AKU PETUNJUK..dan terus berzikir…dalam tak sampai 500 zikir..saya berbau sangat harum…dan rasa ada orang duduk sebelah saya..masa ni tak takut lagi bib ..seronok pula bolih bercakap dengan datuk saya SYEIKH ISMAIL..YANG PELIK NYA..mata saya lelap,dalam masa yang sama,mulut berzikir dan hati terang, seolah olah..saya berbual dengan datuk saya..apalagi saya tanya lah , asal usul saya dan beliau ceritakan tetapi ada yang bolih di cerita kan pada orang ,dan ada yang tak bolih dicerita kan… ibarat kata bagaimana mau mencerita kan ,manis nya gula, kalau orang itu sendiri tidak makan gula !!!bagitu juga bagaimana mahu mencerita kan pengalaman ini, kalau seseorang itu tidak melalui dan memahami nya…..Sebenar nya saya memang takut untuk bercerita pengalaman ini kerana saya takut fitnah!!!!!!….Dari pengalaman ini saya mencari dan menbaca hampir 50 buah buku sejarah , bolih dikata kan saban malam saya mencari di dalam INTERNET ,dan membuat kesimpulan , bahawa NASAB SAYA ini adalah SHAHIH…..SEKIAN.. SAYA AMAT BERTERIMA KASIH KEPADA ANDA YANG MEMBERI SAYA LALUAN UNTUK SAYA MENUKIS. .TERIMA KASIH…….WASSALAM.

  36. syeikh mohamad din
    9 Jan ’10 5:09 pm #

    Setelah saya baca , cara anda mencari nasab ,hampir sama dalam saya mencari nasab !! Saya memang tau , sampai 6,keturunan saya keatas saya iaitu ; mohamad din b abdul jalil b ahmad said ( dalam i/c datuk..md.sayed) b ahmad kecik b ahmad hitam b umar saad.b ahmad maulana…Kata datuk saya kami orang bugis. Datuk saya ni garang beb !cerita lebih lebih nahas kau !!! Pada tahun 1998, pada jam 3.00 pagi. selepas saya buat solat malam, saya berzikir, dalam masa berzikir saya rasa hampir ke 1000, hati saya macam berkecamuk, peloh sejok keluar, pelik ,pagi yang dingin nyaman ,badan berpeloh sejok!!dalam pada itu saya kuat kan zikir kan kosong kan fikiran ikut metode zikir yang saya belajar..tiba tiba saya dengar orang beri salam..lembut sekali..saya tak layan..di beri nya salam lagi dan katanya …kenapa tidak jawap salam datuk?..maka saya jawap salam itu..kata nya buka mata !!saya pun buka mata ..masaallah ..seorang yang berjubah putih, berserban putih berdiri didepan saya…hati takut,tak usah cerita lah..tinggi nya dalam dekat 6 kaki,..kata nya..kenapa takut ?.dalam takut takut saya tanya siapa ? kata nya.. SYEIKH MAULANA ISMAIL..saya kata ..mana ada datuk saya SYEIKH MAULANA ISMAIL..kata nya ada, kamu cari!!saya tanya buat apa datuk datang ??( dah berani sikit beb)..kata nya , umur kamu sudah cukup 40 tahun.dan datuk nak turun kan ilmu!! saya tanya ilmu apa? kata nya kamu nak ilmu apa ? kata saya, kalau ilmu ubat orang sakit ,saya mahu tapi guna kan ayat quran je!! serapah saya tak mahu !!kata nya ,gunakan ayat quran la !!datuk tak pernah, guna kan serapah !!kata saya, baik lah…kata nya ,nanti datuk beri,..dia beri salam dan hilang…bau nya beb..wangiii sekali macam kasturi..tapi lagi lembut…lepas tu saya mengigil juga ,saya zikir kembali,..baru lah tenteram….Untuk pengetahuan Habeb..saya memang bolih mengubat orang semenjak ,umur saya 16 tahun lagi…pagi itu sebelum subuh, ..saya dah sampai ke masjid dalam pukul 5.00..lepas subuh, saya pun bertanya dengan pak long saya (IMAM MASJID).Saya cerita kan sampai habis,..kata beliau…datuk engkau lah..saya tanya ,datuk mana..pak long..kata nya …alaaa.. kau tau nanti.Selepas itu saya selalu bermimpi, datuk tu datang dan ajarkan saya cara cara berubat..sebenar nya ayat ayat yang di gunakan simple je…fatihah,ayat kursi,4 kul dan ayat yang biasa sya baca…Saya terfikir juga..mana satu datuk aku yang nama syeikh maulana ismail ni!!kekadang bila dalam mimpi tu bolih tanya pulak tu!!saya tanya ..datuk ni , datuk kami yang mana !!! tiada jawapan dari beliau..cuma bertanya kamu tak ke gunong Ledang ke ?lagi pelik kat gunong ledang ,mana ada datuk…sambil tu tanya gak kat nenek saudara, kat bapa saudara,datuk saya (SYEIKH AHMAD SAID DAH WAFAT ) tanya kat bapa saya semua nya tak tahu atau kau akan tau…Saya belajar lagi ilmu perubatan dengan almarhum tabib muhamad nabun(meniggal 2008) dan tanya beliau dan diberikan saya zikir pada jumlah tertentu dan siapkan pada masa tertentu dan berdoa kaepada ALLAH minta petunjuk. AKHIR nya apabila saya habis kan semua itu ,saya seolah olah dah bolih bercakap dengan datuk saya,..dalam masa yang sama saya berzikir…SAYA rasa pelik !!!saya tanya kan ke guru saya , kata nya itu lah ilmu mata makrifat.Lepas itu baru saya tanya datuk saya tu dan baru lah diberitahu ia nya ialah cicit dari SYEIKH SULTAN ARIFFIN SAIYID ISMAIL AL HASANI AL JAILANI…Kalau gitu aku ni SAIYID..saya kata, datuk jangan main main, keturunan ni keturunan nabi, ketulah kami nanti, kata saya…katanya DEMI ALLAH DAN RASUL NYA KAMU MEMANG SAIYID…pergi ke PULAU BESAR DAN MUNAJAT KAT SURAU…Pulau Besar ni bib, saya dah lama tidak pergi,masa itu( tahun 2003) memang saya nak pergi tapi tiada kesempatan lagi…Tahun terakhir saya pergi pada tahun 1971…masa tu macam ada satu bisikan hati, untuk bertanya kepada pak busu saya busu Ismail, Bukit Rambai,..saya jumpa dia di kuburan,Masjid Bukit Rambai, dan tanya beliau, dia tak banyak cakap,terus di bawa nya saya ke satu kubur,dan kata nya inilah makam SYEIKH AHMAD IBRAHIM ,saya kata, su kita ni SAIYID ke? macam tak caya je,..dimarahi nya saya..kepala otak kau, busu kata SAIYID, SAIYID le ? dan terus diterang kan kepada saya, satu persatu….saya faham dan yakin !!!! Pada tidak sampai seminggu,..isteri saya..beriya iya nak ke Pulau Besar, saya katakan hari sabtu, anak tak sekolah kita pergi,.balik hari ( tidak bermalam)..ok kata nya…pada hari sabtu minggu itu..saya dan isteri saya ke Pulau Besar…sampai di sana saya munajat di makam datuk ( dalam hati saya…kalau betul kami ini anak cucu datuk, kami nak tau nasab kami..ya ALLAH perkenankan doa kami ini) Lepas itu kami balik dan isteri saya kata ..tak syok lah tak tidor sana (pulau)…ok lah nanti kita tidur, tunggu cuti sekolah…pada cuti sekolah bulan 7, tahun 2007, saya pergi ke Pulau Besar berserta dengan dengan keluarga dan kawan kawan seramai 10 orang dan bermalam di sana,buat perkemahan…malam itu saya ke surau pada pukul 2.00 pagi, ..lepas solat sunat saya pun mula duduk dan saya berdoa dalam hati saya ..YA ALLAH JIKA KAMI BERNASAB DARI RASUL MU…DARI TITISAN SYEIKH ISMAIL INI.KAU BERI LAH AKU PETUNJUK..dan terus berzikir…dalam tak sampai 500 zikir..saya berbau sangat harum…dan rasa ada orang duduk sebelah saya..masa ni tak takut lagi bib ..seronok pula bolih bercakap dengan datuk saya SYEIKH ISMAIL..YANG PELIK NYA..mata saya lelap,dalam masa yang sama,mulut berzikir dan hati terang, seolah olah..saya berbual dengan datuk saya..apalagi saya tanya lah , asal usul saya dan beliau ceritakan tetapi ada yang bolih di cerita kan pada orang ,dan ada yang tak bolih dicerita kan… ibarat kata bagaimana mau mencerita kan ,manis nya gula, kalau orang itu sendiri tidak makan gula !!!bagitu juga bagaimana mahu mencerita kan pengalaman ini, kalau seseorang itu tidak melalui dan memahami nya…..Sebenar nya saya memang takut untuk bercerita pengalaman ini kerana saya takut fitnah!!!!!!….Dari pengalaman ini saya mencari dan menbaca hampir 50 buah buku sejarah , bolih dikata kan saban malam saya mencari di dalam INTERNET ,dan membuat kesimpulan , bahawa NASAB SAYA ini adalah SHAHIH…..SEKIAN.. SAYA AMAT BERTERIMA KASIH KEPADA ANDA YANG MEMBERI SAYA LALUAN UNTUK SAYA MENULIS. .TERIMA KASIH…….WASSALAM.

  37. syeikh mohamad din
    10 Jan ’10 7:12 am #

    Kita berbincang lagi dalam bab SELIR PATI UNUS…Dalam catitan saya berdasarkan cerita nenek saya, kami keturunan dari SITI ZUBAIDAH..Pada sangkaan saya Siti Zubaidah ,pemaisuri SULTAN ZAINAL ABIDIN ,SULTAN KEMBAYAT NEGARA. ..Memang ada hubungan darah kami dari titisan Permaisuri yang terkenal ini..tetapi ia nya jauh keatas (lama)..bermakna kisah ini berlaku di zaman Saiyid Husin Jamadil Qubra…Rupa rupa nya pada tahun 1500 an ada seorang lagi SITI ZUBAIDAH dalam keturunan kami..iaitu Siti Zubaidah binti Syeikh Sultan Ariffin Saiyid Ismail..Ibu nya bernama Syarifah Siti Maimunah binti Maulana Ishaq atau Maulana Mohamad Yusof As Siddiq..Pada tahun 1513 ..satu Armada Perang dari Demak telah menyerang MELAKA..ARMADA DEMAK ini kalah..tetapi PATI UNUS tersangkut di Pulau Besar,bukan tersangkut apa..tapi tersangkut hati dengan nenek kami yang bernama Siti Zubaidah ini, nenek kami ini pada tahun itu berumur 16 tahun bib !!!!!kalu di malaysia…di panggil SWEET 17…harus di ingat keluarga kita (ARAB) memang mengamal kan kawin kerabat..isteri pertama PATI UNUS ialah kerabat nya. begitu juga isteri ke 2, juga kerabat beliau…itu lah sebab ,saya katakan SELIR itu ,ialah SYARIPFAH SITI ZUBAIDAH…Dan ada satu gua di Pulau Besar..nama nya GUA YUNUS…dan mengikut cerita nenek saya sebuah makam di dalam KOMPLEKS MAKAM SULTAN ARIFFIN ada makam Sultan SYAHID…puas saya memikir kan siapa kah SULTAN ini…setelah saya melihat INTERNET yang menulis bahawa SULTAN DEMAK ke 2,..SYAHID di MELAKA…Saya terus katakan ,inilah yang dikatakan olih nenek saya,..Sultan Syahid itu…Saya menyangka kan Sultan Melaka..( SULTAN ABU SYAHID) yang di semadi kan dalam kompleks itu….tapi sangkaan saya salah…hal ini memang menjadi RAHSIA KELUARGA kami…Sebenar nya yang SYAHID dalam perang itu, yang saya tahu dan dalam catitan saya..1. PATI UNUS 2..SYARIFAH SITI ZUBAIDAH 3 RADEN ABU BAKAR bin PATI UNUS 4.RADEN BERKAT bin PATI UNUS….kedua mereka ,anak dari PUTERI RATU MAS NYAWA…..Kita bincang tentang RATU MAS NYAWA…bagi saya ini lah dia PUTERI GUNONG LEDANG.. dalil nya…1..apa sebab PUTERI ini lari dari Tanah Jawa dan menetap di Gunung Ledang…2..Kenapa pula Sultan Mahmud syok sangat kat dia ni, dan di mana baginda jumpa…ok ..saya jawap..PUTERI ini tidak lari dari Tanah Jawa,..tetapi menuntut ilmu di Pulau Besar…waktu ITU masih hidup 1..SYEIKH SULTAN ARIFFIN (1463-1520) 2. MAULANA ISHAQ (1340-1512)….Dalam hal hubungan keluarga ,mereka semua ada hubungan keluarga…kalau tak percaya carilah nasab mereka !!!MAULANA ISHAQ DAN SUNAN AMPEL, ADIK BERADIK…BONDA ,…RATU MAS NYAWA..ANAK SUNAN AMPEL..bermakna MAULANA ISHAQ…datuk kepada RATU MAS NYAWA……SAIYID ISMAIL..menantu datuk maulana..jadi RATU MAS NYAWA…panggil SAIYID ISMAIL ..bapa saudara….2.Sultan MAHMUD berjumpa Ratu MAS , di Pulau Besar…kerana mengikut sejarah nya Sultan Mahmud , anak murid datuk….memang lah pinangan itu ditolak sebab RATU MAS ada suami…..Sebagai manusia biasa,.kita akan sentiasa bersama dengan orang yang kita sayangi, semasa kita senang atau susah…itu lumrah….jadi RATU MAS pun begitu….suami nya SYAHID bersama 2 anak beliau, di makam kan di Pulau Besar…dia tinggal sebatang kara,..jawatan sultan DEMAK ,yang satu itu, menjadi rebutan sahingga terjadi perbunuhan….sesama keluarga…kalau terjadi kepada kita….kemana kah hala hendak dituju ???? Jawapan dari RATU MAS betul, beliau lari dan menetap di Gunung Ledang ,dan di kaki gunung itu petempatan orang JAWA lah yang paling ramai….Untuk ke Pulau Besar..dari gunung ledang tidak jauh….pernah orang tua tua berjumpa beliau semasa dalam perjalanan antara gunung ledang ke pulau besar .Dari gunung ledang ke pulau besar ,hanya dalam 20 batu sahaja…Pada jangkaan saya RATU MAS juga terlibat dalam 2 peperangan itu…..Saya katakan anak PATI UNUS yang hidup itu, ialah anak SYARIFAH SITI ZUBAIDAH DALIL NYA ialah….Kenapa Radin Abdullah, TDAK di besarkan di DEMAK ,kita semua tau… tetapi kenapa dia di besar kan juga ke Banten….Dalam hal ini SUNAN GUNUNG JATI adalah keluarga Raden ABDULLAH yang paling rapat di Jawa..selain SUNAN GIRI…perlu kita ingat, SUNAN GIRI ,pangkat datuk kepada RADEN ABDULLAH…Sebab nya , SUNAN ini adalah abang kepada SYARIFAH SITI MAIMUNAH binti Maulana Ishaq.( NENEK RADEN ABDULLAH) .Pada jangkaan saya RADEN ABDULLAH di lari kan ke JAWA bersama beliau ialah tentera MELAKA…yang menjadi tulang belakang beliau, yang ketua nya ialah RADEN HIDAYAT…saya juga tengah mencari siapa kah dia RADEN ini….Kalau FATULLAH KHAN itu ….ialah nama di MELAKA ,LAKSAMANA KHOJA HASAN…bukan LAKSAMANA HANG TUAH seperti yang di tulis dalam laman web itu…perkataan KHOJA itu menunjukan beliau berasal dari TURKI…iaitu..KHAWAJA..dan sememang nya di Pasai ada keturunan TURKI…sementelah lagi MAULANA ISHAQ ,bekas SYEIKHUL ISLAM PASAI.,sudah barang tentulah beliau kenal dan baik dengan datuk maulana ini .Laksamana ini juga menantu kepada Laksamana Hang Tuah…..kalau anda melihat Film lama yang bertajuk :TUN FATIMAH…nama beliau ada, beliau di pecat dari jawatan LAKSAMANA kerana ,tidak menyiasat kes dengan teliti …konon nya TUN MUTAHIR hendak menderhaka…SULTAN MAHMUD menhukum bunuh BENDAHARA dan KERABAT beliau kecuali 2 orang iaitu TUN JENAL dan TUN FATIMAH…JADI PERMAISURI MELAKA. LAKSAMANA ini lah ,balik ke PASAI dan terus berkhidmat dengan SUNAN GUNUNG JATI sebagai PANGLIMA PERANG BANTEN….Pada jangkaan saya TUBAGUS ini juga yang mendidik RADEN ABDULLAH, sahingga di geruni dan di takuti olih PENJAJAH waktu itu…Raden Abdullah bergabung dengan satu lagi keturunan SUNAN GUNUNG JATI iaitu..PENGERAN ARIA NASHARUDIN YUNUS bin TEMENGUNG MERAH MATO( MAULANA ABDUL MUZAFFAR) bin SULTAN ABDULLAH( SULTAN UMDATUDDIN)…TEMENGONG MERAH MATO/MAULANA ABDUL MUZAFFAR..dan SUNAN GUNONG JATI..ialah ADIK BERADIK….Dan dari keturunan mereka juga menjadi KESULTANAN JAMBI .Sejarah mereka (keturunan kita ini) panjang bib..DALAM SEJARAH KETURUNAN kita…saya tidak tahu berapa banyak peperangan yang melibat kan PENJAJAH dan perang saudara…Kadang kala saya juga keliru kerana ada macam macam nama ,tetapi melibat kan orang yang sama…tetapi kita bernasib baik mereka berkawin tidak lari…kawin kerabat sendiri….kalau tidak percaya dari ACHEH ke KELANTAN, ke MELAKA,.ke SUMATERA ke BANTEN..ke JAWA ke SULAWESI..balik ke KALIMANTAN..terus ke SULU..terus KE PATANI…terus ke KEDAH…melibat kan keturunan yang sama…..samaada AL HASANI atau BA.ALAWI. Cuma kita mesti tahu tahun kejadian dan tempat kejadian…..itulah sebab nya…kita jumpa…..nuuuun…di tengah hutan..ada AL IDRUS…nunn..di satu pulau terpencil ,ada….AL HASANI dan kekadang ada marga yang kita tak pernah dengar pun…itulah BARKAH nya keturunan AHLI BAIT..di ceruk rantau mana pun ,mereka tetap ada..samada dalam PERSANTREN atau PERUBATAN ISLAM atau PERSILATAN atau PERDAGANGAN mereka tetap mendominankan masyarakat…. WASSALAM

  38. syarifah rugayah
    22 Jan ’10 4:10 am #

    assalammualaikum ulun syarifah rugayah handak jua mencari pam ba’agil jua pagat sampai di banjar aja

  39. hamba allah
    29 Jan ’10 3:39 pm #

    Bersyukurlah sudah mengetahui nama-nama nenek moyangnya. Saya malah tidak tahu sama sekali nenek moyang saya. Ibu saya memiliki kakek dr garis ayah beliau yg disebut KHOJA atau bahasa india KHAWAJA yang artinya pemimpin/imam atau sejenis sayyid, namun datuk saya gak tahu keturunan siapa. Cuma, saudara ibu saya yakni paman dan seorang tante saya persis kaya arab, ibu dan seorang tante saya yg lain tidak ada muka arabnya, krn kakek saya menikahi dgn wanita berdarah dayak.
    begitu juga dr garis ayah saya, saya juga gak tahu. Cuman saya mendengar alm. Guru Sekumpul mengatakan bahwa nenek moyang kampung kami, adalah keturunan dr sepupunya SUNAN GIRI, yang dr fam BA’ALAWI AZAMAT KHAN, yang bersaudara dengan Pembakal musa Kelua, dan Fatimah Kanzul Arasy asal mula kampung keramat martapura, dan yang menurunkan nenek Salbiyah dr garis ibu Guru Sekumpul.
    wallaahu a’alam..

  40. ali
    29 Jan ’10 7:01 pm #

    syeikh mohamad din.. saya rindu mendengar cerita tuan (lagi).

  41. SYEIKH MOHAMAD DIN
    4 Feb ’10 4:33 pm #

    Asallamualaikum Ali !! anda buka weblog saya perubatan islam 7 puteri, saya dah tulis kan kisah suka duka nenek moyang saya dalam berjihad melawan penjajah !!

  42. ali
    5 Feb ’10 5:20 pm #

    waalaikum salam tuan Syeikh Mohammad Din. maaf posting terakhir tuan tdk sengaja terhapus oleh saya. sudikah kiranya tuan mengirimkan kembali?

  43. Syeikh Mohamad Din Al Jailani
    6 Feb ’10 1:18 am #

    Asalmuaikum Semua !!!Syeikh Ismail Pulau Besar berkahwin dengan Syarifah Siti Maimunah binti Maulana Ishaq pada tahun 1496 m.Dari perkahwinan ini melahirkan :
    1.Syeikh Ahmad Salim/ Tajudin/Panglima Alang Daik Hitam
    2.Al Syahid Syarifah Siti Zubaidah.
    3.Syarifah Siti Zulaikha/ Umi Kalsum
    Didalam cacatan sejarah bib !!! memang tak di tulis kerana PENJAJAH sentiasa mencari keturunan AL HASANI ini.Ikut cerita nenek saya, keturunan ini paling di benci dan di geruni olih penjajah.Sampai kan berapa orang yang syahid dan siapa yang syahid di Pulau Besar tidak di tulis. Sebenar nya bukan tidak ditulis tapi telah di rampas dan berada di dalam perut kapal FLO DE LAMA, yang tenggelam di pengaiaran ACHEH.Syeikh Ahmad Salim di hantar berdakwah negeri Selatan Sumatera bersama dengan sepupu nya Saiyid Hidayat.Mereka sebenar nya nak pergi berjumpa Maulana Abdul Muzaffar di Pagar Ruyung. Sebenar nya bib !!Keturunan dari AZAMAT KHAN memang mendominasi semua gerakan dakwah di seluroh NUSANTARA.Itu sebab dari Raja Raja Nusantara semua berdarah dari AZAMAT KHAN ini kecuali Al Sultan BERUNAI saja yang berdarah AL HASANI sama dengan saya.Kalau keturunan KESULTANAN JAMBI itu memang dari AL HASANI, tetapi seperti yang saya tulis diatas segala dokumen nya telah lenyap.Saya tidak mahu mempertikaikan itu semua, bagi saya yang penting , saya tahu dari mana datuk nenek saya datang, kemana mereka berdakwah dan siapa anak cucu mereka.Kalau asyik nak mencari dan berbalah apa pun tak menjadi ??Orang Kafir setiap masa, berfikir untuk mencari dimana kelemahan kita dan merancang bagaimana nak memusnahkan kita!!! yang kita pula tak habis berbalah mencari siapa keturunan kita, samaada HASANI KE atau BA’ALAWI sampai bergaduh !!!APA NI !!!!Asalkan kita tau kita keturunan RASULULAH, dari marga apa !! itu bagi saya sudah memadai !!!BERANI KAH SESEORANG ITU MENGAKU BERDARAH RASULULAH, KALAU IANYA BUKAN BERDARAH BAGINDA ????Kekadang itu lah bib, yang menjadi kelemahan orang 2 kita, masih sebok dengan NASAB nya sedang kan AMERIKA dan YAHUDI setiap saat menghancur kan UMAT ISLAM DI ASIA BARAT..KALAU LAH NENEK MOYANG KITA, HIDUP LAGI PADA MASA INI …PASTI NYA MEREKA MENANGIS MELIHAT KAN CARA KITA BERTELAGAH MENCARI NASAB KETURUNAN ?????WASALLAM.

  44. Syeikh Mohamad Din Al Jailani
    15 Feb ’10 7:35 pm #

    Asalam mualaim kum semua!!Raden Hidayat yang saya sedang mencari nama nya yang sebenar ialah Saiyid Hidayat bin Saiyid Samsuri bin Saiyid Ali Mutardo bin Saiyid Ibrahim Asmoro bin Saiyid Husin Jamadil Kubra.Ini bermakna beliau bapa saudara kepada Raden Abdullah bin Pati Unus.Mereka lari kearah JAMBI, JAMBI waktu itu di perintah olih Saiyid Ahmad Salim bin Saiyid Ismail.Ada kemungkinan juga mereka tinggal lama di JAMBI, selepas kaadaan tenang baru lah RADEN ABDULLAH di hantar ke JEPARA. Walau pun Raden Abdullah yatim piatu, tetapi keselurohan pemerintah Nusantara adalah kerabat beliau seperti JAMBI( Bapa saudara) Sunda Kelapa( bapa saudara),Banten(bapa saudara), Ceribon (datuk saudara)Demak(bapa saudara) Ternate (datuk saudara) dan Palembang( bapa saudara).Raden Abdullah dilantik menjadi ADIPATI JEPARA dan sekali gus menjadi Panglima Perang Banten. Sultan Banten sendiri mengambil beliau menjadi menantu dan dikawin kan dengan Puteri Siti Fatimah binti Sultan Maulana Hasannudin.Raden Abdullah terkenal dengan nama PENGERAN ARIA JEPARA. Dalam satu riwayat yang di ceritakan pada saya Pengeran Aria Jepara berkahwin lagi dengan anak kepada Temenggung Merah Mato atau nama sebenar nya Maulana Muzaffar Ahmad bin Sultan Abdulah/ Sultan Hud.Ini bermakna JAMBI, BANTEN, CERIBON DAN SUNDA KELAPA, Pemerintah nya dari keturunan Sunan Gunong Jati.Anak perempuan Temenggong Merah Mato ini bernama Puteri Syaripah Alawiyah atau Puteri Mayang Sari pada tahun 1551 m.Di Jambi Raden Abdullah dikenali dengan nama Raden Aria Putra atau Nakhoda Hitam.Nama Nakhoda Hitam sangat di takuti olih Penjajah.Sejarah peperangan Nakhoda Hitam ini tidak pernah kalah kepada Belanda atau Portugis.Nakhoda Hitam di dokongi olih isteri nya sendiri sebagai Panglima Perang iaitu Puteri Mayang Sari.Dari perkawinan ini lahir lah seorang putera yang bernama Raden Aria Darmawangsa dan seorang puteri bernama Raden Puteri Mas Salbiah.Pada tahun 1650 m, Nakhoda Hitam WAFAT,dan di semadi kan di JAMBI.Isteri beliau yang terkenal sebagai seorang Panglima ini WAFAT pada tahun 1696 dan di semadikan di JAMBI.

  45. Syeikh Mohamad Din Al Jailani
    14 Aug ’10 1:33 pm #

    Asalam mulaikum Habib !!!Kenapa kah Keturunan Pati Unus dari Jurai Syeikh Yusof Mokrami TIDAK DI IKTIRAF olih Rabitah Alawiyah Indonesia.Mohon berikan sedikit penjelasan !!!.

  46. jam tangan
    20 Oct ’10 6:15 pm #

    Saya sangat suka blog Anda dan saya sangat menghargai isi kualitas yang sangat baik yang Anda posting di sini secara gratis bagi pembaca online Anda. Dapatkah Anda mengatakan kami yang blog platform yang Anda gunakan?

  47. sablon kaos yogyakarta
    21 Jan ’11 12:25 am #

    blogwalking mas. kunjungi blogku juga ya

  48. Vanna Sandri
    29 Mar ’11 3:28 am #

    *I am often to blogging and i really appreciate your content. The article has really peaks my interest. I am going to bookmark your site and keep checking for new information.

  49. Sablon Kaos Murah
    3 Nov ’11 10:13 pm #

    blogwalking bos.

    thanks ya